menarik ceritanya.kalo boleh tahu(dijelaskan)..ketika itu saat memutuskan
keluar dai pabrik clg dan hijrah ke gulf,perubahan seperti apa yg (paling
mendasar) diharapkan???
________________________________
From: Lawang bagja <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]
Sent: Wednesday, October 29, 2008 12:31:03 PM
Subject: [WongBanten] HOMEOSTASIS
HOMEOSTASIS
Renungan buruhmigren
Keinginan berubah ada dalam diri setiap manusia. Apalagi perubahan yang
dimaksud menuju kondisi yang lebih baik tentunya. Sering kita mengikuti
bermacam-macam workshop untuk meningkatkan value diri kita mulai dari emotinal
intelegence, indopower, achievement motivation, sampai ESQ. Pada saat lepas
dari workshop kita menemukan jawaban bahwa untuk menuju hasil yang diinginkan
dituntut sebuh perubahan. Namun seiring perjalanan waktu keinginan hanya
sebatas keinginan dan selanjutnya kita kembali ke kondisi asal (ground state).
Saya pribadi mempunyai cerita tentang hal ini. Berubah bagi saya sebuah proses
pertarungan tiada henti di dalam diri. Ada momentum yang saya pakai sebagai
media perubahan. Saya menggunakan Ramadhan sebagai laboratorium tempat reaksi
intra dan inter personal menuju keadaan yang lebih baik. Namun hasilnya tak
kunjung memuaskan. Sebenarnya perubahan yang saya inginkan tidak muluk-muluk
dan memerlukan biaya tinggi. Ini hanya sebuah perubahan sifat dasar manusia
seperti dari mudah gusar menjadi lebih sabar, yang semula selalu perhitungan
dalam bekerja menjadi ikhlas dan selalu ingin memberi terbaik, suka berburuk
sangka menjadi positif minded, dlsb.
Percayalah dibalik semua workshop yang berkaitan emotional intelegece kunci
yang kita temukan dibilik jiwa kita yang lusuh ini bahwa musuh yang pertama
harus dirobohkan adalah keinginan untuk mempertahankan sifat asal. Seperti
sebuah elektron yang setiap kali mendapat kelebihan energi ia merasa tidak
nyaman dan selalu kembali pada keadaan ground state. Sama pula dengan manusia
yang sudah memilih kondisi ground statenya sebagai pilihan nyaman. Seorang
pemarah akan merasa bahwa dengan mudah menumpahkan amarah pada siapa saja
sebagai sesuatu yang nyaman. Ia akan merasa gusar saat diminta menahan amarah
atau sabar barang sebentar. Kesukaan kita kembali ke ground state itulah
dikenal dengan istilah HOMEOSTASIS.
Menurut pakar psikolog, inilah kekuatan dalam diri manusia yang paling besar.
ketidaksukaan pada perubahan atau sesuatu yang baru dan berusaha mengembalikan
pada kondisi semula. Ini diibaratkan seperti karet gelang, saat karet ditarik
untuk diregangkan kemudian karet dilepaskan. Karet kembali pada kondisi semula.
Masih menurut sudut pandang psikolog bahwa HOMESTASIS bekerja di alam bawah
sadar kita. Saat alam sadar menginginkan perubahan maka terjadi pergulatan
dengan alam bawah sadar.
Saya menganalogikan pada sebuah lingkaran elektron dengan beberapa elektron
yang ada pada lintasan energi tersebut. Kestabilan sudah tercipta dan elektron
bergerak sesuai dengan energinya. Dalam sebuah atom terdapat beberapa lintasan
elektron. Masing-masing lintasan akan mempertahankan kondisi stabilnya. Saat
elektron beranjak menuju ke lintasan berikutnya maka ia-elektron tersebut
harus kembali menyesuaikan diri dan berusaha menemukan kenyamanan baru. Saat
kenyamanan tersebut bisa dicapai maka ia akan kembali mempertahankan
kestabilannya sekalipun semula ia tidak menyukainya.
Seperti itulah kondisi homestasis pada diri manusia. Perlu energi besar untuk
meruntuhkannya. Saya bisa mengambil contoh pada pengalaman pribadi. Saat
memutuskan keluar bekerja dari sebuah pabrik di Cilegon dan memutuskan pindah
ke tempat baru dengan lingkungan dan kehidupan baru di Gulf bukan sebuah
keputusan yang mudah. Saya sudah merasakan 'kenyamanan' dengan lingkungan serta
irama kehidupan yang ada. Bekerja mencari rizki di lain waktu dan menyempatkan
waktu lainnya di lingkungan sosial berinteraksi bersama dengan memupuk
idealisme sungguh indah. Meninggalkan itu semua seperti meninggalkan sebuah
kehidupan dan pindah ke alam berikutnya. Di tepian waktu saya menghabiskannya
dengan merenung dan berusaha untuk 'berdamai' dengan alam bawah sadar saya.
Seperti ada sebuah kesepakatan antara alam bawah sadar dan alam sadar bahwa
saya sedang menuju perubahan yang 'lebih baik'.
Menaklukan homestasis memang HARUS dengan kompromi. Hal tersebut pula yang
dilakukan para terapist dalam memberikn konseling kepada pasien mereka.
Kompromi antara alam bawah sadar dan alam sadar untuk menuju perubahan yang
lebih baik. Ya! lebih baik..! itu kata kucinya. Alam bawah sadar kita cenderung
melakukan penolakan terhadap sebuah perubahan karena terlanjur stereotip bahwa
perubahan tersebut sesuatu yang belum tentu baik dan nyaman. Usaha untuk
meyakinkan alam bawah sadar memang memerlukan dialog intra personal. Jika tidak
sanggup kita memerlukan teman untuk menemukan titik kompromi dalam diri kita.
Dalam sebuah literatur, Homestasis tumbuh saat daya kritis pada diri manusia
terbentuk. Makin kritis maka makin kuat daya Homeostasisnya. Pada diri
anak-anak daya kritis baru berkembang. Itulah sebabnya pendidikan dini dengan
menanamkan hal-hal positif lebih efektif dan manjur pada usia anak-anak.
Seiring perkembangannya maka resistensi dari Homeostasis makin kuat. Di saat
itulah dialog sebagai jalan keluar yang aman tanpa pertumpahan emosi.
Sebagai penutup, Homestasis sebuah bentukan yang ada dalam diri kita. Ia hadir
sebagai penjaga pola serta ritme kehidupan kita yang tanpa kita sadari kita
memilihnya sebagai jalan kehidupan kita. Ia begitu setia menemani kita dalam
setiap kondisi dan memberikan perlindungan dengan rasa aman yang kita rasakan.
Jika ingin meninggalkan sebuah kondisi dan hijrah pada kondisi berikutnya maka
ajaklah terlebih dahulu ia untuk berdialog. Tanyakan padanya apakah ia berkenan
menuju sesuatu yang lebih baik. lebih baik..jangan lupa sampaikan itu padanya!.
Ditulis (disarikan dari beberap sumber) :
Lawangbagja,
penulis Ambasador Rumahdunia untuk UAE, sebuah komunitas literasi di bumi
Banten. Pengasuh www.pelangikecil. comsebuah socialengine, komunitas dunia maya
ramah keluarga untuk anak dan keluarga.