kalau menurut bahasa Preman adalah mengkondisikan dengan situasi yang ada. 
ibarat mancing, yang nyangkut bisa ikan kecil (cere), ikan besar (kakap) bahkan 
kolor kakek2 yang hanyut ke lautpun bisa nyangkut.
Kalau bicara segi kelemahan, secara offline pun bisa terjadi kalo orientasinya 
adalah mencari "keuntungan". Lha wong yang terjaring anak-anak yang punya duit, 
tul gak, mo pinter ke, mo pas-pasan ke mo IQ jongkok kek yang penting mempunyai 
nilai profit.
Penjajagan awal yang dilakukan oleh Bung Lawang merupakan upaya untuk menjaring 
generasi-generasi muda atau pelangi2 kecil istilah Bung Lawang yang masih fresh 
punya potensi dari berbagai latar belakang status sosial melalui dunia maya. 
Istilah bahasa perdagangan "ngiklanin" dulu, setelah mendapat pangsa pasar baru 
secara offlinenya.
Untuk urusan menggali potensi dari kalangan yang kurang mampu, saya percaya 
sosok Bung Lawang mempunyai sensitivitas tinggi terhadap kalangan orang-orang 
yang tidak mampu. Insya Allah...


 

________________________________
Dari: Setiadji Achmad <[EMAIL PROTECTED]>
Kepada: [EMAIL PROTECTED]
Terkirim: Rabu, 29 Oktober, 2008 13:24:28
Topik: Re: [WongBanten] HOMEOSTASIS


tapi ada sedikit kelemahan untuk langkah awal pelangi kecil(mungkin tidak 
terlalu mendasar),personal/ pelangi2 yg terjaring adalah hanya 
segelintir/sekelomp ok,yakni mereka2 yg beruntung bisa dapat menggunakan media 
IT(internet) ,masih ada banyak pelangi kecil2 lain yg mempunyai potensi 
terpendam,yg tidak tergali dikarenakan tidak punya kesempatan/fasilita s untuk 
bisa bermain dengan sahabat2 pelang kecil2 yg ada di komunitas yg sedang anda 
bangun,,mudah2an bisa ada solusi untuk ke arah sana...???wass. adjie




________________________________
From: Lawang bagja <lawang.bagja@ yahoo.com>
To: [EMAIL PROTECTED] ups.com
Sent: Wednesday, October 29, 2008 1:16:45 PM
Subject: Re: [WongBanten] HOMEOSTASIS


Hehe..Kang,
Saya punya segudang impian. Bukan bentuk pembelaan. Faktanya idealisme gak 
jalan kalau tidak disokong dana.
Pelan2 sekarang saya sedang bergerak. Ada Pelagikecil. .konsepnya saya balik.
Orang membuat sesuatu dimuli dari OFFLINE dulu. saya sebut offline maksudnya di 
darat. bikin ini itu, semua dimulai di darat.
Saya balik kondisinya. Saya mulai ON LINE dulu. Insya Allah OFF LINE pelan2 
akan hadir.
Pelangikecil hanya pemanasan untuk saya. Orientasinya, dunia anak. targetnya 
ANak Cerdas dan Berilmu dengan menjangkau semua range.
Saya mulai bermain di domain publik.. Sahabat saya Golagong bilang; Jika ingin 
mewujudkn sesuatu mulai dari kemampuan sendiri. Seperti jendral tanpa pasukan. 
Ini perubahan yng mendasar yang saya inginkan.

Howgh!




________________________________
From: Setiadji Achmad <setiadji.achmad@ yahoo.com>
To: [EMAIL PROTECTED] ups.com
Sent: Wednesday, October 29, 2008 9:51:07 AM
Subject: Re: [WongBanten] HOMEOSTASIS


menarik ceritanya.kalo boleh tahu(dijelaskan) ..ketika itu saat memutuskan 
keluar  dai pabrik clg dan hijrah ke gulf,perubahan seperti apa yg (paling 
mendasar) diharapkan?? ?




________________________________
From: Lawang bagja <lawang.bagja@ yahoo.com>
To: [EMAIL PROTECTED] com
Sent: Wednesday, October 29, 2008 12:31:03 PM
Subject: [WongBanten] HOMEOSTASIS


HOMEOSTASIS
Renungan buruhmigren
 
Keinginan berubah ada dalam diri setiap manusia. Apalagi perubahan yang 
dimaksud menuju kondisi yang lebih baik tentunya. Sering kita mengikuti 
bermacam-macam workshop untuk meningkatkan value diri kita mulai dari emotinal 
intelegence, indopower, achievement motivation, sampai ESQ. Pada saat lepas 
dari workshop kita menemukan jawaban bahwa untuk menuju hasil yang 
diinginkan dituntut sebuh perubahan. Namun seiring perjalanan waktu keinginan 
hanya sebatas keinginan dan selanjutnya kita kembali ke kondisi asal (ground 
state).
 
Saya pribadi mempunyai cerita tentang hal ini. Berubah bagi saya sebuah proses 
pertarungan tiada henti di dalam diri. Ada momentum yang saya pakai sebagai 
media perubahan. Saya menggunakan Ramadhan sebagai laboratorium tempat reaksi 
intra dan inter personal menuju keadaan yang lebih baik. Namun hasilnya tak 
kunjung memuaskan. Sebenarnya perubahan yang saya inginkan tidak muluk-muluk 
dan memerlukan biaya tinggi. Ini hanya sebuah perubahan sifat dasar manusia 
seperti dari mudah gusar menjadi lebih sabar, yang semula selalu perhitungan 
dalam bekerja menjadi ikhlas dan selalu ingin memberi terbaik, suka berburuk 
sangka menjadi positif minded, dlsb.
 
Percayalah dibalik semua workshop yang berkaitan emotional intelegece kunci 
yang kita temukan dibilik jiwa kita yang lusuh ini bahwa musuh yang pertama 
harus dirobohkan adalah keinginan untuk mempertahankan sifat asal. Seperti 
sebuah elektron yang setiap kali mendapat kelebihan energi ia merasa tidak 
nyaman dan selalu kembali pada keadaan ground state. Sama pula dengan manusia 
yang sudah memilih kondisi ground statenya sebagai pilihan nyaman. Seorang 
pemarah akan merasa bahwa dengan mudah menumpahkan amarah pada siapa saja 
sebagai sesuatu yang nyaman. Ia akan merasa gusar saat diminta menahan amarah 
atau sabar barang sebentar. Kesukaan kita kembali ke ground state itulah 
dikenal dengan istilah HOMEOSTASIS.
 
Menurut pakar psikolog, inilah kekuatan dalam diri manusia yang paling besar. 
ketidaksukaan pada perubahan atau sesuatu yang baru dan berusaha mengembalikan 
pada kondisi semula. Ini diibaratkan seperti karet gelang, saat karet ditarik 
untuk diregangkan kemudian karet dilepaskan. Karet kembali pada kondisi semula. 
Masih menurut sudut pandang psikolog bahwa HOMESTASIS bekerja di alam bawah 
sadar kita.  Saat alam sadar menginginkan perubahan maka terjadi pergulatan 
dengan alam bawah sadar.
 
Saya menganalogikan pada sebuah lingkaran elektron dengan beberapa elektron 
yang ada pada lintasan energi tersebut. Kestabilan sudah tercipta dan elektron 
bergerak sesuai dengan energinya. Dalam sebuah atom terdapat beberapa lintasan 
elektron. Masing-masing lintasan akan mempertahankan kondisi stabilnya. Saat 
elektron beranjak  menuju ke lintasan berikutnya maka ia-elektron tersebut 
harus kembali menyesuaikan diri  dan berusaha menemukan kenyamanan baru. Saat 
kenyamanan tersebut bisa dicapai maka ia akan kembali mempertahankan 
kestabilannya sekalipun semula ia tidak menyukainya.
 
Seperti itulah kondisi homestasis pada diri manusia. Perlu energi besar untuk 
meruntuhkannya. Saya bisa mengambil contoh pada pengalaman pribadi. Saat 
memutuskan keluar bekerja dari sebuah pabrik di Cilegon dan memutuskan 
pindah ke tempat baru dengan lingkungan dan kehidupan baru di Gulf bukan sebuah 
keputusan yang mudah. Saya sudah merasakan 'kenyamanan' dengan lingkungan serta 
irama kehidupan yang ada. Bekerja mencari rizki di lain waktu dan menyempatkan 
waktu lainnya di lingkungan sosial berinteraksi bersama dengan memupuk 
idealisme sungguh indah. Meninggalkan itu semua seperti meninggalkan sebuah 
kehidupan dan pindah ke alam berikutnya. Di tepian waktu saya menghabiskannya 
dengan merenung dan berusaha untuk 'berdamai' dengan alam bawah sadar saya. 
Seperti ada sebuah kesepakatan antara alam bawah sadar dan alam sadar bahwa 
saya sedang menuju perubahan yang 'lebih baik'.
 
Menaklukan homestasis memang HARUS dengan kompromi. Hal tersebut pula yang 
dilakukan para terapist dalam memberikn konseling kepada pasien mereka. 
Kompromi antara alam bawah sadar dan alam sadar untuk menuju perubahan yang 
lebih baik. Ya! lebih baik..! itu kata kucinya. Alam bawah sadar kita cenderung 
melakukan penolakan terhadap sebuah perubahan karena terlanjur stereotip bahwa 
perubahan tersebut sesuatu yang belum tentu baik dan nyaman. Usaha untuk 
meyakinkan alam bawah sadar memang memerlukan dialog intra personal. Jika tidak 
sanggup kita memerlukan teman untuk menemukan titik kompromi dalam diri kita.
 
Dalam sebuah literatur, Homestasis tumbuh saat daya kritis pada diri manusia 
terbentuk. Makin kritis maka makin kuat daya Homeostasisnya. Pada diri 
anak-anak daya kritis baru berkembang. Itulah sebabnya pendidikan dini dengan 
menanamkan hal-hal positif lebih efektif dan manjur pada usia anak-anak. 
Seiring perkembangannya maka resistensi dari Homeostasis makin kuat. Di saat 
itulah dialog sebagai jalan keluar yang aman tanpa pertumpahan emosi.
 
Sebagai penutup, Homestasis sebuah bentukan yang ada dalam diri kita. Ia hadir 
sebagai penjaga pola serta ritme kehidupan kita yang tanpa kita sadari kita 
memilihnya sebagai jalan kehidupan kita. Ia begitu setia menemani kita dalam 
setiap kondisi dan memberikan perlindungan dengan rasa aman yang kita rasakan. 
Jika ingin meninggalkan sebuah kondisi dan hijrah pada kondisi berikutnya maka 
ajaklah terlebih dahulu ia untuk berdialog. Tanyakan padanya apakah ia berkenan 
menuju sesuatu yang lebih baik. lebih baik..jangan lupa sampaikan itu padanya!.
 
Ditulis (disarikan dari beberap sumber) :
Lawangbagja,
penulis Ambasador Rumahdunia untuk UAE, sebuah komunitas literasi di bumi 
Banten. Pengasuh www.pelangikecil. comsebuah socialengine, komunitas dunia maya 
ramah keluarga untuk anak dan keluarga.



 


      
___________________________________________________________________________
Nama baru untuk Anda! 
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail. 
Cepat sebelum diambil orang lain!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/

Kirim email ke