ada nilai jual. 



________________________________
Dari: aji setiakarya <[EMAIL PROTECTED]>
Kepada: [EMAIL PROTECTED]
Cc: [email protected]; alumni untirta <[EMAIL PROTECTED]>; rumahdunia 
rumahdunia <[EMAIL PROTECTED]>
Terkirim: Kamis, 6 November, 2008 14:36:23
Topik: [WongBanten] Re: [NaratamaTV] Fw: Re: [jurnalisme] Fw:Keluarga Amrozi 
Protes// kita mendahului peristiwa


Salam,

rekan-rekan saya melihat 
media elektronik/ televisi  nasional
udah berlebihan memang.
kemarin saja jelas,  bahwa keluarga
imam samudra belum pernah menyinggung
persoalan makam.
Tapi disebuah stasiun tv sudah ada informasi
pemakaman sudah disediakan juga 
sedang dibuatkan helifad.
Aneh..!!!
Kita (jurnalis) seringkali mendahului peristiwa.




nuhun
aji setiakarya(koordina tor berita bantentv)
tetangga imam samudra






--- On Wed, 11/5/08, Sirikit Syah <sirikitsyah@ yahoo.com> wrote:

From: Sirikit Syah <sirikitsyah@ yahoo.com>
Subject: [NaratamaTV] Fw: Re: [jurnalisme] Fw:Keluarga Amrozi Protes Wartawan 
Media Elektronik
To: [EMAIL PROTECTED] ups.com, media-jatim@ yahoogroups. com
Date: Wednesday, November 5, 2008, 4:35 PM




--- On Wed, 11/5/08, Sirikit Syah <sirikitsyah@ yahoo.com> wrote:

From: Sirikit Syah <sirikitsyah@ yahoo.com>
Subject: Re: [jurnalisme] Fw:Keluarga Amrozi Protes Wartawan Media Elektronik
To: [EMAIL PROTECTED] ups.com
Date: Wednesday, November 5, 2008, 4:34 PM


Ketika kita ramai-ramai prejudice bahwa ada agenda setting dari para terdakwa 
eksekusi hukuman mati bersama seluruh kerabat dan lawyernya untuk a) 
menunda-nunda eksekusi dengan terus menerus mengajukan PK, b) meng-over-ekspose 
pemberitaan demi kepentingan publisitas (di-pahlawan- kan), ternyata keluarga 
Amrozi protes perilaku pers. Mereka keberatan. Artinya, bukan mereka yang punya 
agenda setting. 

Saya jadi ingat pidato Ted Turner (CNN) saat menerima penghargaan pada kongres 
RTNDA (Radio & Television News Director Association) tahun 1994 di Los Angeles:
"We are powerful. We don't serve the people's right to know. We shape what they 
need to know."

sirikit syah


--- On Wed, 11/5/08, Satrio Arismunandar <satrioarismunandar@ yahoo.com> wrote:

From: Satrio Arismunandar <satrioarismunandar@ yahoo.com>
Subject: [jurnalisme] Fw:Keluarga Amrozi Protes Wartawan Media Elektronik
To: "news Trans TV" <news-transtv@ yahoogroups. com>, "naratama naratama" 
<[EMAIL PROTECTED] ups.com>, "kampus tiga" <kampus-tiga@ yahoogroups. com>, 
"jurnalisme" <[EMAIL PROTECTED] ups.com>
Date: Wednesday, November 5, 2008, 7:46 AM


From: Sunny <[EMAIL PROTECTED] se>
Subject: [dpr-indonesia] Keluarga Amrozi Protes Wartawan Media Elektronik
To: Undisclosed- Recipient@ yahoo.com
Date: Tuesday, November 4, 2008, 8:19 AM

http://www.hariante rbit.com/ artikel/fokus/ artikel.php? aid=55213
 
 
Keluarga Amrozi Protes Wartawan Media Elektronik

Tanggal : 
02 Nov 2008

Sumber : 
Harian Terbit

JAKARTA - Keluarga Amrozi di Desa Tenggulun, Kecamatan Solokuro, Lamongan, Jawa 
Timur, memprotes wartawan media elektronika, karena dianggap terlalu berlebihan 
mengeksploitir keluarganya.

Kepala Desa Tenggulun, Abu Sholeh (40), Minggu, kepada wartawan menyatakan 
keluarga Amrozi selain memprotes pemberitaan media elektronika, juga langsung 
mengadu kepada Polsek Solokuro dan aparat desa. 
Protes juga disampaikan kepada wartawan yang bersangkutan.

Dalam pengaduannya, keluarga Amrozi meminta wartawan agar tak mengeksploitir 
keluarganya, terutama ibunya, Ny. Tariyem, karena sudah tua. Di samping itu, 
hingga sekarang ini jadwal pelaksanaan eksekusi Amrozi cs masih belum jelas.

"Permintaannya kami diminta menyuruh wartawan yang ada pergi dari desa," 
katanya.

Menurut dia, keluarga Amrozi sebenarnya tidak keberatan dengan pemberitaan 
media elektronika, cetak dan radio, baik dalam dan luar Negeri. Tetapi, setelah 
Ny. Tariyem yang sedang bekerja di ladang menjadi pemberitaan media 
elektronika, akhirnya keluarga Amrozi menjadi keberatan.

Namun demikian, kata Abu, dirinya mengaku tidak bisa melarang wartawan yang 
jumlahnya puluhan, lengkap dengan kendaraan bermotor dan peralatan, untuk tidak 
meliput.

"Sikap desa hanya sebatas menertibkan wartawan yang berdatangan ke desa kami, 
agar tidak menggangu kegiatan sehari-hari masyarakat," katanya menjelaskan. 

Dia mencontohkan, puluhan kendaraan roda empat wartawan yang diparkir di jalan 
desa setempat malang melintang sempat menimbulkan protes warga. Sebab, warga 
yang membawa sapi atau cikar sapi tidak bisa atau berani lewat di jalanan itu.

"Kalau sekarang sudah tertib, karena kendaraannya masuk ke halaman sekolahan," 
katanya.

Menurut dia, kendaraan wartawan yang diparkir di halaman sekolahan, kalau hari 
ini masih belum menimbulkan masalah, karena libur. Tetapi, ketika hari mulai 
masuk sekolah lagi akan menimbulkan masalah baru.

"Guru-guru sudah mulai mengeluh siswanya, baik TK, SD dan MTs tidak bisa 
konsentrasi karena melihat adanya wartawan," katanya.

Sementara itu, Mualim, keluarga Amrozi, menyatakan kedatangan wartawan di Desa 
Tenggulun, juga memancing warga desa tetangga, mulai Desa Payaman, Sugihan dan 
Desa Sendang di Kecamatan Paciran, berdatangan untuk melihat kedatangan puluhan 
wartawan yang berkumpul di Tenggulun.

"Sejak kemarin warga lain desa berdatangan dengan naik sepeda motor, mirip 
rekreasi saja, "katanya, dengan nada prihatin. Butuh keajaiban untuk menunda 
eksekusi mati Amrozi, Mukhlas, dan Imam Samudra yang semakin dekat. Sejak 
ketiganya menghuni sel isolasi Jumat siang lalu (31/10), sejumlah persiapan 
lanjutan dimatangkan. Namun, pihak Amrozi tidak begitu saja menyerah dan tetap 
melakukan upaya perlawanan hukum luar biasa 

Selain datang ke Nusakambangan besok (Senin, 3/11), pihak keluarga juga akan 
mendaftarkan peninjauan kembali (PK). Ini berbeda dengan tiga PK sebelumnya 
yang diajukan TPM (Tim Pengacara Muslim) dan Amrozi cs. Soal hak keluarga 
mengajukan PK diatur dalam pasal 263 ayat 1 KUHAP. Untuk Amrozi dan Mukhlas, 
permohonan itu ditandatangani kakaknya, Djafar Sodiq.

"Untuk helipad, seratus persen siap. Dari semula menampung satu helikopter, 
kini bisa langsung didarati dua helikopter," kata sumber Jawa Pos di lingkungan 
Nusakambangan kemarin (1/11). Rencananya, jenazah Amrozi, Ali Ghufron, dan Imam 
Samudra akan diangkut dengan helikopter ke kampung halaman masing-masing. 
Amrozi dan Ali Ghufron ke Lamongan, Jatim, sedangkan Imam Samudra ke Serang, 
Banten.

Masalah yang belum terpecahkan adalah soal penerangan untuk helipad. 
"Skenarionya, meski ditembak malam atau menjelang dini hari, tetap saja 
diterbangkan menjelang hari terang," tambahnya.

Lalu, mengapa Nirbaya dipilih sebagai lokasi eksekusi Amrozi cs? Sebab, aparat 
tak punya banyak pilihan di Nusakambangan. Pasalnya, lokasi eksekusi harus 
mempunyai syarat tanahnya datar dan lapang, dekat jalan untuk mobilitas 
kendaraan, dan harus jauh dari keramaian, baik rumah sipir, apalagi lapas. 
"Kita tak ingin suara tembakan terdengar napi lain, khususnya napi hukuman 
mati. Itu bisa membuat suasana pascaeksekusi tidak kondusif," tambah sumber 
yang lain.

Karena alasan itu, maka lokasi Pantai Pasir Putih yang pada 1980-an dijadikan 
tempat untuk mengeksekusi Mbah Kamil (kasus perampokan disertai pembunuhan) 
dicoret dari daftar. Pasalnya, di dekat lokasi itu kini berdiri Lapas Super 
Maksimum Security atau Lapas Pasir Putih yang sempat rusuh Juni lalu. "Hingga 
pilihannya hanya Nirbaya. Rumputnya sudah dipangkas, tinggal pasang 
tonggaknya," imbuhnya. Kejari Cilacap telah menyurvei tempat itu pertengahan 
Oktober lalu. Lapas Nirbaya yang merupakan tinggalan Belanda itu ditutup sejak 
1986 karena tidak layak huni.(idk/ant/ tim 

[Non-text portions of this message have been removed]

 
 
 
 


      
___________________________________________________________________________
Nama baru untuk Anda! 
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail. 
Cepat sebelum diambil orang lain!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/

Kirim email ke