maap, saya gak bisa baca. penglihatan saya kurang bagus.
--- On Sun, 11/16/08, Setiadji Achmad <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: Setiadji Achmad <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Re: [WongBanten] Gusti Allah tidak 'nDeso
To: [email protected]
Date: Sunday, November 16, 2008, 1:16 AM
Pertama, orang yang shalat lima waktu, membaca al-quran, membangun
masjid, tapi korupsi uang negara.
Kedua, orang yang tiap hari berdakwah, shalat, hapal al-quran,
menganjurkan hidup sederhana, tapi dia sendiri kaya-raya, pelit, dan
mengobarkan semangat permusuhan.
Ketiga, orang yang tidak shalat, tidak membaca al-quran, tapi suka
beramal,tidak korupsi, dan penuh kasih sayang?"
.....tapi biasanya yg no.3 selalu berujar,ngapain sholat kalo masih
korupsi,mending gue kagak sholat tapi selalu berbuat baik.....heheheheh.
....gak bener juga ya????...semoga cepat diberikan hidayah dan kesadaran...
nah yg nomor 1 semoga cepat diberikan petunjuk,berhubung dia selalu memanjatkan
do'a dalam sholat dan tilawah qur'an....,, ,idem no.2.......
From: "fhasyimsanusi@ yahoo.co. id" <fhasyimsanusi@ yahoo.co. id>
To: [EMAIL PROTECTED] ups.com
Sent: Sunday, November 16, 2008 3:53:48 PM
Subject: Re: [WongBanten] Gusti Allah tidak 'nDeso
Kang, realnya, gimana caranya spy seandainya2 sekiranya2 itu bs
jd kenyataan?
Wass
Fuad
Powered by Telkomsel BlackBerry®From: halim hd <[EMAIL PROTECTED] com>
Date: Sun, 16 Nov 2008 00:27:52 -0800 (PST)
To: <[EMAIL PROTECTED] ups.com>
Subject: Re: [WongBanten] Gusti Allah tidak 'nDeso
seandainya, sekiranya, yaaa, kalou saja elite banten
menerapkan apa yang dikatakan oleh emha, rasa-rasanya banten bener-bener bisa
jadi
banten raya sejahtera.
--- On Sun, 11/16/08, das albantani <dasalbantani@ yahoo.com> wrote:
From: das albantani <dasalbantani@ yahoo.com>
Subject: [WongBanten] Gusti Allah tidak 'nDeso
To: [EMAIL PROTECTED] ups.com
Date: Sunday, November 16, 2008, 12:16 AM
dari milis tetangga
Saya kirim percakapan Cak Nun dengan fans-nya. Menarik dan agak lucu tapi
bermakna dalaaaaamm sekali. Semoga menghiasi hari anda, .
Gusti Allah Tidak "nDeso"
Oleh: Emha Ainun Nadjib
Suatu kali Emha Ainun Nadjib ditodong pertanyaan beruntun.
"Cak Nun," kata sang penanya, "misalnya pada waktu bersamaan tiba-tiba
sampeyan menghadapi tiga pilihan, yang harus dipilih salah satu: pergi ke
masjid untuk shalat Jumat, mengantar pacar
berenang, atau mengantar tukang becak miskin ke rumah sakit akibat tabrak
lari, mana yang sampeyan pilih?"
Cak Nun menjawab lantang, "Ya nolong orang kecelakaan."
"Tapi sampeyan kan dosa karena tidak sembahyang?" kejar si penanya.
"Ah, mosok Allah ndeso gitu," jawab Cak Nun. "Kalau saya memilih shalat Jumat,
itu namanya mau masuk surga tidak ngajak-ngajak, " katanya lagi.
"Dan lagi belum tentu Tuhan memasukkan ke surga orang yang memperlakukan
sembahyang sebagai credit point pribadi.
Bagi kita yang menjumpai orang yang saat itu juga harus ditolong, Tuhan tidak
berada di mesjid, melainkan pada diri orang yang kecelakaan itu.
Tuhan mengidentifikasikan dirinya pada sejumlah orang. Kata Tuhan: kalau
engkau menolong orang sakit, Akulah yang sakit itu. Kalau engkau menegur orang
yang kesepian, Akulah yang kesepian itu.Kalau engkau memberi makan orang
kelaparan, Akulah yang kelaparan itu.
Seraya bertanya balik,
Emha berujar, "Kira-kira Tuhan suka yang mana dari tiga orang ini.
Pertama, orang yang shalat lima waktu, membaca al-quran, membangun masjid,
tapi korupsi uang negara.
Kedua, orang yang tiap hari berdakwah, shalat, hapal al-quran, menganjurkan
hidup sederhana, tapi dia sendiri kaya-raya, pelit, dan mengobarkan semangat
permusuhan.
Ketiga, orang yang tidak shalat, tidak membaca al-quran, tapi suka
beramal,tidak korupsi, dan penuh kasih sayang?"
Kalau saya, ucap Cak Nun, memilih orang yang ketiga. Kalau korupsi uang
negara, itu namanya membangun neraka, bukan membangun masjid. Kalau korupsi
uang rakyat, itu namanya bukan membaca al-quran, tapi menginjak-injaknya. Kalau
korupsi uang rakyat, itu namanya tidak sembahyang, tapi menginjak Tuhan. Sedang
orang yang suka beramal, tidak korupsi, dan penuh kasih sayang, itulah orang
yang sesungguhnya sembahyang dan membaca Al-Quran.
Kriteria kesalehan seseorang tidak hanya
diukur lewat shalatnya. Standar kesalehan seseorang tidak melulu dilihat dari
banyaknya dia hadir di kebaktian atau misa. Tolok ukur kesalehan hakikatnya
adalah output sosialnya :
kasih sayang sosial, sikap demokratis, cinta kasih, kemesraan dengan orang
lain, memberi, membantu sesama.
Idealnya, orang beragama itu seharusnya memang mesti shalat, ikut misa, atau
ikut kebaktian, tetapi juga tidak korupsi dan memiliki perilaku yang santun dan
berkasih sayang.
Agama adalah akhlak. Agama adalah perilaku. Agama adalah sikap. Semua agama
tentu mengajarkan kesantunan, belas kasih, dan cinta kasih sesama.
Bila kita
cuma puasa, shalat, baca al-quran, pergi ke kebaktian, ikut misa, datang ke
pura, menurut saya, kita belum layak disebut orang yang beragama.
Tetapi, bila saat bersamaan kita tidak mencuri uang negara, meyantuni fakir
miskin, memberi makan anak-anak terlantar, hidup bersih, maka itulah orang
beragama.
Ukuran
keberagamaan seseorang sesungguhnya bukan dari kesalehan personalnya,
melainkan diukur dari kesalehan sosialnya. Bukan kesalehan pribadi, tapi
kesalehan sosial. Orang beragama adalah orang yang bisa menggembirakan
tetangganya. Orang beragama ialah orang yang menghormati orang lain, meski beda
agama.. Orang yang punya solidaritas dan keprihatinan social pada kaum
mustadh'afin (kaum tertindas). Juga tidak korupsi dan tidak mengambil yang
bukan haknya. Karena itu, orang beragama mestinya memunculkan sikap dan jiwa
sosial tinggi. Bukan orang-orang yang meratakan dahinya ke lantai masjid,
sementara beberapa meter darinya, orang-orang miskin meronta kelaparan. ~
New Email names for you!
Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail.
Hurry before someone else does!
http://mail. promotions. yahoo.com/ newdomains/
aa/