jujur saja, sekarang radar bangten lupa kacang sama kulitnya.
ini saya tulis karena kecintaan saya sama radar banten.introspeksi ajalah buat
radar banten. moga2 pak priyo dan pak wid baca email ini. radar bangten udah
melupakan para penulis lokal, seniman, budayawan. radar banten bermesraannya
cuma sama politikus dan pengusaha aja. cenderung jadi corong mereka, melupakan
hak budaya kami. pokoknya, radar banten hanya akrab dengan lembaga2 yang
menguntungkannya secara politis/ekonomi. mereka takut berhubungan dengan pelaku
seni.
terdengar subjektif. saya orang luar. tapi, saya tahu persis bagaimana radar
banten berproses.sayt orang uar, tapi say dan bbreapa teman ikut menggagas
diskusi radar banten.jangan salah, abdul malik dan (alm) rys revolta tahu
banget potensi penulis lokal.
stakeholdernya. makanya pernah ada diskusi mingguan radar banten yang kesohor,
yang bisa menggalang opini publik, mendesak kebijakan pemreintah
setempat/Banten.. pencintraannya bagus,karena orang2 intelektual, budayawan,
seniman, saling bahu membahu membangun pencitraan. ada simbiosis mutualisme.
tapi sekarang, radar banten tidak melirik kami yang seniman. saya aja ngeper
mau maen ke radar banten. udah diblacklst. udah gak dianggap. tiap ultah radr
banten, lewat. pokoknya, radar banten jadi asing.pak poriyo and pak widodonya
juga menjaga jarak.apa karena saya (dan rumah dunia) suka ngritik pemerintah?
pokoknya, kurang asiklah hubungan saya sama radar banten sekarang.karena saya
nggak dianggap, saya jadi sungkan.
say merasa rdar banten sudah bukan teman, ketika saya sakit selama 2 bulan di
rumah sakit holistik purwakarta pada maret - mei 200, baik secara perorangan
dan kelembagaan, tidak ada basa-basinya sama sekali. orang sakit itu butuh
dukungan moril. semakn yakinlah, bahwa ternyata saya bukan teman mereka, baik
secara pekerjaan atau pun diluar pekerjaan. ya, sudah. saya harus menerima
kenyataan itu. sedih juga menerima ini. hehehe.. jadi sentimnetil begini. tapi,
dari peristia inilah saya bisa mengukur kualitas kemanusiaan mereka. apa-apa
yang pernah saya lakkan denan radar banten lewat rumah dunia, silaturahmi saya,
kehadiran saya di setiap diskusi mingguan radar banten, jadi gone with the
wind... heheheehe... ngutip novel....
nah, begitu juga dengan isi opini di radar banten.
apa kata doelha, sekarang ada benarnya. garinglah.
kelokalan tidak ada. saya cari2 tulisan kearifan lokal, tidak ada.
mau gimana lagi, dul?
agus sutisna udah buka kartu.
jadi, saya sebagai konsumen, sudah merasa nggak perlu lagi berlanggnan radr
banten.
kafrena radar bantennya juga udah nggak perlu sama saya.
oh, ya. saya sekarang sedang dikarantina di le meridien. saya masuk nominasi
Indonesia Berprestasi Award yg diselenggarakan XL. Dari 939 pserta terjaring
10. saya salahsatunya.besok pengumumannya. doain ya, supaya menang. kalo
menang, saya - insya Alah, bawa duit sekarung buat rumah dunia.
sekarang rumah dunia lagi butuh dit banyak. buat ode kampung 3. temu komunitas
literasi se-nusnatara. mana peduli radar banten? untuk pemberitaan saja mereka
tak peduli.
di rumah dunia sedang ada pembangunan repelita 2. bikin 3 mck, bikin lab
komputer, bikin gedung library baru. pokoknya, pelan2, nanti akan mewujud
menjadi taman budaya rumah dunia. siapa punya duit, nyumbang semenlah. klik
saja www.rumahdunia.net
nah, untuk usulah koran wong banten, anak2 rumah dunia udah punya tabloid
KAIBON. Dua mingguan. udah 11 bulan. butuh dana segar. mungkin mimpi par
miliser ong banten pingin punya penerbitan independen, bisa diwujudkan di
KAIBON. Sahamnya go public aja gitu? hehehe....
mari kita doakan agar radar banten kembal ke jalan yang benar dan bisa
menghargai apa2 yang sudah dilakukan para pendahulunya, seperti abdul malik.
kalo duit aja yang dikejar, bisa hilang dalaman semalam jika Allah menghendaki.
tapi memiliki saudara, akan awet sepanjang masssa....
tetap semangat
gg