Kang GG yang tetap semangat,
repot juga ya koran lokal kita. sudahmah cuma dua, tak peduliĀ  RD pula.. 
kayaknya pengelola radarbanten harus segera tobat, hehehe..
untuk saat ini saya hanya 'bantu' doa.. 
1. semoga jadi pemenang Indonesia Berprestasi Award 
2. semoga kesehatan selalu menyertaimu 
3. pokoke rumahdunia kian mantap dech, merdeka.......

salam, 
-tata septayuda-
--- On Tue, 18/11/08, Setiadji Achmad <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: Setiadji Achmad <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Re: [WongBanten] radar banten lupa kacang sama kulitnya
To: [email protected]
Date: Tuesday, 18 November, 2008, 6:57 PM










    
            pindah hubungan aja kang gg,masih banyak yg lebih bisa menerima 
keberadaan RD sebagai tukang kritik pemerintah,jika sejauh keberadaan Radar 
tidak begitu banyak berpengaruh pada kemajuab RD...,,talak tilu wae........,, 
,,bukan lagi kacang lupa pada kulitnya..tapi juga pada kebonnya....

From: gongmedia cakrawala <gm_cakrawala@ yahoo.com>
To: wong banten <[EMAIL PROTECTED] ups.com>
Sent: Tuesday, November 18, 2008 6:45:31 PM
Subject: [WongBanten] radar banten lupa kacang sama kulitnya










    
            jujur saja, sekarang radar bangten lupa kacang sama kulitnya.
ini saya tulis karena kecintaan saya sama radar banten.introspeksi ajalah buat 
radar banten. moga2 pak priyo dan pak wid baca email ini. radar bangten udah 
melupakan para penulis lokal, seniman, budayawan. radar banten bermesraannya 
cuma sama politikus dan pengusaha aja. cenderung jadi corong mereka, melupakan 
hak budaya kami. pokoknya, radar banten hanya akrab dengan lembaga2 yang 
menguntungkannya secara politis/ekonomi. mereka takut berhubungan dengan pelaku 
seni.

terdengar subjektif. saya orang luar. tapi, saya tahu persis bagaimana radar 
banten berproses.sayt orang uar, tapi say dan
 bbreapa teman ikut menggagas diskusi radar banten.jangan salah, abdul malik 
dan (alm) rys revolta tahu banget potensi penulis lokal.
stakeholdernya. makanya pernah ada diskusi mingguan radar banten yang
 kesohor, yang bisa menggalang opini publik, mendesak kebijakan pemreintah 
setempat/Banten. . pencintraannya bagus,karena orang2 intelektual, budayawan, 
seniman, saling bahu membahu membangun pencitraan. ada simbiosis mutualisme. 
tapi sekarang, radar banten tidak melirik kami yang seniman. saya aja ngeper 
mau maen ke radar banten. udah diblacklst. udah gak dianggap. tiap ultah radr 
banten, lewat. pokoknya, radar banten jadi asing.pak poriyo and pak widodonya 
juga menjaga jarak.apa karena saya (dan rumah dunia) suka ngritik pemerintah? 
pokoknya, kurang asiklah hubungan saya sama radar banten sekarang.karena saya 
nggak dianggap, saya jadi sungkan.

say merasa rdar banten sudah bukan teman, ketika saya sakit selama 2 bulan di 
rumah sakit holistik purwakarta pada maret - mei 200, baik secara perorangan 
dan kelembagaan, tidak ada basa-basinya sama sekali. orang sakit itu butuh 
dukungan moril. semakn yakinlah, bahwa ternyata saya bukan teman mereka, baik
 secara pekerjaan atau pun diluar pekerjaan. ya, sudah. saya harus menerima 
kenyataan itu. sedih juga menerima ini. hehehe.. jadi sentimnetil begini. tapi, 
dari peristia inilah saya bisa mengukur kualitas kemanusiaan mereka. apa-apa 
yang pernah saya lakkan denan radar banten lewat rumah dunia, silaturahmi saya, 
kehadiran saya di setiap diskusi mingguan radar banten, jadi gone with the 
wind... heheheehe... ngutip novel.... 

nah, begitu juga dengan isi opini di radar banten.
apa kata doelha, sekarang ada benarnya. garinglah.
kelokalan tidak ada. saya cari2 tulisan kearifan lokal, tidak ada.
mau gimana lagi, dul?
agus sutisna udah buka kartu.

jadi, saya sebagai konsumen, sudah merasa nggak perlu lagi berlanggnan radr 
banten.
kafrena radar bantennya juga udah nggak perlu sama saya.

oh, ya. saya sekarang sedang dikarantina di le meridien. saya masuk nominasi 
Indonesia Berprestasi Award yg diselenggarakan XL. Dari 939 pserta
 terjaring 10. saya salahsatunya. besok pengumumannya. doain ya, supaya menang. 
kalo menang, saya - insya Alah, bawa duit sekarung buat rumah dunia.

sekarang rumah dunia lagi butuh dit banyak. buat ode kampung 3. temu komunitas 
literasi se-nusnatara. mana peduli radar banten? untuk pemberitaan saja mereka 
tak peduli.
di rumah dunia sedang ada pembangunan repelita 2. bikin 3 mck, bikin lab 
komputer, bikin gedung library baru. pokoknya, pelan2, nanti akan mewujud 
menjadi taman budaya rumah dunia. siapa punya duit, nyumbang semenlah. klik 
saja www.rumahdunia. net

nah, untuk usulah koran wong banten, anak2 rumah dunia udah punya tabloid 
KAIBON. Dua mingguan. udah 11 bulan. butuh dana segar. mungkin mimpi par 
miliser ong banten pingin punya penerbitan independen, bisa diwujudkan di 
KAIBON. Sahamnya go public aja gitu? hehehe....

mari kita doakan agar radar banten kembal ke jalan yang benar dan bisa 
menghargai apa2 yang sudah dilakukan
 para pendahulunya, seperti abdul malik. kalo duit aja yang dikejar, bisa 
hilang dalaman semalam jika Allah menghendaki. tapi memiliki saudara, akan awet 
sepanjang masssa....

tetap semangat
gg





      
      


        
        




      
      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke