--- Begin Message ---
Just fwd ...
Kisah perjalanan hidup anak manusia
Semoga menginspirasi ...

-----Original Message-----
From: ain hawadaa 
Sent: Sunday, November 09, 2008 5:56 PM
Subject: Perang Si Padang (1/4) 


Perang Si Padang (1) 
   
Written by Zulkarnain Kahar    

Sunday, 07 September 2008 

"Man must be equipped with the capacity to listen to and obey the ten
thousand demands in the ten thousand situations with which life is
confronting him." (1975, p. 120), Viktor Frankl's theory.

Dalam perjalan hidup ini kita sering mengatakan, "Pasti ada hikmah di
balik setiap kejadian".  Ungkapan tersebut tidak sekedar untuk
diucapkan, tetapi mengandung pengertian yang penting dalam kehidupan
sehari-hari .

Dipinggiran danau yang tercipta dari kaldera runtuhan yang terbentuk
dari letusan besar jauh sebelum terjadinya super vulcano Toba yang
menjadi ukuran besarnya letusan gunung berapi didunia ini. Tanggal 15
September 1958 lahirlah seorang anak laki laki di-iringi siraman
mitraliur oleh Tentara Nasional Indonesia dari puncak embun pagi.

 Cincin yang melekat di jari Pamanku terpaksa lepas untuk membayar jasa
Bu bidan yang membantu kelahiranku. Kemenakan pertama dan cucu pertama
dirumah kami disambut gembira. Setelah melepas cincinnya sang paman
kembali lari kehutan. Itulah sekeping cerita nenekku. 

Suasana kacau akibat pemberontakan PRRI yang gagal ini tanpa kusadari
menjadikan aku seorang single fighter dalam perang yang lain yang
bernama kehidupan. PRRI boleh kalah karana salah memilih perang but I
don't.

Di sebuah sekolah dasar perguruan Tjahaya milik masyarakat Tionghua di
Meral Tanjung Balai Karimun aku mulai membaca dan berhitung dan
berlanjut di Sekolah Dasar Negeri disebuah kota tambang bouksit Kijang
di pulau Bintan. SMP pun selesai disini terus di SMA Negeri Tanjung
Pinang dan menempuh garis finish di Bagan Siapi api Riau.

16 Agustus 1968 adalah hari sibuk pertama dalam hidupku, anak anak SD
Tjahaya Meral akan ikut tap tu berjalan bawa obor dimalam hari menuju
Taman Makam Pahlawan di kotakecamatan Tg, Balai Karimun. Esok adalah
Hari perayaan Kemerdekaan Republik Indonesia. Rombongan kami menaiki Bas
(sebutan untuk bis bagi orang orang meral) yang dikemudikan oleh apek
apek (cina separuh baya). 

Ditengah kegembiraan anak anak SD, lagu halo-halo bandung, maju tak
gentar, Dari Sabang sampai Marauke berkumandang sepanjang jalan utama di
Tanjung Balai Karimun, membakar jiwa jiwa kecil kami. sepatu yang
digosok berkilat baju yang harus pakai kanji biar rapi dan saat bulgur
yang jadi makanan sehari hari kami pun sudah seperti nasi. Kami anak
Indonesia akan berjuang mengangkat nama Indonesia ini. Suasana tegang
konfrontasi dengan Malaysia sudah tak terasa lagi.


Lubang lubang persembunyian  disekolah yang dibuat untuk bersembunyi
kala serine bergaung telah ditutup, rumah rumah yang dicat loreng masih
kelihatan. Perang sesama alat negara, yang terjadi didepan rumah kami
yang menyisakan banyak selonsong peluru sudah mulai hilang dari ingatan
kami. 

Halo halo bandung...terus berkumandang... , teriakan merdeka yang keluar
dari suara suara kecil itu disambut meriah oleh para penonton
disepanjang jalan yang kami lalui...menjadi Indonesia adalah sebuah
kebanggaan dan cita cita bagi kami. Bagiku sehari sebelum parayaan 17
Agustus adalah hari dimana saya melihat jauh kedalam diri saya selolah
menagih janji si anak SD. 

Apakah si Indonesian ini lebih baik dari tahun lalu, tentu sudah tidak
lagi makan bulgur, baju pun tidak lagi berkanji, mampukah saya sebagai
Indonesia berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan bangsa bangsa
lain di dunia ini. 

Hari ini saya tidak lagi bernyanyi halo halo bandung, saya menyanyikan
lagu keringat saya sendiri dengan merah darahku dan putih tulangku. Saya
telah berdiri sama tinggi dengan mereka Indonesia. Terima kasih Sukarno
dan Hatta, Suharto, Habibie, Gusdur, Mega dan Susilo sampai saat ini
saya masih bisa menyebut diri saya Warga Negara Indonesia.

Masa kanak kanak ku kuhabiskan di Meral. Aku dari kecil dibesarkan dalam
pangkuan nenekku karena ayah dan ibuku bekerja. Nenek adalah orang yang
paling berkesan di dalam hidupku. Ketegasan, kasih sayangnya, cerita
cerita rutinnya menemani hari hari ku mengenal dunia. Nenek ku namanya
Nuraini orang dikampung memanggilnya uncu Ani ada pula yang memanggilnya
uwaik anduang. Ayah nenek adalah seorang mentri candu di Medan sampai
saat ini aku pun tidak tahu apa tugas mentri candu zaman belanda itu. 

Nenek punya satu adik laki laki dan tak pernah pulang kekampung aku
memanggilanya abo Kutar sampai akhir hayatnya di dihabiskannya di Medan.
Lorong lorong di simpang limun, gang aman , sukaramai jalan bakti nenek
hafal luar kepala. 

Kalau ada kesempatan pulang kampung nenek selalu membawaku ketempat
sanak saudara dan mengenalkan ku pada mereka dan biasanya akan berakhir
dengan kunjungan ke tanah perkuburan keluarga kami. Disini nenek akan
bercerita bannyak seperti dosen sejarah, ini pusaro nenek betawi, ini
pusaro nenek Aceh. Ini pusaro abo Medan dan itu rantaunyo ka sidempuan
dll. Masing-masing orang dikenal dengan kemana dia merantau. 

Ternyata nenek moyangku adalah keluarga perantau sejak dari sononya, ada
yang pulang dihari tua dan banyak pula yang memilih tidak pulang sampai
akhir hayatnya. 

Sepanjang pengetahuan ku hanya satu Abo yang pulang dihari tuanya Abo
Jala namanya Nenek ku sangat mengormati beliau walaupun beliau bukan
abang kandung beliau tetapi ibunya Abo Jala bersaudara dengan ibunya
Nenek. Rasa persaudaraan diantara generasi nenek sangat kuat. Ada lagi
adik nenek saudara ibu namanya nenek kasimah beliaupun sangat dekat juga
denganku sampai akhir hayatnya aku juga yang menggendongya memasuki
liang lahat saat aku masih bekerja di Lhokseumawe Aceh. Beliau meninggal
di Medan dirumah anak perempuannya. 

Mazda capella merahku kupacu dari Lhokseumawe menuju Medan saat dikabari
bahwa beliau meninggal pada tahun 1998. 

Kami adalah dari keturunan suku Melayu. Nenek hanya punya satu anak
perempuan yaitu ibuku dan satu anak laki laki pamanku aku memanggilnya
Adang. Ibuku punya dua anak laki laki aku dan adiku. Dan kami adalah the
last melayu on board dari keturunan nenekku. Kebesaran suku melayu dari
garis keturunan nenek berhenti disini. Nenek hidup mewah di Medan pada
saat anak anak. Sayang ayahnya keburu meninggal pada saat dia beranjak
remaja. Kemudian beliau menikah dengan seorang Jaksa, setelah punya dua
anak yang masih kecil kecil Ibu dan Paman suami beliau meninggal inilah
awalnya nenek bersahabat dengan penderitaan panjang. 

Awal tahun 1970, Ibuku dipindah tugas kan ke Kijang Tanjung Pinang, Ibu
berangkat duluan ke Kijang sedangkan aku belakangan menuggu teman sesama
kerja Ibu mengambilkan gaji Ibu dan nanti aku yang akan membawa ke
Kijang sekalian menuggu surat pindah dari sekolahku keluar. Nenek
kemudian kembali kekampung. Tanpa nenek yang mengawasi hari hariku
menjadi liar. 

Menjelang memasuki kelas Enam di SD Kijang . Ibu dan aku menumpang di
rumah seorang Dokter SM, saudara sesama dari Maninjau, beliau adalah Bos
dokter di Rumah sakit Umum Tanjung Pinang, rumahnya sangat besar dan
berada disebelah RSU tersebut. Aku diberitahu Ibu besok pagi temui om
dokter  SM itu , untuk melaksanakan sunat rasul. Aku hanya mengangguk. 

Pagi pagi setelah mandi dan rapi rapi, Ibu berangkat ke kijang yang
berjarak 30 km ke kantor tempatnya bekerja sambil mencoba mencari rumah
dimana kami akan tinggal berikutnya. Aku jalan kaki menemui om dokter
RSU dan mengatakan "Om kata ibu saya mau sunat".  Tak ada kain sarung
dan orang yang mengantar. om doter SM langsung berdiri dari meja
kerjanya dan langsung berkata "ayo" sambil mengajaku berjalan bersama
memasuki ruang operasi, tak ada basa basi atau formulir yang mau diisi.

Aku terbaring ditempat tidur operasi dengan melihat lampu besar diatas
kepalaku, Om dokter dan beberapa perawatpun beraksi.  15 menit kemudian
terdengar suara om  dokter " Sudah kamu sekarang resmi menjadi seorang
Muslim" katannya. Pakai celana itu lagi dan jangan dibuka perbannya,
tiga hari lagi kita buka jahitannya", Aku hanya mengangguk sambil
bertanya "Om boleh naik sepeda ndak ya". "Besok boleh jangan hari ini"
katanya. Tak ada hadiah, tak ada yang menemani aku kembali ke rumah om
dokter tempat kami menumpang.  

Tahun 2004 sehari sebelum aku berangkat oversea assignment ke Afrika aku
sempatkan menemui Om dokter yang sekarang tinggal di jakarta timur
menikmati hari hari tuanya kusalami tangannya dan mengucapkan terima
kasih.

Di kijang kami tinggal di bekas gudang cina daerah dekat pelabuhan.
Daerah tersebut terkenal dengan nama Barek Motor. Di sebelah rumah ada
Kantor Jaksa dan pak jaksa bujangan juga tinggal dan berkantor disana.
Saya sering jadi kenek Pak Jaksa tersebut dan selalu dikasi duit. Pak
Jaksa inilah jadi penyelamat saya karena Ibu tak pernah memberi uang
jajan . 

Dan bukan itu saja Pak jaksa juga punya kekuasaan hebat dia bisa ngambil
mercon dan mainan ditoko cina tanpa bayar dan langsung dikasikan saya.
Kalau lebaran tiba kantor yang merangkap sebagai rumah pak jaksa penuh
kue dan minuman pemberian para warga tionghua donatur setia beliau.

Ibu seorang karyawan rendahan uang gaji beliau walau sudah berhemat
masih tak cukup dimakan untuk satu bulan. Saya sudah masuk SMP Negeri
Kijang, saya coba mengirim surat kepada presiden Suharto untuk minta
bantuan bea siswa, tak berapa lama saya mendapat balasan dengan stempel
Kabinet Pembangunan yang berisi tentang penjelasan bea siswa dan tata
cara mendapatkannya. Kepala sekolah justru memanggil saya dan marah
besar karena saya begitu lancang. Ditambah lagi dengan perkataan sekolah
malas mau minta bea siswa pula. 

Sebenarnya saat kelas satu SMP saya sudah goyah, melihat kondisi ibu
yang diserang penyakit Psoriasis. Gajinya yang sedikit yang tidak cukup
dimakan satu bulan harus membeli obat pula. Pulang sekolah saya selalu
memetik daun ubi di kebun orang untuk ditumis dan memetik cabe rawit di
kebun sekolah dulu. Karena inilah saya mencoba menulis surat pada
presiden. Penyakit psoriasis yang menyerang ibu ini adalah penyakit yang
berhubungan dengan gen sampai saat ini belum ada obatnya. Obatnya mahal
dan tidak pula bisa menyebuhkan hanya mengurangi saja, bila obat habis
kembali bertambah parah sekujur tubuh terkelupas.

Penyakit ini juga menyerang saya sejak tahun 2000 tapi bedanya dengan
ibu yang PNS saya bekerja di Perusahaan minyak terbesar di dunia.
Setelah lulus SMP tahun 1973 saya melanjutkan ke SMA Tanjung Pinang yang
berjarak 30 km dari Kijang, kami anak kelas satu masuk siang. dari
kijang ke pinang kami naik bis persis seperti metro mini (mereka
memanggilnya uspen) disediakan oleh PT Aneka Tambang Bouksit buat anak
anak karyawan mereka. 

Saya adalah penumpang gelap kalau uspen penuh muka anak anak kuli
tambang yang keren keren tersebut mulai kelihatan tak bersahabat karena
saya penumpang haram ataul ilegal. Karena tak pernah bayar uang sekolah
masuk sekolah pun mulai tak jelas. 

Pada saat tiba waktu membawa rapor pulang saya kebingungan, gimana
caranya uang sekolah belum dibayar gimana bisa dapat rapor. Dalam
kepanikan inilah saya mencuri blanko rapor kosong disekolah dan mengisi
sendiri nilai nilainya, memalsukan tanda tangan guru dan mencuri stempel
sekolah. 

Kwartal pertama, kedua dan ketiga selamat pada saat kenaikan karena buru
buru cap stempel terbalik capnya diraport saya.

Inilah awal bencana ibu langsung membawa raport menghadap kepala
sekolah, dan ibu pula yang bersikeras memaksa pak kepala sekolah untuk
melaporkanku kekantor polisi. "Rule must be put in place" yang salah
harus dapat hukuman kalau tidak anak saya tidak pernah belajar. 

Hasilnya saya masuk lokap 21 hari di sel tahanan polisi Tanjung Pinang.
Untung lah kasus ini tak berlanjut ke pengadilan polisi setangah hati
meneruskan perkara ke pangadilan gara gara penyalah gunaan stempel
sekolah. Sebenarnya selama ditahan di kantor polisi saya tidak digabung
dengan tahanan dewasa lainnya. 

Saya menempati kamar sebelahnya yang sebenarnya diperuntukan untuk
wanita, walau pintu sel tidak pernah di kunci saya tak bisa keluar
karena harus melewati pos jaga didepan. Padahal kalau stempel saya tidak
terbalik dan ibu dapat saya kibuli rencana jangka panjang saya adalah
pulang kampung tinggal bersama nenek dan akan bersekolah di dimaninjau. 

Surat pindah sudah saya siapkan lengkap dengan tujuannya SMA Maninjau. 

Selama ditahan 21 hari ini saya diberi tugas oleh pak polisi untuk
setiap hari mengambil makanan para tahanan ke Penjara di Tanjung pinang.
Dari balik jeruji tahanan dewasa polisi itu saya berinteraksi dengan
para tahanan yang terdiri dari  orang orang cina penyeludup dan maling
maling. 

Bos bos cina tersebut ada  yang menyuruh saya membeli rokok  dan makanan
pada saat saya mengambil makanan ke Penjara. Setelah saya keluar pernah
saya temui salah satu toke kapal arang yang menyeludup ke malaysia dan
singapura tersebut dan mereka menawarkan saya kerja dikapal mereka yang
bolak balik ke malaysia membawa arang dan pulangnya membawa alat alat
electronic dan apa saja yang bisa dijual di Indonesia. Tapi saya lebih
tertarik menyelesaikan sekolah dulu. Minimal ijazah SMA harus masuk
kantong dulu setelah itu baru  mau kemana atau berbuat apa nanti saja.

Keingingan besar untuk mengantongi Ijazah SMA inilah yang menjadi driver
utamaku untuk melanjutkan pertarungan yang tertunda,  1975, karena tak
bisa lagi sekolah si SMA Tanjung pinang tak ada pilihan lagi selain
Pulang kampung ketempat nenek. 

Karena sudah bulan april satu kwartal sudah berlalu saya tak bisa
diterima di SMA Maninjau karena sudah berjalan satu kwartal saya baru
mau mulai lagi sekolah. 

Terpaksalah pergi ke lubuk basung diantar Nenek saya. Mungkin karena
kasihan Kepala sekolah SMA Filial Lubuk Basung langsung menerima saya
beliau menulis remarks dirapor saya "Tidak ada Nilai karena sakit
sakitan". Sungguh bijaksana bapak itu kalau beliau maju jadi caleg pasti
akan saya pilih dia. Di Lubuk Basung ini saya habiskan tahun 1975. 

Bila tiba hari sabtu saya jalan kaki ke Maninjau untuk pulang ke tempat
nenek mengambil bekal untuk satu minggu kedepan, perjalan ini biasanya
saya tempuh selama lima jam. 

Air yang mengalir disepanjang jalan dari antokan ke bawah terasa nikmat
sekali mengalir ditengorokan saya. Di Lubuk basung ini untuk cari uang
tambahan saya bekerja sebagai kuli panggul menurunkan karung karung
berisi jengkol yang berdatangan dari perdesaan sekitar dari truk dan
gerobak. Ini biasaya saya lakukan sesudah magrib. 

Belajar, yang satu ini hanya disekolah saja. Begitu keluar dari sekolah
otak saya hanya berfikir "bagaimana mengisi perut". Setelah naik ke
kelas dua IPS, walaupun sebenarnya saya tak bego bego amat di pelajaran
aljabar, kimia dan fisika tapi karena blank di kwartal pertama banyak
merah di kwartal ke dua dan biru semua dikwartal berikutnya. Sekolah
rupanya mau cari selamat dengan menaikan saya ke II IPS walau tidak
satupun angka merah dirapor saya. 
 
 Bersambung..


_______________________________________________
Forum mailing list
[EMAIL PROTECTED]
http://mail.alumni-akabogor.net/mailman/listinfo/forum_alumni-akabogor.n
et

<<winmail.dat>>


--- End Message ---
This e-mail is confidential and may contain legally privileged information. If 
you are not the intended recipient, you should not copy, distribute, disclose 
or use the information it contains. Please e-mail the sender immediately and 
delete this message from your system. E-mails are susceptible to corruption, 
interception and unauthorized amendment; we do not accept liability for any 
such changes, or for their consequences. You should be aware, that PT TITAN 
Petrokimia Nusantara might monitor your e-mails and their content.

Kirim email ke