--- Begin Message ---

-----Original Message-----
From: ain hawadaa [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Sunday, November 09, 2008 5:58 PM
To: Sukamto
Subject: Perang Si Padang (2)


Perang Si Padang (2)

<http://www.cimbuak.net/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=1364>
<http://www.cimbuak.net/index2.php?option=com_content&task=view&id=1364&;
pop=1&page=0&Itemid=5>
<http://www.cimbuak.net/index2.php?option=com_content&task=emailform&id=
1364&itemid=5>          
Written by Zulkarnain Kahar

Wednesday, 17 September 2008

 Image<http://www.cimbuak.net/images/stories/content/zxkahar-thumb.jpg>
Saya pindah ke SMA Negeri Maninjau setelah di legalisasi oleh SMA Filial
Lubuk Basung.Masa masa indah di maninjau saya jalani dengan nikmatnya
rokok SOOR, yang dibeli dari upah panggul menurunkan barang dari pedati
bang ujang. Waktu pulang kampung tahun 2006 setelah dua puluh tahun tak
pernah mudik sejak tahun 1986 membawa nenek keJakarta, saya jumpai sang
pemilik pedati dan bertanya "Mana pedatinya bang?". "Kini ndak laku
padati lai, lah banyak
<http://www.cimbuak.net/mambots/content/glossarbot/info.gif> oto",
katanya dengan senyum yang hambar.
<http://us.i1.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/tsmileys2/02.gif>

Dimaninjau ini pula saya jadi petani bertanam kacang tanah, setiap malam
harus dijaga sampai bertunas menghidari gangguan babi. Pada saat saya
menulis ini terbayang oleh saya saat memanen hasil panen bersama Nenek,
kami harus berlomba dengan Kera - kera yang juga berpesta. Kami mencabut
didepan kera kera itu mencabut dibelakang kami sedih, tertawa, marah
bersatu jadi kenangan indah.
<http://us.i1.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/tsmileys2/01.gif>

Maninjau pada masa masa itu terkenal dengan cengkeh. Kalau pada musim
cengkeh kantong saya tebal dengan rupiah apakah dari hasil mencuri
cengkeh saudara atau dari upah memanjat cengkeh yang tak pernah jujur
selalu saja ada yang digelapkan
<http://us.i1.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/tsmileys2/34.gif> .

Dunsanak saya itu tahu apa yang saya lakukan tapi beliau pura pura tidak
tahu. Kata kata seperti "
<http://www.cimbuak.net/mambots/content/glossarbot/info.gif> inyo
kanurang rantau ma lo kapandai inyo mamanjek". Dalam hati saya jangan
under estimate bang. Kenangan kampung bagiku jauh berbeda dengan kawan
kawan minang lain yang dibesarkan dari surau ke surau dibawah pengawasan
orang tua dan orang orang tua mereka.

Di maninjau aku tinggal di pasar Maninjau tempat berkumpul segala macam
tingkah polah pareman pareman. Kalau aku ke Payakumbuh ketempat Ayah
juga dipasar dekat terminal bus Nunang namanya. Segala macam tinggkah
polah orang pasar yang hidup di kepalaku. Kehidupan manis di maninjau
ini berakhir dengan sebuah berita yang disampaikan oleh pak guru SMA
Maninjau ada telpon dari Rumah sakit umum Bukit Tinggi. "Ayah saya sakit
keras ". Dari cara pak guru menyampaikan berita saya bisa menebak Ayah
sudah tiada. <http://us.i1.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/tsmileys2/17.gif>
Setelah mengemasi buku buku pelajaran saya pulang dan memberitahu nenek,
saya mau RSU Bukit Tinggi. Ayah sudah meninggal.

Entah dari mana nenek meminjam uang lalu dia memberi saya ongkos.
Berangkatlah saya ke bukit tinggi dan langgsung kerumah sakit umum
disana saya temui adik saya sedang termenung. Dia saat itu baru kelas
satu SMP kami hanya dua bersaudara, laki laki pula dia juga berjuang
sendiri mencari garis tangannya dan tidak kalah kerasnya dari saya
karena Ibu hanya mampu menyekolahkan kami berdua sampai SLTA itupun
sudah kami syukuri sepanjang hayat kami berdua.

Kini adiku satu satunya itu berhasil pula berkarya di sebuah Bank
terbesar di Indonesia dan bergelar master pula. Kini Ibu mondar mandir,
kalau bosan dirumah adikku beliau kerumahku. Kadang kadang beliau
mengomel coba kalau punya anak perempuan Aku pasti betah dengannya. Kami
berdua selalu berkata Tuhan itu lebih tahu apa yang terbaik buat Ibu.

Menurut adikku ayah sudah jatuh sakit saat saya pulang kampung saya tak
diberitahu mungkin beliau masih menyimpan kemarahan akan keamburadulan
saya celana yang menyapu jalan sepatu hak tinggiku rambut kribo membuat
gigi beliau selalu sakit. Setelah sakitnya semakin parah ia minta pulang
kekampungnya di Nunang Payakumbuh. Agar ada yang menemaninya ikutlah
adik dengannya pulang kampung ke Payakumbuh. Sementara Ibu dipindahkan
oleh kantornya ke Bagansiapi siapi dari Kijang.

Satu lagi chapter baru dalam kehidupan saya, Setelah ayah meninggal kami
berdua berangkat ke Bagansiapi api dan tinggalah kami bertiga bersama
ibu. Pertengahan tahun 1976 saya masuk di SMA Negeri Bagan Siapi-api.
Disini saya sangat menikmati lari pagi sambil ngambilin
<http://us.i1.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/tsmileys2/18.gif> buah buahan
seperti apel, jeruk  dan buah buahan lain, di atas meja sembahyang orang
orang cina yang diletakkan di depan rumah mereka. Di depan rumah
kontrakan kami di bagan ini tinggal seorang Jaksa. Beliau sangat hobi
main catur. Beranda didepan rumahnya selalu ramai dengan anak anak muda
yang diajaknya main catur hampir semua dibuatnya tumbang.

Setelah beberapa kali mendekat akhirnya saya dapat kesempatan bermain
dengan beliau. Sebenarnya beliau tidak pintar pintar amat saya tak butuh
waktu lama untuk menghajarnya
<http://us.i1.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/tsmileys2/13.gif> tapi tidak
saya lakukan bahkan sering saya beritahu "awas pak" kuda itu atau mentri
itu bakal melayang" atau saya bilang jangan buru buru pak lihat dulu itu
terbuka dan sebagainya, cara saya ini membuat kami kalau main selalu
lama dan hampir semua permainan saya biarkan dia yang menang. Gara gara
main catur begini perkawanan kami semakin akrab. Saya sering dibawa
keluar makan dan dia bilang kalau mau nonton di bioskop dia bisa masukan
saya gratis kapan saja saya mau. Jadilah setiap malam saya minta memonya
untuk nonton gratis dan kemudian saya jual.
<http://us.i1.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/tsmileys2/34.gif>

Suatu hari pak jaksa mengajak saya kerumah seorang toke cina, entah apa
yang dia bicarakan didalam manalah saya tahu. Karena lama menunggu di
ruang tamu sang Toke cina saya lihat ada gitar merek Kapok, lalu saya
ambil dan mainkan pelan pelan. Pada saat pak jaksa keluar dia lihat saya
main gitar, lalu dia bilang "kau bisa main gitar" dia lalu melirik ke
cina pemilik rumah sambil berkata "Untuk dia saja gitar itu ya?" .

saya hanya melihat sang pemilik menganggukan kepala dan jadilah gitar
itu hak milik saya yang akhirnya saya jual juga karena uang lebih
menarik dari barang saat itu. Hebat sekali pak Jaksa kita dalam hati
saya. Persahabatan saya dengan pak jaksa ini bukanlah persahabatan
saling menguntungkan karena saya yang paling banyak diuntungkan. Dapat
pakai motor pak jaksa dengan gratis dll. Sampai suatu hari dia bilang
"Kalau kau tamat SMA masuk hukum saja di salah satu universitas di Pekan
Baru, nanti saya bantu saya kenal dengan banyak dosen dosen disana
katanya, Dekannya pun saya kenal Saya tambah binggung saja dengan pak
jaksa ini dia kerja di Bagansiapi api tapi dia punya banyak relasi di
pekan baru. <http://us.i1.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/tsmileys2/34.gif>

Pertemanan ini berantakan karena saya menolak mengumpulkan teman teman
SMA saya untuk ikut kampanye pemilu dibawah bendera partai pemerintah
waktu itu dan membagi bagikan uang dan kaus gratis agar barisan kampanye
jadi ramai katanya. Dia tahu semua anak SMA yang tukang nogkrong dipasar
adalah konco konco saya. Sebenarnya saya tak ada urusan dengan partai
tersebut dan uang lebih menarik dari idealisme, tapi dendam saya sama
sang peresiden belum mau hilang karena menolak memberi saya beasiswa.
Ini membuat saya tidak mau terlibat dan dilibatkan dalam pemilu kalau
sekarang lebih populer dengan golput. Sepanjang hidup saya baru satu
kali saya nyoblos pemilu th 2004 aneh bin ajaib saya memilih partai yang
dulu saya benci alasan saya sederhana sang pendiri sudah tumbang
sementara partai yang lain tak jelas juntrungannya.

Kenakalan saya waktu di SMA Bangan sudah kelewatan gara gara menikmati
anggur vigor setiap jam istirahat, hampir saya dikeluarkan dari SMA
Negeri Bagan siapi api. Sebenarnya ada banyak alasan kepala sekolah dan
guru guru untuk mendepak saya keluar. Entah apa yang membuat mereka
selalu saja memberikan warning warning dan warning lagi... Hari ini saya
bersyukur pak guru Nurdin yang orang minang itu dengan sabar memanggil
saya dan menasehati saya berulang ulang " zul, suatu hari nanti kau akan
berterima kasih sama saya". "Orang minang apalagi pindahan dari SMA
Maninjau yang terkenal dengan alumninya yang melenggang masuk
keperguruan tinggi negeri di Indonesia ini tak ada yang jadi bandit zul,
semua pasti pintar pintar dan berkelakuan baik barangkali kau ini
pengecualian"

Yup beliau benar hari ini saya berterima kasih yang sebesar besarnya
buat walikelas saya Pak Guru Nurdin walaupun saya tidak mampu melenggang
ke Universitas seperti ucapan beliau.

Main kartu selama liburan bulan puasa sudah biasa, kalau menang puasa
terus, kalau kalah langsung buka. Trik menyelipkan beberapa kartu disela
kelingking adalah makanan saya kalau saya yang mengocok kartu selesailah
uang dimeja saya makan. Ada suatu kali hari itu hari mengambil raport
kenaikan ke kelas III, saya sibuk nyari kawan untuk mengambil rapor saya
karena rapor harus diambil orang tua. Saya tak pernah bilang sama Ibu
masalah rapor ini. Masuklah dia kekelas setelah dia masuk baru saya
sadar dia hanya tahu nama panggilan saya "acuh" yang diberikan kawan
kawan karena ketidak perdulian saya sama alam sekitar.

Saat  diumumkan juara satu "Zulkarnain Kahar", dia diam saja. Saya mulai
panik kemudian saya dari luar berteriak, "ARRR, ambil", untung dia
berdiri dan diberikan pak guru yang membagikan rapor. Setelah itu kami
berdua tertawa terbahak diluar...

Saya  Lulus SMA juara umum pula mungkin para guru kami tidak
mengkorelasikan kenakalan saya dengan nilai ujian. Padahal sehari
sebelum ujian begadang sampai pagi bersama abang abang tukang becak.
Mengikuti ujian hari pertama dengan mata terkantuk-kantuk.

Tiga bulan sebelum ujian saya mendengar ada penerimaan pegawai baru di
BNI 46 cabang Bagan Siapi Api. Saya nekat memasukan lamaran dengan modal
raport kelas tiga SMA. Sebulan kemudian ada dua puluh orang termasuk
saya dipanggil untuk ikut test semua soal saya jawab. Dua hari setalah
menerima Ijazah saya dapat panggilan untuk datang ke Kantor BNI. Saya
hubungi semua kawan kawan alumni SMA yang ikut test dengan saya kecuali
yang ada beberapa yang bukan orang Bagan. Sambil bertanya apa mereka
dapat surat dari BNI. Semua kawan menjawab dapat tapi surat maaf anda
belum berhasil.

Karena masih anak SMA bloon saya tidak menyadari itu adalah wawancara
dengan Pimpinan BNI hari itu adalah hari YES or NO. Karena yang datang
untuk wawancara hanya ada dua orang saya dan seorang wanita yang tak
pernah saya lihat di Bagan siapi api sebelumnya. Dengan menenteng Ijazah
SMA yang masih baru dan wangi saya dipanggil masuk.

Setelah mereka meperkenalkan diri salah satu dari tiga orang tersebut
bertanya " Kok kamu berani memasukan lamaran padahal belum tentu kamu
lulus".

Saya jawab dengan super yakin "Kalau saya tidak yakin saya lulus saya
tidak melamar pak, ini dia Ijazah saya sambil menyodorkan ke hadapan
beliau". Dari atas kebawah berjejer angka delapan satu angka
limaberwarna merah untuk bahasa arab angka enam olah raga. Saya jelaskan
lima itu karena saya pindahan dari tiga SMA, di SMA pertama dan kedua
kami belajar bahasa jerman di Bagan kelas tiga bahasa Arab habislah saya
pak. Kalau olah raga dapat enam karena saya tidak suka senam pagi
Indonesia itu dan tak pernah ikut, kok rasanya seperti waktu penjajahan
jepang padahal kita sudah lama merdeka.

Akhir dari wanwancara saya disuruh menunggu dirumah. Kemudian saya
katakan "Pak waktu saya hanya satu minggu, kalau lebih dari itu, saya
anggap saya gagal". Setelah satu minggu tak ada kabar berita saya
berkata sama sama kawan kawan saya yang sedang bergembira akan
melanjutkan kuliah dan bercerita tentang universitas, akademi dan
lajutan berikutnya. Dengan suara keras dan lantang saya berkata " I will
beat this damned world my friend", tidak ada yang tahu saya sebenarnya
terpukul telak oleh kemiskinan karena tak punya biaya untuk melanjutkan
kependidikan lebih tinggi.
<http://us.i1.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/tsmileys2/17.gif>

30 tahun kemudian saya kembali ke bagan bersama anak anak dan melihat
Bagan telah berubah , dari kota ikan jadi kota burung layang layang.
Dari kecamatan jadi kabupaten. Dulu tak ada mobil, sekarang jalan-jalan
sudah macet. Lelaki itu harus berbuat sesuai dengan apa yang
diucapkannya.

Awal tahun 1978 setelah tak ada berita dari BNI dan waktu yang saya
berikan terlewati walau belakangan hari saya menyesali kebodohan saya,
yang mau kerja itu saya bukan pejabat BNI tapi nasi sudah jadi bubur..

Dengan menumpang kapal kayu pengangkut belacan dan ikan asin yang baunya
minta ampun <http://us.i1.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/tsmileys2/26.gif>
selama dua hari dua malam akhirnya saya memijakan kaki saya di pelabuhan
tua sunda kelapa. Tanpa sepeserpun uang disaku yang ada hanya sebuah
alamat di dalam kepala "Tanah Abang" aku pun sudah lupa kapan pertama
kali mendengar nama Tanah abang ini, mungkin di film barangkali. Tak ada
kawan dan saudara. Jalan kaki dari Sunda Kelapa ke Tanah Abang sambil
bertanya pada setiap orang.

Setiap langkah semakin mantap karena ternyata semua orang tahu Tanah
Abang, dan rupanya ia benar benar ada. Yes, I am here, Tanah Abang.
Saking kelelahan tertidurlah badan di Mesjid lantai atas tanah abang.
Bangun-bangun adzan Magrib dan sepatu kesayangan pun lenyap, saat
mencari cari sepatu yang hilang inilah bertemu dengan beberapa orang
anak muda minang Buyung dan Syaf yang berjualan "Air Haus" istilah
mereka waktu itu. Mereka pun mengajak sama sama mereka. Berjalanlah ke
daerah bongkaran daerah kumuh, suara musik melengking yang terasa aneh
ditelinga, belakangan saya tahu itu musik daerah jawa barat.

Kamar kontrakan sempit yang sudah dihuni oleh 4 orang, Buyung, Asbar,
Arifin, dan Syaf ditambah saya satu bertambahlah sumpeknya. Hanya ada
satu lampu. Asbar kerja sama Rifin. Mereka Jualan kaos 3 sepuluh ribu,
Buyung join sama si Syaf jualan air haus dan berencana mau buka sendiri.
Arifin berasal dari Tiku, buyung asbar dan Syaf berasal dari pariaman
mereka berempat semua kelahiran Medan.

Arifin sekarang sudah sukses dengan bisnis konveksinya. Asbar kembali ke
Medan dan berjualan dari pajak ke pajak dalam
<http://www.cimbuak.net/mambots/content/glossarbot/info.gif> kamus
hidupku juga masuk kategory berhasil karena mampu mengirim anaknya ke
universitas. Aku pernah mengajaknya menikmati hotel Bintang lima Medan
saat aku ada dapat training diMedan tahun 1998. setiap aku ke medan aku
selalu mampir kerumahnya dan tak pernah tidak.

Buyung tetap di Jakarta entah beribu kali pula bertukar profesi sampai
terdampar berjualan di Glodok. Ia Juga dalam kamusku masuk kategory
sukses karena sudah mampu memiliki rumah sendiri di Kalideres dan tiga
Anaknya di pesantren ternama di Jawa Barat.

Pada saat kami masih berputar di Tanah Abang kami selalu berkumpul
bersama setiap jam 7:30 menjelang makan malam. Kami sama sama makan
diwarung milik orang bukit Tinggi di pinggiran Project tanah Abang.
Beliau memiliki anak gadis cantik yang selalu membantu.

Arifin adalah yang adalah yang paling berduit diantara kami tapi dia
tidak bisa menulis dan membaca
<http://us.i1.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/tsmileys2/17.gif> tapi dia
pula yang paling tekun dan serius tak banyak bicara bahkan cenderung
pemalu. Dia tertarik dengan anak penjual nasi tersebut yang berinitial
D.

Mulailah ku olah sebuah surat perkenalan seolah olah datang dari si D
untuk rifin dan dibacakan oleh Asbar. Kemudian si rifin memintaku
membalas, balas membalas surat ini sebenarnya aku seorang yang menulis
<http://us.i1.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/tsmileys2/18.gif> .

Lebih dari tiga bulan kami makan gratis dibayarin rifin, dia pun yang
terkenal  <http://www.cimbuak.net/mambots/content/glossarbot/info.gif>
sampilik mulai berbaik hati pada kami bertiga, sampai kami semua
berpisah. Aneh bin ajaib mungkin kebesaran Tuhan lima tahun kemudian Si
rifin resmi menyunting so D. sampai hari ini mereka adalah pasangan yang
setia. Allah Akbar.

Suatu hari aku bersama si Saf mendorong gerobak haus . Kami mendorong
gerobak ke Senayan karena katanya ada bola. Sampai di Senayan tak ada
apa apa, karena itu malam minggu didoronglah gerobak menuju Taman Ria
monas menyusuri Thamrin yang penuh dengan lampu dan gedung gedung
bertingkat. Sambil mendorong gerobak, saya tak henti hentinya melihat
gedung gedung mewah itu yang dulu hanya di film-film sekarang jadi nyata
di depan mata. Tak pernah terbayang oleh saya bahwa 20 tahun kemudian
saya akan sering menginap disana. Hanya dua bulan saya ikut si Saf.

Akhirnya karena terlalu sering berjualan di Taman ria monas, saya
berkenalan dengan arek arek dan keluarlah saya dari grup minang. Jadilah
saya anak monas yang akrab dengan Taman Ria dan Casino Cendrawasih yang
terletak di dalam jakarta fair yang menghirup setiap rupiah yang saya
punya. Malakin supir taksi setelah naikin penumpang adalah kerjaan rutin
saya kalau untuk makan tinggal comot saja dari pada para pedagang
kakilima yang bertebaran disekitar monas, terkadang saya minta duit
mereka.

Kok tega-teganya saya ,orang cari makan secara halal dikerjaain. Akhir
dari semua ini harus saya bayar dengan kepala menerima 12 jaitan dan
bukan itu saja saya pun tergeletak terserang typus hampir berlayar jauh.
<http://us.i1.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/tsmileys2/18.gif>

Sebelum berakhir th 78 saya keluar dari Jakarta. Sepanjang tahun 1979
saya masih mengikuti alur kemanakah gerangan garis tangan akan membawa
saya. Bali, Lombok, Sumbawa, Bima saya rambah dengan berbagai jenis
pekerjaan saya lakukan untuk bertahan hidup.

Mulai dari kuli bangunan, jualan bubur kacang hijau dengan gerobak
berkeliling, jualan keliling antar pulau pulau kecil di sekitar NTB
sampai pula ke labuhan bajo akhirnya kembali ke bali kerja di Swiss
Restoran Bali dan berlanjut jadi guide.

Tak puas sampai disini entah apa yang ada dikepalaku waktu itu tahun
1980 sepasang kaki ini membawaku ke Muaradua Sumatera Selatan, sebuah
profesi baru sebagai Guru di SMP Cokroaminito pagi hari dan SMA
Muhammadiah sore hari. 27 tahun kemudian, tahun 2007, saya kembali ke
Muaradua ada tiga mantan murid saya jadi Camat, satu jadi kepala
transmigrasi dan satu lagi bendahara pemda. Mereka pada datang menemui
saya sambil bernostalgia akan masa masa lalu mereka.

Apa yang kudapat di Muaradua ini?. Adalah sebuah tali persaudaraan
dengan keluarga pak Rustam yang juga orang maninjau yang tak pernah
pulang kampung yang beristrikan orang dari satu daerah yang bernama
Kisam diperdalaman wilayah Muara dua ini.

Selama setahun aku tinggal dengan mereka dan tak pernah memberi kabar
sejak aku meninggalkan muaradua selama 25 tahun. Tiba tiba aku berdiri
didepan pintu rumah mereka. Sebagai balas jasa dan terima kasih atas
kebaikan mereka yang kuterima dulu kubawa mereka sekeluarga jalan jalan
ke Jakarta selama seminggu berkeliling di semua tempat wisata serta
shoping serderhana di Mangga dua.

Kulihat airmata mengalir diwajah ayu istri bang rustam. Entah apa yang
sedang berkecamuk dalam fikirannya. Kejemput dari muaradua dan kuantar
seminggu kemudian. Melihat orang lain bahagia aku merasa terbang
keangkasa. <http://us.i1.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/tsmileys2/07.gif>

Berhenti disini sejenak memikirkan tentang kehidupan yang lalu. Semua
ingatan akan masa lalu tak berarti apa apa, hanya sebagai perbincangan
beberapa menit saja. Apa yang pernah saya pikir penting, atau yang
benar-benar saya kejar, atau yang saya coba hindari, kini semuanya
adalah bagian dari masa lalu.

Apapun yang mengingatkan saya pada pikiran-pikiran dan perasaan ini, itu
hanyalah kenangan. Aku masih mencari, 1981 kembali ke Jakarta, Monas -
Taman Ria dan sekitarnya, kembali tempat uang mudah dicari. Tujuannya
hanya satu cari uang bikin passport dan terbang juah jauh. Dengan
menumpang Tampomas yang masih gagah kala itu awal tahun 1982, aku menuju
Tanjung Pinang dan terus naik ferry ke negeri tuan Rafles.

Cita cita baru ku ingin keliling dunia dengan cara jadi pelaut. Jadi
pelaut tak bertahan lama berakhir dengan 20 hari masuk Sel di Muscat
Oman. Tuhan punya rencana lain yang aku tak pernah tahu. Inilah suara
takdir "Bila tiba saatnya, kau akan keliling dunia lewat udara
denganSingapore Airline dan duduk di muka. Kursimu 1A First Class. Kata
orang, the best Airline in the world". yang dulu tak pernah sampai ke
telingaku.

Aku juga tidak pernah tahu 16 tahun kemudian aku melihat kembali jalan
jalan yang dulu pernah kutapaki dari berbagai kamar Hotel 5 Bintang di
Singapura ini. Terbayang kembali saat kehausan masuk toilet bayar 10 sen
untuk melepas dahaga kalau orang ke toilet buang air, awak minum air.
<http://us.i1.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/tsmileys2/17.gif>
<http://us.i1.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/tsmileys2/18.gif>

Capek di Singapura tahun 1983 aku melangkah ke utara "Kuala Lumpur".
Dengan berjualan kue pau dengan becak diberbagai tempat Bas Stand Klang,
Hospital, terminal Bus Pudu,  ringgitpun mulai  ke kantongku. Pada saat
itu kebanyakan orang indonesia di KL berjualan buah di chowkit kalau
tidak jualan buah ya jual makanan. Tidak sedikit pula orang kita yang
berduit dari berdagang itu menghamburkan duitnya di Genting high land
atau kalau tidak dengan rutine membeli nomor toto kuda.

Hanya sementara saya menikmati manisnya uang malaysia, semua uang yang
terkumpul saya kirimkan untuk Nenek saya di maninjau. Belakangan saya
tahu dari cerita paman saya beliau sangat senang sekali dan langsung
shopping ke Bukit Tinggi. Ini adalah yang pertama dan terakhir saya
berbagi nikmat dengan almarhum nenek saya.

Setelah itu saya masuk penjara pudu sembilan bulan karena berkelahi
memecahkan kepala orang  saya dikenai seksen atau pasal 326, masih
untung dia tidak mati, kalau mati  satu nomor lagi turun 325 berakhirlah
hidup didalam penjara kalau berencana pula 324 ini tiang gantungan
hadiahnya.

Dibalik setiap peristiwa ada pelajaran. Seakan berulang, kembali lagi
disini saya tidak mendengar suara Takdir bahwa 16 tahun kemudian saya
akan kembali lagi kemari sebagai turis dan melihat Penjara Pudu ini
menjadi Museum. Disini di kamar no 42, saya pertama kali dalam hidup
melihat para pencandu heroin tak bisa tidur bermalam malam yang
belakangan saya tahu itu namanya sakau.

 Disini pula bertemu dengan kawan sewaktu SMP Kijang UT dan MN. Ah,
reuni kok di penjara pudu. MN masuk karena ilegal. Kawan Untung
ditransfer dari klantan setelah menjalani hukuman perompakan 12 tahun
dan menunggu dipulangkan ke Indonesia.  Di penjara ini saya melihat
orang kena cambuk, ini kelihatan dalam antrian ke klinik didalam penjara
tersebut.

Bermacam macam tingkah polah pelaku kriminal saya lihat disini.  Tahun
tahun 82,83,84 generasi muda Malaysia dihantui oleh dadah ini. Hampir
disetiap sudut pasar, di toilet toilet umum akan kita temui dengan mudah
timah rokok untuk membakar dadah tersebut. Orang orang teler
berkeliaran. Mungkin karena petaka inilah adanya hukuman mati di tiang
gantung untuk kes dadah ini . 15 mg tewas, dibawah itu puluhan tahun dan
seumur hidup. Urine test dimana mana. Entah sekarang sudah berobah saya
tak tahu. Setiap adanya eksekusi hukuman mati seisi penjara malam itu
memukul mukul ember palasik, sebagai ucapan selamat jalan bagi teman
mereka.

Setelah sidang berkali kali kawan yang mengadu tidak pernah datang ke
pengadilan akhirnya dengan berat hati pak hakim membebaskan saya. Karena
saya memegang Red Card nya Malaysia , saya tidak dipulangkan ke
Indonesia. Akhirnya saya memutuskan kembali ke Singapura dan mencoba
lagi peruntungan disini, kerja selama enam bulan dipabrik Beer Tiger
dengan modal IC malaysia.

Saat itu mudah mendapatkan work permit enam bulanan di Singapura. "Ibu
sakit keras " begitu yang tertulis dari telegram yang kuterima yang
membuatku berfikir ulang untuk terus berjuang di luar hanya ada satu
kata "Pulang".

Bersambung ...


Saat menjelang kematiannya, al-Hasan pernah berkata, "Sesungguhnya Allah
telah menetapkan kematian, sakit dan sehat (bagi setiap hamba-Nya).
Barang siapa mendustakan takdir maka sesungguhnya ia telah mendustakan
al-Qur'an. Dan barang siapa mendustakan al-Qur'an, maka sesungguhnya ia
telah mendustakan Allah."
  purple
roses.gif<http://ts4.images.live.com/images/thumbnail.aspx?q=15688296714
11&id=0f4285a07c364e0bb2655d0d203f2b85>
<http://www.anjelicasboudoir.com/WEBPAGE/pics/balloons/flowers/purplesmi
leyflower.jpg>
.. aiN haWadaa ..



--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Milis Alumni AKADEMI KIMIA ANALISIS angkatan 1992
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

_______________________________________________
Forum mailing list
[EMAIL PROTECTED]
http://mail.alumni-akabogor.net/mailman/listinfo/forum_alumni-akabogor.n
et

<<winmail.dat>>


--- End Message ---
This e-mail is confidential and may contain legally privileged information. If 
you are not the intended recipient, you should not copy, distribute, disclose 
or use the information it contains. Please e-mail the sender immediately and 
delete this message from your system. E-mails are susceptible to corruption, 
interception and unauthorized amendment; we do not accept liability for any 
such changes, or for their consequences. You should be aware, that PT TITAN 
Petrokimia Nusantara might monitor your e-mails and their content.

Kirim email ke