http://mubarok-institute.blogspot.com/2008/11/memahami-amrozi.html

Amrozi dan dua temannya sudah dieksekusi dan sudah berada di alam sana.
Apakah ia diterima Tuhan sebagai pembunuh atau pejuang tidak ada yang bisa
mengkomfirmasi. Tetapi perdebatan tentang Amrozi sejak ia menerima vonis
hukuman mati dengan tersenyum hingga pelaksanaan eksekusi mati yang terkesan
tertunda-tunda, bahkan pada bagaimana ekpressi masyarakat mengantar ke liang
kubur masih meninggalkan kesan kontroversi, sesungguhnya Amrozi dan
kawan-kawannya itu pelaku terorisme atau korban konspirasi global Negara
Barat khususnya Amerika (dan Israel) berkaitan dengan politik hegemoni
sumber energi. Hingga kini, yang belum terjawab tuntas dari fakta lapangan
adalah , benarkah bom Bali yang sangat dahsyat dan "bernuklir" itu produk
rakitan Amrozi ? Jika iya,maka betapa luar biasanya kepandaian Amrozi yang
menyamai Amerika, Jerman, dan Israel, yang sudah barang tentu menjadi lebih
hebat dibanding Pindad. Sampai hari ini belum ada yang bisa menjelaskan hal
ini dengan argument yang logis. Jika bom dahsyat itu bukan produk
Amrozi,lalu siapa yang naroh disitu,numpang dua bom rakitan Amrozi ?

Bagi orang yang sudah biasa menggunakan logika spionase, mudah saja menjawab
pertanyaan itu, karena infiltrasi dalam aksi spionase merupakan hal yang
lumrah dan bahkan wajib. Jejak teror dalam perang spionase selalu dicitrakan
sebagai perbuatan musuhnya, yang hasilnya akan digunakan sebagai pembenaran
atas aksi balasan terbuka dalam skala besar.

OK, Amrozi sudah almarhum, tapi mari kita coba untuk memahami, siapa
sesunguhnya Amrozi dan mengapa ia menjadikan Bali sebagai sasaran tembakan
aksinya. Ketika saya dikukuhkan sebagai gurubesar Psikologi Islam di
Fakultas Psikologi UIN , kebetulan saya menulis pidato dengan judul,
Pencegahan Terorisme dengan Pendekatan Indigenous Psychology. Tak disangka,
pasca pidato pengukuhan saya banyak sekali dihubungi orang berkaitan dengan
terorisme. Saya jadi kenal pak Arsyad Mbay dari desk terorisme menko Polkam.
Radio Suara Amerika bahkan empat kali melakukan wawancara dengan saya setiap
kali ada issue terorisme. Saya bahkan dihubungi oleh "orang" yang menurut
pengakuannya disuruh oleh Dr.Azhari, dimana ia katanya ingin berjumpa dengan
saya dengan maksud ingin menyampaikan pesan kepada Bapak Presiden SBY bahwa
Dr Azhari tidak sedang memusuhi Indonesia, tetapi memusuhi Amerika. Lebih
dari 30 kali SMS saya terima dari "Dr. Azhari", tetapi tak pernah bisa di
konfirmasi. Kenapa harus menyebut Dr.Azhari ?,karena untuk bisa memahami
Amrozi, sosok Dr.Azhari bisa menjad ibandingan.

Amrozi pemuda lembut dari Trenggulun, tetapi jiwanya sudah menyatu dengan
mujahidin Afgan ketika ia berada di Malaysia. Malaysia memang simpang
lalulintas "mujahidin",baik mujahidin ke Afgan,Moro, Thailan Selatan,
Bosnia, Chehnya maupun GAM. Ketika Uni Sovyet menduduki Afganistan,
datanglah mujahidin dari banyak negeri Islam termasuk dari Indonesia ke
Afganistan dengan missi jihad mengusir tentara kafir dari negeri Islam.
Amerika yang musuhnya Uni Sofyet memandang kedatangan mujahidin dari seluruh
negeri Islam sebagai partner. Maka di Peshawar Pakistan, dengan instruktur
dari CIA (Amerika) dibantu M 16 (Ingris), ISI (pakistan) dan didanai oleh
Arab Saudi, didirikanlah pusat pelatihan mujahidin Afgan dan non Afgan.
Lebih dari 100 ribu mujahidin digembleng disitu dan dilatih menggunakan
senjata-senjata canggih. Peshawar bukan hanya pusat latihan mujahidin,
tetapi juga menjelma menjadi semacam kampus fundamentalisme.Di situ
berkumpul para pejuang dari berbagai negeri Islam yang siap mati demi
kejayaan Islam universal.. Mereka berkumpul tidaklagi menggunakan identitas
negeri, tetapi sudah denganidentitas Islam mujahidin.

Ketika tentara Uni Sovyet berhasil diusir dari Afganistan, para mujahidin
merasa merekalah yang mengusirnya, tetapi Amerika yang melatih merasa
Amerikalah yang berhasil mengalahkan Uni Sovyet. Perasaan berhasil dalamdiri
mujahidin membuat mereka memiliki konsep diri positip, yaitu bahwa dengan
jihad, negara superpower seperti Uni Sovyetpun dapat dikalahkan. Oleh karena
itu seusai Afganistan, gelombang mujahidin merasa terpanggil untuk berjihad
dimanapun orang Islam teraniaya. Mereka ada yang pergi ke Bosnia, keChehnya,
ke Philipina Selatan (Moro). Mujahidin asal Indonesia juga sigap-ke Ambon
dan Poso ketika masyarakat muslim dipojokkan disana.

Ketika Amerika melakukan politik standar ganda dan memborbardir banyak
negeri Islam, alumni mujahidin Afgan termasuk Imam Samudera berbalik arah
melawan Amerika yang semula menjadi pelatihnya di Peshawar. Ketika Presiden
Bush mengancam akan mengejar teroris dimanapun ia berada, maka mujahidin
juga menjawab sebanding, mereka akan mengganggu kepentingan Amerika di
negeri manapun. Di Malaysia, kelompok Mujahidin memang menemukan lahan yang
menarik,karena dari sana mereka juga lebih mudah pergi ke Libya, dan ketika
itu Muammar Gadafi memang musuh kentalnya Amerika. Amrozi meski tidak ikut
ke Afganistan, tetapi ia sudah larut dalam psikologi mujahidin karena
diMalaysia mereka berada dalam satu komunitas..

Perang antara Amerika dan Mujahidin akhirnya menjadi perang global. Amrozi
dan Imam Samudera tidak lagi merasa menjadi orang Indonesia, tetapi sebagai
bagian dari muslimdunia yang sedang berhadapan dengan super power Amerika.
Psikologi perang itu berbeda dengan psikologi damai. Di Basrah Irak, pesawat
super modern Amerika langsung menembak sebuah mobil bak yang sedang membawa
tiang listrik , karena dalam pandangan mata pilot yang sedang perang, tiang
listrikitu adalah moncong meriam tank, padahal teknologi sudah sangat
modern.

Begitupun Amrozi cs, pertama ia berperang dengan orang Amerika, berikutnya,
semua orang kulit putih dipersepsi sebagai Amerika,'. Karena di Amerika
kebanyakan orang penganut Keristen, makaorang Kristen Indonesia juga
dipersepsi sebagai kaki kaki tangan msuh. Begitulah psikologi orang perang,
hingga mereka tidakbisa membedakan antara orang Amerika dengan orang
Australia.

Sesungguhnya perang antara Amerika dengan mujahidin adalah perang antara dua
terors,yang satu teroris besar yang dijalankan oleh negara, melawan teroris
terpojok dengan senjata apaadanya.

Pertemuan team asistensi PBB di Jakarta yang ditugasi membuat definisi
terorisme akhirnya gagal mendefinisikan,karena setelah disebut ciri teroris
adatiga;Pertama mereka menyebarkan rasa takut kepada publik, Kedua
menghancurkan infrastruktur publik,seperti gedung dan jembatan, Ketiga
menimbulkan korban tak berdosa dalamjumlah yang sangat besar. Dari tiga ciri
itu ternyata teroris yang palimng besar adalah Amerika Serikat. Wajarlah
jika orang Amerika muak melihat Bush dan lebih suka memilih Obama Barack
yang kulit hitam. Jadi siapaAmrozi ?silahkan di renung sendiri.

Kirim email ke