Nikmat kebebasan
oleh : SPS
Semua makhluq ada, tetapi tidak semua hidup. Makluq yang hidup banyak, tetapi
tidak semua mempunyai kemerdekaan. Tidak semua makhluq mempunyai kebebasan
berkehendak. Tidak semua makhluq mempunyai kemampuan berkreasi. Karena itu
katakan bahwa kemerdekaan atau kebebasan merupakan kenikmatan yang lebih tinggi
nilainya daripada sekedar hidup.
Suatu ketika mungkin seorang pernah membayangkan ingin bebas bagaikan burung di
angkasa. Atau bebas bagaikan singa di Afrika. Benarkah binatang mempunyai
kebebasan lebih besar dari pada manusia? Ternyata tidak. Burung misalnya, ia
tidak mempunyai kebebasan untuk membuat model sarang yang baru. Dari tahun ke
tahun mungkin sampai gempor suku maneh, turun temurun rumah burung seperti itu
saja. Tidak ada perubahan. Kalaulah ada, sangat lamban, itupun tanpa
disadarinya. Misalnya karena evolusi. Demikian juga binatang yg lain. Tetapi
coba bandingkan dengan manusia. Manusia sangat bebas memilih makanan. Manusia
juga sangat bebas memilih model rumahnya. Manusia mempunyai kebudayaan. Manusia
mempunyai kebebasan berkehendak.
Bagaimana dengan malaikat ? Malaikatpun tidak mempunyai kebebasan sebesar yg
dimiliki oleh manusia. Malaikat tidak pernah membantah perintah Allah. Malaikat
tidak memiliki kebebasan untuk membantah. Yang dimiliki oleh malaikat hanayal
kepatuhan. Selain itu, paling-paling malaikat hanya bertanya :
"Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat : 'Sesungguhnya Aku
hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi' Mereka berkata : 'Mengapa
Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi ini orang yang akan membuat
kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih
dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?' Tuhan berfirman : "Sesungguhnya
Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui". (QS. Al Baqarah : 30).
Demikian pula ketika Allah memerintahkan malaikat untuk sujud kepada manusia,
mereka menurut saja. Firman Allah : "Dan (ingatlah) ketika Kami berkata kepada
malaikat : 'Sujudlah kamu kepada Adam', maka mereka sujud kecuali iblis. Ia
membangkang" (QS. Thaah: 116)
Bagaimana dengan batu, angin, cahaya, bintang dan sebagainya ? Jelas, mereka
tidak mempunyai kebebasan bertindak. Mereka tunduk kepada Allah :
"Telah bertasbih apa yang ada di langit dan di bumi" (QS. As Shaff : 1)
Juga komponen syahadah kita (jasad, jasmani), tunduk kepada ketentuan Allah.
Misalnya kulit terpengaruh panas, sakit, nyaman; tubuh memiliki gaya grafitasi
dan sebagainya. Tetapi komponen ghaib manusia mempunyai kehendak, mempunyai
kebebasan sehingga sering terjadi konflik, perbedaan pendapat antar sesama
manusia. Bahkan manusia dapat berbeda pendapat dengan Allah, sampai-sampai pada
puncaknya, bisa membantah dan memusuhi-Nya. Firman Allah : "Dia (Allah)
menciptakan manusia dari mani, tiba-tiba a (manusia) menjadi pembantah yg
nyata" (QS. An Nahl : 4).
Selain manusia, yang juga memiliki kebebasan ialah jin. FirmanNya : "
..........Dia alah dari glolongan jin, maka ia mendurhakai perintah
Tuhannya..........." (QS. Al Kahfi : 50).
Dari uraian di atas, sekali lagi ditegaskan, nikmat kebebasan lebih tinggi dari
nikmat hidup. Dalam praktek sehari-hari, kita sendiri dapat merasakan. Tidak
jarang kita menuntut kebebasan dengan mengabaikan keselamatan jiwa. Ini bukti
bahwa kebebasan lebih dihargai dari sekedar hdip. Tidak terkecuali bangsa
Indonesia dulu mempunyai slolan : "Merdeka atau Modar". Daripada hidup tanpa
kebebasan, lebih baik mati karena mencari dan memperjuangkan kebebasan.
Demikianlah, manusia sendiri lebih menghargai kebebasan dari hanya sekedar
hidup.
Mungkin selama ini ada kesan bahwa manusia itu serba terikat, serba bebas.
Manusia tidak boleh itu, harus begini, harus begitu dan sebagainya. Apalagi
orang Islam, lebih terikat lagi. Tidak boleh minum-minuman keras, tidak boleh
berzinah, tidak boleh membunuh, tidak boleh makan daging babi, anjing dll. Dan
dalam pergaulan pria wanita pakai aturan-aturan. Harus shalat, harus puasa,
harus zakat, dan sebagainya. Pokoknya serba diatur, tidak ada kebebasan.
Benarkah kesan kita yang demikian itu?
Mari kita coba renungkan kembali beberapa nikmat yang telah kita reguk.
Diantara kenikmatan itu ialah kebebasan. Telah saya uraikan diatas bahwa
manusia selalu menuntut kebebasan. Manusia lebih menghargai kebebasan daripada
sekedar kehidupan. Allah tidak mengabaikan fitrah manusia, Allah menghargai
kebebasan manusia. Firman Allah : “Tidak ada paksaan dalam agama, sesungguhnya
telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang salah” (QS. Al Baqarah : 256).
Allah tidak memaksa tetapi menawarkan. Firman Allah : ”Sesungguhnya Kami telah
mengemukakan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan
untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan menghianatinya, dan
dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan
amat bodoh”. (QS. Al Ahzab : 72).
Dari dua ayat tsb diatas jelaslah bahwa Allah memperhatikan kebebasan dan
kehendak manusia. Allah tidak memaksa tetapi Allah menawarkan terlebih dahulu.
Barang siapa yg sanggup maka dialah yang mendapatkan.
Islam menghargai dengan penghargaan yang tinggi terhadap siapa yang gugur
dijalan Allah (membela kebenaran, membela hak, membela kemerdekaan, dan
sebagainya) yang kita kenal dengan syuhada. Sampai-sampai mereka tidak boleh
kita katakan mati, tetapi tetap hidup.
”Janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah itu
mati, bahkan (sebenarnya) mereka gugur di jalan Allah itu mati, bahkan
(sebenarnya) mereka hidup, tetapi kami tidak menyadarinya” (QS. Al Baqarah :
254).
Adanya perintah membela diri dan hukum qishash merupakan bukti pula bahwa Islam
amat menghargai kemerdekaan. Firman Allah : ”Hai orang-orang yang beriman,
diwajibkan atas kamu qishah berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh, orang yg
merdeka dengan orang yg merdeka hamba dengan hamba dan wanita dengan
wanita...........” (QS. Al Baqarah : 178).
(Dapat dilihat pula ayat2 berikut : Al Baqarah : 179, 194; Al Isra : 33).
Makin jelas sekarang bahwa ternyata Islam menghargai fitrah manusia yang berupa
kebebasan. Islam menghargai kemerdekaan. Islam bukanlah suatu aturan yang
dipaksakan, tetapi aturan-aturan Islam diciptakan dengan memperhatikan fitrah
manusia, antara lain kebebasan. Bahwa kemudian ada perintah dan larangan, itu
timbul setelah manusia menyatakan kesanggupan dan perjanjain sebagaimana
dijelaskan dalam QS. Al Ahzab : 72.
Barangkali timbul pertanyaan : “Benarkah kita mengadakan perjanjian dan
kesanggupan kepada Allah? Bagaimana kalau kita lupa?”.
Memang kita sering lupa kebanyakan orang enggan untuk mengetahui tentang
perjanjian dan kesanggupan kita kepada Allah. Oleh karena itulah Allah
memberikan peringatan kepada manusia. Bagaimana Allah memberikan peringatan
kepada manusia ? Itulah AL Qur’an. Al Qur’an diturunkan untuk memberikan
peringatan kepada manusia. Al Qur’an bukanlah suatu aturan yang dipaksakan
kepada manusia.. Al Qur’an bukan pula sesuatu yang tiba-tiba mengikat manusia.
Marilah kita perhatikan firman Allah : “Al Qur’an ini hanyalah peringatan bagi
semesta alam” (QS. Shaad : 87).
Rasulpun diutus oleh Allah untuk menyampaikan peringata kepada manusia.
“Dan Kami tdaik mengutus kamu melainkan kepada ummat manusia seluruhnya sebagai
pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak
mengetahui”. (QS. Saba’ : 28).
Begitulah kewajiban Rasul menyampaikan peringatan. Dan kewajiban Tuhan adalah
membuat perhitungan setelah peringatan itu sampai.
“Kewajibanmu hanya menyampaikan, kewajiban-Ku membuat perhitungan”. (S Ar Ra’d
:40).
Bahkan perintah dan larangan pun merupakan peringatan “ Sesungguhnya Allah
menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebaikan, memberi kepada kaum kerabat
dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dialah
pemberi pengajaran kepada kamu agar kamu ingat” (QS. An Hahl : 90).
Peringatan-peringatan Tuhan ini merupakan bukti kasih syang Allah kepada kita.
Bayangkan kalau Allah tidak memberi peringatan terlebih dahulu, tetapi langsung
menghukum kita yang lalai akan kesanggupan kita itu. Begitulah Allah Yang Maha
Pengasih tidak langsung menghukum kita yg lalai, tetapi Dia menyampaikan
terlebih dahulu peringatan. Namun, bila kita sudah diingatkan tetap saja
bandel, tetap saja mbelelo tidak mau memenuhi kesanggupan kita, tidak mau
menempati janji, maka Allah pun telah menyediakan balasannya. Demikian, dari
dahulu sampai sekarang ini dan sampai nanti datang hari pertanggung jawaban,
manusia bebas. Manusia berhak memilih jalan hidupnya sesuka hati, karena telah
jelas mana yg benar dan mana yg salah.
”Dan katakanlah : ’Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barang siapa yg
ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barang siapa yg ingin (kafir) maka
biarlah ia kafir” (QS. Al Kahfi : 29).
Tapi ingat, mana yg kita pilih masing-masing sudah ada balasannya. Kalau kita
memilih yang ‘ini’ berarti kita teguh janji (menepati kesanggupan kita dahulu)
dan kalau kita memilih yg lain berarti kita khianat. Kesimpulan yg dapat
diambil dari uraian diatas adalah bahwa ternyata manusia ini bebas, manusia ini
tidak dipaksa-paksa. Tuhan dalam menentukan aturan-aturan tidak melupakan
fitrah manusia, yaitu kebebasan.
Kalau Allah saja tidak memaksa, maka pantaskah manusia memaksa sesama manusia?
Tentunya tidak.
”Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yg ada di muka bumi
seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa supaya mereka beriman semuanya?”
(QS. Yunus : 99)..
Lantas apa kewajiban kita terhadap sesama manusia ? Tugas kita hanyalah
menyampaikan kebenaran dan mengingatkan saja. Apakah diterima atau ditolak, itu
terserah pada yg bersangkutan. Firman Allah Swt. : “Maka berilah peringatan,
karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yg memberi peringatan”. (QS. Al
Ghasyyah : 21).
Juga sebaliknya, andaikata ada orang lain memberikan teguran, kritik dan
lain-lain kepada kita, maka kitapun harus menerimanya dengan lapang dada/hati.
Sebab, hal ini bukan tanda kebencian, tapi justru bukti berkawan yg sebenarnya.
Kesanggupan menerima kritik ini termasuk ciri orang-orang yg berjiwa besar, dan
juga termasuk ciri orang-orang beriman.
”Sesungguhnya orang-orang yg beriman kepada ayat-ayat Kami, adalah orang-orang
yg apabila diperingatkan dengan ayat-ayat (Kami), mereka sujud dan bertasbih
serta memuji Tuhannya, sedangkan mereka tidak menyombongkan diri”. (QS. As
Sajdah : 15).
Dengan hidupnya suasana saling mengingatkan semacam ini, terbukalah kemungkinan
kita termasuk orang-orang yg tidak rugi (yang beruntung). Seperti firman Allah
: ”Demi waktu, sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam keadaan rugi; kecuali
orang-orang yg beriman dan mengerjakan amal yg shaleh, serta nasehat-menasehati
dengan kebenaran dan dengan kesabaran”. (QS. Al ’Ashr : 1-3).
Bagaimana tanggapan kita, jika orang lain itu sudah kita ingatkan tetap saja
melakukan kesalahan? Kita bertawakal kepada Allah. Dosa ditanggung mereka yg
melakukan kesalahan.. Seseorang tidak memikul dosa yg dilakukan oleh orang lain.
”Katakanlah : ’Kamu tidak akan ditanya (tidak akan bertanggung jawab) tentang
dosa yg kami perbuat, dan kami tidak akan ditanya (tidak akan bertanggung
jawab) tentang dosa yg kamu perbuat”. (QS. Saba : 25).
Walluhu'alam
___________________________________________________________________________
Dapatkan alamat Email baru Anda!
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan sebelum diambil orang lain!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/