AL QUR'AN SEBAGAI MOTIVATOR PENGEMBANGAN
ILMU PENGETAHUAN & TEKNOLOGI
By : oleh orang yang sedang menempuh program master (yang tidak mau disebutkan 
namanya)


Al Qur'an sesungguhnya adalah kamus kehidupan, yang setiap saat harus dibuka 
dan dibaca untuk mendapatkan arti dan makna tentang kehidupan, karena ia 
merupakan "Hudanlinnas", kamu petunjuk kehidupan manusia (al Baqarah : 185). 
Kamus kehidupan yang memuat kata-kata kunci yang sangat bermanfaat untuk 
berkomunikasi dengan Allah, alam, manusia, bahkan dengan egonya sendiri sebagai 
ego terbatas, guna meraih kualitas spritual dalam bentuk taqwa. Dan taqwa itu 
sesungguhnya dapat dibaca dalam lembaran kehidupan sendiri sebagai seorang 
Muslim yang mukmin.

Sementara persepsi masyarakat terhadap al Qur'an dewasa ini, agak keluar dari 
garis petunjuk al Qur'an itu sendiri (salah kaprah). Al Qur'an yang diturunkan 
kepada manusia sebagai kacamata kehidupan untuk membaca alam mikro dan makro, 
ternyata hampir kurang berfungsi lagi pada saat ini. Kitab yang berumur XV abad 
ini dianggap sebagai "dokumen lama" yang telah kehilangan rohnya. Al Qur'an 
menjadi penghuni pojok serambi Masjid, rak buku, bahkan diatas lemari yang 
penuh dengan debu. Menjadi benda sakral penangkal bala. Potongan-potongan 
ayatnya menghias dinding rumah dalam gaya kaligrafi. Menjadi simbol-simbol 
berbentuk perhiasan. Sebagai alat legitimasi untuk membudidayakan kodok dan 
membiakkan uang alias riba. 
Al Qur'an sesungguhnya adalah "Hudan linnas" dalam artian sebagai rujukan 
kehidupan ummat manusia (way of life).

Masyarakat dewasa ini dalam bertingkah laku, berilmu pengetahuan, politik, 
ekonomi, sosial, pendidikan, seni dan dimensi yang lain, rujukannya bukan 
kepada Kitab Allah (Al Qur'an), tetapi kepada kitab-kitabpseudo yang terdapat 
dalam buku-buku sains, yang memuat pandangan-pandangan hidup kapitalis, 
sosialis, komunis, sekularis, matrealistis, zionis dan iblis. Buku-buku seperti 
ini judulnya  manusiawi, sedangkan isinya materialis dan kesimpulannya 
mengandung benih-benih 'atheisme'. Inilah yang menjadi petunjuk dan pedoman 
segala sektor kehidupan dewasa ini.

Namun masih ada segolongan orang beriman dan sadar akan petunjuk Allah Swt yang 
bersedia membaca al Qur'an sebagai referensi kehidupan. Karena beranggapan, al 
Qur'an sumber kebenaran yang mutlak yang tidak ada keraguan padanya. Menjadi 
pedoman untuk seluruh manusia di muka bumi ini. Oleh karena itu, disamping al 
Qur'an mampu menyelami masa silam, dan muncul di permukaan kehidupan sekarang 
ini, juga mampu menjangkau masa depan.

Al Qur'an kitab Masa Lalu, Masa Kini dan Masa Depan yang mampu memberikan 
petunjuk kepada Sains untuk mengembangkan dirinya dalam rangka mengenal hakekat 
penciptaan, yakni Allah Swt., Al Qur'an mengisyaratkan formula-formula Sains 
yang cemerlang di alam semesta yang belum terungkap seluruhnya oleh manusia. 
Lautan yang ada sekarang, ditambah tujuh kali lautan lagi sebagai tinta untuk 
menguraikan ilmu Allah, niscaya tidak akan cukup!

Kitab Sakral dan Ritual
Persepsi terhadap al Qur'an sebagai kitab sakral dan ritual, merupakan gejala 
umum dalam masyarakat, yang mengkristal dalam bentuk budaya dan adat istiadat. 
Al Qur'an punya status tersendiri dalam masyarakat. Al Qur'an sebagai naskah, 
dianggap memiliki nilai 'sakti' atau 'petuah' yang mengandung daya penangkal 
bala'. Dianggap memiliki 'dinamika' untuk menjauhkan seseorang dari marabahaya. 
Dianggap sebagai 'jimat' baik dalam bentuk naskahnya yang utuh, potongan ayat, 
maupun huruf dari al Qur'an itu sendiri. Misalnya, pada kelompok masyarakat 
tertentu, meminum air rendaman kertas yang bertuliskan huruf Arab 'Alif'. (Ini 
sebenarnya karena 'Alif' merupakan huruf pertama kata 'Allah'). Persepsi 
masyarakat seperti itu menimbulkan sikap penghargaan terhadap wujud fisik Al 
Qur'an itu sendiri, sehingga naskah al Qur'an tidak boleh diletakkan di 
sembarang tempat. Tidak boleh berhimpit oleh kitab-kitab lain di atasnya. Harus 
diletakkan di tempat yang lehih tinggi.
 Diatas bantal. Dipangku. Diletakkan didada. Dicium. Dijunjung diatas kepala. 
Itu semua adalah gejala pemujaan fisik yang berlebihan, sehingga dikuatirkan 
akan menghilangkan makna al Qur'an sebagai 'Hudan linnas'. Bukan petunjuk yang 
didalamnya yang difungsikan, melainkan makna 'teks'nya itu sendiri..

Al Qur'an sekarang cuma berfungsi sebagai kitab ritual dalam insiden-insiden 
kehidupan yang menentukan. Hanya dibaca ketika acara perkawinan, kehamilan, 
kelahiran, kematian, khitanan massal bahkan pada acara MTQ. Semua itu bersifat 
protokoler untuk membuka lembaran kehidupan yang satu ke lembaran kehidupan 
yang lain, sekedar untuk memberi dasar formalitas Islam. Al Qur'an dibaca baru 
dalam tahap membuka dan menutup acara diskusi, seminar, simposium, musyawarah, 
sidang, pengajian dan acara formalitas laiinya. Al Qur'an sebagai kitab ritual, 
kadang-kadang cuma untuk memberi kesan Islami, tetapi tidak sampai menyentuh 
kedalam jiwa karena masih belum dianggap sebagia petunjuk kehidupan dan 
direfleksikan dalam prilaku kehidupan sosial.
Sebagian masyarakat baru mampu menangkap makna al Qur'an sampai batas sakral 
dan ritual, sesuai dengan kualitas ke-Islamannya. Kita tidak boleh membiarkan 
persepsi ini berlarut-larut sehinga menjadi suatu anggapan yang mengkristal 
dalam struktur masyarakat.

Kita Legitimasi dan Simbol
Asumsi masyarakat terhadap al Qur'an sebagai kitab legitimasi dan simbol untuk 
memberikan justifikasi kepada keinginan pribadi dan pikiran subyektif, 
sesungguhnya tidak dapat dibenarkan. Al Qur'an banyak disalahgunakan untuk 
penafsiran sepihak terhadap masalah-masalah kehidupan dalam rangka untuk 
melicinkan jalan mencapai tujuan naifnya. Gejala ini muncul pada masyarakat 
bukan saja pada institusi tertinggi, tetapi juga banyak dipakai untuk 
membenarkan jalan pikiran penafsiran, padahal sesungguhnya itu belum tentu 
benar.
Al Qur'an sebagia alat legitimasi, yang banyak dimanfaatkan masyarakat untuk 
menafsirkannya secara spesifik segaris dengan disiplin ilmunya. Akibatnya 
keterangan-keterangan yang di luar garis disiplinnya,banyak yang tidak 
tersentuh secara cermat.

Kitab Ummat Manusia
Allah Swt. penguasa, raja diraja alam semesta yang tunggal, termasuk di 
dalamnya manusia, sudah barang tentu 'petunjuk-Nya diberlakukan untuk seluruh 
ummat manusia di seantero jagad ini, termasuk Jin. Sebagai Hudanlinnas, al 
Qur'an menjadi milik seluruh manusia untuk dimanfaatkan sebagia kurikulum 
kehidpan. Sementara persepsi masyarakat dewasa ini, menimbulkan keas 
seakan-akan al Qur'an itu milik ummat Islam saja. Padahal sesungguhnya adalah 
milik ummat manusia. Siapa saja boleh mengkaji al Qur'an, terutama yang 
berkaitan dengan ilmu pengetahuan. dan sangat tidak mustahil, al Qur'an 
sekarang sedang dikaji oleh orang-orang non Muslim untuk kepentingan ilmu 
pengetahuan dan teknologi, ruang angkasa. Sebab ternyata, formula al QUr'an 
merupakan paradigma dan premis sains modern, yang dipakai mereka sekarang untuk 
mencari kemungkinan untk membangun "Real Estate" di ruang angkasa atau di dasar 
laut sebagia jalan keluar atas pembiakan manusia yang tak terhingga.
 Sementara ummat Islam masih tertatih-tatih menafsirkan al Qur'an yang dititik 
beratkan pada segi linguistik, untuk membedakan mana fi'l, mana fa'il, mana ism 
dan mana harf. Yang tersentuh bukan masalah tapi bahasanya, sehingga untuk 
menafsirkan al QUr'an diharuskan belajar ilmu nahwu-sharaf bertahun-tahun. 
Belum lagi ilmu bantu yang lain seperti ilmu ma'ani, bayah, balagh, dan yang 
lain guna mengkaji al Qur'an secara Kauniyah. Sedangkan ilmu pengetahuan dan 
teknologi makin melesat ke atas untuk membuktikan hasil ciptaan "Penguasa" 
langit dan bumi. Spiral kehidupan yang unik, penuh dengan fenomena-fenomena 
Illahiyah. Kenapa kita tidak mampu menangkap dengan akal pikiran kita yang 
diciptakan memang untuk memikirkan fenomena alam ini. Kenapa kita tidak ada 
usaha yang kuat untuk menjangkau kesana. Sehingga ketika manusia non muslim 
berhasil menggalinya, lalu ummat Islam buru-buru memberikan justifikasi, itu 
sudah lama ada dalam al Qur'an sejak 15 abad yang
 lalu. Bagai orang mimpi disiang bolong.
Karena al Qur'an dan alam semesta berasal dari Yang Maha Satu, dengan demikian 
tak mungkin ada keraguan sedikitpun terhadap Al Qur'an yang menjelaskan 
fenomena-fenomena kauniyah. Ternyata masyrakat non muslim lebih mengenal isi al 
Qur'an daripada ummat Islam itu sendiri yang melek huruf. Sehingga dikala al 
Qur'an disenggol atau tersenggol sedikit saja. Ummat Islam lalu tersinggung dan 
kemudian membela mati-matian. Padahal pembelaan itu bersifat fisik, karena 
barangkali ada orang yang tidak sopan dan usil memegang naskah al Qur'an yang 
berwujud kertas dan tinta tanpa bersuci. Pembelaan ummat Islam semacam itu baru 
sebatas persepsi tentang al Qur'an, yakni cuma sebatas bentuk naskah, bukan 
isinya. Sehingga ketika al Qur'an diputarbalikkan menjadi kapitalis, komunis, 
sekularis, zionis dan iblis berupa konsep-konsep yang terselubung dalam sistem 
pendidikan, ekonomi, sosial, politik, hukum, seni dan dimensi kehidupan 
lainnya, ternyata ummat Islam tidak mampu
 melihat kejahatan itu, kemudian membelanya. Karena masyarakat muslim tidak 
pernah menyentuh isi Al Qur'an dalam artian memahaminya, sehingga tidak tahu 
cara bagaimana untuk menyelamatkan dirinya dari serbuan dahsyat yang membantai 
habis-habisan aqidah, syariah, dan akhlaq.

Bersambung..............



      Buat sendiri desain eksklusif Messenger Pingbox Anda sekarang! Membuat 
tempat chat pribadi di blog Anda sekarang sangatlah mudah. 
http://id.messenger.yahoo.com/pingbox/

Kirim email ke