kang, burung ente ngilang, aduuuuh kamana hiberna!
--- On Mon, 12/8/08, Sp Saprudin <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: Sp Saprudin <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Bls: [WongBanten] Trs: Don't Cry for Me......
To: [email protected]
Date: Monday, December 8, 2008, 6:35 PM
Langka ya...
Dulu waktu kecil di kampungku seringkali aku mendengar siulan burung kutilang,
siulan burung jalak, siulan burung beo....perkutut saling bersahutan.. .tekukur
saling mendengkur.. ......
Sekarang burung2 itu hilang entah kemana?
Dulu kalau mau menjala ke sungai, dengan mudah mendapatkan udang, ikan betik
(betok), benter, kakap, tawes, gabus, lelel dan banyak lagi ikan jenis lainnya.
Sekarang udang2 dan ikan2 sungai susah didapat, entah kemana perginya....
.......
Kelangkaan hewan berimbas pada kelangkaan kebutuhan manusia seperti BBM, Pupuk,
Sembako..... ..
Lagu lama...BBM Langka karena tingkat kosumsi dengan produksi tidak berimbang.
Kemudian pupuk langka, katanya produsen pupuk mengalami defisit. Sama dengan
BBM lebih besar pasak daripada tiang. Yang lucu adalah produsen pupuk menuduh
petani boros dalam penggunaan pupuk.
Akibat kelangkaan BBM berimbas kepada kelangkaan sembako. Alasan klasik
sulitnya distribusi karena BBM susah didapat, kalaupun ada beban biaya atau
cost yang dikeluarkan untuk mendistribusikan sembako mahal......
Kelangkaan tersebut diatas, terutama kelangkaan hewan, barangkali kita dapat
menganalisanya dengan mudah...."ULAH TANGAN MANUSIA". Begitupun juga tentang
kelangkaan BBM, PUPUK dan SEMBAKO adalah ulah tangan "PENGUASA" titik
Lalu sekarang menjelang Pemilu 2009 orang-orang yang terjun jadi politisi
ramai-ramai mengadakan semacam bazar murah pengadaan sembako, tujuannya jelas
sekali adalah meraup peroleh suara agar bisa masuk gedung PARLEMEN...he.
.he..lucu coy. Kalau sudah masuk gedung PARLEMEN.... .kacang lupa kulitnya.
Jadi jangan bodohi rakyat gak usah jadi pahlawan kesiangan... .....jadilah
pahlawan sejati sebagaimana yang diajarkan agama, ambilah hikmah dari "IEDUL
QURBAN".
Dari: Erwina Yunarti <erwina_yunarti@ yahoo.co. id>
Kepada: [EMAIL PROTECTED] ups.com
Terkirim: Senin, 8 Desember, 2008 11:14:40
Topik: [WongBanten] Trs: Don't Cry for Me......
----- Pesan Diteruskan ----
Dari: Erwina Yunarti <erwina_yunarti@ yahoo.co. id>
Kepada: [EMAIL PROTECTED] com
Terkirim: Senin, 8 Desember, 2008 11:13:27
Topik: Don't Cry for Me......
Tulisan Luhur Hertanto, perlu kita analisis bersama..... ..
betapa beratnya beban hidup rakyat, atau keadaan ini
memang dikondisikan oleh para "Penguasa", sehingga
rakyat tidak berdaya.
Siapa sebenarnya yang harus peduli dan bertanggung
jawab dengan keadaan seperti ini?
Apakah ini berkaitan dgn mendekati Pemilu sehingga
Empahty ke rakyat sudah sirna? Sehingga masing2
institusi menyelamati diri sendiri ........
Saya masih ingat dengan lagu "Don't Cry For Me Argentina"
Jumat, 05/12/2008 14:29 WIB
Republik Spekulan
Luhur Hertanto - detikNews
Jakarta - LPG langka? Sering sekali. Minyak tanah lenyap? Beberapa kali. Pupuk
tidak ada di pasaran? Berkali-kali. BBM menghilang dari SPBU? Berulang kali.
Beras dan susu entah kemana? Sudah sekian kali.
Secara bergantian sepanjang tahun kita mendapati di media massa berita
kelangkaan berbagai bahan kebutuhan masyarakat. Seolah barang-barang itu sudah
punya jadwal giliran kapan harus menghilang dari pasaran dan disusul kenaikan
harga berkali lipat.
Pada masa-masa demikian, dari media massa kita ketahui bahwa produsen dan
saling lempar kesalahaan. Produsen menyatakan kegiatan produksi berjalan normal
dan tersalur seperti biasanya. Sebaliknya distributor berkilah kesulitan
mendapatkan barang dari produsen.
Hampir sepanjang tahun pemerintah kalang kabut mengatasi kelangkaan.
Menggelar operasi pasar besar-besaran.
Memotong jalur distribusi. Merayu produsen. Mengancam pihak penyalur. Masalah
teratasi untuk sesaat, lalu kembali setahun kemudian.
Contohnya kelangkaan pupuk. Setahun lalu masalah serupa terjadi, ketika itu
pemerintah mengatasinya dengan menyalurkan pupuk secara langsung ke petani dan
tidak lagi lewat distributor. Tidak jelas apakah setelah itu pupuk tidak lagi
disalurkan langsung ke petani, tapi belakangan petani kembali kesulitan
mendapatkan pupuk yang mereka butuhkan.
Entah siapa yang sebenarnya mempunyai kuasa atas Republik Indonesia.
Pemerintah dan parlemen yang jelas-jelas berwenang membuat regulasi, malah
tersesat dalam labirin jaringan distribusi. Berbagai langkah tegas yang
pemerintah ambil mengatasi kelangkaan, serasa tak ada ampuh-ampuhnya di
lapangan.
Atau jangan-jangan para spekulan bermodal raksasa adalah penguasa
sebenar-benarnya atas Negara ini? Mereka punya kemampuan 'mengusai'
kebutuhan masyarakat. Caranya sederhana saja, borong berbagai komoditas hingga
hilang di pasaran, timbun selama yang dibutuhkan, dan pada saatnya jual dengan
harga tinggi.
Apakah strategi bisnis mereka yang membuat susah masyarakat itu tidak bermoral?
Pasti ya bagi Anda. Maka dari itu Anda tidak setuju bila spekulan disebut
sebagai penguasa yang sebenar-benarnya atas negeri tercinta ini.
Andai kelak spekulan mampu menyebabkan kelangkaan koruptor secara massif dan
permanent hingga KPK ngganggur dibuatnya, rasa-rasanya mereka pantas-pantas
saja mengikuti Pilpres RI. Anda pasti setuju, bukan?
* Penulis adalah wartawan detikcom. Tulisan ini merupakan pendapat pribadi dan
tidak menggambarkan sikap/pendapat tempat institusi penulis bekerja.
Yahoo! Toolbar kini dilengkapi Anti-Virus dan Anti-Adware gratis. Download
Yahoo! Toolbar sekarang .
Selalu bisa chat di profil jaringan, blog, atau situs web pribadi!
Yahoo! memungkinkan Anda selalu bisa chat melalui Pingbox. Coba!
Pemerintahan yang jujur bersih? Mungkin nggak ya?
Temukan jawabannya di Yahoo! Answers!