renungan menarik.

--- On Sat, 12/6/08, Timur Angin <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: Timur Angin <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [pantau-komunitas] Jalan Spiritual, Jalan Kemanusiaan
To: [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], 
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED]
Date: Saturday, December 6, 2008, 11:19 PM










    
            BESOK Idul Adha akan diperingati. Jalanan sepanjang Lenteng Agung 
hingga Depok dipenuhi kambing dan sapi yang dijual secara massal. Banyak warga 
yang singgah membeli binatang untuk kemudian disembelih dan dibagikan pada 
keesokan harinya. Ada kebahagiaan yang di-share dan dirasakan secara bersama. 
Mereka yang memberi dan mereka yang menerima tiba-tiba saja lebur dalam satu 
kebahagiaan. Semua bersuka cita. Sementara saya hanya bisa menyaksikan dari 
sini. Saya hanya berdiam di kos-kosanku yang sempit, di tengah tumpukan buku 
dan berkas ujianku. 

Saya memaknai peristiwa ini dengan cara berbeda. Bagiku, Idul Adha adalah 
sebuah ritual yang bertujuan untuk melestarikan sebuah ingatan tertentu. Idul 
Adha menjadi momentum yang diingat secara kolektif dan menyediakan ruang yang 
sungguh luas untuk diinterpretasi dan dikayakan
 maknanya. Sayangnya, ingatan dan ritual itu tak selalu linear. Ritual itu 
kadang tak berpretensi mengusung makna tertentu yang semestinya bisa dipetik 
dan dikenyam bersama. Ritual itu menjadi kosong dari ingatan. Ritual itu hampa 
dari hikmah yang berceceran secara acak dalam sejarah yang seharusnya ditautkan 
ulang.

Barangkali inilah dinamika dari ingatan kolektif. Ingatan kolektif bukanlah 
suatu ingatan yang sama sebagaimana dialami oleh suatu komunitas. Ingatan 
kolektif yang saya maksudkan adalah ingatan pada peristiwa bersejarah di masa 
silam yang dianggap penting dan kemudian diingat secara bersama di masa kini. 
Persoalan bagaimana wadah dan bentuk ingatan itu, orang bisa saja berbeda-beda 
atau tidak bersepakat. Namun kesemuanya bermuara pada satu isu yang sama bahwa 
peristiwa itu penting di masa silam sehingga diingat di masa kini demi 
menumbuhkan identitas dan mercusuar gerak manusia di hari ini.

Kisah masa silam yang hendak
 dilestarikan di sini adalah momentum ketika Ibrahim hendak menyembelih anaknya 
Ismail. Ibrahim, seorang filosof telah melalui masa remajanya demi menjawab 
pusaran pertanyaan di kepalanya tentang siapakah Tuhannya. Ibrahim adalah 
seorang filsuf yang mendaki bukti dan menuruni lembah dalam upaya perjalanan 
spiritual untuk menemukan siapa yang menciptakan semesta, bagaimana proses 
penciptaan, serta mengapa harus ada ciptaan. Ia menanyakan tiga hal yang 
selanjutnya menjadi pangkal dari isu yang dibedah semua aliran filsafat teologi 
di hari ini. 

Kisah Ibrahim yang paling menyentuh hatiku adalah ketika ia menghabiskan malam 
dengan kontemplasi dan memandang bulan, kemudian bertanya, “Itukah Tuhanku?“. 
Di siang hari, ia kembali memandang matahari yang bersinar lebih terang dan 
kemudian bertanya pada dirinya, “Inikah Tuhanku?“. Pertanyaan itu menjadi awal 
yang
 membawanya pada berbagai spekulasi filosofis. Sayang, sejarah tak banyak 
berkisah bagaimana Ibrahim menemukan pencerahan tersebut. Apakah ketika duduk 
di bawah pohon bodhisatwa sebagaimana Buddha? Ataukah ketika duduk dalam gua 
sebagaimana Muhammad? Persentuhan Ibrahim dengan Tuhan tak banyak dibahas 
sehingga saya menarik simpulan: barangkali pencerahan baginya adalah titik 
paling puncak dari kontemplasi spiritualnya. Ibrahim melakukan perjalanan 
spiritual dan akhirnya menemukan Tuhan sebagai puncak dari aktivitas mengasah 
rasio dan merajut pertanyaan filosofis. Jika kemudian Ibrahim menjadi bapak 
dari tiga agama besar yaitu Islam, Kristen, dan Yahudi, maka itu adalah 
manifestasi dari pencariannya yang sedemikian panjang.

Saya menduga, keberagamaan Ibrahim adalah spiritualitas yang tanpa bentuk, 
bebas dan mengalir seperti udara. Barangkali ia hanya punya semacam insight
 atau percikan-percikan kearifan yang tidak diformalisasi dalam agama. Ia hanya 
punya kilasan-kilasan jawaban dan tidak pernah berniat menyusun jawaban itu 
secara metodologis. Ia tak mau menjelmakan ingatan personalnya dalam struktur 
atau kolektivitas. Dengan cara itu, ia menihilkan konflik dan kontestasi. Agama 
adalah soal ingatan personal dan perjalanan menggapai Tuhan. Ia tak berhasrat 
memformulasi keyakinan menjadi kesadaran kolektif sebagaimana pandangan 
Durkheim tentang the elementary form of religious life. Manusia bisa menggapai 
keyakinan dari berbagai sisi, sebagaimana ketika mendaki Gunung Bawakareng, 
kita bisa lewat Gowa, Maros, atau lewat Bulukumba. Ibrahim hanya punya 
gambaran-gambaran yang bersifat makro, tanpa mengurainya dalam detail-detail 
ritual sebagaimana agama hari ini. Jika kemudian Musa, Isa, dan Muhammad hadir, 
maka mereka hanyalah penyempurna dari insight atau pencerahan yang dialami
 Ibrahim. Makanya, sosok Ibrahim adalah titik awal sekaligus titik temu dari 
tiga agama besar yang saat ini sering berkonflik dan berkontestasi. 

Barangkali insight itulah yang selama ini menjadi nurani yang mengendalikan 
gerak Ibrahim. Historisitas bagi Ibrahim adalah upaya mempraksiskan gagasan ke 
dalam tindakan. Historisitas Ibrahim adalah upaya melaksanakan semua perintah 
nurani yang dimulai dari kegelisahan dan selanjutnya mengalir secara dialektis 
dalam kesadarannya. Pada suatu malam ia bermimpi bahwa Tuhan memerintahkannya 
untuk segera menyembelih putranya Ismail. Pada titik ini, Ibrahim dilanda 
dilema. Jika Tuhan adalah sebuah titik di mana segala orientasi diarahkan, maka 
manusia bisa terjebak pada menuhankan banyak hal. Ketika manusia berpikir bahwa 
uang adalah titik orientasi, maka saat itu juga ia telah menuhankan uang. 
Makanya, atheis bukanlah musuh keyakinan, sebab ada kesadaran mencari Tuhan
 dalam diri manusia. Musuh keyakinan adalah politheisme yaitu 
membanyak-banyakkan Tuhan atau orientasi dalam hidup. 

Ibrahim menyadari itu. Tatkala hari-harinya dipenuhi gambaran tentang Ismail, 
maka ia seakan lupa pada tujuan utamanya yaitu pencerahan dan jalan nurani. 
Ismail menjadi orientasi baru yang menjauhkannya dari jalan yang semula 
dipilihnya. Ismail menjadi kabut yang menghalangi pandangan jernihnya tentang 
hidup dan kehidupan. Episode yang paling menggetarkan saya dalam kisah ini 
adalah ketika Ismail dengan ikhlas menyerahkan lehernya untuk disembelih. 
Ternyata Ismail justru mencapai pencerahan pada usia yang sangat muda, sesuatu 
yang digapai dan diidam-idamkan Ibrahim setelah lama berkelana. Ismail mencapai 
titik paling puncak dari keyakinan yaitu keikhlasan berkorban yang dilandasi 
kesadaran bahwa keyakinan tentang Tuhan sebagai titik akhir orientasi adalah 
oksigen yang memberi napas bagi semesta dan gerak manusia. Dalam usia muda,
 Ismail paham kegelisahan ayahnya yang dipenuhi imajinasi tentang dirinya 
adalah jalan menyimpang dari jalan spiritualitas. Dengan cara mengorbankan 
diri, ia telah meluruskan jalan menyimpang ayahnya sekaligus mengalami 
kebersatuan atau penyatuan mistis dengan Tuhan, sesuatu yang lama 
didambakannya. 

Keyakinan keduanya berdialektis hingga turunlah perintah dari langit. Saya 
memaknai episode ini bahwa keduanya kemudian mencapai perjumpaan filosofis yang 
sama. Keduanya bersepakat bahwa pengalaman yang mereka jalani menyimpan butiran 
hikmah bahwa manusia memang bisa lalai dan tunduk pada orientasi berbeda. 
Manusia bisa salah dan memilih jalan belok, namun kesadaran kemanusiaan dan 
spiritualitas akan menjadi rambu-rambu yang kembali meluruskan jalan manusia. 
Kesediaan berkurban adalah kesediaan untuk tetap meniti pada jalan lurus 
kemanusiaan dan memberi makna bagi manusia lainnya. Keduanya sama-sama 
tersenyum dan menyadari bahwa jalan terbaik untuk
 menggapai Tuhan adalah kesediaan berkorban untuk sesamanya. Kesadaran 
spiritualitas itu dijemakan dalam situasi tatkala semua manusia sama-sama 
tersenyum bahagia. Pada akhirnya, jalan spiritual adalah jalan kemanusiaan. 
Episode ketika Ibrahim mengganti Ismail dengan daging kambing kemudian 
dibagikan pada orang lain menjadi simbol bahwa kesadaran spiritualitas itu akan 
tercapai ketika seseorang memberikan kebahagiaan pada sesama. Ternyata, jalan 
Tuhan itu tidak terletak di langit. Jalan Tuhan itu terletak pada seberapa 
banyak manusia lain yang tersenyum bahagia dengan kehadiran kita, dengan tangan 
kasih yang kita ulurkan.

Sekarang, tatkala peristiwa itu jauh berlalu dalam sejarah, apa jejaknya yang 
tersisa? Apakah pesta membagikan daging, ataukah pesta memukul beduk?




Depok, 7 Desember 2008
www.timurangin. blogspot. com



      
      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke