Semua orang tau kalau Banten Lama ini merupakan kawasan cagar budaya yang
banyak dikunjungi oleh pelancong yang ingin melakukan wisata religius...
Dan semua orang tau juga kalau Banten Lama ini tempatnya (kecuali Masjid Agung)
kotor sekali, dari mulai alun-alunnya, kanalnya, sampai tempat wudhu dan
toiletnya. Selain itu banyak sekali pedagang kaki lima dan pengemis yang
membuat saya juga malas untuk berlama-lama di kawasan tersebut.
Model pengelolaan banten lama yang paling ideal menurut saya bisa seperti yang
telah dilakukan Pemkab Banjarnegara dan Wonosobo di Dataran Tinggi Dieng (DTD).
Wisatawan yang datang ke kawasan dikenakan biaya retribusi yang menurut saya
sangat murah sekali yaitu Rp. 2000/orang untuk tiap tempat wisata dan mobil Rp.
5000.
Sebelum berkeliling, bisa mampir dulu di museumnya, ada artefak-artefak
peninggalan jaman Kerajaan Hindu, display yang menginformasikan sejarah Dataran
Tinggi Dieng, kehidupan masyarakatnya, budayanya dan tempat-tempat wisata yang
ada di DTD serta auditorium untuk menonton video tentang DTD. Dari sini saya
merasakan ketertarikan untuk segera berkeliling ke tempat-tempat yang di
informasikan dalam museum ini.
Untuk akomodasinya juga sangat mudah, karena disana sudah tersedia
homestay-homestay yang dikelola oleh penduduk setempat dengan biaya Rp.
250.000,-/hari (belum termasuk makan). Saya sangat setuju dengan konsep
homestay ini karena dilihat dari segi ekonomi, sosial dan budaya, sangat
menguntungkan.
Penduduk disana adalah para pekerja perkebunan yang dulunya sangat miskin
sekali, setelah DTD dikelola secara profesional banyak manfaat yang menjadi
berkah buat penduduknya selain menjadikan rumahnya sebagai homestay, yaitu bisa
menjadi guide (pemandu wisata), bisa memperlihatkan kehidupan sehari-hari dan
budayanya seperti legenda orang yang bertapa dan anak gimbal, bisa berjualan
hasil perkebunan yang langsung di beli oleh konsumen, bahkan sampai batu-batu
kecil yang berserakan di jalan bisa bernilai ekonomis yang dijual Rp. 1000/tiga
buah untuk dilemparkan ke ”Sumur Jalatunda”.
Tempat-tempat wisatanya sangat teratur dan bersih termasuk toiletnya, dan tidak
ada satu pun pengemis karena semua penduduknya baik yang asli maupun pendatang
sudah mengambil peran sesuai dengan kemampuannya.
Saya pikir Banten Lama tidak kalah dengan potensi dengan DTD. Untuk masuk ke
kawasannya silahkan dikenakan biaya, dan biaya itu bisa digunakan untuk
operasional dan pemeliharaan. Rumah-rumah penduduknya bisa dijadikan home stay
dan pengemis-pengemisnya bisa dilatih menjadi guide atau digaji untuk
membersihkan sampah-sampah yang berserakan di sekitar kawasan Banten Lama.
Yuuk... kita bangkitkan kembali kejayaan Banten Lama...!
salam,
@kodas
New Email addresses available on Yahoo!
Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail.
Hurry before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/