ulasan tentang media dan junalisme warga, menarik, sambungan yang lalu.
--- On Sun, 1/25/09, [email protected] <[email protected]> wrote:
From: [email protected] <[email protected]>
Subject: [panyingkul] Cit-Rep dan Sahutan “Penting Nggak Sihhhh?” (4)
To: [email protected]
Date: Sunday, January 25, 2009, 10:03 PM
http://lilyyulianti .kompasiana. com
Memahami media mainstream sebagai profit-oriented institutions, bisa dilakukan
dengan sederhana. Falsafahnya: Kalau mendatangkan untung, sikat coyyyy!”
Karenanya, peneliti media, dosen jurnalistik investigasi Columbia University,
Sheila Coronel menggambarkan kondisi pers –terutama di negara-negara demokrasi
baru, termasuk Indonesia– sebagai “lepas dari mulut buaya” (baca: rezim
otoriter) lalu “masuk ke mulut harimau” (baca: kepentingan bisnis).
Di mulut harimau, kategori layak berita atau tidak layak berita, diukur dengat
profit-meter. Di industri televisi, –jenis media yang dalam sejumlah penelitian
paling berhasil menggenjot keuntungan dengan berbagai upaya
eksploitasi– istilah yang didewakan adalah rating. Apa saja yang bisa
mengucurkan keuntungan, dikemas sedemikian rupa. Seperti sebuah perusahaan
mainan di AS yang langsung memproduksi boneka mirip Malia dan Sasha, putri
Presiden AS Barack Obama, untuk meraup untung di tengah demam Obama, begitu
jugalah berita dan program media diciptakan di sarang harimau. Contoh paling
jelas di media cetak bisa dilihat di rubrik ekonomi. Informasi peluncuran
produk baru adalah berita ekonomi. Ia bukan iklan, tapi berita ekonomi, begitu
kita diyakinkan oleh media. Di industri televisi, contoh yang paling banyak
dikeluhkan publik adalah booming reality show, sinetron dan tentu saja
infotainment. Kita coba diyakinkan bahwa rating adalah panglima, kualitas
adalah soal yang sebaiknya ditunda dulu pembahasannya.
Di AS, pernah terjadi fenomena menarik antara mass reality dan mass media
representation tentang kriminalitas. Berita kejahatan masih di-blow up
sebagian media utama justru ketika tingkat kejahatan secara nasional sudah
menunjukkan tren menurun. Resep “It leads when it bleeds” — makin
berdarah-darah, makin terdongkrak tiras media. Profit, profit, profit, adalah
mantra baru media, yang juga disisipkan dalam kesadaran pekerja pers, selain
standar serta etika jurnalistik nan luhur (lihat We Media, 2005, Gillmor).
Media arus besar telah pudar integritas dan peran pengabdiannya kepada publik.
Inilah dua hal yang antara lain dibicarakan terus menerus dalam seminar peran
dan tren media. Kecenderungan media arus besar di seluruh belahan dunia ini
sama: berserah dalam terkaman sang harimau. Media tak ubahnya mahluk ekonomi
yang serakah, di mana pengelolanya berteriak seperti kepala pabrik sabun: “ayo
lebih efisien, lebih efisien tapi lebih untung, lebih untung!” Bayangkan Anda
terbang dengan low-cost flight dan menggerutu atas berbagai ketidaknyamanan.
Begitu juga bila Anda mengonsumsi low-quality journalism, sebagai pembaca
kritis Anda akan menggerutu sambil mengenang masa gemilang jurnalisme
berkualitas tinggi (yang semakin jadi barang langka dan semoga tidak punah!)
High quality journalism. Ini yang hilang. Meski, barisan yang disebut sebagai
well-trained journalists jumlahnya tidak sedikit, tapi karena pemilik dan
manajemen media semakin mereduksi peran mereka, minimnya penghargaan pada karya
jurnalistik yang dikerjakan susah payah, makin praktisnya pendekatan yang
digunakan dalam memproduksi berita (jurnalistik investigasi berbiaya mahal akan
menjadi proposal yang ditaruh paling belakang dan tidak akan disetujui, ia
kalah bersaing dengan produksi lainnya yang mudah, murah dan memikat massa
seperti infotainment) , maka ruang aktualisasi para wartawan hebat itu juga
makin menciut.
Di tengah kondisi ini, pencapaian teknologi informasi membuka jalan baru bagi
wartawan yang gelisah dengan peran mereka yang tereduksi serta konsumen media
yang sudah kehilangan selera dengan media arus utama: mari bereksprimen dengan
jurnalistik model baru, yang dikerjakan di sebuah lahan luas tanpa beban, bukan
di mulut harimau dengan taring ukuran-ukuran bisnis. Nah, berita yang ditulis
dengan perspektif warga dalam praktik CJ bisa dimulai dengan sahutan “Penting
Nggak Sihhh?” dan jawabannya, ya penting lah, kan cerita-cerita warga, kan
representasi keseharian!
Ini contohnya: Presiden SBY ke Kabupaten Maros. Berita penting dong. Wartawan
lokal datang pagi-pagi ke lokasi. Wartawan Istana ya seperti biasanya ikut
dalam rombongan dengan jadwal kunjungan padat, meresmikan ini itu, berpidato
ini itu. Di media, berita kunjungan itu akan memaparkan hal-hal penting yang
diucapkan dan dilakukan presiden. Bila seorang warga, yang melaporan peristiwa
itu dengan angle sebebas hatinya, menggunakan perspektifnya, maka laporan yang
lahir adalah: “Presiden Pulang, Capek belum Hilang”
Penting nggak sih laporan semacam itu? Bila Anda bertanya di tengah terkaman
harimau pemburu profit, ini jelas berita remeh temeh yang tidak penting. Tapi
bila Anda bertanya dengan memahami sejarah perkembangan pers, yang wujud
awalnya di abad ke-17 adalah “percakapan di ruang publik yang disimak wartawan
dan kemudian diramu menjadi berita karena diyakini mewakili suara orang
kebanyakan” maka Anda tersadar bahwa pers modern sejak paruh kedua abad ke-20
telah menghapus suara orang biasa itu dan menggantinya dengan “something newsy,
which means something profitable.”
Salah satu agenda penting para penggerak CJ dan Social Media adalah
mengembalikan kepercayaan warga untuk mengatakan “ini yang penting”, “saya mau
tahu soal ini, bukan yang itu”, “saya punya kabar penting, ini harus diketahui
publik.” Modal mereka, jejaring dan sharism.
Memang penting untuk tahu presiden, menteri, gubernur, walikota lagi ngapain
dan omongin apa. Tapi juga penting bagi presiden, menteri, gubernur, walikota
untuk tahu warganya lagi memikirkan dan omongin apa. Bila porsi pemberitaan
penguasa dan pemilik modal begitu luas (karena mereka punya kuasa dan uang),
bila porsi pemberitaan selebriti juga begitu tak terbatas (karena mereka
mendongkrak keuntungan), bagaimanakah cara warga biasa mendapat porsi
pemberitaan yang juga memadai. Ingat, seorang balita kurang gizi yang mati,
adalah headline. Tapi tahukah apa yang hilang dari pemberitaan malnutrisi
seperti itu? Kasus kurang gizi adalah proses panjang, berbulan-bulan, sebelum
merengut nyawa dan di media arus utama sudah jarang kita temukan cerita
menyeluruh (thoroughness) tentang kemiskinan. Penting nggak sihhh memaparkan
hal ihwal kemiskinan? Ya jelas pentinglah! Tapi kenapa media arus besar hanya
menyajikan berita
tentang jumlah, nama orang yang mati itu dan pernyataan pejabat terkait serta
eksploitasi pada kondisi si miskin? Mengapa pendalaman berita serba minim?
(Nggak ada waktu, deadline, deadline! Ruang terbatas, iklan banyak, iklan
banyak nih, beritanya dipotong ya, please, ada launching produk baru nih, iklan
sampai leher nih!, eh juga ada iklan partai politik mengucapkan selamat Imlek,
full colour! Harap maklum, berita pendek-pendek saja! –visualisasi ekstrim
sebuah rapat redaksi hehehe)
Seorang citizen reporter Panyingkul! yang mendalami masalah kesehatan publik
pernah mengambil peran menuliskan pendalaman berita ketika Makassar dihebohkan
kasus orang miskin yang mati. (Lihat: Ada Apa dengan Daeng Basse?), Sudirman
HN, sang Cit-rep itu terdorong menyampaikan konteks peristiwa, hal yang luput
di media mainsteam lokal Makassar ketika peristiwa ini hangat dibicarakan.
Jadi begitulah, dengan kehadiran CJ, perilaku konsumen media mengalami
perluasan. Sebagai pembaca, ia mendapatkan berita terkini dari media arus utama
dan menyimak pemahaman/pendalama n atas suatu peristiwa dari media
CJ. Sebagai citizen reporter, ia juga berkontribusi berdialog dengan peristiwa
yang diberitakan itu, dengan mengemukakan analisa, komentar atau bahkan
perluasan dari peristiwa itu sendiri. Sang citizen reporter bekerja dengan
sahutan tanpa beban, “Ini berita penting lho” Dan bila sang harimau mengaum,
protes tanda berita itu tidak penting dan tidak profitable” Percayalah, sang
Cit-rep akan melenggang bebas dan berkata, “Saya tidak mencari untung dari
berita yang saya tulis! Saya menulis karena saya yakin ini penting disampaikan.
Saya peduli, saya peduli. Bukan cari untung, cari untung.” (*)
Jakarta, 26 Januari 2009
Ly