lapindo, kasus besar dan masuk agenda nasional sebagai bencana nasional. para 
ilmuwan dari BPPT dan LIPI dibius untuk tetap mengatakan bahwa kasus Lapindo 
adalah penomena alam yang sulit diprediksi. 
Lha penomena alam? itu Lapindo mengeksplorasi dan mengebor kandungan migas 
dengan peralatannya ditangani oleh manusia kan? umpama Lapindo tidak melakukan 
kegiatan eksplorasi migas di kawasan Sidoarjo, apa itu lumpur tiba-tiba akan 
keluar membludak? orang awam pasti akan mengatakan bahwa itu adalah HUMAN 
ERROR. rakyat jadi korban...rumah hilang, tanah hilang......terus ganti ruginya 
pun alot persis makan daging sate kambing bandot tua.
Jadi dalam hal ini PENGUASA tidak ada keberpihakan kepada rakyat.

Terus beras jor-joran impor karena pemerintah (Bulog) tidak punya stok 
(cadangan) alias produksi dalam negeri lagi menurun alasan klise yakni kemarau 
panjang. namun ketika beras dalam negeri mengalami kenaikan produksi 
(melimpah), itu BULOG konon katanya tak mampu menampung padi para petani.  
Sehingga sebagian para petani mengeluh tidak bisa menjual padinya. Masuk akal 
gak? Moso iya pemerintah (BULOG) gak punya duit untuk menampung padi para 
petani? Moso impor beras bisa gak pake mikir, koq beli beras petani kudu 
mikir-mikir dulu.
Ya ini ternyata hama petani bukan hanya tikus-tikus yang berkeliaran di sawah, 
melainkan tikus-tikus birokrat yang pake dasi.

Masalah TKI? Si Juminten rela meninggalkan kampung halamannya,  karena tidak 
ada lapangan pekerjaan di tanah air. Ingat konon katanya TKI itu penyumbang  
devisa, tapi kenapa PENGUASA tidak memperhatikan kesejahteraannya, cuman jadi 
KEBO PERAHAN alias SAPI PERAHAN. Sudah di dalam negeri kagak ada kerjaan, eh 
mencari nasi di negeri orang masih juga diperas, KETERLALUAN!!! Ndak 
mampu...ndak mampu .....kapan ya mencapai INdonesia sejahtera?
Apa kata dunia? Pantes lha wong maen bola aja yang jumlah penduduknya sekitar 
280 juta mencari 11 orang yang bisa main bola susahnya minta ampun!! 

Banyak...banyak....banyak....yang perlu diomongin.....



________________________________
Dari: halim hd <[email protected]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Senin, 18 Mei, 2009 23:33:47
Topik: Re: [WongBanten] Jejak rekam SBY





nanti kan ada, bakalan nongol.
kalo ada yang ngelacak, semuanya
bikin kepala kita sakit!

--- On Mon, 5/18/09, deden hudaedin <deden_...@yahoo. com> wrote:


From: deden hudaedin <deden_...@yahoo. com>
Subject: Re: [WongBanten] Jejak rekam SBY
To: wongban...@yahoogro ups.com
Date: Monday, May 18, 2009, 9:28 AM


Wawwww kirain suharto aja yang pny rezim. Coba kang ada info capres mega. JK. 
Wiranto dan prabowo untuk pencerahan. Nuhun
salam hangat dr tepian sungai cibanten
YM:deden_c21
FB: deden_...@yahoo. com
Powered by Telkomsel BlackBerry®
________________________________
From: halim hd 
Date: Mon, 18 May 2009 09:22:02 -0700 (PDT)
To: <panying...@yahoogro ups.com>; WONG BANTEN<wongban...@yahoogro ups.com>; 
sulawesi tengah<sult...@yahoogroups .com>; kawula muda<kam...@yahoogroups. com>
Subject: [WongBanten] Jejak rekam SBY

mungkin bisa jadi bahan pertimbangan untuk nyontreng, atau.......dan atau 
..........
maaf kalou dobel.
hhd.

--- On Mon, 5/18/09, bungaran <no_re...@yahoogroup s.com> wrote:


From: bungaran <no_re...@yahoogroup s.com>
Subject: [Forum-Pembaca- KOMPAS] Jejak rekam SBY
To: Forum-Pembaca- kom...@yahoogrou ps.com
Date: Monday, May 18, 2009, 8:53 AM


Kajian Dr George Junus Aditjondro: Jejak rekam SBY 

JEJAK REKAM SBY, CAPRES PARTAI DEMOKRAT:

• Jejak rekam SBY di bidang lingkungan sangat tersembunyi, sebab SBY `hanya' 
berperan sebagai pelindung berbagai kelompok bisnis besar, terutama kelompok 
Artha Graha (AG). T.B. Silalahi, penasehat presiden di bidang pertahanan, juga 
eksekutif kelompok AG dbp Tomy Winata. Melalui mitra bisnisnya di Sumut, AG 
mengelola perkebunan kelapa sawit PT First Mujur Plantation di Tapanuli Selatan
dan Labuhan Batu.

• Artha Graha juga milik Sugianto Kusuma (`Aguan'), pemilik PT Agung Sedayu 
Permai, holding company Agung Sedayu Group.

• Artha Graha dan Agung Sedayu Permai banyak membangun gedung perkantoran & 
perumahan elit, yang tiap hari diiklankan di layar televisi.

• Kurang disadari dampak lingkungan properti-properti mewah itu, yaitu:

• (a) pembukaan lahannya menggusur rakyat kecil yang terpaksa bermukim di 
pinggir kali yang sangat tidak sehat;

• (b) sangat rakus air tanah (membuat rakyat kecil tergantung pada air 
kemasan); dan

• (c) ikut menyemburkan udara panas yang menaikkan suhu udara kota Jakarta.

• Berlindung di balik nama SBY ada dua yayasan, yakni (1) Yayasan Puri Cikeas & 
(2) Yayasan Majelis Dzikir SBY Nurussalam.

• Orang-orang dekat SBY menjadid pembina atau pengawas yayasan-yayasan itu.
Ketua Dewan Pembina Yayasan Puri Cikeas = Jero Wacik, Menteri Pariwisata dalam 
Kabinet Indonesia Bersatu. Ketua Pengawas Yayasan Nurussalam = Brigjen Kurdi 
Mustofa, Sekpri SBY.

• Adik ipar (Hartanto Eddie Wibowo) dan anak bungsu SBY (Eddy Baskoro 
Yudhoyono) menjadi fungsionaris Yayasan Nurussalam. Hartanto, bendahara, 
Baskoro, sekretaris.

• Sejumlah pengusaha era Orde Baru menjadi fungsionaris kedua yayasan itu, 
seperti Sukamdhani dan putera mahkotanya, Hariadi Sukamdani (Sahid Group), 
serta Tanri Abeng dan anaknya, Emil Abeng, serta Aziz Mochdar (Bimantara). 
Sukamdhani dan Tanri Abeng di Yayasan Cikeas, sedangkan Aziz Mochdar (ipar 
Yayuk Habibie,adik bungsu BJ Habibie) di Yayasan Nurusalam.

• Ada juga pengusaha yang berlindung di balik fungsionaris Yayasan Nurussalam, 
seperti Gunawan Yusuf (Makindo), kompetitor Salim Group dalam perkebunan tebu 
di Lampung.

• Menteri Lingkungan era SBY, Rachmat Witoelar, memberikan label hijau kepada 
beberapa konglomerat perusak lingkungan, yakni RGM, Sinar Mas, dan Freeport 
Indonesia, Inc.

• Ekspansi konglomerat- konglomerat yang dekat dengan pernah sama-sama jadi 
penggalang dana, seperti Arifin Panigoro, Aburizal Bakrie, Hartati Murdaya) 
ikut berekspansi di era SBY, walaupun di tahun-tahun pertama kejatuhan Soeharto 
mereka masih berhutang besar pada bank-bank negara.

• Kelompok Medco yang 60% milik keluarga Arifin Panigoro (40% milik Mitsui & 
Mitsubishi) berkembang dari migas (Sulteng, Aceh), PLT panas bumi di Sarulla 
(Sumut), kelapa sawit (Kalteng, Papua), paper dan pulp di Merauke (Papua), s/d 
rencana PLTN di Jepara (Jateng).

• Namun blunder terbesar kroni-kroni SBY adalah ekspansi bisnis keluarga Bakrie 
di bidang energi (Mega Energi Persada, Bumi Resources, Kondur Petroleum) yang 
mengakibatkan tragedi Lapindo bagi rakyat Jawa Timur, malapetaka lingkungan 
paling kurang ajar selama rezim SBY!

 
 




      
___________________________________________________________________________
Dapatkan nama yang Anda sukai!
Sekarang Anda dapat memiliki email di @ymail.com dan @rocketmail.com.
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/

Kirim email ke