http://ferizalramli.wordpress.com/2009/08/31/akankah-tutut-menjadi-pahlawan-demokrasi-indonesia/
Pemilu memberi kemenangan mutlak buat Pak SBY-Boed. Oleh Pak SBY semua partai tampaknya akan ditarik ke koalisi besar. Ini jelas mengancam kehidupan demokrasi di Indonesia. Jika semua partai bergabung di pemerintahan maka tidak ada lagi Partai yang berperan sebagai oposisi. Kebijakan akan keluar begitu saja tanpa ada cross-check di parlemen. Tidak ada yang mengkritisi kebijakan yang tidak tepat. Sebuah pemerintahan tanpa oposisi adalah kegagalan demokrasi. Lord Acton: "Power tends to corrupt" "Absolute power corrupts absolutely" PDIP yang 5 tahun lalu mengambil peran opisisi tampaknya terlalu lelah jika harus kembali oposisi 5 tahun ke depan. Sangat mungkin PDIP akan memilih berteduh dengan partai pemerintah. Golkar pun di bawah Aburizal Bakrie (Pak Ical) tampaknya akan memilih berteduh bersama dengan partai pemerintah. Jika konstelasi pemilihan ketum Golkar tidak berubah maka Pak Ical hampir pasti yang akan memimpin Golkar 5 tahun ke depan. Jadi, dapat dipastikan pemerintahan 5 tahun ke depan akan menjadi pemerintah yang absolut yang dilindungi oleh sistem demokrasi. Harapan "satu-2nya" akan oposisi justru sangat ironis yaitu muncul dari Siti Hardianti Rukmana atau mbak Tutut. Mbak Tutut sangat mungkin justru akan menjadi Pahlawan bagi sistem demokrasi Indonesia. Pesaing terkuat Pak Ical dalam pemilihan Ketua Golkar adalah Mbak Tutut. Berhadapan dengan mbak Tutut, Pak Ical belum tentu menang. Dan jika akhirnya pemenang Ketum Golkar adalah Mbak Tutut maka sangat mungkin mbak Tutut akan membawa Golkar menjadi partai oposisi. Posisi Golkar di oposisi apalagi jika PDIP akhirnya memutuskan oposisi juga akan membuat demokrasi Indonesia secara sistem menjadi lebih baik. Tentu saja publik tidak lupa bahwa Mbak Tutut adalah putri sulung dari Pak Harto Rejim Orba. Disisi lain membiarkan sebuah pemerintahan absolut pun merupakan pertaruhan bangsa yang sangat riskan. Inilah pilihan sulit bagi bangsa Indonesia. Demokrasi Indonesia jelas akan lebih baik jika mbak Tutut memenangi pertarungan Ketum Golkar dan memimpin Golkar menjadi Partai Oposisi. Tapi stigma ORBA juga melekat pada mbak Tutut. Akankah mbak Tutut mampu membayar dosa masa lalunya untuk menjadi pahlawan bagi demokrasi bagi Indonesia? Biarlah kelak sejarah yang menjawabnya Dari tepian Lembah Sungai Isar,
