CHASAN SHOHIB AJA JADI KETUM GOLKAR

--- Pada Sen, 31/8/09, framliz <[email protected]> menulis:


Dari: framliz <[email protected]>
Judul: [WongBanten] Re: Akan mbak Tutut menjadi Pahlawan Demokrasi Indonesia?
Kepada: [email protected]
Tanggal: Senin, 31 Agustus, 2009, 9:03 PM


  



(Ini adalah diskusi santai ala warung kopi dengan Kang Boss Hasannudin M. 
Kholil, Pakar Politik UGM)

(Hasannudin M. Kholil)
Ferr, ada dua komentar. Pertama soal peluang Tutut. Kedua soal pentingnya 
oposisi.
Soal peluang Tutut. Menurut saya, akan sulit sekali Tutut menang pertarungan di 
Munas. Sekalipun Pengurus DPD I dan II mengalami dehidrasi logistik yang cukup 
parah akibat terkuras sumber daya mereka pada pileg 2009, mereka masih cukup 
rasional untuk menggali dan … Baca Selengkapnyamengang kat Tutut dari kuburan 
politik.
Terdapat 3 alasan. Pertama, Jaringan dan pengaruh politik Tutut sudah tumpul. 
Buktinya PKPB, parpol bentukannya, tdk mendapat dukungan rakyat, masuk dalam 
jajaran partai nol koma.
Kedua, mereka, pengurus Golkar masih berambisi menang pada Pileg 2014. Kalau 
ini hitung-itungannya, dengan menggunakan asumsi pertama, figur Tutut sama 
sekali tidak menjual dan memenuhi syarat.
Ketiga, sebagian elite Golkar "kebelet" masuk kekuasaan. Kalau ini hitungannya, 
figur Tutut sudah pasti masuk kotak, karena seperti tulisan sampeyan sendiri, 
Tutut justru berkeinginan mengajak Golkar menjadi partai oposisi.

(Ferizal Ramli)
Saya melihatnya berbeda Kang Hasan. Pertarungan memperebutkan Ketum Golkar itu 
bukan pertarungan Pemiliu. Pak Ical klo pemilu belum tentu laku apalagi dengan 
kasus Lapindonya. Pak Ical laku karena logistiknya di Golkar. Alasan yang sama 
Tutut mampu melakukan seperti Pak Ical bahkan sangat mungkin lebih.

Keinginan Golkar di Pemerintahankan itukan keinginan generasi senior Golkar 
model Agung Laksono yang mengatakan sekarang ini giliran guwe jadi menteri! 
Generasi Golkar yang lebih yunior belum tentu ngebet di pemerintahan. Konsern 
generasi yunior Golkar adalah (1) dalam jangka 5 tahun logistik partai terjaga 
dan (2) Prospek untuk menang 5 tahun lagi.

Jika melihat tokoh, Pak Ical dan MbakTutut sama-2 punya dosalah. Mana sih ang 
lebih baik? Itu lumpur Lapindo memangnya mau dikemanain? Tutut pun punya stigma 
ORBA.

Tapi menurut saya, jika Golkar oposisi apalagi 5 tahun ke depan SBY selesai 
maka itu lebih baik dari pada Golkar bergabung di pemerintah..

(Hasannudin M. Kholil)
Komentar kedua soal pentingnya oposisi.
Secara normatif saya setuju tentang pentingnya politik oposisi sebagai tool 
check and balances antara cabang2 kekuasaan agar tidak korup.
Cuma saya tidak sepakat dengan gaya simplifikasi sampeyan dalam memetakan 
masalah. Tulisan sampeyan menyatakan pesan: Tutut menang oposisi mantap, Tutut 
kalah oposisi mati. Waduh… duh..duh…..

(Ferizal Ramli)
Sampeyan bisa melihat oposisi hidup jika Aburizal menang? Tidak ada 1 pun 
indikasi yang membuat Pak Ical membawa Golkar oposisi. Klo PDIP sendirian, wah 
sudah kelelahan dia. Dehidrasi.

Apakah sampeyan akan buat "oposisi ala Pancasila" dimana kita rame-2 jadi 
partai pemerintah dan rame-2 juga menjadi oposisi pemerintah? Oposisi khas 
Indonesia yang ndak ada literaturnya?
Klo logika itu yang digunakan, aku malah lebih ndak yakin lagi bahwa itu adalah 
oposisi. Itu malah sistem yang rusak.
Atau adakah analisa lainnya?

(Ferizal Ramli)
Kang Hasan, bagi saya ada 3 level yang harus diselamatkan. 

Level Paling rendah dan paling "tidak penting" adalah orang. Secara ideal saya 
ingin orang terbaiklah yang menjadi pemimpin. Tapi lebih baik kita mengorbankan 
orang dari pada mengorbankan institusi dan sistem. 

Level yang lebih penting lagi yang diselamatkan adalah Institusi: apakah itu 
partai atau kelembagaan. Demi kelangsungan kelembagaan maka boleh saja kita 
mengorbankan seseorang.

Level yang paling penting adalah sistem. Bagi saya sistem demokrasi itu jauh 
lebih penting diselamatkan. Bagi saya Pak Ical dan Mbak Tutut ndak ada yang 
lebih baik. Persoalannya siapakah diantara mereka yang mungkin akan mendorong 
tradisi demokrasi? Klo menuruk saya pribadi, Pak Ical rasanya tidak yah.

Tapi saya bisa salah lho 

(Hasannudin M. Kholil)
Ada rumus baku dalam dunia politik: "Politik itu tidak berada dalam sebuah 
ruang kosong". Jadi tidak sesederhana yang sampeyan gambarkan. Energi gerak 
dunia politik di negara manapun adalah power sharing dan kepentingan.
Ketika konsesi kekuasaan misalnya tidak didapat oleh suatu parpol, atau 
pemerintah dinilai tidak lagi populer, maka pendulum haluan politik parpol bisa 
berubah 180 derajat. Begitu sebaliknya. Ini yang menjelaskan kenapa fenomena 
realiansi politik (beralihnya dukungan politik) jamak terjadi di banyak negara, 
termasuk di USA ketika sejumlah senator Republik beralih mendukung Obama.
Kasus yg sama bisa terjadi di Indonesia. Terdapat 2 kemungkinan:
Pertama, parpol pendukung SBY pada Pilpres yg tdk mendapat jatah kabinet bisa 
menyeberang menjadi oposisi.
Kedua, kalau popularitas SBY "ngedrop" karena tdk perform dalam menjalankan 
pemerintahannya, bisa mendorong parpol yang semula mendukung akan rame-rame 
menyeberang.

(Hasannudin M. Kholil)
Poin yang ingin saya sampaikan adalah tumbuhnya bangunan Oposisi di Indonesia 
sama sekali tidak ada hubungannya dengan gemuruh Munas Golkar yang akan 
berlangsung. Apalagi kalau dikaitkan dengan figur orang: Tutut atau Ical. Ini 
terlalu sederhana Kang…
Bicara Ical atau Tutut enaknya ngomongin peluang siapa yang berpeluang menang. 
Tulisan saya yg… Baca Selengkapnya pertama di atas mencoba menganalisa petanya.
Kalau soal penjaga oposisi banyak sekali variabelnya. Belum lagi variabel 
Mahkamah Konstitusi yang bisa memotong produk UU kapan saja MK mau jika 
Presiden dan DPR berselingkuh.
Terakhir saya sepakat sistem demokrasi memang harus terus dijaga dan 
diselamatkan. Ini pilihan yang tidak bisa mundur lagi.

(Ferizal Ramli)
Kang Hasan, apa yag sampeyan katakan adalah sudut pandang menarik. 

Bagi saya oposisi itu "harus" sistemik. Bagi Kang Hasan oposisi itu bisa saja 
spontansitas. Saya tidak menolak adanya oposisi spontanitas. Tapi saya pikir 
itu adalah prestasi minimalis. 

Saya bicara dalam konteks pakem. Pakemnya sebuah politik dalam demokrasi itu 
ada institusi oposisi secara formal dan sistemik. Satu atau 2 dari partai gurem 
bisa saja kecewa dan menentang Pak SBY tapi itu cuma bagian dari seni segala 
kemungkinan. Itu cuma mengasilkan oposisi spontanitas. 

Begitu juga kemungkinan kedua: Itu adalah spotansitas perlawanan jika SBY 
melakukan blunder kebangetan seperti kasus Gus Dur dengan poros tengahnya. 

Tapi saya sangat memahami pendapat itu. Mungkin tradisi masyakarat kita memang 
tradisi spontan, tidak sistemik. Akibatnya saat model dicoba untuk dibuat maka 
variable abstrak dan spontan justru harus Ferizal RamliKang Hasan, apa yag 
sampeyan katakan adalah sudut pandang menarik. 

Bagi saya oposisi itu "harus" sistemik. Bagi Kang Hasan oposisi itu bisa saja 
spontansitas. Saya tidak menolak adanya oposisi spontanitas. Tapi saya pikir 
itu adalah prestasi minimalis. 

Saya bicara dalam konteks pakem. Pakemnya sebuah politik dalam demokrasi itu 
ada institusi oposisi secara formal dan sistemik. Satu atau 2 dari partai gurem 
bisa saja kecewa dan menentang Pak SBY tapi itu cuma bagian dari seni segala 
kemungkinan. Itu cuma mengasilkan oposisi spontanitas. 

Begitu juga kemungkinan kedua: Itu adalah spotansitas perlawanan jika SBY 
melakukan blunder kebangetan seperti kasus Gus Dur dengan poros tengahnya. 

Tapi saya sangat memahami pendapat itu. Mungkin tradisi masyakarat kita memang 
tradisi spontan, tidak sistemik. Akibatnya saat model dicoba untuk dibuat maka 
variable abstrak dan spontan justru harus menjadi faktor dominan untuk 
mendesain model tsb…

(Ferizal Ramli)
Kesimpulan saya, oposisi ala Mas Hasan semakin memperkuat keyakinan saya akan 
muncul "oposisi ala Pancasila", "Oposisi ala Indonesia". Yaitu sama-2 bareng di 
pemerintahan dan sama-2 siap menikam dalam tikungan. Bagi saya ini adalah 
sistem yang rusak meskipun secara realitas bisa saja terjadi. Hanya jika 
tradisi ini yang dibangun maka ini tradisi … Baca Selengkapnyayang rusak…

Dalam sistem demokrasi Eropa (Jerman, UK) yang saya amati, saya tidak ketemu 
sistem oposisi seperti ini (maaf saya sangat mungkin juga kleru). Kasus per 
kasus bisa saja terjadi insidental tapi secara sistem, saya tidak berharap 
model oposisi seperti ini yang ada di Indonesia…

(Hasannudin M. Kholil)
Kang Ferizal, bisa ditunjukan ke saya contoh negara dengan "sistem pemerintahan 
presidensial" yang memiliki tradisi oposisi formal dan sistemis seperti yang 
samperan idamkan?
Saya sengaja membri tanda kutip "sistem pemerintahan presidensial" untuk 
membedakan dengan "sistem pemerintahan parlementer" yang memiliki anatomi dan 
struktur pemerintahan yang berbeda, termasuk format bangunan oposisinya

(Ferizal Ramli) Ups ini untuk mengomentari tentang Golkar, 2 orang dan MK. 

Saya pikir spirit tulisan saya adalah meletakkan Partai sebagai ujung tombak 
oposisi. Saat itulah yang paling menjadi harapan bagi kita adalah Golkar. Itu 
menurut saya. Penyembutan nama 2 orang calon Ketum itu adalah turunan dari 
spirit tulisan saya.

Saya tidak pernah berpikir MK itu adalah variabel oposisi. Jika MK adalah 
pelangkap pilar bagi demokrasi iya. Tapi apakah dia adalah variabel oposisi 
untuk proses cross-check kinerja eksekutif? saya pikir itu adalah tugas utama 
Parlemen! bukan tugas MK. 

Apakah MK bisa melakukan pengawasan terhadap kinerja eksekutif? Saya tidak 
pernah melihat ada negara yang menempatkan lembaga MK sebagai harapan untuk 
melakukan "oposisi" seperti fungsi partai di Parlemen 

Tapi mungkin karena perbedaan sudut pandang saja diantara kita. Saa sendiri 
mendapat banyak hal dari sudut pandang sampeyan…

Salam,
FR

(Hasannudin M. Kholil)
Sebab nampaknya sampeyan belum memahami konsep oposisi secara lebih utuh, 
sehingga sampeyan mencampur adukan antara konsep dan realitas oposisi di negara 
dengan bentuk pemerintahan parlementer dengan negara yang berbentuk 
ipemerintahan presidensial. Bangunan oposisi yang matang, terlembaga, dan 
sistemik memang lebih melekat dalam negara yang menganut bentuk pemerintahan 
parlementer, seperti negara Jerman yang sampeyan banggakan.
Coba deh dibaca lagi bukunya…

(Ferizal Ramli)
Coba sampeyan bicara tentang Amrik. Itu juga sistemik Apa ada oposisi Pancasila 
ala Amrik? Oposisi spontanitas )

Amrik lebih sinting lagi, kesepakatan oposisi sudah dilakukan sebelum pemilu. 
Perancis yang Presidensial juga demikian. Ndak ada itu oposisi spontanitas 

Sekarang giliran anda kasih contoh apakah benar opisisi spontanitas itu adalah 
pakem dari sistem pemerintahan presidensial?

(Hasannudin M. Kholil)
Soal MK, Amrik, Jerman dipending dulu Kang.
Aku sahur dulu… keburu Imsak, nanti bisa tidak kuat puasa kalau gak sahur )
Karena… Gak mau saya dituduh sampeyan oposisi sama Tuhan gara-gara gak puasa 
siangnya ha ha ha
Anang, Kang Bambang jangan cuma acung jempol. Ayoo komentar… !

--- In wongban...@yahoogro ups.com, "framliz" <fram...@... > wrote:
>
> http://ferizalramli .wordpress. com/2009/ 08/31/akankah- tutut-menjadi- 
> pahlawan- demokrasi- indonesia/
> 
> Pemilu memberi kemenangan mutlak buat Pak SBY-Boed. Oleh Pak SBY semua partai 
> tampaknya akan ditarik ke koalisi besar. Ini jelas mengancam kehidupan 
> demokrasi di Indonesia. Jika semua partai bergabung di pemerintahan maka 
> tidak ada lagi Partai yang berperan sebagai oposisi. Kebijakan akan keluar 
> begitu saja tanpa ada cross-check di parlemen. Tidak ada yang mengkritisi 
> kebijakan yang tidak tepat. 
> 
> Sebuah pemerintahan tanpa oposisi adalah kegagalan demokrasi.
> Lord Acton:
> "Power tends to corrupt"
> "Absolute power corrupts absolutely"
> 
> PDIP yang 5 tahun lalu mengambil peran opisisi tampaknya terlalu lelah jika 
> harus kembali oposisi 5 tahun ke depan. Sangat mungkin PDIP akan memilih 
> berteduh dengan partai pemerintah. Golkar pun di bawah Aburizal Bakrie (Pak 
> Ical) tampaknya akan memilih berteduh bersama dengan partai pemerintah. Jika 
> konstelasi pemilihan ketum Golkar tidak berubah maka Pak Ical hampir pasti 
> yang akan memimpin Golkar 5 tahun ke depan. Jadi, dapat dipastikan 
> pemerintahan 5 tahun ke depan akan menjadi pemerintah yang absolut yang 
> dilindungi oleh sistem demokrasi. 
> 
> Harapan "satu-2nya" akan oposisi justru sangat ironis yaitu muncul dari Siti 
> Hardianti Rukmana atau mbak Tutut. Mbak Tutut sangat mungkin justru akan 
> menjadi Pahlawan bagi sistem demokrasi Indonesia. Pesaing terkuat Pak Ical 
> dalam pemilihan Ketua Golkar adalah Mbak Tutut. Berhadapan dengan mbak Tutut, 
> Pak Ical belum tentu menang. Dan jika akhirnya pemenang Ketum Golkar adalah 
> Mbak Tutut maka sangat mungkin mbak Tutut akan membawa Golkar menjadi partai 
> oposisi.
> 
> Posisi Golkar di oposisi apalagi jika PDIP akhirnya memutuskan oposisi juga 
> akan membuat demokrasi Indonesia secara sistem menjadi lebih baik. Tentu saja 
> publik tidak lupa bahwa Mbak Tutut adalah putri sulung dari Pak Harto Rejim 
> Orba. Disisi lain membiarkan sebuah pemerintahan absolut pun merupakan 
> pertaruhan bangsa yang sangat riskan. 
> 
> Inilah pilihan sulit bagi bangsa Indonesia. Demokrasi Indonesia jelas akan 
> lebih baik jika mbak Tutut memenangi pertarungan Ketum Golkar dan memimpin 
> Golkar menjadi Partai Oposisi. Tapi stigma ORBA juga melekat pada mbak Tutut. 
> Akankah mbak Tutut mampu membayar dosa masa lalunya untuk menjadi pahlawan 
> bagi demokrasi bagi Indonesia? 
> 
> Biarlah kelak sejarah yang menjawabnya…
> 
> Dari tepian Lembah Sungai Isar,
>

















      Berselancar lebih cepat. Internet Explorer 8 yang dioptimalkan untuk 
Yahoo! otomatis membuka 2 halaman favorit Anda setiap kali Anda membuka 
browser. Dapatkan IE8 di sini! 
http://downloads.yahoo.com/id/internetexplorer

Kirim email ke