kan banyak juga sosok keren, kang, dan juga banyak ponpes kondang dari wilayah pandeglang. berita kayak terorisme itu, paling-paling sebulan-dua lalu sirna.
________________________________ From: Sp Saprudin <[email protected]> To: [email protected] Sent: Thu, March 11, 2010 2:40:39 PM Subject: Re : [WongBanten] KELOMPOK PANDEGLANG STIGMA BURUK DAERAH BANTEN 1. Kelompok Pandeglang dikatikan dengan kelompok Teroris 2. Kelompok Pandeglang dikaitkan dengan kelompok CURANMOR Stigma buruk terhadap daerah Pandeglang yang dilansir oleh beberapa mas media terkait dengan dua hal tersebut diatas, merupakan hal yang lumrah. Kenapa saya katakan hal yang lumrah. Bukan toh daerah Pandeglang saja yang mengalami hal semacam itu, daerah-daerah lainpun pernah dan mengalami hal serupa. Kalau saya simak kekawatiran Bung Machsus terlalu menggeneralisir keadaan seolah-olah orang se Pandeglang itu pelaku teroris dan pelaku CURANMOR. Menurut saya itu segelintir kecoa mungkin paling banyak juga sekitar 3 atau 5 orang. Jadi kalau ada judul atau headline di surat kabar yang memuat hal semacam itu saya tidak terlalu risau. Surat kabar ibarat pisang goreng, agar cepat laku dan diburu konsumen maka pakai trik ilmu menjual. Biasanya orang akan tertarik dengan berita-berita teroris atau CURANMOR, karena memang trend berita saat ini adalah tidak jauh dengan Teroris atau CURANMOR. Saya dua minggu ke belakang sowan/main ke rumah paman di kota Pandeglang, dan suasana kota Pandelang biasa-biasa saja tidak ada sesuatu yang mengkawatirkan, cuman berita yang hangat dari bibir ke bibir antar tetangga cuman kasus KORUPSI. Sekarang untuk menjadikan Pandeglang bersinar dan merubah image buruk, saya hanya menyarakan kepada mereka-meraka (putra daerah asal Pandeglang) yang sudah maju baik sebagai pengusaha, ilmuwan maupun yang duduk dibirokrat galang dana, (jika memang tidak ingin rusak susu sebelanga karena setitik nila), maka bangun pusat-pusat pendidikan, sarana dan prasarana pendidikan dan berikan beasiswa agar masyarakat Pandeglang tidak terbelakang, tidak buta aksara, tidak dibodohi oleh orang lain agar mereka terhindar dari bujuk rayu seperti halnya ajakan kelompok teroris. Kebodohan pangkal kemiskinan, dan kemiskinan pangkal kejahatan. Basmi itu semua dengan memberikan beasiswa!!!! Pada Rab, 10/3/10, machsus <mcstham...@yahoo. com> menulis: >Dari: machsus <mcstham...@yahoo. com> >Judul: [WongBanten] KELOMPOK PANDEGLANG >Kepada: wongban...@yahoogro ups.com >Tanggal: Rabu, 10 Maret, 2010, 6:03 PM > > > >Ada yang hilang dari genggaman tangan, dan meluncur lewat sela-sela jari >(Taufik Ismail) > >AKSI tembak-tembakan ala koboi yang diperagakan polisi di Pamulang kemarin dan >di Aceh Besar beberapa hari terakhir, mengusik hati saya. Gubernur Aceh >Irwandi Yusuf, mengatakan latihan yang dilakukan kelompok yang diduga teroris >itu tak dilakukan oleh mantan gerakan Aceh Merdeka. Irwandi menuding, latihan >itu dilakukan teroris, yang merupakan poros baru kelompok teroris Banten-Jawa >Barat dan Jawa Tengah. Lebih spesifiknya mereka yang dari Banten itu berasal >dari Pandeglang. Di Harian Kompas hari ini, Herman RN, salah seorang mahasiswa >pasca sarjana Universitas Syah kuala Bandaaceh menulis, anggota Jamaah >Islamiyah yang berada di Aceh berasal dari Pandeglang. Saat ini mereka masih >melakukan latihan di Pegunungan Jantho Aceh. >Selain kasus suap dan korupsi berjamaah, kelompok teroris,belakangan nama >kelompok Pandeglang juga dikaitkan dengan kelompok pencuri > >kendaraan bermotor di berbagai kota. > >Lantas apa yang terjadi di Pandeglang hingga cerita-cerita buruk ini yang >kemudian muncul? Salah apa Pandeglang, sehingga stigma buruk ini ditimpakan >kepadanya? Kemana perginya tradisi religius dan semangat pantang menyerah >orang –orang Pandeglang? Kemana perginya tradisi intelektual yang dipelopori >Prof Bachtiar Rifai, Prof Herman Haeruman, dan Kang Eki Sjahrudin? > >Saya menghibur diri, dengan mengatakan masih banyak yang memiliki semangat dan >tradisi itu. Saya beruntung menjadi saksi pada pengukuhan seorang saudara dan >sahabat saya Dr Ibnu Hamad, dalam sebuah forum yang amat terhormat, menjadi >seorang gurubesar di Universitas Indonesia, salah sebuah universitas yang >membanggakan bagi bangsa ini akhir Februari 2010 lalu. Momen itu jadi >penghibur, ditengah kegalauan saya beberapa hari terakhir ini. > >Lama mengenalnya. Dengan demikian, saya tahu persis, betapa kehormatan itu tak >diperolehnya > dengan mudah. Sebagai orang yang lahir di kabupaten yang sama, Pandeglang, > saya tahu persis betapa Ibnu harus merebut dan mewujudkan cita-citanya dengan > segala perjuangan. > >Berbagai keterbatasannya, mulai dari lingkungan , ekonomi, fasilitas belajar >di sekolah hingga komitmen pemerintah daerah mendorong putra-putra terbaiknya >untuk bisa sekolah di perguruan tinggi terbaik di negeri ini, menjadi sebuah >contraint bagi berkembangnya bibit-bibit unggul seperti Ibnu ini. > >Waktu itu, tak banyak lulusan SMA di kota kami yang mampu melanjutkan sekolah >ke perguruan tinggi. Keterbatasan ekonomi, fasitas, membuat kami tak mempu >bersaing dengan rekan-rekan kami yang berasal dari kota-kota lain. > >Namun saya menyaksikan beberapa diantara rekan kami, seperti ini Ibnu ini >mampu keluar dari jebakan keterbatasan struktural. Ia tak pernah mempedulikan >apakah pemerintah kabupaten mengalokasikan dana yang cukup bagi >sekolah-sekolah menengah agar > mengejar ketertinggalannya. Yang dia lakukan adalah berangkat ke Depok dan > berjuang disana. Ibnu tak sendirian, ada beberapa diantaranya punya potensi > dan kemauan yang keras sepertinya, dan menuntut ilmu di berbagai perguruan > tinggi dan mereka kita menjadi "landmark" angkatan kami. Sebut saja Dr > Mukhlis Yusuf, yang kini Dirut LKBN Antara dan Presiden Asosiasi Kantor > Berita Asia Pasific (Oana), atau U Saefuddin Nur, Head of Syariah Banking > CIMB Niaga yang sebelumnya sukses memimpin Bank Muamalat sebagi direktur. > Rekan kami yang lain Agus M Tauchid (Kepala Dinas Distanak Banten) dan Agus > Mulyadi Randil (Kepala Biro Umum dan Perlengkapan Provinsi Banten) memilih > mengabdikan diri sebagai birokrat di kampung halaman. > >Saat mendengar pidato itu, pikiran saya menerawang. Saya bayangkan, kalau saja >uang Rp 1,5 miliar yang digunakan untuk menyuap anggota DPRD itu digunakan >untuk bea siswa anak-anak berbakat, betapa banyak anak-anak yang punya potensi >bisa > menyelesaikan sekolahnya. Katakannya untuk mencetak seorang sarjana > diperlukan dana Rp 30 juta per orang, untuk membayar SPP dan biaya hidup. > Maka selama 4 tahun ada 50 orang anak-anak muda berbakat, yang bisa > diluluskan dan punya komitmen yang kuat untuk membangun daerahnya, dan pasti > akan punya rasa malu, untuk korupsi jika dia bekerja, karena selama dia > belajar dibiayai penuh oleh rakyatnya. Dan kalau setiap tahun pemerintah > daerah mengalokasikan jumlah yang sama, berarti selama masa kepemimpinan > seorang bupati atau kepala daerah ini, bisa melahirkan 250 anak berbakat > menjadi sarjana, yang suatu waktu kelak akan menjadi bupati, anggota DPRD > atau profesor seperti Ibnu Hamad. > >Berkeliling ke pelosok Pandeglang dalam dua tahun terakhir ini, saya jadi >memahami betapa banyaknya faktor pendorong yang menjadikan anak-anak muda itu >bertekad keluar Pandeglang. Tak perlu terlalu jauh, di sepanjang jalur >pariwisata utama poros Labuan-Tanjung Lesung-Sumur > saja, infrastruktur jalan kian parah. Ditengah fragmentasi dan alih fungsi > lahan yang terjadi begitu masih saat ini, sektor pertanian menjadi kian tak > menarik banyak anak muda belakangan ini. > >Berharap mengabdikan diri menjadi pegawai negeri. Ini juga tak mudah, hanya >mereka yang beruntung bisa kuliah yang saat ini bisa jadi PNS.Itupun harus >menyiapkan dana puluhan hingga ratusan juta rupiah untuk menyuap agar bisa >jadi PNS. >Terlalu utopis jika saya berharap, makin banyak anak-anak muda > >Pandeglang yang mampu keluar dari berbagai jeratan dan keterbatasan >struktural, seperti yang dilakukan Ibnu, atau banyak juga anak-anak muda >Pandeglang yang tergabung dalam kelompok aktivis Pandeglang yang muncul, dan >tetap memilihara semangat berjuangnya macam Yogi, Tb Nuruljaman, Heru >Fachrudin dan Uday Syuhada . > >Maka dengan sedih hati saya katakan, mereka yang tersesat menjadi teroris atau >menjadi kelompok pencuri kendaraan bermotor yang > terkenal dengan nama kelompok Pandeglang, adalah mereka yang frustrasi, akan > semua keterbatasan yang membelenggunya. Sementara mereka tahu persis, janji > manis calon wakil rakyat yang kini duduk manis, dan calon pemimpin daerah > yang kini bersiap membujuk mereka, yang berjanji memperbaiki kehidupan rakyat > Pandeglang, hanya manis saat kampanye. Begitu terpilih nanti, mereka itu > bakal sibuk melakukan pengumpulan sumberdaya ekonomi, dan memperkuat jaringan > kekuasaan untuk bersiap melanggengkan kekuasaan menuju pemilihan berikutnya.( > machsus thamrin) > > ________________________________ Yahoo! Mail Kini Lebih Cepat dan Lebih Bersih. Rasakan bedanya sekarang!
