Analisis Pak Tomo ini sangat tajem menyangkut kondisi YON I akhir-akhir ini
(paling tidak untuk 5-7 th terakhir). Ketika saya aktif di Batalyon, kita
pernah mengadakan kegiatan-kegiatan yang fokus utamanya untuk menarik anggota
baru & mengangkat citra Menwa yang mulai terpuruk. Kita mengadakan Simposium dan
Pameran Nasional Teknologi Hankam di th 95 salah satunya untuk menunjukkan Menwa
(secara nasional) itu masih eksis dan bisa memberikan kontibusi nyata untuk
negara. Kita sering mengundang para temen mahasiswa untuk mengikuti beberapa
acara YON I (nembak dll) adalah untuk menarik simpatik mereka, kita nyebarin
poster dalam oplah yang besar dan berbagai macam edisi adalah untuk merayu
supaya ada yang mau mendaftar di YON I. Kita pun sudah melakukan banyak langkah
efisiensi namun tetap saja "thekor". Anggota yang saat itu menghendaki YON I
tetap eksis, punya nama besar, sbg laboratorium kepemimpinan, dll sangat
aktif-cenderung nekat memperjuangkan YON. Terus terang, saya terkena jatah sbg
Danyon hingga 2 periode (94-96) bukan karena saya hebat tetapi lebih dikarenakan
tidak tega melihat YON I sekarat.
Walaupun usahanya sudah "pol-polan/all out" (sampai hampir kena DO segala) namun
hasilnya pun toh juga masih mengecewakan. Target utama, yaitu menarik anggota
sebanyak mungkin, jauh dari harapan. Anggota yang aktif di Batalyon
sangat-sangat terbatas, sekitar 5-15 orang saja. Seseorang merangkap beberapa
jabatan itu bukan hal yang aneh lagi. Sempat ada istilah ngetren "DANGUMIL"
alias Komandan Guru Militer sbg sebutan seseorang YON I (pak Rifki, red) yang
mengajarkan berbagai macam materi pelajaran (tentunya tidak bisa mendetail)
sekaligus merangkap berbagai jabatan dalam Komando Latihan. Bahkan Danlat pun
harus mengambil nasi bungkus di warung untuk para siswa. Dengan anggota sejumlah
itu, bagaimana mungkin mekanisme kerja di Batalyon berjalan dengan ideal sesuai
garis organisasi. Bagaimana mungkin kita bisa berlatih dengan baik. Bagaimana
mungkin bisa mencari dana tambahan untuk menjaga YON tetap hidup, padahal
harga/biaya latihan dan kebutuhan operasional YON melonjak drastis. Akibatnya
YON I berjalan dengan pincang.
Kunci utama adalah jumlah anggota. Dengan jumlah anggota yang cukup, kita bisa
lakukan apa saja. Kehidupan YON I akan berlangsung ideal kembali.
Menurut saya, saatnya kita segera merubah paradigma YON I bahkan Menwa
keseluruhan. Pendekatan konvensional untuk menarik anggota baru yang selama ini
dilakukan harus segera dirubah. Jenis-jenis kegiatanpun perlu diubah sesuai
dengan kondisi dana/personil & tuntutan era reformasi saat ini.
Berubah kedalam bentuk baru yang bagaimana ? Saya rasa formula itu yang perlu
kita bahas bersama.
Tentunya paradigma global dulu yang kita ubah....... baru atas dasar paradigma
baru itu...... kita rumuskan kegiatan YON secara lebih rinci.
"KETHOPRAK YG SUDAH TIDAK DIMINATI MASYARAKAT......... DENGAN DIUBAH MENJADI
KETHOPRAK HUMOR BERBALIK MENJADI SANGAT DIGANDRUNGI" Mungkin YON I perlu
mencermati fenomena ini.
Bagimana komentar DANGUMIL ?? I proud off you !!
Pak Tomo, saya tunggu analisis berikutnya
Sekedar lempar bola...........
WCDS
Imam (ekek-24)
"Oetomo Tri Winarno" <[EMAIL PROTECTED]> on 04/12/2000 10:07:22 AM
Please respond to [EMAIL PROTECTED]
To: [EMAIL PROTECTED]
cc: (bcc: M I Arbai/ARII/AIOGC/ARCO)
Subject: [YON-1] Krisis di Yon I
WCDS,
Saya salut kepada alumni-alumni senior yang masih sangat peduli terhadap
nasib Yon I. Sebagai alumni muda (paling tidak masih merasa muda) saya
perkenankan saya menyampaikan pandangan saya mengenai krisis di Yon I saat
ini.
I. Beberapa Fakta
1.1 Jumlah anggota yang menurun
Krisis personil ini saya rasakan sudah dimulai sejak setelah angkatan saya.
Jumlah anggota baru dan anggota yang aktif terus cenderung menurun. Sebagai
gambaran sewaktu saya jadi Wadanyon, staf saya yang aktif hanya 3-4 orang.
Untungnya waktu itu anggota senior masih banyak, jadi saya bisa memobilisasi
anggota senior.
Dalam lima tahun terakhir ini jumlah anggota baru rata-rata di bawah 10
orang. Dan dari jumlah ini tidak semuanya terus aktif. Anggota senior juga
semakin sedikit, karena lebih cepat lulus.
1.2 Kegiatan akademik yang ketat
Kurikulum baru menghendaki mahasiswa cepat lulus. Waktu kuliah dibuat
semakin efektif, sehingga waktu lowongnya semakin sedikit, tidak ada libur
panjang seperti dulu. Dalam satu tahun ada tiga semester. Kondisi ini
menjadikan hampir seluruh perhatian mahasiswa tersedot ke masalah kuliah.
1.3 Jumlah kegiatan yang relatif tetap
Kegiatan rutin/tahun di Yon I dari dulu sampai sekarang relatif tetap.
Yaitu:
-Diklatsar dan Lattap
-Dinas Staf
-Suspelat
-Binkija
-Operasi Rajawali
-Pam Wisuda
-Pam Sipenmaru
-Pam P4 (sekarang dibekukan)
-Asisten Kewiraan (sekarang bukan monopoli anggota Yon I)
-Acara Gandan
-Upacara 17 Agustus
-Upacara lain di Kampus
-Upacara/Acara di Skomen
-dll.
Belum lagi kegiatan yang sifatnya insidentil yang diinstruksikan langsung
oleh PR III dsb., yang tidak mungkin dihindari.
Kegiatan-kegiatan di atas kayaknya sulit sekali dirampingkan/dikurangi.
Meskipun pada masa saya, saya sudah mencoba menghapus kegiatan yang tidak
terlalu esensial, seperti Operasi Rajawali. Tetapi rupanya tidak semua
setuju dengan ini.
1.4 Anggaran yang menurun
Secara riil, anggaran ITB untuk Yon I terus menurun. Dari sejak saya aktif
sampai sekarang jumlah nominalnya tetap, sedangkan harga-harga naik luar
biasa. Kondisi ini tentunya baik langsung maupun tidak langsung mengurangi
kualitas kegiatan. Di samping itu, anggota jadi bertambah kesibukannya
dengan pekerjaan pengumpulan dana.
II. Akibat dari Kondisi I
2.1 Beban bagi yang aktif makin berat
Dengan jumlah anggota yang sedikit, kegiatan yang banyak, dan tuntutan
akademik yang semakin ketat, menjadikan anggota yang aktif menjadi semakin
berat bebannya. Dapat dibayangkan, kegiatan yang demikian banyak itu harus
dikerjakan beberapa orang saja, mau tidak mau waktu untuk belajar terganggu.
Ini saya alami sendiri sewaktu saya masih aktif. Saya masuk Menwa tahun 90
dan lulus 93. Selama tiga tahun ini, perhatian saya full untuk Menwa, tanpa
putus. Akibatnya IPK yang saya peroleh kurang maksimal.
2.2 Penegakan disiplin turun
Karena jumlah anggota yang sedikit, penegakan disiplin semakin sulit.
Pendekatan penegakan disiplin dengan pemberian sanksi sangat sulit
dipraktekkan. Jadi mohon dimaklumi apabila alumni-alumni senior berkunjung
ke Yon I, barangkali situasinya tidak seperti yang dibayangkan.
2.3 Esensi makin luntur
Berkaitan dengan 1.1, 1.2, 1.3, dan 2.2, penegakan sistem komando jadi
semakin lemah. Sistem komando "tidak jalan", karena anak buah tidak
sepenuhnya patuh kepada atasan (karena mereka barangkali ditekan oleh
masalah akademik atau kelelahan/kejenuhan karena terlalu banyak kegiatan
Menwa yang mereka tangani).
III. Masalah anggota baru
3.1 Sebab-sebab anggota baru turun
a. waktu lowong semakin berkurang, dulu pelaksanaan Diklatsar dilakukan pada
saat libur panjang (+/- 2 bulan libur), sekarang tidak ada
b. waktu kegiatan Yon I -seperti: Diklatsar, Dinas Staf, Suspelat- yang
panjang, sehingga sulit bagi mahasiswa untuk ikut (karena waktu liburnya
pendek)
c. kesan kegiatan yang perlu banyak tenaga, menjadikan mahasiswa takut dapat
mengganggu kegiatan akademik
d. citra "militer" yang buruk akibat peristiwa kekerasan terhadap mahasiswa
e. risiko kecelekaan yang tinggi
Sekedar memberikan gambaran, untuk butir (e) dapat saya kemukakan fakta:
- 1990, siswa diklatsar meninggal
- 1992, siswa binkija jatuh, koma +/- 2 minggu, cuti 1 semester
- 1994, siswa diklatsar meninggal
- 1997, anggota terkena ledakan sewaktu lattap
- 1998, anggota kecelakaan lalulintas dalam tugas
- 1998, anggota kecelakaan lalulintas dalam tugas, meninggal
3.2 Menarik anggota baru
Apabila pada kenyataannya anggota baru turun, itu bukan berarti tidak ada
usaha untuk menariknya. Saya mengalami sendiri, berbagai usaha sudah
dilakukan, dan sudah banyak dana yang dikeluarkan untuk menjaring anggota
baru. Sampai akhirnya saya berkesimpulan, sangat lemah korelasi antara
publikasi dan jumlah anggota baru. Faktor-faktor di luar itu, terutama
akademik, jauh lebih kuat menjadi pertimbangan mahasiswa.
Menurut saya, yang lebih efektif dalam upaya menarik anggota baru adalah
dengan pendekatan personal. Poster, surat, selebaran, acara-acara bersama
tentu saja sangat perlu. Tapi setelah itu harus ada tindak lanjutnya dengan
hubungan-hubungan pribadi, sehingga calon anggota menjadi benar-benar tahu
untung-ruginya ikut Menwa.
IV. Interpretasi baru
Memang benar apa yang disampaikan pak Syafril, Yon-I perlu interpretasi baru
terhadap konsep Menwa. Namun barangkali karena keterbatasan-keterbatasan
seperti yang saya sampaikan di atas, mereka belum mampu menemukan formula
yang tepat untuk mengatasi masalah yang ada (meskipun mereka juga juga sudah
berusaha setengah mati mencarinya).
Barangkali kita semua perlu memberikan konstribusi untuk menemukan
interpretasi yang tepat, setujuuu ....
Terimakasih
Oetomo/Ekek 24
--
-------------------------------------------------------------------------
Untuk menghubungi moderator/List Owner double click link dibawah ini:
<mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Untuk Unsubscribe, double click link dibawah ini langsung kirim
<mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Untuk Subscribe, double click link dibawah ini langsung kirim
<mailto:[EMAIL PROTECTED]>
-------------------------------------------------------------------------
You are subscribed as : [EMAIL PROTECTED]
--
-------------------------------------------------------------------------
Untuk menghubungi moderator/List Owner double click link dibawah ini:
<mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Untuk Unsubscribe, double click link dibawah ini langsung kirim
<mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Untuk Subscribe, double click link dibawah ini langsung kirim
<mailto:[EMAIL PROTECTED]>
-------------------------------------------------------------------------
You are subscribed as : [email protected]