Hi Bang, apa khabar ! Soal laskar, jangan jadi pikiran. Ini kan ekses aja, dari kebebasan yang kebablasan, karena elit politik - yang melahirkan laskar- belum mahir 'nyupir' kekuasaannya. Maklum kebebasan masih barang baru. Apalagi bekal ilmu, akhlak dan etika yang diperlukan untuk nyupir kekuaasaannya masih minim. Inget ngga' dulu, jaman demonstrasi '66, kalo polisi nanya SIM , kan kita kasih keluar kartu mahasiswa aja, polisi nya terus ngacir. Tapi karena kitanya berpendidikan, ber etika ... katanya ...he...he...he .. , terus ekses 'arogan kekuasaan ' diberhentikan oleh kita sendiri.
Nah, laskar yang menjamur, mayoritas anggotanya kan berpendidikan rendah - padahal syarat berhasilnya demokrasi pendidikan harus memadai dan merata - jadi ekses negatinya maklum terjadi. Apalagi sering demokrasi ditafsirkan dengan ...gue boleh berbut apa aja.. atau .. kewajiban gue musti tau urusan orang lain .. atau ... gue ini suci, bersih, jadi ikuti gue pasti beres.... saya rasa perlu waktu ngeberesinnya. Apalagi, disamping pendidikan, ada persoalan akhlak dan pemahaman yang tumbuh dialam atmosfir ekonomi yang buruk pula. Karena itu perbaikannya perlu waktu dan harus dilakukan dengan "contoh perbuatan" dan "bukti hasil", bukan dengan "kata-kata", "petuah", "janji" ataupun "ramalan" dari para 'pemimpin'. Sebab kalau tidak demikian, akan terjadi ' guru kencing berdiri, murid kencing berlari'. Sedangkan laskar yang mengganggu ketertiban, polisi yang harus mengatasinya. Dengan cara persuasif dan kesabaran sebelum melakukan kekerasan dengan kekuatan. Apalagi banyak "jualan politik" berbungkus agama. Sehingga taktik perang informasi dan psikologi harus jadi andalan. Kalau soal sistim pertahanan. Laskar, menurut saya diluar sistim, karena komandonya di partai dan dibentuk untuk kepentingan partai, bukan di pemerintah dan bukan untuk kepentingan umum tapi untuk diri sendiri atau golongannya. Jadi, kalau negara mau beres, semua pihak musti bisa mengedepankan kewajiban diatas hak. Disamping pandai-pandai menghargai haknya orang lain dengan tulus. Jadiiii....dengan kata lain, laksanakan Panca Dharma Satya yang berbunyi: " Kami adalah mahasiswa yang mengutamakan kepentingan nasional diatas kepentingan pribadi maupun golongan" Udah dulu ah! urung rembuknya Budiono.K ----- Original Message ----- From: "Poeloengan (GAE-MEK/EVE)" <[EMAIL PROTECTED]> To: <[EMAIL PROTECTED]> Sent: Thursday, November 01, 2001 12:16 PM Subject: [yonsatu] Re: Laskar > Sdr.Bambang.S > Memang repot kita saat ini,banyak perbaikan/pembetulan yg harus dilakukan > di banyak bidang serentak.Tapi ini tugas kita semua,kita tak bisa hanya > mengharapkan orang lain yg melakukannya untuk kita. > Di tahun 50 an (setelah pengakuan republik)ada penertiban laskar,juga > pengaturan kembali kepangkatan di militer(sebab ada yg berasal dari > pendidikan Belanda,Jepang dan di perang kemerdekaan itu sendiri). > Satu yg kurang puas dengan pengaturan kembali tersebut adalah Kartosuwiryo > ,yg kemudian tetap mempertahankan laskarnya dst.nya menjadi DI/TII. > Saya sedang berpikir apakah "keberanian berkelahi satu-satu" kita merosot? > Sehingga apa apa harus ramai-ramai,harus punya massa. > Pengamatan saya pada :tawuran antar siswa sekolah,tawuran antar kampung, > tawuran antar preman di pasar dlsb.nya. > Wassalam > Moelthazar Poeloengan. > > -----Original Message----- > From: Bambang Subianto [mailto:[EMAIL PROTECTED]] > Sent: Thursday, October 25, 2001 12:55 AM > To: [EMAIL PROTECTED] > Subject: [yonsatu] Laskar > > > Assalamualaikum, > Ada satu hal yang beberapa hari terakhir ini jadi pikiran. Ini mengenai > laskar. > Kalau kita amati gejala di sekitar kita, semasa orde baru ada semacam > laskar, kalau tidak salah namanya Pemuda Pancasila. Pada pasca orde baru, > berbarengan dengan menjamurnya partai politik nampaknya tumbuh pula tradisi > baru. Setiap partai (dan organisasi masyarakat) ikut latah punya semacam > laskar. PKB punya, PDIP punya, PAN juga punya. Golkar ya tentu punya, wong > yang mulai. Partai-partai yang lainnya kemungkinan juga punya. > Pertanyaannya, laskar-laskar ini statusnya apa dalam konteks sistem keamanan > nasional. Otoritasnya apa, tanggung-jawabnya apa, rambu-rambu apa yang > membatasinya, landasan hukum apa yang mendasari pembentukannya, siapa yang > bertanggung-jawab atas ekses-ekses yang terjadi, dan seterusnya . . . . > Kalau tidak salah keberadaan tentara informal ini semakin tidak keruan, ada > laskar jihad yang bawa kotak menunggu sumbangan di pintu tol, katanya untuk > jihad ke Maluku. Sudah berbulan-bulan, sampai minggu lalu masih ada > (contohnya di dekat pinto tol Rawamangun). Apakah kegiatan seperti itu > konsisten dengan keinginan untuk memulihkan kedamaian di Maluku? Rasanya > tidak konsisten, tetapi instansi berwenang kok seperti diam saja? > Contoh lain dari Kediri. Adik saya (yang kebetulan tentara) bercerita bahwa > di sana kalau orang mau slametan misalnya saja sunatan, ya harus lapor ke > laskar yang kuasa di situ. Kalau tidak ya repot lah. > > Saya kemudian coba mengingat-ingat. Kalau tidak salah di masa perang > kemerdekaan (aku waktu itu masih balita) juga banyak laskar. Ada TP, ada > TRIP, ada Laskar Hisbullah, dan sebagainya. Lalu mengapa setelah tahun 1950 > laskar-laskar itu menjadi tidak ada lagi? Apakah pimpinan TNI ketika itu > (Pak Dirman) memiliki visi yang jauh, sehingga dengan tegas mengharuskan > agar para anggota laskar untuk memilih : mau jadi tentara beneran atau > tidak. Kalau tidak ya betul-betul jadi sipil, jangan berseragam dan > beroperasi layaknya aparat keamanan. Kalau mau jadi tentara ya silahkan jadi > tentara beneran, yang punya disiplin dan norma-norma keprajuritan. Mungkin > dulu begitu, saya tidak tahu. Seandainya diantara anda ada yang punya > catatan sejarah mengenai ini saya sangat berterima kasih bila boleh mendapat > ceritanya. Mungkin partai-partai politik perlu mengkaji plus-minus dari > adanya laskar semacam ini di partainya. Apa betul perlu, dan perlunya buat > apa, dan mengapa harus begitu seperti tidak ada aparat keamanan saja. > > Kemudian kita bisa ingat lagi periode awal tahun 60-an. Banyak diantara kita > ketika itu sudah di Bandung, mahasiswa, dan anggota Resimen Mahawarman. Ada > konsep yang dilemparkan oleh PKI ketika itu, yaitu "Angkatan ke-5". > Dipikir-pikir, perkembangan perlaskaran atau tentara informal atau apapun > namanya itu sekarang ini salah-salah seperti konsisten dengan konsep > angkatan ke-5. > > Jadi, ekonomi sedang amburadul, pertahanan dan keamanan nampaknya juga kita > tidak tahu mau ke mana, hukum idem dito, repot juga ya . . . . > > Salam > Bambang Subianto > > -- > --[YONSATU - ITB]---------------------------------------------------------- > Online archive : <http://yonsatu.mahawarman.net> > Moderators : <mailto:[EMAIL PROTECTED]> > Unsubscribe : <mailto:[EMAIL PROTECTED]> > Vacation : <mailto:[EMAIL PROTECTED]?BODY=vacation%20yonsatu> > 1 Mail/day : <mailto:[EMAIL PROTECTED]?BODY=set%20yonsatu%20digest> > > -- > --[YONSATU - ITB]---------------------------------------------------------- > Online archive : <http://yonsatu.mahawarman.net> > Moderators : <mailto:[EMAIL PROTECTED]> > Unsubscribe : <mailto:[EMAIL PROTECTED]> > Vacation : <mailto:[EMAIL PROTECTED]?BODY=vacation%20yonsatu> > 1 Mail/day : <mailto:[EMAIL PROTECTED]?BODY=set%20yonsatu%20digest> > > -- --[YONSATU - ITB]---------------------------------------------------------- Online archive : <http://yonsatu.mahawarman.net> Moderators : <mailto:[EMAIL PROTECTED]> Unsubscribe : <mailto:[EMAIL PROTECTED]> Vacation : <mailto:[EMAIL PROTECTED]?BODY=vacation%20yonsatu> 1 Mail/day : <mailto:[EMAIL PROTECTED]?BODY=set%20yonsatu%20digest>
