This is a forwarded message ***Comment Issue ttg Software Bajakan.
Syafril mailto:[EMAIL PROTECTED] End*** >From : Moko Darjatmoko <[EMAIL PROTECTED]> To : [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED] Date : Rabu 28 Nopember 2001, 8:51:25 Subject: [apkomindo-umum] To steal or not to steal ... (Was: software bajakan) ===8<==============Original message text=============== Dear Netters, Mengikuti perdebatan seputar issue pembajakan software (terutama setelah pihak Microsoft memenangkan gugatannya di pengadilan) di list ini, saya ingin sedikit urun rembug dengan melampirkan tulisan saya di Pau-Mikro awal tahun lalu [edited for typos] -- kelihatannya masih relevan: ----- Date: Wed, 19 Jan 2000 13:03:21 -0600 To: [EMAIL PROTECTED] From: [EMAIL PROTECTED] (Moko Darjatmoko) Subject: [pau-mikro] To steal or not to steal ... (Was: software bajakan) Issue software bajakan yang mencuat lagi ini mengingatkan saya pada obrolan lama dengan mahasiswa asal Indonesia. Waktu itu saya lemparkan pertanyaan: "Ada tetangga yang punya banyak ayam [bisnisnya memang beternak ayam] ... Apakah kalian pernah punya pikiran untuk mencuri ayam tersebut. Kalau ya, lalu apa motivasinya?" -- Saya tambahkan, bahwa ini bukan sekedar "hypothetical question", jaman mahasiswa di Bandung dulu ada teman saya (anak kos-kosan atau patungan kontrak rumah) yang nilep ayam tetangga, disembelih, kemudian digoreng dan dimakan rame-rame. Ternyata pertanyaan ini menyulut diskusi yang bersemangat (sampai ada yang lupa pergi kuliah). Kebanyakan mereka menjawab "NEVER!" tetapi ada juga yang memberi "conditional clause": "Well ... mungkin ... kalau sudah kelaparan dan tidak ada lagi yang bisa dimakan ... you know, kalau sudah sampai soal "mati-hidup"... tetapi sebelum mencuri, saya akan ketuk pintu, coba dulu minta minta secara baik-baik sama pemiliknya." Sungguh ironis, karena beberapa menit sebelumnya majoritas peserta diskusi ini menganggap "membajak" software sebagai sesuatu yang "okay" - memang tidak ada yang bilang itu perbuatan yang baik, tetapi kebanyakan merasa itu sesuatu yang "perlu" dilakukan [dengan segala macam alasan yang "meyakinkan"]. Dilain pihak "mencuri" ayam dianggap sebagai satu perbuatan jahat, perbuatan yang hina, yang harus dihindari "at all cause" kecuali satu orang yang menjawab "mungkin"-- itu pun kalau memang amat sangat terpaksa, ada alasan mati-hidup. Nah sekarang mari kita pikirkan: apakah ada alasan bahwa membajak atau mencuri software yang bisa dimasukkan dalam kategori survival "mati hidup"? Penggunaan bahasa atau permainan kata-kata sangat berperan disini. Pertama-tama istilah "membajak" ayam terasa janggal kalau mau dipaksakan sebagai substitusi "mencuri," sedangkan istilah "mencuri" software hampir tidak pernah kita pakai dengar. Perbuatan "membajak" (atau "pricay") punya konotasi yang lebih romantik dan heroik, ketimbang kata "mencuri" -- konsekuensinya, mereka yang "membajak" software merasa kurang "berdosa" ketimbang kalau dia "mencuri" sesuatu. Padahal substansinya ya sama saja: mengambil yang bukan haknya. Bahasa Indonesia dalam beberapa dekade belakangan ini sungguh kaya akan penghalusan (euphemism) yang mengaburkan atau bahkan meningkatkan derajat kata "mencuri" menjadi sesuatu yang kurang jahat, perbuatan yang tidak perlu dihindari "at all cause". Contoh yang masih hangat adalah: kebocoran, KKN, kolusi, salah prosedur, salah urus, inefisiensi (Pertamina dan Bulog), dst. Padahal semuanya itu ya artinya ya sama saja: *mencuri*, yang berarti mengambil atau menggunakan sesuatu yang bukan haknya. Sebetulnya semua perbuatan tersebut sama hinanya dengan perbuatan mencuri ayam, bahkan skala dan dampak sosialnya jauh lebih besar. Kembali ke topik "membajak software" --atau mungkin lebih baik disebut sebagai *mencuri* software-- berikut ini saya kutipkan "fakta" statistik dari pencurian atau perampokan massal ini di Amerika: + Software piracy cost 109,000 jobs in the US alone 1998. By 2008, it is estimated that number will reach 175,700. One of those could be your kid. + Software piracy cost the US computer industry $2.9 billion in 1998--money that would have been much better spent creating jobs and building better products. Seperti halnya pencurian di toko (shoplifting) atau penyalahgunaan credit card, pemilik toko atau bank penjamin akan kehilangan uang kalau ada yang mencuri produknya ("tidak membeli dengan semestinya," kalau mau diperhalus dengan euphemism). Untuk bisa tetap berbisnis, mereka harus "pass on the cost to the consumers." Jadi, yang sesungguhnya terjadi adalah para pemakai software yang jujur itulah yang harus menanggung beban biaya ekstra ini, dengan membayar harga yang lebih tinggi, sementara para "pembajak" ini cengar-cengir --merasa tak bersalah-- menikmati hasil curiannya. Urusan baik-buruk atau moralita memang akhirnya kembali kepada hati nurani masing-masing, tetapi tidak bisa disangkal bahwa keputusan pribadi para individu ini punya dampak pada masyarakat luas. Dampak paling hebat, kerugian paling besar (dan melumpuhkan) adalah matinya motivasi, dan selanjutnya kreativitas untuk mencipta. Kita boleh berdebat panjang soal kaitan sebab-akibat ini, seakan ini merupakan conundrum "chicken and egg", tetapi jelas bahwa bangsa Indonesia selama satu dekade belakangan ini praktis tidak memunculkan apa-apa dalam dunia software. Ini bukan karena IQ manusia Indonesia itu begitu jongkoknya, tetapi lebih karena tidak adanya motivasi mencipta ("ngapain ... paling nanti juga dibajak orang lain"). Ya, saya sering mendengar "keluhan" tentang ekonomi nasional yang morat-marit, daya beli yang masih sangat rendah ... jadi sah-sah saja membajak software. Wah, kalau pakai logika seperti ini, kembalikan pada metafor mencuri ayam diatas: apakah anda pernah dengar ada orang mencuri ayam tetangga karena kangen sama ayam goreng Mbok Berek tetapi tidak punya duit untuk beli? Harus diingat bahwa disini tidak ada alasan "mati-hidup", disamping itu alternative software yang gratis (freeware, shareware, public-domain, open-source, dll) bertebaran dimana-mana. Mungkin tidak se-glamorous MS-ware atau selezat ayam mbok Berek, tetapi bukankah banyak software gratisan yang functional, dan jelas legal/halal. Atau lebih baik lagi, situasi "buruk" ini justru bisa jadi tantangan untuk menulis software sendiri. Asli "Made in Indonesia"! Kembali ke subject tulisan ini, "To steal or not to steal" ... mungkin ini bulan yang tepat untuk menanyakan kepada diri kita masing-masing. -- [mungkin] ada sambungannya ... Moko/ Madison, Wisconsin Moko/ Madison, Wisconsin ===8<===========End of original message text=========== -- --[YONSATU - ITB]---------------------------------------------------------- Online archive : <http://yonsatu.mahawarman.net> Moderators : <mailto:[EMAIL PROTECTED]> Unsubscribe : <mailto:[EMAIL PROTECTED]> Vacation : <mailto:[EMAIL PROTECTED]?BODY=vacation%20yonsatu> 1 Mail/day : <mailto:[EMAIL PROTECTED]?BODY=set%20yonsatu%20digest>
