** File was empty **
Onang,
Hebat tuh musik anda dan Titi . Ruarrr biasa !!!
Wass


Indra Abidin
Jl. M.T. Haryono Kav. 15 Ged. Pratama 7th Floor. 
Jakarta 12810, Indonesia
Tel: 62-21-83793771
Fax: 62-21-83793805
[EMAIL PROTECTED]
 


-----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED]] 
Sent: Monday, January 06, 2003 9:36 AM
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: [yonsatu] Re: ROTC dan 1984



Saya melihat bahwa setidaknya program ROTC atau sejenisnya untuk
Indonesia setidaknya harus dapat memenuhi empat kebutuhan (urutan tidak
menggambarkan prioritas):

1. ROTC harus mengenalkan dunia militer pada orang sipil : di Indonesia
hanya orang militer yang mengenal militer, selebihnya hanya kira-kira
saja. Sebaliknya orang militer (lewat kurikulum [lama] AKABRI dan
program-program dwifungsi) mengenal betul dunia sipil. Akibatnya hampir
tidak ada apresiasi orang sipil pada (apapun tentang) militer. Bahkan
cenderung tidak suka, alergi dll. Padahal saling mengenal antara kedua
komponen penting bangsa itu sangat diperlukan (tak kenal maka tak
sayang, katanya). Kitapun melihat tidak banyaknya orang sipil yang dapat
dengan baik menjadi pengamat militer (begitu istilahnya sekarang). Ini
disebabkan antara lain oleh orang sipil yang melihat banyak susbsistem2
dunia militer baik yang "hard" maupun yang "soft" sebagai "black-box".
Dari ROTC dapat dilahirkan bibit intelektual bidang militer yang baik. 

2. ROTC sangat dapat menanam-tumbuhkan jiwa patriot, cinta bangsa atau
apapun namanya serta "senses of national unity and security" pada
peserta & lulusannya. Bukankah karakter2 semacam ini yang sekarang
banyak tidak dimiliki bangsa kita sekarang ? Lihatlah tawuran-tawuran
itu yang sudah meluas : awalnya hanya antar anak SMU, lalu antar SMP,
seterusnya antar mahasiswa, antar kampung (menarik juga dicatat : antar
kesatuan TNI/POLRI ! Meskipun tentang TNI/POLRI ini bisa dianalisis
secara terpisah dari konteks pembicaraan ROTC kita sekarang). Simak pula
kelakuan para politisi yang cenderung melemahkan sendi-sendi negara
daripada menguatkan. Perhatikan juga praktik KKN yang sangat luas dan
mendalam. Dan tentunya belakangan ini mengenai penjualan aset-aset
strategis negara (kalau sudah terjual tentu saja dapat dicari-cari
pembenarannya, tetapi jika belum DAN jika sense of security itu ada
kiranya aset2 ybs tidak jadi dijual. Bahkan mungkin tidak pernah
terpikir samasekali untuk d! ijual). 

3. ROTC akan menjadi (salah satu) sumber kelahiran calon-calon perwira
berilmu dan cerdas untuk mengisi kebutuhan dunia ketahanan nasional kita
akan SDM yang robust untuk perang gaya baru (yang dalam  bronet
[obrolan-net] kita banyak didiskusikan dalam 3-4 minggu terakhir (perang
masa damai, non konvensional dll). SDM ini sangat bisa jadi menjadi
perwira-perwira TNI dari jenis baru (a new breed of officers).
 
4. ROTC, dengan keberadaan dan kegiatan-2nya yang semestinya "terlihat",
bila dapat dilaksanakan dengan baik, akan menumbuhkan kesan pada
masyarakat banyak, suatu kesan yang diperlukan, bahwa persoalan hannas
bukanlah persoalan militer semata. It's everybody's business.

Mangga, nyanggakeun,
Iftikar


                    

>On Fri, 03 Jan 2003 20:35:04 +0700 Sharif Dayan (SD) wrote:
>
>> >dan konsep itu menawarkan 'biaya' yg jauh
>> >lbh murah dpd memelihara sekian banyak tentara.
>> 
>> Menurut saya, justru memberdayakan rakyat -mengingat keadaan 
>> perekonomian kita saat ini- akan membutuhkan beaya yang sangat besar.

>> Lihat saja nasib GND (Gerakan Nasional Kedisiplinan), yang berbeaya 
>> besar namun tidak ada tanggapannya seperti yang diharapkan.
> 
>Menurut saya Gerakan Disiplin Nasional (dan banyak konsep-2x bagus 
>lain) gagal krn tidak ada konsistensi. Mengurus soal moral tidak cukup 
>cuma ngomong 1-2 kali, bahkan tidak cukup 20 -30 kali, harus terus 
>menerus (macam iklan coca cola <g>). Konsistensi mrpkan salah satu 
>titik lemah bangsa kita, blm tahu persis apa obatnya yg mujarab :-(
> 
>> >Mengajar orang awam utk menggunakan senjata, menyetir tank, bahkan 
>> >pesawat terbang bukan pekerjaan susah yg makan waktu banyak.
>> 
>> Bagaimana tahapan pemilihan dan penyaringannya ?
>
>Sayang Anda tidak ikut HANATA2003 kemarin :-)
>Pak Tino menjelaskan secara gamblang konsep ROTC di US yg terdiri atas 
>2 tahap (masing-2x tahap 2 tahun). Prestasi akademik mrpkan acuan 
>utama, siswa wajib punya prestasi akademik minimal B, jika kurang tidak

>diterima. Stl diterima menjadi kader (cadet) ROTC pun, prestasi 
>akademik tsb tetap jadi acuan, jika failed mempertahankan nilai B maka 
>akan drop out.
>
>Kalau dibandingkan dg situasi disini, program ROTC disana mirip-2x dg 
>program Beasiswa yg diberikan Perusahaan kepada siswa terpilih. Mereka 
>mendapatkan uang bulanan (tuition), semacam gaji gitulah. Dg perkataan 
>lain, siswa ROTC adalah siswa yg mendapat beasiswa dg ikatan dari US 
>Army/Navy/Airforce dll.
>
>> >mengajarkan mereka untuk bisa bertempur dalam formasi, 
>> >berpartisipasi dalam TeamWork, strategi/taktik tempur bukan 
>> >pekerjaan 1-2 bulan.
>> 
>> Apakah semuanya harus menjalani tahapan baris berbaris ? Siapa yang 
>> akan menanganinya ?
> 
>Militer.
> 
>> >Tentu saja, masalahnya prioritas, layak dilakukan atau tidak. Kalau 
>> >'bungkus' atau positioningnya tepat, besar harapan utk diterima :-)
>> 
>> Siapa yang menilai 'bungkus' tersebut ? Yang akan 'sibuk' menyambut 
>> 2004 ? Duh !:(
> 
>Keamanan dan Kedaulatan Negara itu penting, siapapun yg berkuasa 
>nantinya perlu orang-2x/pihak yg bisa mengamankan kedaulatan negara 
>(emang apa enaknya jadi presiden tanpa kekuasaan/kedaulatan <g>). Kalau

>baca cerita Executive Ordernya Tom Clancy, Saudi Arabia, Kuwait 
>bersedia utk beli alat-peralatan perang dari Amerika sekalipun mrk 
>tidak mahir menggunakannya, yg mrk harapkan dg tindakan itu adalah 
>Amerika mau memayungi Keamanan/Kedaulatan Negara mereka. Mrk bersedia 
>sbg gudang senjata Amerika, agar di saat-2x butuh tindakan cepat, 
>pasukan Amerika tinggal datang kesana dan senjata disediakan oleh 
>negara setempat.
> 
>> >Wah blm baca novel 1984, idenya apa di novel itu ?
>> 
>> Novel karangan George Orwell, ditulis tahun 1950-an, berlatar 
>> belakang kehidupan dalam Uni Soviet, saat Stalin berkuasa.
>
>Ah ya saya ingat itu...Damai Itu Perang berbeda dg itu.
>
>Damai itu perang menyangkut perang non konvensional, lbh mengarah ke 
>perang intelektual. Objectivenya bisa mirip, misalkan penguasaan 
>wilayah, industry dls, cuma caranya tidak pakai 'kekerasan'. Contoh 
>saja, ingin menguasai selat malaka agar pelayaran armada dari laut 
>pacific ke samudra Hindia jadi singkat, atau ingin menguasai sumber 
>minyak di lepas pantai Indonesia; maka masukkan ide/usul ke konvesi 
>hukum laut internasional agar Zona Economic Exclusive suatu negara 
>tidak lebih dari 1 mil laut saja (extrem-nya gitu deh).
>
>--
>syafril
>-------
>Syafril Hermansyah<syafril-at-dutaint.co.id>
>
>--[YONSATU - 
>ITB]----------------------------------------------------------
>Online archive : <http://yonsatu.mahawarman.net>
>Moderators     : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
>Unsubscribe    : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
>Vacation       : <mailto:[EMAIL PROTECTED]?BODY=vacation%20yonsatu>
>



--[YONSATU -
ITB]----------------------------------------------------------
Online archive : <http://yonsatu.mahawarman.net>
Moderators     : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Unsubscribe    : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Vacation       : <mailto:[EMAIL PROTECTED]?BODY=vacation%20yonsatu>




--[YONSATU - ITB]----------------------------------------------------------
Online archive : <http://yonsatu.mahawarman.net>
Moderators     : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Unsubscribe    : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Vacation       : <mailto:[EMAIL PROTECTED]?BODY=vacation%20yonsatu>


Kirim email ke