----- Original Message -----
From: Priyo Pribadi Soemarno
To: [EMAIL PROTECTED]
Sent: 29 Mei 2003 10:19
Subject: [yonsatu] Re: Motifnya (Re: Re: Abu Jihad (Re: Re: Strategi Anti
Perang Gerilya))

> Saya melihat dan mempunyai  feeling , bahwa  KSAD yang
> sekarang alirannya agak berbeda dengan Panglima TNI nya,..
> apakah hal ini merupakan indikasi munculnya pemimpin TNI
> dari generasi yang lebih bersih ??

Untuk menilai Ryamizard Ryacudu (RR) ini, kita musti melihat apa yang
terjadi pada generasi sebelumnya, yaitu angkatannya Wismoyo Arismunandar
(WA), adiknya mantan rektor kita, Mas Wiranto.

Di tahun-tahun terakhirnya, Soeharto merasa perlu mengamankan kedudukannya
dengan mengatur bahwa pimpinan TNI hanya dipegang oleh familinya, mantan
ajudannya, atau mantan pengawalnya.
Sehingga ketika WA masih kolonel, Soeharto sudah berencana mengorbitkannya,
karena istri WA adalah adik kandung Tien Soeharto.
Sehingga ia langsung diangkat menggantikan Letjen. Yogi S. Memet, sebagai
Dan Kopassus (ketika itu Kopassandha).
Bayangkan melati tiga langsung menggantikan bintang tiga, padahal bintang
dua, apalagi bintang satu, masih banyak.

Special effort untuk mengorbitkan adik ipar ini kemudian ternyata masih
banyak diperlukan, karena WA ini nggak pinter-pinter amat. Dia lulus AMN
nomor urutan dekat nomor buncit. Padahal ada dua rekannya seangkatan yang
hebat, Basofi Sudirman yang lulus baik AMN maupun Latko dengan nomor urutan
yang top, dan Sintong Panjaitan yang pahlawan Woyla.
Kita semua tahu bagaimana rekayasa menyingkirkan Basofi dan Sintong dari
bursa persaingan melawan WA. Basofi sebagi Kasdam Bukit Barisan dikaitkan
dengan kasus Pangdamnya (Ali Geno) yang menyelundup apa (saya lupa lagi),
dan Sintong dikaitkan dengan kerusuhan Santa Cruz. Sehingga keduanya
terpinggirkan.

Dan muluslah jalan WA menjadi Kasad.
Sayang jalannya menjadi Pangab terhalang karena dia kawin lagi, sedangkan
Tien Soeharto, yang ketika itu masih hidup, dikenal sangat strict mengenai
itu, apalagi ini yang jadi "korban" adiknya sendiri.
Maka akhirnya WA pun terpental ke jabatan "hiburan" sebagai Ketua KONI.

Dengan RR, sejarah berulang. Sebagai sesama lulusan AKABRI '73, dia adalah
pesaing kuat bagi Prabowo Subianto.
Tetapi karena Prabowo adalah Sang Menantu, maka di jaman Prabowo diorbitkan
luar biasa, RR justru ditekan ke sana ditekan ke sini.
Karena itu, sampai dengan jatuhnya Soeharto, yang diikuti jatuhnya Prabowo,
RR memang punya disafinitas terhadap Cendana.

Sayangnya RR pun masih merupakan produk pendidikan dan pembinaan TNI dengan
paradigma lama.
Karena TNI 30 tahun berada di atas kaum sipil dan berada di atas hukum, maka
RR pun belum terbiasa untuk bertingkah-laku dan bertindak sebagai tentara
yang berada di bawah supremasi politisi sipil dan berada dalam cakupan
hukum.

Ini menjelaskan beberapa ucapan dan tindakannya yang keliru akhir-akhir ini.
Misalnya dia mengatakan oknum Kopassus yang membunuh Theys di Papua sebagai
pahlawan. Itu kan gebleg banget.
Bayangkan, udah Theys itu pemain politik yang berada dalam koridor hukum dan
jelas-jelas bukan combatant, eh main dibunuh saja, dan membunuhnya itu pun
kroyokan pula.

Bagaimana yang begitu bisa dibilang pahlawan. Kalau caranya begitu sih
Satgas Tribuana di Papua itu nggak usah diawaki Kopassus. Bahkan kelasnya
tentara Koramil pun nggak perlu. Cukup kirim aja Pemuda Pancasila atau Panca
Marga, atau preman Blok M.

Jadi walaupun RR anti Cendana, dia belum bisa jernih melihat mana tindakan
anak buahnya yang merupakan produk distorsi rantai komando karena intervensi
garis Cendana dan mana tindakan yang murni merupakan produk inisiatif
leadership seorang sandhi-yudha (yang memang didesain untuk bertindak otonom
terhadap rantai komando konvensional).

Wasalam.



--[YONSATU - ITB]----------------------------------------------------------
Online archive : <http://yonsatu.mahawarman.net>
Moderators     : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Unsubscribe    : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Vacation       : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>


Kirim email ke