Assalamu'alaikum bung Syafril ,
Analisa serta pendapat tersebut cukup akurat dan oleh karena itu  sangat 
mengkhawatirkan , apabila tidak ada tindakan nyata  Pemerintah dan segenap 
komponen bangsa  untuk mengatasi hal tersebut .
Ketergantungan yang amat besar terhadap BBM untuk kebutuhan energi Indonesia 
, sudah saatnya dikoreksi .
Salah satu kebijakan yang harus segera kita rumuskan adalah mengubah 
kebiasaan PLN untuk mengatasi listrik dengan membeli genset , bahkan 
merelokasi dari Thailand , menyruh industri untuk segera menggunakan captive 
power mereka alias menyuruh mengkonsumsi BBM sebanyak-banyaknya ,.. dan last 
but not least  ,.... PLN ternyata  juga minta ijin impor BBM sendiri 
,...karena dengan dihapusnya subsidi BBM oleh Pemerintah , artinya PLN harus 
beli dengan harga standard , nggak di talangin lagi ,...
Jadi , dampak yang akan langsung dirasakan oleh rakyat kita adalah beban 
berat dari kebijakan energi akan langsung mampir dipundaknya yang sudah 
bungkuk tersebut .
Mesti ngomong sama siapa lagi , supaya kita bisa ikut meringankan beban 
tersebut ??
Bung Syafril , tulisan diatas bukan mau mengalihkan masalah minyak menjadi 
masalah PLN , hanya mencoba menggambarkan bahwa kelihatannya  negara  kita 
belum terlalu concern dengan masalah ini  dan konsep jangka panjang tentang 
pemanfaatan sumber energi mungkin perlu disempurnakan lagi .
Wassalam ,
Priyo PS
--------------------



>From: Syafril Hermansyah <[EMAIL PROTECTED]>
>Reply-To: [EMAIL PROTECTED]
>To: [EMAIL PROTECTED]
>Subject: [yonsatu] Fw: Masa Depan Perminyakan Indonesia?
>Date: Thu, 12 Jun 2003 10:51:41 +0700
>
>Nondisclosure sender wish to contribute posting :-)
>
>Begin forwarded message:
>
>Date: Thu, 12 Jun 2003 07:45:51 +0700
>From: Nondisclosure Sender
>To: [EMAIL PROTECTED]
>Subject: Masa Depan Perminyakan Indonesia?
>
>Untuk sama2 kita fikirkan, sumber di bawah ini adalah dari Suara
>Pembaharuan 10/6/2003 yang saya coba sarikan.
>
>Untuk menentukan besarnya subsidi BBM oleh pemerintah, ada 2 faktor yang
>dipegang yaitu faktor harga minyak mentah di pasar internasional dan
>faktor nilai tukar rupiah terhadap dolar.
>
>Faktor harga minyak mentah di pasar internasional, sangat tergantung
>pada dua unsur, yaitu prinsip dasar hukum ekonomi supply and demand, dan
>gejolak di kawasan negara sumber minyak utama (Timur Tengah).  Banyak
>negara mengimport kebutuhan minyaknya dari sana, termasuk Indonesia.
>
>Sedangkan, faktor nilai tukar rupiah terhadap dolar juga berpengaruh
>terhadap besarnya subsidi.  Peran pmerintah dalam perubahan nilai mata
>uang rupiah terhadap dolar ini terletak pada kebijakan fiskal pemerintah
>dan besarnya cadangan devisa kita di BI.
>
>Dari data pada saat ini, nampaknya kemampuan produksi nasional sudah
>tidak mencukupi lagi dibandingkan dengan tingkat konsumsi. Besar
>perkembangan cadangan minyak yang ditemukan di Indonesia tidak tidak
>dapat mengimbangi pertumbuhan penduduk dan konsumsi kita.  Pada tahun
>1973 produksi kita bisa berada pada 1,3 juta BOPD, dengan jumlah
>penduduk sekitar 120jt, hasil penjualannya mengisi sekitar 60% APBN
>kita.  Di tahun 2000,  dengan tingkat produksi kira2 sama, (harga
>berbeda), jumlah penduduk 200 jt, penjualan minyak mungkin hanya mengisi
>sekitar 15% saja.
>
>Dengan perkiraan bahwa kebutuhan BBM dalam negeri akan mengalami tingkat
>presentasi kenaikan yang sama, maka kebutuhan pengadaan minyak mentah
>untuk BBM ke depan akan mendekati tingkat produksi minyak nasional.
>Berdasarkan analisa ini, nampaknya Indonesia sudah akan bisa
>dikategorikan sebagai net oil importer.   Ini berarti pemerintah akan
>segera membeli semua kebutuhan minyak kita dari luar.
>
>Untuk mengurangi beban pemerintah dalam mensubsidi BBM pada anggaran
>belanja negara, maka nilai tukar rupiah terhadap dolar harus diperkuat,
>dan untuk itu, maka nilai eksport kita harus lebih banyak dari nilai
>import, atau kita harus berhemat mengimport, dan meningkatkan export
>produksi kita.
>Hal ini bisa dilakukan apabila keadaan politik dan keamanan dalam negeri
>cukup baik.  Dengan penguatan nilai tukar, selain pengurangan beban
>subsidi BBM, maka beberapa subsidi untuk produk bahan baku dasar juga
>akan membaik (pupuk, listrik, dsb), dan ini akan memberikan dampak
>multiplier cukup signifikan  ke masyarakat.
>
>Tetapi dengan berubahnya Indonesia dari negara penghasil ke negara
>pengimport, bagaimana dengan keamanan supply BBM kita ke depan,
>bagaimana dengan investasi pengetahuan kita di bidang perminyakan ke
>depan, apakah akan habis begitu saja?  Pada saat ini, jika kita
>bandingkan "infiltrasi" kita ke luar dengan infiltrasi Malaysia,
>nampaknya kita sudah ketinggalan. Petronas sudah beroperasi di 29 negara
>(operatorship dan participant interest).  Dengan ke ikut sertaan mereka,
>keamanan supply merekapun akan lebih terjamin.  Malaysia nampaknya lebih
>cerdik dari kita.  Padahal produksi minyak Malaysia lebih kecil dari
>kita.    Bagaimana kita ke depan?
>
>
>
>--
>syafril
>-------
>Syafril Hermansyah<syafril-at-dutaint.co.id>
>
>.
>
>
>--[YONSATU - ITB]----------------------------------------------------------
>Online archive : <http://yonsatu.mahawarman.net>
>Moderators     : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
>Unsubscribe    : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
>Vacation       : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
>
>

_________________________________________________________________
Protect your PC - get McAfee.com VirusScan Online 
http://clinic.mcafee.com/clinic/ibuy/campaign.asp?cid=3963


--[YONSATU - ITB]----------------------------------------------------------
Online archive : <http://yonsatu.mahawarman.net>
Moderators     : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Unsubscribe    : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Vacation       : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>


Kirim email ke