Hello Gank!
Sudah baca berita berikut?

Salam hangat,
HermanSyah XIV.

Anggota MPR berlimusin-ria di Champs Elysee
 

"Gilingan abis," ungkap Amy, pemuda berperawakan gemuk berumur 30-an tahun 
ketika melihat serombongan warga Indonesia keluar masuk Hotel Crillon yang 
terletak pas di jantung kota Paris, di pertemuan jalan protokol Avenue 
Champs Elysee, Rivoli dan Place de la Concorde, Jumat malam lalu. 

"Itu hotel kan untuk menginap tamu negara Prancis. Mahal sekali lho... 
Siapa orang <?xml:namespace prefix = st1 ns = 
"urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" />Indonesia yang nginap di 
situ. Nggak ada kata krisis ekonomi nih," timpal Valerie, 25, warga 
Prancis yang sering berkunjung ke Indonesia untuk kegiatan kemanusiaan di 
Kalimantan, Maluku dan Papua. 

"Jangan berprasangka dulu, mungkin mereka pejabat dari Filipina, Thailand, 
Kamboja, Malaysia atau Laos," sambung Rudi, 45, pekerja gelap asal Jawa 
Tengah yang berprofesi sebagai petugas pembersih rumah dan restoran yang 
tinggal di Paris lima tahun terakhir. 

Usut punya usut, ternyata rombongan yang terdiri dari 21 orang itu adalah 
anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) bersama istri, anak dan para 
staf. 

Di hotel supermewah itu mereka menyewa beberapa jenis kamar, mulai dari 
yang standar hingga suite room. Berapa tarif hotel itu per malam? Antara 
655 euro hingga 1850 euro atau Rp6,5 juta-Rp18,5 juta per malam. 

Bagi orang Prancis, tarif kamar setinggi itu dianggap wajar karena memang 
hotel itu lebih untuk tamu negara setingkat presiden atau perdana menteri. 
Tercatat pejabat Indonesia yang pernah menginap di situ adalah Presiden 
Soekarno dan Presiden Soeharto saat menjadi tamu negara pemerintah 
Prancis. 

Presiden Abdurrahman Wahid, ketika menjadi tamu Presiden Jacques Chirac 
tiga tahun lalu, tidak menginap di situ, tetapi di Hotel Intercontinental. 
Dan ketika menerima penghargaan doctor honoris causa dari Universite Paris 
I Pantheon Sorbonne, dia menginap di Hotel Nikko. 

Selidik punya selidik lagi, ternyata menurut rencana para anggota MPR itu 
berada di Paris selama tiga hari untuk urusan dinas, alias bertemu anggota 
parlemen Prancis. Tapi apa lacur? Salah jadwal! Tidak satu pun anggota 
parlemen yang dapat menemui rombongan MPR itu karena mereka berkunjung 
saat weekend. 

Rupanya rombongan MPR itu sebelumnya telah berkunjung ke London, Roma dan 
Madrid dan setelah Prancis, mereka akan melanjutkan perjalanan ke Belanda. 


"Ini road show yang memakan waktu, tenaga, pikiran dan dana yang tidak 
sedikit karena bertujuan melakukan studi banding. Tapi mana ada pejabat 
Prancis yang mau berdinas pada hari libur. Juarang buanget. Kalau niat 
ya...hari kerja dong," komentar Valerie yang fasih berbahasa Indonesia 
itu. 

Alhasil dikabarkan rombongan itu pun lebih memanfaatkan waktu untuk 
leisure-misalnya nonton kabaret di Lido pada kelas VIP seharga 160 euro, 
makan di restoran mahal kelas Fuquet dan belanja di toko bebas pajak Paris 
Look. Tidak ketinggalan berfoto ria di Menara Eiffel dan Arc de Triomph. 

Kritikan pedas dari orang Prancis tidak hanya berhenti sampai di situ. 
Ketika Bisnis berada di Champs Elysee, jalan raya teramai dan terbesar di 
Paris, pada Minggu siang, perilaku anggota MPR itu bikin heboh turis 
maupun warga Prancis yang berdesakan di trotoar terbesar di dunia itu. 

Rupanya para wakil rakyat itu menyewa dua limusin berwarna putih. Limusin 
masih dianggap sebagai barang supermewah kendati di Prancis banyak orang 
kaya. Hanya selebritis dan pebisnis saja yang mampu menyewanya. 

Alhasil banyak orang terhenyak dan pingin tahu orang top atau selebritis 
mana yang keluar dari restoran Cina itu. Tabrakan kecil dua mobil sempat 
terjadi di Avenue Champs Elysee gara-gara pengemudi meleng karena ingin 
melihat siapa yang akan keluar atau naik limusin putih itu. Siapa tahu 
Bruce Wills, Nicole Kidman atau Tom Cruise atau Bill Gates. Lumayan kan 
kalau bisa dapat tanda tangan atau potret bersama. 

Ternyata yang keluar adalah 16 orang anggota MPR Repulik Indonesia, yang 
langsung berebut naik limusin. Sisanya, para staf, naik mobil lainnya. 

Menurut informasi, limusin tersebut disewa seharga 300 euro (Rp3 juta) 
hanya untuk berkendara selama 15 menit dari Champs Elysee ke Gare du Nord, 
stasiun kereta api yang menuju Belanda. Gile! 

Gill, 25, arsitek Prancis yang sering datang ke Indonesia untuk mencari 
kayu mahoni dan jati dan kebetulan sedang jalan dengan Bisnis pun takjub. 

"C'est fou [Ini gila]. Katanya negara kamu sedang krisis dan minta 
keringanan utang kepada negara lain dan pemerintah kami. Tapi lihat saja 
pejabat kamu berlebihan di sini. Kami akan protes kalau negara kami 
memberi keringanan utang pada negara kamu. Hemat dulu dong kalau mau minta 
keringanan utang. Saya yakin mereka bukan tamu negara sebab pemerintah 
kami sangat sederhana kalau memberikan jamuan,'' paparnya emosi. 

Siapa yang membiayai pengeluaran itu semua. Kantong sendiri? Kaya sekali 
para anggota majelis ini! Anggaran negara? Boros amat KBRI! Mana ada duit 
sebesar itu. 

Swasta? Siapa? Apa kepentingannya? Kabarnya, sebuah bank negara papan atas 
dan terbesar menyumbang pembiayaan itu-entah sebagai uang entertainment, 
atau terkait tujuan politis tertentu, ataukah dengan tekanan. 
Huwallahhuallambisawab! 

Yang jelas, Ketua MPR Amien Rais, ketika berpidato di hadapan tukang becak 
di Makasssar pekan lalu, menyerukan agar dalam pemilu nanti jangan memilih 
partai yang anggotanya suka jalan-jalan ke luar negeri. Bahkan, Presiden 
Megawati juga berpesan agar kita semua hidup sederhana. 

Rakyat berharap kepergian para pejabat ke luar negeri untuk tujuan yang 
mulia, misalnya melakukan lobi guna memecahkan kesulitan negara. Yang 
terjadi kok malah sebaliknya? 

Oleh Rofikoh Rokhim
Wartawan Bisnis Indonesia 
 

--[YONSATU - ITB]----------------------------------------------------------
Online archive : <http://yonsatu.mahawarman.net>
Moderators     : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Unsubscribe    : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Vacation       : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>


Kirim email ke