On Tue, 24 Jun 2003 23:44:41 -0600 [EMAIL PROTECTED] (WN) wrote: [ saya sdh menjawab sebagian, sekarang dilengkapi ]
> 1). Tukar Pesawat TV di Carrefour > > Saya membaca iklan di Kompas tentang pembelian pesawat televisi (TV) > LG Flatron yang dapat ditukar tambah dengan TV bekas/lama merek apa > saja, yang berlaku dari tanggal 15 sampai 30 April 2003, yaitu untuk > televisi ukuran 29" akan dihargai Rp 1.500.000, di Carrefour. Tertarik > kepada iklan itu tanggal 21 April saya ke Carrefour Duta Merlin, > Jakarta, dengan membawa televisi ukuran 29" dan ternyata hanya > dihargai Rp 500.000. Ini akibat salah baca iklan, spt sdh saya sampaikan bhw ada 2 iklan spt ini, satu utk Phillips dan yg lain utk LG. Phillips menawarkan harga fixed utk pembelian kembali TV lama, sementara LG hanya kasih range harga, tergantung toko penjual, kondisi TV dan besarnya layar. Memang sebelumnya pernah LG menawarkan pembelian TV lama dg harga fixed (tergantung besarnya inch), akan tetapi itu hanya berlaku di Makro bukan di Carefour. > Saya merasa dibohongi dan merasa kecewa karena tidak sesuai dengan apa > yang diiklankan lewat media massa, yaitu pesawat televisi ukuran 29" > akan dihargai Rp 1.500.000, tetapi kenyataannya hanya dihargai Rp > 500.000. Anehnya, sampai saat ini pihak Carrefour tidak mengembalikan > pesawat televisi kami. Mohon pesawat televisi tersebut dikembalikan. > Lasmono Jl Batu Tulis Raya No 17, Jakarta Pusat Dari pernyataan diatas, besar kemungkinan ybs tidak menukarkan sendiri, melainkan menyuruh orang lain (kalau datang sendiri, mestinya stl tahu cuma dihargai 500 ribu dia bisa langsung membatalkan transaksi saat itu juga (nggak ada tuh cerita TV diambil pihak carefour ke rumah pelanggan). Emang susah juga berhubungan dg orang kaya yg ignorant :-( Mungkin diperlukan organisasi semacam http://www.rfc-ignorant.org, http://www.ordb.org spt berlaku untuk e-mail di dunia maya, shg kita tdk perlu berhubungan dg orang-2x ignorant (reject them on first place). > 2).Kecohan definisi yang dianggap berlaku > > Kita masih saja memahami korupsi sebagai "penyalahgunaan kekuasaan > publik bagi kepentingan pribadi... yang disebabkan oleh tindakan semau > gue pejabat negara" (World Bank 1997). > > [...] > Perkara manipulasi dokumen merupakan soal korupsi yang luas dalam > relasi bisnis-pemerintah. > > [...] > Dengan definisi korupsi seperti itu, kita lalu menunjuk aparatur > negara (bahkan seluruh lembaga negara) per definisi sebagai korup. > Dalam kasus dokumen impor (juga setelah menimbang faktor perbedaan > hitungan), target empuk bagi penyebabnya adalah para pegawai Bea Cukai > (BC). Banyak sudah orang mengomongkan hal ini, dan nampaknya korupsi itu memang budaya kita saat ini, dg sengaja dibiarkan bahkan dipupuk. Korupsi itu masalah moral, gaji besar dan fasilitas memadai tidak menjamin korupsi akan berhenti. Bicara soal moral, kenyataan di negeri ini adalah : - Institusi yg mendidik moralitas anak bangsa (depdiknas) - Institusi yg menjadi sumber moralitas (depag) - Institusi yg menjaga moralitas (jaksa, hakim, polisi) mrpkan sumber korupsi juga (sumber : Wawancara Radio Jakarta News FM dg Anhar Gonggong dalam rangka Hari Kebangkitan Nasional) Yg terakhir, institusi supra struktur yg dibentuk utk mengawasi korupsi, yg mulai menunjukan hasil (KPKPN) juga (akan) ditutup. > [...] > Tentang apa yang faktual terjadi, contoh yang dimuat Kompas (12/6) > mungkin berguna. Importir Indonesia membeli barang dari Jepang senilai > 100.000 dollar AS. Bekerja sama dengan pengusaha di Singapura, ia > masukkan dulu barang itu ke "kawasan berikat" Singapura tanpa kena bea > masuk. Dengan kolusi, pengusaha di Singapura menerbitkan invoice bukan > senilai 100.000 dollar AS, tetapi 25.000 dollar AS. Jadi, hanya nilai > 25.000 dollar AS di atas kertas yang diterima petugas BC di Indonesia. > Verifikasi? Dalam wawancara yang saya lakukan dengan puluhan pelaku > bisnis tahun 1998, siasat meniadakan verifikasi yang sering dipakai > adalah suap. Saya tahu bhw Singapore memang begitu dari dulu, mrk ini orang-2x tricky. Soal bajak membajak software/hardware pun mrkpun mrpkan salah satu sumber terbesar utk kawasan Asean, cuma mereka melakukannya dg lihai dan kebanyakan dibuat utk keperluan *export* ke negara tolol lain. Dipihak lain, masalah Pajak di negeri ini juga aneh. Untuk import dibebani pajak macam-2x, shg cost of good sold barang-2x import di Indonesia menjadi tinggi (kita pernah dengar omongan orang Motorolla soal ini, saat kunjungan kerja dg Pak Reka Rio dulu). > Apa status manipulasi nilai 100.000 dollar AS menjadi 25.000 dollar AS > yang dilakukan para importir itu dengan atau tanpa kerja sama dengan > petugas BC? Korupsi. Suap juga dengan mudah dilakukan karena kekuatan > finansial bisnis. Bahkan badan seperti Bank Dunia (yang biasanya punya > bias memihak bisnis) dan PBB akhirnya mengakui definisi korupsi mereka > telah ketinggalan zaman. Sebabnya, "...sektor bisnis menguasai sumber > daya (uang) yang tidak tertandingi kelompok-kelompok lain, seperti > buruh, konsumen, atau lingkungan hidup" (Human Development Report > 2002). Pernah saya dengar orang ngomong bhw orang Bank Dunia yg paling 'lurus hati' sekalipun cuma bisa bertahan max. 6 bulan, stl itu ...ikutan ah :-( -- syafril ------- Syafril Hermansyah<syafril.dutaint.co.id> --[YONSATU - ITB]---------------------------------------------------------- Online archive : <http://yonsatu.mahawarman.net> Moderators : <mailto:[EMAIL PROTECTED]> Unsubscribe : <mailto:[EMAIL PROTECTED]> Vacation : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
