Lanjutan sblnya. Begin forwarded message:
Date: Fri, 27 Jun 2003 09:14:04 -0000 From: "fernando_r_b" <[EMAIL PROTECTED]> To: [EMAIL PROTECTED] Subject: [Keuangan] Re: OOT: Breaking News dari Anonymous Bung Agus yang baik, Saya tidak naif - tapi saya juga tidak sok reformis. Point saya adalah PROPORSI. Proporsi ini menyangkut tanggungjawab hukum yang sudah diatur dengan prosedur tertentu. SERIKAT karyawan adalah badan yang dibentuk untuk melindungi kepentingan karyawan. Urusannya, kalau pihak manajemen melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan hukum dan peraturan ketenagakerjaan. Kedudukan Serikat Karyawan ini adalah DILUAR dari struktur organisasi perusahaan dalam arti dia tidak bisa menentukan kebijakan perusahaan. Mereka eksis pada level dimintai pendapat misalnya dan itu pun kalau menyangkut masalah perburuhan/kekaryawanan. Wajar bila serikat karyawan demo untuk urusan uang PHK atau uang yayasan kesejahteraan karyawan yang dikemplang misalnya, tapi kalau udah menyangkut urusan apakah perusahaan akan invest disini atau disana, apa justru tidak naif kalau serikat karyawan ikut cawe-cawe?. Karyawan, memang sudah menjadi tugasnya untuk memberi masukan bagi pengambil keputusan. Saya tidak bilang kalau karyawan tidak boleh memberi masukan bagi perusahaan. Justru itulah tugasnya, habitatnya. Jangankan di suatu perusahaan besar, di usaha warung juga begitu. But once keputusan sudah diambil, sudah bukan porsinya lagi untuk ngerundel karena yang mempertanggungjawabkan keputusan itu bukan karyawan, tapi Direksi. Benar, karyawan punya kepentingan benefit akan laba perusahaan. Ditempat saya juga begitu. Tapi kembali ke masalah proporsi, siapa yang PALING berkepentingan disitu? Pemegang Saham kan? Dan yang mempertanggungjawabkannya adalah direksi. BUKAN Karyawan apalagi Serikat Karyawan. Itupun kalau benar adanya yang dirugikan dan karena ketidakjelasan ini maka saya katakan kita sedang ngerumpi. Anda boleh tidak percaya pada sistem, tapi begitulah sistem, dia dibuat agar semuanya tidak kacau-balau. Tidak ngaco. BTW (BTW boleh ada dua ya?). 1. Jadi sebenarnya yang dibela oleh serikat karyawan indosat itu bukan kepentingan bangsa, negara dan nasionalisme kan? Tapi adalah kepentingan sendiri? Bagus kalau begitu. 2. Saya punya asuransi jiwa yang pada klausulanya menjanjikan saya untuk memperoleh bagian keuntungan atas laba perusahaan. Wajar gak kalau saya juga ikut cawe-cawe menentukan kemana mereka harus invest? Salam hangat juga buat anda dan kelurga, have a nice week end. Fernando R.Butarbutar --- In [EMAIL PROTECTED], agush <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > At 01:52 27/06/2003 +0000, you wrote: > Bung Fernando yang baik, > Jadi kalau kita udah lapor ke Bapepam, semuanya akan > berjalan dengan baik ? Hahaha.....Jangan naif gitulah. Negara Bung > Fernando (dan juga negara saya) yang bernama Indonesia ini bukanlah > negara yang segala sesuatunya sudah berjalan dengan baik. Lagian, > diskusi kita ini bukan ngerumpi (jika anda menganggap seperti > itu,....ya nggak apa-apa). Inilah adalah salah satu bentuk proses > transformasi sosial. > Karyawan (dan serikat pekerja) tentu saja punya kepentingan > bung. Bukankah bonus tahunan mereka dihitung dari performance > financial perusahaan ? Di kantor saya nggak tabu tuh karyawan ngusulin > atau memberikan masukan ke manajemen tentang investasi. Tapi saya > nggak tahu kalau perusahaan anda menabukan itu. Jelek-jelek gitu, > karyawan suatu perusahaan juga tahu tahu tantangan perusahaan mereka. > Karyawan Indosat itu juga kan buruh yang berpengetahuan. Masak cuma > direksi dan konsultan aja yang hebat ? Di kantor saya, kok selama > saya di sini> nggak pernah (selalu) tuh pake jasa konsultan jika mau > investasi. Selain karena biayanya mahal, rekomendasinya pun > kadang sudah terpikirkan oleh kita sendiri (alias > kadang-kadang common sense/normatif). Misalnya dua tahun > lalu kita disarankan oleh salah satu KAP besar, untuk menggunakan > jasa aktuarist (yang dari kantor mereka juga...dan kena fee yang > lumayan gede serta dalam dollar) untuk menghitung dana yang mesti > dicadangkan akibat hasil KEPMEN 150 di Neraca akhir tahun. Atas > usulan kami-kami ini yang berasal dari divisi Finance Accounting, > saran Auditor itu ditolak oleh direksi (direksi kan nggak akan > ngerti yang tekhnis-tekhnis begini). Dan akhirnya > kita-kita sendirilah yang menghitung cadangan untuk Kepmen 150 itu. > Bisa dihitung tuh, berapa setidaknya penghematan yang bisa dilakukan. > Jadi, tugas karyawan itu setidaknya bukan hanya kerja, dan terima > gaji saja Bung. > > Salam hangat dari seorang sahabat > Agus H > > > > > >Biang ngaco nya ya ini: serikat karyawan udah ikut-ikutan ngurusin > >manajemen dan strategi bisnis. Bawa-bawa nama negara lah, > >rakyatlah, nasionalisme lah, idealisme lah, harga diri bangsa lah. > >Omong kosong. > > > >Kalau memang anda memposisikan diri sebagai pemegang saham atau > >pemerhati kepentingan bangsa yang dirugikan oleh manajemen Indosat > >yang anda anggap menjadi kaki tangan pemegang saham yang lain, udah > >laporin aja ke Bapepam dari pada kita jadi ngerumpi dan menduga- > >dugayang tidak-tidak. > > > >Salam > > > >Fernando RB. -- syafril ------- Syafril Hermansyah<syafril.dutaint.co.id> --[YONSATU - ITB]---------------------------------------------------------- Online archive : <http://yonsatu.mahawarman.net> Moderators : <mailto:[EMAIL PROTECTED]> Unsubscribe : <mailto:[EMAIL PROTECTED]> Vacation : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
