Negotiation skill kita lemah ?
Dan cerita kecil soal ketua KADIN.

Begin forwarded message:

Date: Mon, 16 Jun 2003 20:17:24 +0700
From: "W. Kasman" <[EMAIL PROTECTED]>
To: "AhliKeuangan-Indonesia Group"
<[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [Keuangan] Re : Negotiation Skills (was Re: Menebus Kemerdekaan
RI)


>   From: "Hasan M Soedjono" <[EMAIL PROTECTED]>
>Subject: Negotiation Skills (was Re: Menebus Kemerdekaan RI)
>
>Saya sering mengamati dan kemudian menyimpulkan bahwa orang
>kita banyak sekali yang tidak pandai bernegosiasi tetapi
>didudukkan sebagai pimpinan negosiasi.  Saya saksikan gejala
>ini baik dalam hubungannya antara swasta nasional dengan
>swasta asing, maupun sebagai anggota delegasi resmi
>pemerintah ketika mengadakan perundingan bilateral (banyak
>yang berkaitan dengan perjanjian udara).
>

Uraian Pak Hasan M Soedjono ini menarik sekali. Ungkapan bahwa kita
tidak pandai bernegosiasi ini masih relevan sampai sekarang. Ingat
perundingan dalam WTO?
Mengerti kemana arah materi perundingan itu saja rasanya masih kabur dan
belum ada kesiapan sama sekali. Apalagi memahami kepentingan sendiri
(kepentingan nasional) yang terkait dengan perundingan internasional
itu, juga praktis nol.
Akhirnya, pada saat dipojok dengan tuntutan untuk mengajukan daftar
komitmen maka asal-asalan saja. Salah satu contoh mencolok adalah
komitmen Indonesia pada sektor jasa-jasa (WTO/GATS) - asal comot saja.
Belum lagi komitmen di APEC atau ASEAN (AFAS). Ingat proses pemberian
ijin untuk carefour? Inilah proses negosiasi praktis yang sangat konyol.
Saat ini, tuntutan untuk negosiasi daftarnya mulai panjang dan sudah
banyak yang didesakkan - dari Jasa Pengiriman, Jasa-jasa Migas,
Konsultansi, keuangan dan sebagainya (pengalaman dalam proses
negosiasi sektor angkutan udara kita juga banyak dimain-mainkan dan
mungkin untuk sektor lainnya juga akan terjadi).
Kemarin tanggal 28-30 Juni 2003 ada evaluasi tentang Trade Policy Review
Indonesia di WTO. Mau lihat pikiran apa yang dibawa Indonesia, terus
bandingkan dengan review yang dibuat oleh Sekretariat WTO, baca
http://www.wto.org/english/tratop_e/tpr_e/tp216_e.htm, wah maluuuu
rasanya. 
Lagi, kalau kita perhatikan bahwa proses perundingan WTO yang sudah
dimulai sejak 1994, maka kita sebenarnya sekarang juga dapat bertanya -
persiapan apa yang sudah dilakukan oleh Indonesia (sebagai ukuran untuk
mengetahui tingkat kesadaran akan kepentingan nasional dalam suatu
perundingan internasional).

Rasanya juga sangat terbatas dan masih banyak pejabat Pemerintah yang
tidak menyadari. Jawaban tipikal bahwa "kita pasti mampu menghadapi"
banyak disuarakan oleh Pemimpin-pemimpin kita. Beberapa waktu lalu
misalnya, saya dapat undangan dari Intermatrik untuk seminar tentang
liberalisasi sektor jasa keuangan.
Beberapa nara sumber seperti Hasan Kartajumena (eks Dubes kita di WTO)
atau Prof. Dr. B. Subiyanto (eks Menkeu) sama-sama berpendapat bahwa
liberalisasi sektor jasa belum menjadi tantangan mendesak. Tentu saya
sangat heran dengan manusia-manusia seperti ini !!!!!

Tapi, kalau dipikir-pikir kok bangsa kita (terutama pemimpinnya) begini
ya? Dimana letak salahnya? Nah - rasanya kok kita ini masih berada dalam
suanana krisis intelektual (bukan sekedar krisis ekonomi atau politik).
Coba misalnya perhatikan adanya gelombang pemikiran yang mengiringi
proses ratifikasi Marakesh Round dengan hadiah nobel ekonomi 1993
dimenangkan oleh Fogel dan North dari aliran ekonomi historian
(institutional economics). Gelombang ekonomi institutional ini terus
melanda sampai-sampai World Bank dalam laporan tahunannya 2002 dan
kemudian 2003 mengambil tema tentang "bring intitution to market".
Walaupun gelombang pemikiran baru di bidang ekonomi ini begitu nyata
tetapi intellectual exercise kita sama sekali belum mengarah ke sana.
Akhirnya, terasa bahwa bangsa kita tidak mempunyai solusi intelektual
untuk keluar dari krisis multi-dimensional seperti saat ini. 

Oh ya, saya ada sedikit cerita. Awal tahun 1994 saya diminta oleh Tuan
Aburizal Bakrie untuk meyakinkan Pak Harto bahwa Tuan Ical adalah tokoh
yang cocok untuk jadi Ketua Umum Kadin. Anda tahu, Pak Harto tidak suka
Ical dan sudah punya calon yaitu AR Ramli. Pekerjaan berat tapi saya
sanggupi. Ya lobby kemana-manalah dari sirkel intel sampai ke
istana gitu. 
Waktu itu, saya  bawa pikiran bahwa problim ekonomi kita saat ini
bukanlah problim kuantitatif sektoral. Saya presentasikan bahwa kalau
itu yang dipegang, nggak lama lagi ekonomi Indonesia ambruk (1997 ambruk
benar). Problim pokoknya adalah insitusi, ya masalah "domestic
regulation" yang sehat - baik dari tataran perundang-undangan sampai
pada norma-norma dan etika bisnis. Kalau ini masalahnya, maka
kelompok-kelompok kepentingan seperti Kadin dan asosiasi dapat
berperan banyak. Dan saya janjikan bahwa kalau Ical jadi Ketum Kadin
itulah programnya - instutional building begitu.
Begitu jadi Ketum Kadin, lingkaran di sekitarnya berubah cepat dan
berkembang pikiran-pikiran lain. Jadilah format Kadin yang lain yang
tidak lebih dari kelompok preman yang sama sekali tidak mempunyai visi
nasional yang jelas.

Ciloko, saya dimarah-marahin beberapa tokoh intel dan dianggap menipu
negara - yaah terpaksa pensiunlah (enakan kerja sosial aja).
Ini cerita kecil (bukan bohong), tapi kita dapat membuat kesimpulan
bahwa memahami kepentingan sendiri saja bangsa kita ini masih
tertatih-tatih apalagi kalau diajak berunding ya ngawurlah (kalau
periode 1949 ngawur ya maklum tapi kalau sekarang masih ngawur ya
gila-lah). Ternyata kebodohan tidak saja di kalangan pemimpin politik
(negara) tetapi juga di kalangan pemimpin masyarakat ya? Kalau tidak
segera terbentuk basis pemikiran bersama yang jelas, maka periode
"uncertainties" akan panjang dan bangsa ini akan menyelesaikan
masalahnya dengan dogma dan ideologi dan makin maraklah
kekuatan-kekuatan
radikalisme, pressure-group, vested interest, preman dsb (bahkan
sekarang sudah impor pola "advocacy explossion"). Tahu apa artinya
"uncertainties" bagi suatu perekonomian dan masyarakat? Waah, jaman
eidaan ya ????
Salam/W. Kasman


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Get A Free Psychic Reading! Your Online Answer To Life's Important
Questions.
http://us.click.yahoo.com/Lj3uPC/Me7FAA/ySSFAA/GEEolB/TM
---------------------------------------------------------------------~->

-------------------------
PARIWARA:  "Kunjungi situs http://www.6221.net  yang menyediakan
informasi komprehensif mengenai berbagai Seminar serta dilengkapi
fasilitas booking dan pembayaran offline dan online yang didukung oleh
lebih dari 100 penyelenggara seminar di Indonesia."
-------------------------
STOP PRESS!: Telah beroperasi Milis Keuangan-Terapan, khusus untuk forum
games Keuangan dan sejenisnya. Expert Panel juga masih terbuka untuk
apply. Join: [EMAIL PROTECTED]
-------------------------

- Untuk Unsubscribe dari Milis Keuangan kirim ke:
[EMAIL PROTECTED]
dan jgn lupa reply ke yahoo's confirmation email.

- Subscription tanpa email (melihat langsung dari website) kirim ke:
[EMAIL PROTECTED]
- Subscription 1 email berisi semua rangkuman emails hari ini kirim ke:
[EMAIL PROTECTED]
- Subscription ke normal email kirim ke:
[EMAIL PROTECTED]
- Untuk meminta bantuan, pertanyaan, perkenalan email kirim ke:
[EMAIL PROTECTED] 

Your use of Yahoo! Groups is subject to
http://docs.yahoo.com/info/terms/ 



-- 
syafril
-------
Syafril Hermansyah<syafril.dutaint.co.id>
.


--[YONSATU - ITB]----------------------------------------------------------
Online archive : <http://yonsatu.mahawarman.net>
Moderators     : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Unsubscribe    : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Vacation       : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>


Kirim email ke