On Wed, 06 Aug 2003 02:07:44 +0700 "Priyo Pribadi Soemarno" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Sewaktu CORPS melaksanakan pertemuan di DHN45 hari Jum'at yang lalu , > kebetulan kami bertemu dengan salah satu tokoh Perintis Kemerdekaan , > yaitu Bp. Jusuf Ronodipuro , beliau sudah berusia 84 tahun , masih > gagah , masih kuat merokok 3 pak KANSAS per hari dan mengisap > cerutu .. > Beliau dalam kartu namanya menuliskan dibawah namanya ,.."mantan Duta > Besar" . Ah saya ingat sekarang, si Bapak ini termasuk foundernya RRI, anaknya dulu sempat jadi pembawa berita di TVRI dan istri (anaknya) peragawati Sebenarnya dalam konteks apa beliau ada di gedung DHN ? [ ... ] > Sewaktu masuk lagi keruangan rapat bersama mas Djoni Saleh , saya > berpikir ,..." kenapa kita cengeng banget , yaaa ? Koq , cuma urusan > POSKO , anggaran , tuntutan ......., dll ..........." :-) Saat kemarin ada diskusi soal yg ini, saya sebenarnya ingin berkomentar begitu, tp saya pikir ulang krn saya sdg tidak sehat dan banyak kerjaan sisa-2x migrasi yg belum smooth shg mungkin saja pemikiran itu tidak benar. Dulu sewaktu masuk Mahawarman saya tidak pernah punya pikiran utk mendapatkan fasilitas, saya cuma ingin punya banyak teman yg pola pikir yg sama, lingkup kegiatan yg disukai sama. Krn saya bukan anak orang kaya, maka saya jadi asisten Dosen/Mata Kuliah Umum dan honornya dibelikan Kaporlap yg makin lama makin lengkap. Pergi jalan-2x dg temanpun banyak pakai biaya sendiri, naik kendaraan umum atau jalan kaki tdk jadi masalah, yg penting senang. Dulu saya juga sempat lupa soal menyelesaikan pendidikan di ITB akibat senang berhura-hura dg teman-2x di Mahawarman, sampai saya akhirnya diingatkan orang tua saya bhw tinggal 1 tahun lagi beliau akan pensiun (jeleknya subsidi nih <g>), shg akhirnya saya ngebut belajar utk UKT (Ujian Komprehensif Tertulis) dan menyelesaikan Tugas Akhir. Sungguh satu perjuangan yg sulit utk bisa meningkatkan "semangat belajar" dg cepat dan konsisten shg saya perlu melakukan langkah-2x persiapan a.l. : - tiap hari saya lari pagi stl shalat subuh, lari siang stl makan siang. - saya hanya duduk di meja belajar untuk belajar, diluar itu saya tidak mau duduk di kursi itu, shg akhirnya tercipta "sugesti" kalau sdh duduk di kursi itu saya pasti belajar. Berkat lari pagi/siang, saya tahan belajar berjam-jam, sering tertidur di meja belajar. - jika semangat belajar turun, saya datang ke Warteg yg banyak tukang becaknya, melihat bgm mereka banyak yg hanya beli nasi saja, lauk cukup pakai lalap dan sambal yg gratis. Dalam pikiran saya, kalau saya tidak lulus maka mungkin saya akan jadi spt mereka. - saya sengaja jadi asisten di TPB, agar terpengaruh melihat betapa riangnya mereka-2x ini belajar. Intinya, saya mencoba melakukan apa saja berdasar apa yg saya miliki saat itu, putar otak memilah apa yg yg bisa saya lakukan dg "modal" yg saya punya, saya tidak berharap dari apa-2x dari yg belum saya miliki. Kembali ke soal Batalyon, kalau memang Posko tidak diminati ya sudah bubar saja, kalau memang masih diminati ya kerjakan apa yg bisa dikerjakan. Dari analisis lingkungan yg sempat disebutkan di Milis ini, kondisi external punya peran besar dalam menurunnya minat mahasiswa menjadi Mahawarman, situasinya tidak kondusif. Perlu bantuan dari alumni atau pihak manapun agar legitimasi Menwa bisa dikembalikan. Sementara itu bagi anggota yg masih aktif, menurut saya, lakukanlah aktivitas apa saja yg diminati oleh semua anggota, shg eksistensi/keberadaan selalu terlihat, makin lama hubungan antar anggota makin solid/kompak. Dg demikian pada saat kondisi external mendukung, bisa langsung ditanggapi dg cepat oleh anggota aktif. -- syafril ------- Syafril Hermansyah --[YONSATU - ITB]---------------------------------------------------------- Online archive : <http://yonsatu.mahawarman.net> Moderators : <mailto:[EMAIL PROTECTED]> Unsubscribe : <mailto:[EMAIL PROTECTED]> Vacation : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
