AWW.

From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED]

Menurut saya, tanpa atau dengan agama manusia akan terus
menerus mencari jawaban mengenai alam  semesta dan kehidupan
ini, yang akan berakibat pada berkembangnya ilmu  pengetahuan
dan teknologi.

==============


Saya setuju bahwa dengan atau tanpa agama manusia akan
senantiasa menjelajah makro kosmos dan mikro kosmos (dirinya),
fenomena penciptaan, keadilan, dan kebangkitan setelah
kematian, termasuk tentang adanya �sesuatu� yang berada di
balik ini semua. Dan bila mengikuti alur logika �Sejarah
Tuhan�, alih-alih Tuhan menciptakan manusia, malah sesungguhnya
manusialah yang menciptakan Tuhan sebagai respon
ketidakberdayaannya terhadap alam dan berbagai masalah yang
tidak sanggup dihadapinya. Sigmund Freud mengatakannya sebagai
universal obessional neurosis (proyeksi dari keinginan waktu
kita anak-anak).
Supaya kita tidak ngelantur, kita fokus kembali pada masalah
sekularisme dan Islam, dengan pengertian apakah urusan agama
(Islam) terpisah dengan urusan dunia atau sebaliknya, urusan
agama adalah urusan dunia juga atau dpl urusan dunia adalah
urusan agama juga.

===============


Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi itu suatu saat pasti
akan bersinggungan dengan prinsip2 moral yang dianut, seperti
yang kitasudah lihat sendiri seperti misalnya: apakah bom atom boleh
digunakan,apakah clonning, abortus, euthanasia boleh dilakukan, apakah
kondom untukmencegah HIV/AIDS boleh dipergunakan, apakah Keluarga Bercelana,
eh.. Berencana boleh dilakukan, dsb.,..dst.  Sudah pasti
pelaksanaan hal2diatas bertentangan dengan agama, akan tetapi, agama tidak
memberikanjawaban bagaimana mencegah meningkatnya korban HIV/AIDS, bagaimana
mencegah meningkatnya kelahiran bayi2 yang tidak inginkan beserta
ibu2 muda tanpa masa depan yang menjadi korbannya itu, dst., dsb.,
kecuali hanya melarang dan melarang, sementara kita tahu
manusia itu tidakbisa dilarang, dan tidak setiap orang dapat mengendalikan
nafsunya, lalumemandang lurus kedepan, tidak lirik kiri kanan dan dada
dibusungkanseperti rekan Doedoeng bilang.  Padahal, larang melarang ini sudah
pakai ancaman masuk neraka segala, dgn imbalan dikelilingi
bidadari yangcantik2 dengan sungai2 yang dialiri susu.  (Dalam hati saya
bertanya2,kenapa kok imbalannya musti bidadari yang cantik2?, lalu kenapa
nggak adabidadara yang tampan2?)


===============

Pertama, saya ingin mengatakan bahwa Al Quran dan Al Sunnah
bukanlah ensiklopedi apalagi manual pencegahan HIV/AIDS atau
juknis aborsi. Bila dikatakan Islam tidak mencegah dalam arti
memberikan warning pencegahan HIV atau VD jelas salah. Islam
sangat menentang hal-hal yang dapat menjerumuskan manusia
kepada hal tsb. Namun apakah AQ menjelaskan dosis penisilin
yang harus diberikan kepada pasein VD jelas sia-sia pencarian
tersebut. Menurut jalan pikiran Pak HermanSyah, dengan kasus
itu menjadi bukti bahwa agama (AQ) tidak bisa mengatasi
persoalan dunia. Di sinilah letak perbedaan sudut pandang
antara Islam dengan sekularisme (sekali lagi saya ungkapkan).
Ada hadits yang sangat terkenal ketika Rasululloh mengutus
Muadz bin Jabal menjadi hakim di Syiria (kalau tidak salah).
Dia ditanya oleh Rasululloh, dengan apa wahai Muadz engkau akan
memutuskan satu perkara? Dengan nash Quran, jawab Muadz. Lantas
bagaimana kalau engkau tidak mendapati nash tersebut? Saya akan
putuskan sesuai dengan contoh engkau ya Rasululloh. Lalu
bagaimana bila engkau tidak mendapati aku memutuskan perkara
tersebut? Aku akan menggunakan nalarku. Maka jawab Rasululloh,
�Beruntunglah engkau wahai utusan Rasululloh�. Hadits ini
disepakati oleh jumhur (mayoritas) ulama sebagai petunjuk
dibukanya pintu ijtihad (eksplorasi akal) dalam memutuskan
perkara yang secara nash tidak terdapat dalam Quran dan Hadits.
Dan menjadi dalil bagi bersatunya (integralnya) antara Quran
dan akal atau �agama� (dalam tanda kutip sebagai dogma atau
keyakinan) dan iptek.
Dalam hadits yang lain disebutkan pula bahwa �apabila kita
hendak melakukan sesuatu kebaikan, maka hendaknya dimulai
dengan basmallah (in the name of Alloh), kalau tidak maka
pahalanya tertolak�. Ini jelas sekali bahwa semua aspek
kehidupan dalam Islam berada dalam lingkup agama. Ketika Pak
HermanSyah menulis komentar untuk saya dengan keyakinan bahwa
akan memberikan kemaslahatan bagi umat manusia, dan Pak
HermanSyah memulainya dengan basmallah, maka itu akan menjadi
pahala atau kebajikan.
Fenomena korupsi dan kejahatan sosial lainnya, menurut saya,
antara lain karena menurut pelaku di luar mesjid, gereja,
sinagog, vihara, klenteng dll, Tuhan tidak terlibat atau bahkan
tidak ada.
Pernyataan Pak HermanSyah berikut ...... apakah kondom untuk
mencegah HIV/AIDS boleh dipergunakan, apakah Keluarga
Bercelana,eh.. Berencana boleh dilakukan, dsb.,..dst.  Sudah pasti
pelaksanaan hal2diatas bertentangan dengan agama, akan tetapi, agama tidak
memberikan jawaban bagaimana mencegah meningkatnya korban
HIV/AIDS, bagaimana mencegah meningkatnya kelahiran bayi2 yang
tidak inginkan beserta ibu2 muda tanpa masa depan yang menjadi
korbannya itu, dst., dsb.,......
Dari mana Pak HermanSyah tahu bahwa �sudah pasti� bertentangan
dengan agama? Misal, penggunaan kondom dalam berhubungan sex
dengan istri semua ulama sepakat boleh, tapi kalau untuk
berzina atau homosex saya kira bukan cuma Islam, semua agama
juga pasti melarang (atau ada agama lain yang membolehkan???).
Tentang kelahiran bayi yang tidak diinginkan (apa definisi
tidak diinginkan ini?), kalau misalnya dengan mempertahankan
kehamilan akan menyebabkan salah satu meninggal (ibu atau
anak), maka dalam Islam berlaku kaidah ushul fiqh yang
mengatakan �yang pasti mengalahkan yang belum pasti�, artinya
kehidupan si ibu harus didahulukan dari pada mempertahankan si
bayi yang belum pasti kehidupannya.
Tentang larangan atau perintah, apa bedanya dengan pernyataan
�dilarang korupsi atau diperintahkan untuk masuk kantor mulai
jam 09.00�. Orang bebas untuk mengikuti atau menolak, tapi
tentu ada konsekwensinya atas apa yang diputuskannya tersebut.
Mengenai bidadari, saya juga belum tuntas memahami Quran, namun
tentang bidadara bisa dilihat pada QS Al Waaqi�ah (56:17):
mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda
(bidadara yang tampan). Perlu diingat bahwa penterjemahan Quran
sangat dipengaruhi oleh budaya setempat yang �berat sebelah�
terhadap laki-laki, sehingga seakan-akan pahala itu
iming-imingnya bidadari tok.

================



Barangkali inilah yang seringkali menjadi sebab sering timbulnya
konflik,
kesalah pahaman, dan prejudice terhadap Islam, karena para
ulamanya, atau
orang2 yang mengaku/dianggap sebagai ulama seringkali memberikan
kartu
mati dan menutup kemungkinan adanya orientasi dan cara berpikir
lain.
Agama2 lain setahu saya juga ketat pada aturan2 mereka, akan
tetapi mereka
tidak punya masalah apalagi mempertentangkan konsep sekularisme
dengan
keyakinan mereka.  Barangkali rekan2 yang beragama
Kristen/Katholik, Hindu
dan Budha bisa memberikan masukannya dalam hal ini.


===============

Sejauh pengertian sekularisme diartikan secara praktis sebagai
konsep memisahkan �agama� dari kehidupan dunia (berdasarkan
pemahaman saya atas kalimat ini:....... Untuk mengatasi
problem2 kongkret yang jawabannya tidak ada di agama itulah,
maka saya kira manusia mencoba mencari jawaban melalui
pendekatan sekular.......), jelas menurut saya antara Islam dan
sekularisme tidak �ketemu�. Kecuali ada pengertian lain dari
sekular yang bisa dikompromikan, atau ada Islam yang �lain�
yang berkompromi dengan sekularisme. Namun Pak HermanSyah
sendiri mengatakan ...... Bahwasanya dalam proses berpikir
kreatif itu si manusia berpedoman pada keyakinan kepada
agamanya, dan karenanya memohon perlindungan dan petunjuk Yang
Maha Kuasa, tentu ini akan memberikan efek positif yang sangat
besar.......Pernyataan ini menjadi suatu �clue� bahwa pada dasarnya agama
tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan manusia.

Mari kita lihat firman berikut ini. Ketika Tuhan mengatakan: �
.......... Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat
dzarahpun, niscaya dia akan melihat balasannya dan barangsiapa
yang mengerjakan kejahatan seberat dzarahpun, niscaya dia akan
melihat balasannya pula.....QS Az Zalzalah 99: 7 � 8� Maka
�kebaikan� yang dimaksud bukan hanya sekedar shalat, shaum atau
kebaikan �agama�, namun di dalamnya termasuk kebaikan menjadi
peneliti AIDS, mengembangkan nuklir untuk damai dll. Demikian
pula �kejahatan� yang dimaksud, bukan sekedar kejahatan
�agama�, namun termasuk mengurangi timbangan, mark up proyek
atau kecurangan dalam pemilu. Wal hasil, Tuhan melihat semua
itu sebagai agama (Islam) yang akan diperhitungkan.
Sekularisme saya kira bukan kartu mati, mungkin dengan
penuturan yang labih santun dan gaya bahasa yang baik (tidak
seperti saya yang kadang ngawur), penangkapan orang akan lain.
Baiklah, dengan saya mengatakan bahwa Islam adalah �agama� dan
�dunia�, sebenarnya ada peluang untuk kita kompromi pada
masalah �dunia� yang menjadi obyek sekularisme. Soal prejudice
menurut saya hanya soal selera. Saat ini kalau Amerika bicara
HAM dan perdamaian dunia, sebagian orang akan  skeptis dan
prejudice. Tapi kalau memahami bingkai rujukannya, mungkin
prejudice tsb bisa dihilangkan atau dikurangi.
=============


Kelihatannya ini ide yang menarik.  Daripada Islam punya banyak
penganut
tapi sebagian besar 'bunglon', mendingan memang punya pengikut
sedikit
tapi berbobot dan bermanfaat untuk sekelilingnya.  Hanya saja
siapa yang
berhak memecat seseorang dari keyakinannya beragama Islam?  Saya
saja yang
barangkali sudah dibilang murtad ini, tidak bisa anda pecat dari
keislaman
saya kalau bukan saya sendiri yang melepaskannya.


================


Yang berhak memecat tentu saja �sistem�, yaitu suatu Islam yang
terlembagakan. Ketika Muhammad SAW masih hidup, beliaulah
sebagai representasi institusi, dan ketika zaman para khulafaur
rasyidin, ya merekalah yang memutuskan dengan dibantu dewan
ahli (ahlul hall wal �aqd). Contoh kasus, Umar bin Khotob
pernah memerangi �muslim� yang menolak membayar zakat.
Saya ingin mengatakan sekali lagi bahwa menjadi muslim itu
pilihan (choice) bukan karena keturunan yang bersifat pasti
(mandatory). Islam itu terdiri dari: pertama, ilmu pengetahuan,
dan kedua, pengamalan ilmu pengetahuan tersebut. Beda antara
muslim dengan bukan muslim adalah pengetahuan dan pengamalannya
mengenai Islam, misalnya tentang bagaimana hubungan antara
Tuhan dengan manusia dan sebaliknya. Seorang kulit putih tetap
kulit putih walaupun tidak memiliki pengetahuan, seorang
tionghoa, tetap tionghoa walaupun tidak memiliki pengetahuan.
Namun seseorang tidak akan menjadi muslim karena dilahirkan
dari orang tua yang muslim. Kalau seorang muslim tidak memiliki
pengetahuan akan kehendak Tuhan dan pengamalan mengenai Islam,
lalu atas dasar macam apa kita bisa membedakan antara muslim
dan non muslim???
Naudzubillahi min dzalik, tidak ada seorang pun diantara kita
yang mengatakan Pak HermanSyah murtad. Betapapun keislaman kita
(termasuk saya) belum baik atau sempurna, tidak boleh diantara
kita menyebut saudaranya atau dirinya sendiri murtad.

==========



Setuju, kalau kita ingin membangun negara yang demokratis ya
memang nggak
harus menang mutlak 100%.  Dengan memperoleh suara mayoritas kita
sudah
dianggap sah mewakili suara keseluruhan.  Ini juga sudah saya
singgung di
email saya yang terdahulu.  Tapi, anda kan tidak mau mendirikan
negara
Islam, melainkan negara Islami.  Dapatkah anda jelaskan seperti
apa negara
Islami yang anda maksud itu?

===========


Secara struktural tidak ada bedanya dengan negara pada umumnya,
bisa monarki, bisa united system, atau republik. Secara pribadi
saya lebih cocok dengan sistem republik. Yang membedakan dengan
negara pada umumnya adalah segala peraturan dan
perundang-undangannya merujuk kepada sumber Quran dan Sunnah.
Dengan demikian, sumber kedaulatan adalah dari Tuhan, sehingga
kedudukan manusia semuanya equal, sebagai wakil Tuhan untuk
memakmurkan bumi (khalifah fil ard), singkatnya begitu.

=============

Kalau negara Islami yang anda maksudkan adalah negara dimana a.l:
narkoba tidak boleh dipergunakan dengan alasan apapun,
pelacuran, lesbidan gay dianggap 'kriminal', sehingga harus dihukum, dsb.,
dst., wahmenurut saya ini amat tidak realistis, karena larangan2 dan
hukuman2 itumenurut saya bukanlah pemecahan terhadap masalah2 yang riil ada
didepan mata,yang berdasarkan ilmu pengetahuan bisa ditemukan
sebab musabab danakibatnya.
Saya sendiri jadi agak ngeri nih sama anda setelah membaca sedikit
berita tentang Iran yang menurut anda adalah contoh negara
Islam yang baik(lihat: http://www.hrw.org/reports/world/iran-pubs.php).  Jangan2,
anda pengikutnya Amrozi nih, ha ha ha, sorry...becanda!

============

Tidak ada pernyataan dalam Islam �dengan alasan apapun�, babi
yang haram saja bisa dimakan dengan alasan tertentu, apalagi
narkoba yang sudah jelas bermanfaat dalam kondisi �tertentu�.
Apabila ada sesuatu yang bertentangan dengan kepentingan publik
maka Islam akan melarangnya. Pelacuran, judi, homo, selama
tidak mengganggu kepentingan publik akan diperbolehkan.
Bayangan saya mirip di Genting Highland, namun semuanya tentu
saja diperuntukkan bagi non muslim yang menurut ajaran agamanya
hal tersebut diperbolehkan (seandainya ada, saya jadi penasaran
apakah ada kawan kita yang Kristen, Katolik, Hindu, Budha yang
bisa comment, apakah perzinaan, homo dan gay diperbolehkan?)
Saya ingin tanya Pak HermanSyah, mengapa ada UU anti korupsi,
UU Lalin yang melarang ini dan itu serta memberikan hukuman
bila melanggar anu? Kok Bapak mengatakan: ...... karena
larangan2 dan hukuman2 itu menurut saya bukanlah pemecahan
terhadap masalah2 yang riil ada didepan mata, yang berdasarkan
ilmu pengetahuan bisa ditemukan sebab musabab dan
akibatnya............
Tentang Amrozi, dia adalah pengikut saya he...he...he.



>Masalahnya adalah, apakah kita
>(terutama Muslim), siap untuk menyatakan bahwa sumber
>kekuasaan dan>kedaulatan itu Alloh Swt, yang berarti semua manusia equal.
>Tidak ada keharusan untuk menyebut "Negara Islam", itu instrumen
>saja,

Saya kira semua orang yang beragama Islam sudah mengakui itu.
Bahkan yang bukan beragama Islampun mengakui adanya kekuataan
yang maha agung, yang menciptakan alam semesta dan jagad raya
ini beserta isinya, yaitu Tuhan Yang Maha Kuasa.Kalau tidak perlu menyebut Negara 
Islam, nah berarti untuk kasus
Indonesia, Republik Indonesia 'saja'  tanpa embel2 Islam sudah pas
dan cukup dong ya.  Kalau begitu, sekarang bagaimana caranya
supayaorang2 yang jadi penghuni Republik Indonesia itu, baik yang
mengaturmaupun yang diatur mau dan dapat menjalankan tugas2
kehidupannya dengan segala sikap terpuji seperti yang diajarkan
agama.  Inilah saya kira yang perlu kita carikan pemecahannya.

===========


Saya kira Pak HermanSyah paham apa yang saya maksud mengenai
sumber kekuasaan dan kedaulan (lihat kembali paragraf
sebelumnya mengenai konsep negara Islami).  Kalau soal
�Pencipta�, Firaun saja yakin, bahkan iblis pun  lebih yakin
dari kita. Tapi mengapa Firaun dan Iblis dianggap kafir?Republik Indonesia saya kira 
cukup tanpa embel-embel Islam,
masalahnya kembali pada konsep negara Islami tadi.

===========





Tapi toch perempuan harus berjilbab juga.  Ini kan nggak adil
menurut
saya.  Kalau menurut logika saya yang lebih tepat adalah: Kalau
laki2
nggak bisa menahan nafsunya, lalu memperkosa si perempuan, maka si
laki2
itu musti masuk bui, kalau perlu dihukum mati, habis perkara!
Bukannya
si perempuannya yang musti pakai jilbab.  Lagipula di sisi lain,
apakah
kita tidak bisa melihat kecantikan seorang wanita itu sebagai
sesuatu yang
indah, sebagai salah satu karya besar Sang Maha Pencipta yang
patutdikagumi, tanpa embel2 nafsu?  Rasanya rendah sekali manusia itu
kalau
apa2 selalu dikaitkan dengan nafsu.  Kita kan sudah tidak hidup
dijaman
batu lagi?, yang rumahnya adalah gua2 gelap?,  yang lampunya
adalah obor?,


=============


Apakah kalau kita sudah merasa aman polisi atau tentara sudah
tidak diperlukan lagi. Amerika yang konon merasa sebagai negara
paling aman, tentaranya terbanyak di dunia. Ada kata bijak,
prevent better than cure.
Sekali-sekali baca Pos Kota atau Lampu Merah, apakah kita masih
dizaman batu itu, atau sudah zaman �modern�?
================



Menurut saya sudah saatnya sekarang ini Islam memperlakukan
manusia itu
sebagai manusia yang beradab.  Bukan sebagai manusia yang
mempunyai nafsu
hewani, yang sepanjang masa harus dipecuti.

===========

Saya jadi ingin tahu, konsep �bukan Islam� yang memperlakukan
manusia sebagai manusia yang beradab, mohon dijelaskan yah Pak.


Wassalam. DZArifin.




___________________________________________________________
indomail - Your everyday mail - http://indomail.indo.net.id



--[YONSATU - ITB]----------------------------------------------------------
Online archive : <http://yonsatu.mahawarman.net>
Moderators     : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Unsubscribe    : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Vacation       : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>


Kirim email ke