Hello rekan Doedoeng,
Kayaknya diskusi yang ini juga perlu cease fire deh.  Berikut tanggapan 
terakhir saya.

>Hadits ini
>disepakati oleh jumhur (mayoritas) ulama sebagai petunjuk
>dibukanya pintu ijtihad (eksplorasi akal) dalam memutuskan
>perkara yang secara nash tidak terdapat dalam Quran dan Hadits.
>Dan menjadi dalil bagi bersatunya (integralnya) antara Quran
>dan akal atau "agama" (dalam tanda kutip sebagai dogma atau
>keyakinan) dan iptek.

Iya, boleh2 saja kita pertama2 mengacu ke Qur'an, lalu kalau tidak 
menemukan jawaban maka mencontoh perbuatan Nabi.  Kalau tidak ada juga 
contoh2 Nabi yang pas, baru menggunakan nalar.  Ini kan hanya masalah 
metodologi.  Metodologi itu kan bisa macam2.  Nggak apa2, selama akhirnya 
toch solusi yang diinginkan tercapai.

Dalam sekularisme, metodologi memecahkan persoalannya adalah dengan tidak 
mengikut sertakan agama, tapi langsung kepada nalar manusia.  Namun bukan 
berarti kita tidak boleh beragama.  Agama yang terbukti telah memperkaya 
jiwa seseorang tentu disambut hangat, hanya saja ia diletakkan digaris 
belakang sebagai pagar kesucian hati kita masing2.

>Fenomena korupsi dan kejahatan sosial lainnya, menurut saya,
>antara lain karena menurut pelaku di luar mesjid, gereja,
>sinagog, vihara, klenteng dll, Tuhan tidak terlibat atau bahkan
>tidak ada.

Ah, ya nggak juga.  Buktinya kan kata pak ABS, orang2 dilingkungan 
Khameini malah justru korupsinya gila2an, sekalipun ini memang baru berita 
dari satu sisi.  Tapi di Indonesia sendiri kita bisa lihat, bahwa betapa 
banyak orang2 yang menyapa dengan Assalammualaikaum Wr.WB, betapa banyak 
orang yang kalau membeli makanan melihat dulu halal nggaknya, betapa 
banyak orang yang mengomentari orang lain karena tidak mengenakan pakaian 
muslim, yang saya artikan ini sebagai sadar akan agamanya, toch kalau ada 
kesempatan melakukan tindakan2 yang tidak terpuji, ya melakukan juga.

Menurut saya, hanya hukum yang diterapkan secara konsisten dan tanpa 
pandang bulu lahyang bisa memberantas perilaku jahat itu.  Kalau hanya 
sekedar agama, sudah terbukti, nggak akan jalan lah.

Barangkali yg jadi masalah sekarang adalah hukum apa yang musti 
diterapkan?  Hukum Islamkah, hukum agama lainkah, atau hukum sekular? 

>Dari mana Pak HermanSyah tahu bahwa "sudah pasti" bertentangan
>dengan agama? 

Setahu saya munculnya fatwa yang memperbolehkan penggunaan kondom untuk 
alasan KB terjadi setelah melalui proses pro-konta di kalangan para ulama, 
karena ada yang berpendapat itu tidak dibenarkan oleh Qur'an, tapi ada 
yang berpendapat 'memang tidak dibenarkan, tapi....'.  Makanya keluarlah 
fatwa yang membolehkan penggunaan kondom tapi....hanya untuk KB.  En toch 
tetap saja, penggunaan kondom ini pada intinya dilarang oleh Islam (dan 
juga oleh Katholik setahu saya, nggak tahu Kristen), dus bertentangan 
dengan agama.

>Misal, penggunaan kondom dalam berhubungan sex
>dengan istri semua ulama sepakat boleh, tapi kalau untuk
>berzina atau homosex saya kira bukan cuma Islam, semua agama
>juga pasti melarang (atau ada agama lain yang membolehkan???).

Dalam pendekatan sekular, jadi bukan agama, penggunaan kondom tidak melulu 
harus dilihat dalam kerangka melakukan KB.  Penggunaan kondom untuk 
mencegah kehamilan yang tidak diinginkan diluar KB boleh-boleh saja. Dalam 
pendekatan sekular istilah 'berzina' dalam pengertian 'najis' itu tidak 
ada, karena setiap individu bebas melakukan apa saja yang ia ingin lakukan 
selama hal itu tidak merugikan diri sendiri dan sekelilingnya. Dalam 
pendekatan sekular, moralitas lah yang menjadi dinding2 pembatas pemecahan 
suatu masalah atau atas boleh tidaknya sesuatu dilakukan.  Dan moralitas 
ini ditentukan oleh nilai2, norma2 dan keyakinan (termasuk agama) yang 
dianut oleh masyarakat tsb. dalam kurun waktu tertentu.

>Tentang kelahiran bayi yang tidak diinginkan (apa definisi
>tidak diinginkan ini?), kalau misalnya dengan mempertahankan
>kehamilan akan menyebabkan salah satu meninggal (ibu atau
>anak), maka dalam Islam berlaku kaidah ushul fiqh yang
>mengatakan "yang pasti mengalahkan yang belum pasti", artinya
>kehidupan si ibu harus didahulukan dari pada mempertahankan si
>bayi yang belum pasti kehidupannya.

Iya, ini sih saya setuju memang bener ada.  Cuman ini kan tindakan 
kuratif, untuk menyelamatkan nyawa si ibu.  Lha usaha preventif yang 
diberikan agama apa?  Kan nggak ada selain hanya melarang dan mengancam 
saja.  Taruhlah misalnya memang di Kitab suci hal itu nggak ada, tapi 
apakah ada sunnah2 nabi mengenai hal ini?  Taruhlah lagi sunnah2 nabi 
nggak ada, maka berarti kita musti menggunakan nalar untuk memecahkan hal 
ini, maka akhirnya muncullah 'sex education' untuk kalangan remaja. 
Intinya adalah untuk melindungi remaja2 kita itu dari 'kebobolan' karena 
tidak bisa menahan diri dalam pergaulannya.  Tapi, seberapa besar 'sex 
education' yang classic bisa menekan tingginya kelahiran bayi yang tak 
diinginkan atau tingginya aborsi?  Ternyata tidak sesuai dengan harapan. 
Makanya di negara2 sekular maju mereka meningkatkan 'sex education' untuk 
remaja itu dengan menambahkan konsep 'safe sex'.  Mereka mengatakan bahwa 
sex adalah sesuatu yang wajar, sesuatu yang menyenangkan, sesuatu yang 
indah, tapi lakukanlah sex secara aman, pergunakanlah alat kontrasepsi, 
lebih baik safe sex daripada aborsi, begitu informasi yang disampaikan.

Saya kira semua agama menentang propaganda macam ini, paling tidak Islam, 
Kristen dan Katholik.  Bahkan dalam agama Katholik, kesetiaan dan 
kerukunan hidup berumah tangga adalah salah satu pilar kehidupan yang 
tidak bisa ditawar-tawar lagi.

Tapi, ancaman atas keselamatan remaja sedemikian tinggi, dan remaja masa 
kini adalah dunia masa depan, maka apa yang harus dilakukan, sementara 
akhirnya toch harus nalar juga yang berbicara setelah kitab suci dan 
sunnah2 nabi tidak dapat memberikan pemecahan?

Disinilah sekularisme mengambil sikap, bahwa demi masa depan dunia 
(sebagai contoh), maka para remaja diseluruh dunia harus diselamatkan. 
Mereka harus diberi penerangan yang tepat mengenai kehidupan sex.  Oleh 
karenanya pendidikan sex harus gamblang, harus tepat sasaran dan harus 
jujur.  Masalah2 moralitas dan keyakinan dikembalikan sepenuhnya kepada 
institusi2 agama, lingkungan sosial dan keluarga.

>jelas menurut saya antara Islam dan
>sekularisme tidak 'ketemu'. Kecuali ada pengertian lain dari
>sekular yang bisa dikompromikan, atau ada Islam yang "lain"
>yang berkompromi dengan sekularisme. 

Bahwasanya konsep sekular dan islam tidak ketemu, menurut saya itu 
tergantung bagaimana kita melihatnya.  Kalau cara pandang kita adalah 
bahwa nomor satu adalah Tuhan, lalu nabi baru terakhir manusia, maka ini 
memang akan nggak ketemu.  Tapi kalau cara pandang kita adalah bahwa Tuhan 
dan nabi adalah inspirator dan pagar moral kita, sekalipun nalar kita 
letakkan di garda terdepan, saya kira sekularisme dan Islam tidak akan 
bertentangan.  Saya melihatnya ini hanya permainan kata2 saja.

>Namun Pak HermanSyah
>sendiri mengatakan ...... Bahwasanya dalam proses berpikir
>kreatif itu si manusia berpedoman pada keyakinan kepada
>agamanya, dan karenanya memohon perlindungan dan petunjuk Yang
>Maha Kuasa, tentu ini akan memberikan efek positif yang sangat
>besar.......Pernyataan ini menjadi suatu 'clue' bahwa pada dasarnya agama
>tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan manusia.

Ya menurut saya juga begitu.  Kalau agama2 besar dunia terbukti bisa 
bertahan selama ribuan tahun, maka saya tidak akan heran kalau mereka 
masih bisa bertahan untuk ratusan bahkan ribuan tahun lagi.  Dan, ini 
nggak apa2 kan.  Malah bagus, karena manusia masih memiliki opsi dalam 
memilih dan menentukan pagar hati nurani mereka.

>Baiklah, dengan saya mengatakan bahwa Islam adalah "agama" dan
>"dunia", sebenarnya ada peluang untuk kita kompromi pada
>masalah "dunia" yang menjadi obyek sekularisme. 

Saya kira kan kuncinya ya disini ini, yaitu maukah kita bersikap terbuka 
terhadap berbagai macam pemikiran dan pendekatan dalam memecahkan masalah2 
duniawi, atau segala sesuatunya sudah merupakan kartu mati.  Yang 
seringkali membuat Islam itu terbelakang dibandingkan agama2 lain, adalah 
karena sikap yang sangat kaku dan tertutup itu.  Makanya telepon genggam 
yang bisa memunculkan arah Kaabah malah ditemukan oleh insinyur yang bukan 
beragama Islam, ha ha ha.

>Kalau seorang muslim tidak memiliki
>pengetahuan akan kehendak Tuhan dan pengamalan mengenai Islam,
>lalu atas dasar macam apa kita bisa membedakan antara muslim
>dan non muslim???

Apakah membeda-bedakan manusia didunia itu memang perlu?  Kalau untuk 
akhirat, yah itu kita serahkan saja kepada keyakinan kita masing2.  Nggak 
perlu kita tonjol2kan bahwa kita Islam, kita Kristen, kita Katholik, kita 
Hindu, kita Budha, dst..., buat apa?  Hanya menciptakan pertentangan saja.

>Naudzubillahi min dzalik, tidak ada seorang pun diantara kita
>yang mengatakan Pak HermanSyah murtad. Betapapun keislaman kita
>(termasuk saya) belum baik atau sempurna, tidak boleh diantara
>kita menyebut saudaranya atau dirinya sendiri murtad.

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.  Sesungguhnyalah Ia Maha 
Pengasih dan Maha Penyayang.

>Secara pribadi
>saya lebih cocok dengan sistem republik. Yang membedakan dengan
>negara pada umumnya adalah segala peraturan dan
>perundang-undangannya merujuk kepada sumber Quran dan Sunnah.
>Dengan demikian, sumber kedaulatan adalah dari Tuhan, sehingga
>kedudukan manusia semuanya equal, sebagai wakil Tuhan untuk
>memakmurkan bumi (khalifah fil ard), singkatnya begitu.

Ini kan maunya anda, maunya orang lain bisa lain lagi.  Tapi, kalau ini 
merupakan keyakinan politik anda, di republik yang demokratis ini anda 
bebas menyampaikannya ke muka publik.  Tapi, kalau ini hanya harapan saja, 
ya...boleh2 juga, asal anda nggak frustrasi karenanya.  Karena kalau anda 
frustrasi nanti bisa pasang bom dimana2 ha ha ha.  Padahal Republik 
Indonesia ini perlu orang2 hebat seperti anda untuk membangun negeri ini 
bersama2 dengan anggota masyarakat lainnya, apapun agamanya, sukunya, 
alirannya atau latar belakangnya.

>Saya ingin tanya Pak HermanSyah, mengapa ada UU anti korupsi,
>UU Lalin yang melarang ini dan itu serta memberikan hukuman
>bila melanggar anu? Kok Bapak mengatakan: ...... karena
>larangan2 dan hukuman2 itu menurut saya bukanlah pemecahan
>terhadap masalah2 yang riil ada didepan mata, yang berdasarkan
>ilmu pengetahuan bisa ditemukan sebab musabab dan
>akibatnya............

Oo, maksud saya begini, di kitab suci kita kan hanya membaca larangan2 dan 
perintah2 saja, tapi tidak diberitahu bagaimana mencegah atau mengatasi 
suatu masalah.  Misalnya, pelarangan penggunaan kondom.  Tapi, bagaimana 
kalau korban2 HIV/AIDS meningkat , apakah kitab suci memberikan cara 
pemecahannya? Sementara dilain pihak penggunaan kondom dilarang.  Yang 
membolehkan penggunaan kondom itu kan karena kita akhirnya menggunakan 
'nalar' juga.

Jadi, yang saya mau tekankan itu sebenarnya adalah larangan2 yang 
dikeluarkan agama itu belum tentu bisa menjadi solusi atas masalah2 
duniawi.
Akhirnya nalar jugalah yang harus berbicara, karena dengan nalar kita bisa 
mencari hubungan sebab-akibat dan musabab suatu persoalan secara nyata, 
dus tidak 'intangible'.

UU anti korupsi, UU Lalin dan produk2 hukum lainnya memang dibuat untuk 
memecahkan masalah duniawi yang ada.  Jadi ini bukan sekedar larangan 
tidak boleh ini tidak boleh itu, karena kalau itu dilakukan akan masuk 
neraka, tapi adalah aturan main yang hubungan sebab-akibat, musabab dan 
sangsinya kongkret.

>Saya kira Pak HermanSyah paham apa yang saya maksud mengenai
>sumber kekuasaan dan kedaulan (lihat kembali paragraf
>sebelumnya mengenai konsep negara Islami).  Kalau soal
>"Pencipta", Firaun saja yakin, bahkan iblis pun  lebih yakin
>dari kita. Tapi mengapa Firaun dan Iblis dianggap kafir?

Ha ha ha, pak Doedoeng, inilah yang membuat pembahasan agama dan 
mengaitkan agama dengan masalah2 dunia itu mbulet nggak habis2nya. Soalnya 
ujung2nya akan muncul tuntutan, 'ya akui Tuhan gue dong, karena Tuhan gue 
yang paling bener'.... Inilah yang tidak diinginkan oleh pendekatan 
sekular.  Ngapain sih kita bikin susah hidup yang sudah sulit dan penuh 
penderitaan ini?  Apakah nggak cukup perselisihan dan korban2 tak berdosa 
bergelimpangan hanya gara2 definisi Tuhan Yang Maha Kuasa?  Apakah kita 
ingin kembali hidup ke jaman perang salib?

>Apakah kalau kita sudah merasa aman polisi atau tentara sudah
>tidak diperlukan lagi. Amerika yang konon merasa sebagai negara
>paling aman, tentaranya terbanyak di dunia. Ada kata bijak,
>prevent better than cure.

Iya setuju.  Tapi tindakan preventif yang berat sebelah bukanlah tindakan 
preventif yang adil.  Lagipula, siapa yang bisa menjamin bhw dengan 
berjilbab perzinahan dan pelacuran bisa dihapuskan begitu saja?  Dalam 
laut dapat diukur, dalam hati siapa tahu!

>Saya jadi ingin tahu, konsep "bukan Islam" yang memperlakukan
>manusia sebagai manusia yang beradab, mohon dijelaskan yah Pak.

Salah satunya anda bisa lihat di: http://www.jcn.com/humanism.html.

>Sekali-sekali baca Pos Kota atau Lampu Merah, apakah kita masih
>dizaman batu itu, atau sudah zaman "modern"?

Ini karena masyarakat kita sendiri (yang dipengaruhi oleh tokoh2 
masyarakat dan pemimpin umat) yang tidak mau memajukan dirinya, yang 
membiarkan dirinya hidup di jaman batu. 

Saya kira sudah saatnya daya nalar seluruh rakyat Indonesia segera 
ditingkatkan.  Sudah saatnya Rakyat Indonesia harus disadarkan dari 
'kebodohannya'.
Jangan tunggu lagi sampai kita terpuruk ke jaman es!

Jadi, cease fire ya,
Salam hangat,
HermanSyah XIV.








<[EMAIL PROTECTED]>
11/11/2003 05:22
Please respond to yonsatu

 
        To:     <[EMAIL PROTECTED]>
        cc: 
        Subject:        [yonsatu] Re: Sekularisme


AWW.

From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED]

Menurut saya, tanpa atau dengan agama manusia akan terus
menerus mencari jawaban mengenai alam  semesta dan kehidupan
ini, yang akan berakibat pada berkembangnya ilmu  pengetahuan
dan teknologi.

==============


Saya setuju bahwa dengan atau tanpa agama manusia akan
senantiasa menjelajah makro kosmos dan mikro kosmos (dirinya),
fenomena penciptaan, keadilan, dan kebangkitan setelah
kematian, termasuk tentang adanya "sesuatu" yang berada di
balik ini semua. Dan bila mengikuti alur logika "Sejarah
Tuhan", alih-alih Tuhan menciptakan manusia, malah sesungguhnya
manusialah yang menciptakan Tuhan sebagai respon
ketidakberdayaannya terhadap alam dan berbagai masalah yang
tidak sanggup dihadapinya. Sigmund Freud mengatakannya sebagai
universal obessional neurosis (proyeksi dari keinginan waktu
kita anak-anak).
Supaya kita tidak ngelantur, kita fokus kembali pada masalah
sekularisme dan Islam, dengan pengertian apakah urusan agama
(Islam) terpisah dengan urusan dunia atau sebaliknya, urusan
agama adalah urusan dunia juga atau dpl urusan dunia adalah
urusan agama juga.

===============


Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi itu suatu saat pasti
akan bersinggungan dengan prinsip2 moral yang dianut, seperti
yang kitasudah lihat sendiri seperti misalnya: apakah bom atom boleh
digunakan,apakah clonning, abortus, euthanasia boleh dilakukan, apakah
kondom untukmencegah HIV/AIDS boleh dipergunakan, apakah Keluarga 
Bercelana,
eh.. Berencana boleh dilakukan, dsb.,..dst.  Sudah pasti
pelaksanaan hal2diatas bertentangan dengan agama, akan tetapi, agama tidak
memberikanjawaban bagaimana mencegah meningkatnya korban HIV/AIDS, 
bagaimana
mencegah meningkatnya kelahiran bayi2 yang tidak inginkan beserta
ibu2 muda tanpa masa depan yang menjadi korbannya itu, dst., dsb.,
kecuali hanya melarang dan melarang, sementara kita tahu
manusia itu tidakbisa dilarang, dan tidak setiap orang dapat mengendalikan
nafsunya, lalumemandang lurus kedepan, tidak lirik kiri kanan dan dada
dibusungkanseperti rekan Doedoeng bilang.  Padahal, larang melarang ini 
sudah
pakai ancaman masuk neraka segala, dgn imbalan dikelilingi
bidadari yangcantik2 dengan sungai2 yang dialiri susu.  (Dalam hati saya
bertanya2,kenapa kok imbalannya musti bidadari yang cantik2?, lalu kenapa
nggak adabidadara yang tampan2?)


===============

Pertama, saya ingin mengatakan bahwa Al Quran dan Al Sunnah
bukanlah ensiklopedi apalagi manual pencegahan HIV/AIDS atau
juknis aborsi. Bila dikatakan Islam tidak mencegah dalam arti
memberikan warning pencegahan HIV atau VD jelas salah. Islam
sangat menentang hal-hal yang dapat menjerumuskan manusia
kepada hal tsb. Namun apakah AQ menjelaskan dosis penisilin
yang harus diberikan kepada pasein VD jelas sia-sia pencarian
tersebut. Menurut jalan pikiran Pak HermanSyah, dengan kasus
itu menjadi bukti bahwa agama (AQ) tidak bisa mengatasi
persoalan dunia. Di sinilah letak perbedaan sudut pandang
antara Islam dengan sekularisme (sekali lagi saya ungkapkan).
Ada hadits yang sangat terkenal ketika Rasululloh mengutus
Muadz bin Jabal menjadi hakim di Syiria (kalau tidak salah).
Dia ditanya oleh Rasululloh, dengan apa wahai Muadz engkau akan
memutuskan satu perkara? Dengan nash Quran, jawab Muadz. Lantas
bagaimana kalau engkau tidak mendapati nash tersebut? Saya akan
putuskan sesuai dengan contoh engkau ya Rasululloh. Lalu
bagaimana bila engkau tidak mendapati aku memutuskan perkara
tersebut? Aku akan menggunakan nalarku. Maka jawab Rasululloh,
"Beruntunglah engkau wahai utusan Rasululloh". Hadits ini
disepakati oleh jumhur (mayoritas) ulama sebagai petunjuk
dibukanya pintu ijtihad (eksplorasi akal) dalam memutuskan
perkara yang secara nash tidak terdapat dalam Quran dan Hadits.
Dan menjadi dalil bagi bersatunya (integralnya) antara Quran
dan akal atau "agama" (dalam tanda kutip sebagai dogma atau
keyakinan) dan iptek.
Dalam hadits yang lain disebutkan pula bahwa "apabila kita
hendak melakukan sesuatu kebaikan, maka hendaknya dimulai
dengan basmallah (in the name of Alloh), kalau tidak maka
pahalanya tertolak". Ini jelas sekali bahwa semua aspek
kehidupan dalam Islam berada dalam lingkup agama. Ketika Pak
HermanSyah menulis komentar untuk saya dengan keyakinan bahwa
akan memberikan kemaslahatan bagi umat manusia, dan Pak
HermanSyah memulainya dengan basmallah, maka itu akan menjadi
pahala atau kebajikan.
Fenomena korupsi dan kejahatan sosial lainnya, menurut saya,
antara lain karena menurut pelaku di luar mesjid, gereja,
sinagog, vihara, klenteng dll, Tuhan tidak terlibat atau bahkan
tidak ada.
Pernyataan Pak HermanSyah berikut ...... apakah kondom untuk
mencegah HIV/AIDS boleh dipergunakan, apakah Keluarga
Bercelana,eh.. Berencana boleh dilakukan, dsb.,..dst.  Sudah pasti
pelaksanaan hal2diatas bertentangan dengan agama, akan tetapi, agama tidak
memberikan jawaban bagaimana mencegah meningkatnya korban
HIV/AIDS, bagaimana mencegah meningkatnya kelahiran bayi2 yang
tidak inginkan beserta ibu2 muda tanpa masa depan yang menjadi
korbannya itu, dst., dsb.,......
Dari mana Pak HermanSyah tahu bahwa "sudah pasti" bertentangan
dengan agama? Misal, penggunaan kondom dalam berhubungan sex
dengan istri semua ulama sepakat boleh, tapi kalau untuk
berzina atau homosex saya kira bukan cuma Islam, semua agama
juga pasti melarang (atau ada agama lain yang membolehkan???).
Tentang kelahiran bayi yang tidak diinginkan (apa definisi
tidak diinginkan ini?), kalau misalnya dengan mempertahankan
kehamilan akan menyebabkan salah satu meninggal (ibu atau
anak), maka dalam Islam berlaku kaidah ushul fiqh yang
mengatakan "yang pasti mengalahkan yang belum pasti", artinya
kehidupan si ibu harus didahulukan dari pada mempertahankan si
bayi yang belum pasti kehidupannya.
Tentang larangan atau perintah, apa bedanya dengan pernyataan
"dilarang korupsi atau diperintahkan untuk masuk kantor mulai
jam 09.00". Orang bebas untuk mengikuti atau menolak, tapi
tentu ada konsekwensinya atas apa yang diputuskannya tersebut.
Mengenai bidadari, saya juga belum tuntas memahami Quran, namun
tentang bidadara bisa dilihat pada QS Al Waaqi'ah (56:17):
mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda
(bidadara yang tampan). Perlu diingat bahwa penterjemahan Quran
sangat dipengaruhi oleh budaya setempat yang "berat sebelah"
terhadap laki-laki, sehingga seakan-akan pahala itu
iming-imingnya bidadari tok.

================



Barangkali inilah yang seringkali menjadi sebab sering timbulnya
konflik,
kesalah pahaman, dan prejudice terhadap Islam, karena para
ulamanya, atau
orang2 yang mengaku/dianggap sebagai ulama seringkali memberikan
kartu
mati dan menutup kemungkinan adanya orientasi dan cara berpikir
lain.
Agama2 lain setahu saya juga ketat pada aturan2 mereka, akan
tetapi mereka
tidak punya masalah apalagi mempertentangkan konsep sekularisme
dengan
keyakinan mereka.  Barangkali rekan2 yang beragama
Kristen/Katholik, Hindu
dan Budha bisa memberikan masukannya dalam hal ini.


===============

Sejauh pengertian sekularisme diartikan secara praktis sebagai
konsep memisahkan "agama" dari kehidupan dunia (berdasarkan
pemahaman saya atas kalimat ini:....... Untuk mengatasi
problem2 kongkret yang jawabannya tidak ada di agama itulah,
maka saya kira manusia mencoba mencari jawaban melalui
pendekatan sekular.......), jelas menurut saya antara Islam dan
sekularisme tidak 'ketemu'. Kecuali ada pengertian lain dari
sekular yang bisa dikompromikan, atau ada Islam yang "lain"
yang berkompromi dengan sekularisme. Namun Pak HermanSyah
sendiri mengatakan ...... Bahwasanya dalam proses berpikir
kreatif itu si manusia berpedoman pada keyakinan kepada
agamanya, dan karenanya memohon perlindungan dan petunjuk Yang
Maha Kuasa, tentu ini akan memberikan efek positif yang sangat
besar.......Pernyataan ini menjadi suatu 'clue' bahwa pada dasarnya agama
tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan manusia.

Mari kita lihat firman berikut ini. Ketika Tuhan mengatakan: "
.......... Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat
dzarahpun, niscaya dia akan melihat balasannya dan barangsiapa
yang mengerjakan kejahatan seberat dzarahpun, niscaya dia akan
melihat balasannya pula.....QS Az Zalzalah 99: 7 ? 8" Maka
"kebaikan" yang dimaksud bukan hanya sekedar shalat, shaum atau
kebaikan "agama", namun di dalamnya termasuk kebaikan menjadi
peneliti AIDS, mengembangkan nuklir untuk damai dll. Demikian
pula "kejahatan" yang dimaksud, bukan sekedar kejahatan
"agama", namun termasuk mengurangi timbangan, mark up proyek
atau kecurangan dalam pemilu. Wal hasil, Tuhan melihat semua
itu sebagai agama (Islam) yang akan diperhitungkan.
Sekularisme saya kira bukan kartu mati, mungkin dengan
penuturan yang labih santun dan gaya bahasa yang baik (tidak
seperti saya yang kadang ngawur), penangkapan orang akan lain.
Baiklah, dengan saya mengatakan bahwa Islam adalah "agama" dan
"dunia", sebenarnya ada peluang untuk kita kompromi pada
masalah "dunia" yang menjadi obyek sekularisme. Soal prejudice
menurut saya hanya soal selera. Saat ini kalau Amerika bicara
HAM dan perdamaian dunia, sebagian orang akan  skeptis dan
prejudice. Tapi kalau memahami bingkai rujukannya, mungkin
prejudice tsb bisa dihilangkan atau dikurangi.
=============


Kelihatannya ini ide yang menarik.  Daripada Islam punya banyak
penganut
tapi sebagian besar 'bunglon', mendingan memang punya pengikut
sedikit
tapi berbobot dan bermanfaat untuk sekelilingnya.  Hanya saja
siapa yang
berhak memecat seseorang dari keyakinannya beragama Islam?  Saya
saja yang
barangkali sudah dibilang murtad ini, tidak bisa anda pecat dari
keislaman
saya kalau bukan saya sendiri yang melepaskannya.


================


Yang berhak memecat tentu saja "sistem", yaitu suatu Islam yang
terlembagakan. Ketika Muhammad SAW masih hidup, beliaulah
sebagai representasi institusi, dan ketika zaman para khulafaur
rasyidin, ya merekalah yang memutuskan dengan dibantu dewan
ahli (ahlul hall wal 'aqd). Contoh kasus, Umar bin Khotob
pernah memerangi "muslim" yang menolak membayar zakat.
Saya ingin mengatakan sekali lagi bahwa menjadi muslim itu
pilihan (choice) bukan karena keturunan yang bersifat pasti
(mandatory). Islam itu terdiri dari: pertama, ilmu pengetahuan,
dan kedua, pengamalan ilmu pengetahuan tersebut. Beda antara
muslim dengan bukan muslim adalah pengetahuan dan pengamalannya
mengenai Islam, misalnya tentang bagaimana hubungan antara
Tuhan dengan manusia dan sebaliknya. Seorang kulit putih tetap
kulit putih walaupun tidak memiliki pengetahuan, seorang
tionghoa, tetap tionghoa walaupun tidak memiliki pengetahuan.
Namun seseorang tidak akan menjadi muslim karena dilahirkan
dari orang tua yang muslim. Kalau seorang muslim tidak memiliki
pengetahuan akan kehendak Tuhan dan pengamalan mengenai Islam,
lalu atas dasar macam apa kita bisa membedakan antara muslim
dan non muslim???
Naudzubillahi min dzalik, tidak ada seorang pun diantara kita
yang mengatakan Pak HermanSyah murtad. Betapapun keislaman kita
(termasuk saya) belum baik atau sempurna, tidak boleh diantara
kita menyebut saudaranya atau dirinya sendiri murtad.

==========



Setuju, kalau kita ingin membangun negara yang demokratis ya
memang nggak
harus menang mutlak 100%.  Dengan memperoleh suara mayoritas kita
sudah
dianggap sah mewakili suara keseluruhan.  Ini juga sudah saya
singgung di
email saya yang terdahulu.  Tapi, anda kan tidak mau mendirikan
negara
Islam, melainkan negara Islami.  Dapatkah anda jelaskan seperti
apa negara
Islami yang anda maksud itu?

===========


Secara struktural tidak ada bedanya dengan negara pada umumnya,
bisa monarki, bisa united system, atau republik. Secara pribadi
saya lebih cocok dengan sistem republik. Yang membedakan dengan
negara pada umumnya adalah segala peraturan dan
perundang-undangannya merujuk kepada sumber Quran dan Sunnah.
Dengan demikian, sumber kedaulatan adalah dari Tuhan, sehingga
kedudukan manusia semuanya equal, sebagai wakil Tuhan untuk
memakmurkan bumi (khalifah fil ard), singkatnya begitu.

=============

Kalau negara Islami yang anda maksudkan adalah negara dimana a.l:
narkoba tidak boleh dipergunakan dengan alasan apapun,
pelacuran, lesbidan gay dianggap 'kriminal', sehingga harus dihukum, dsb.,
dst., wahmenurut saya ini amat tidak realistis, karena larangan2 dan
hukuman2 itumenurut saya bukanlah pemecahan terhadap masalah2 yang riil 
ada
didepan mata,yang berdasarkan ilmu pengetahuan bisa ditemukan
sebab musabab danakibatnya.
Saya sendiri jadi agak ngeri nih sama anda setelah membaca sedikit
berita tentang Iran yang menurut anda adalah contoh negara
Islam yang baik(lihat: http://www.hrw.org/reports/world/iran-pubs.php).  Jangan2,
anda pengikutnya Amrozi nih, ha ha ha, sorry...becanda!

============

Tidak ada pernyataan dalam Islam "dengan alasan apapun", babi
yang haram saja bisa dimakan dengan alasan tertentu, apalagi
narkoba yang sudah jelas bermanfaat dalam kondisi "tertentu".
Apabila ada sesuatu yang bertentangan dengan kepentingan publik
maka Islam akan melarangnya. Pelacuran, judi, homo, selama
tidak mengganggu kepentingan publik akan diperbolehkan.
Bayangan saya mirip di Genting Highland, namun semuanya tentu
saja diperuntukkan bagi non muslim yang menurut ajaran agamanya
hal tersebut diperbolehkan (seandainya ada, saya jadi penasaran
apakah ada kawan kita yang Kristen, Katolik, Hindu, Budha yang
bisa comment, apakah perzinaan, homo dan gay diperbolehkan?)
Saya ingin tanya Pak HermanSyah, mengapa ada UU anti korupsi,
UU Lalin yang melarang ini dan itu serta memberikan hukuman
bila melanggar anu? Kok Bapak mengatakan: ...... karena
larangan2 dan hukuman2 itu menurut saya bukanlah pemecahan
terhadap masalah2 yang riil ada didepan mata, yang berdasarkan
ilmu pengetahuan bisa ditemukan sebab musabab dan
akibatnya............
Tentang Amrozi, dia adalah pengikut saya he...he...he.



>Masalahnya adalah, apakah kita
>(terutama Muslim), siap untuk menyatakan bahwa sumber
>kekuasaan dan>kedaulatan itu Alloh Swt, yang berarti semua manusia equal.
>Tidak ada keharusan untuk menyebut "Negara Islam", itu instrumen
>saja,

Saya kira semua orang yang beragama Islam sudah mengakui itu.
Bahkan yang bukan beragama Islampun mengakui adanya kekuataan
yang maha agung, yang menciptakan alam semesta dan jagad raya
ini beserta isinya, yaitu Tuhan Yang Maha Kuasa.Kalau tidak perlu menyebut 
Negara Islam, nah berarti untuk kasus
Indonesia, Republik Indonesia 'saja'  tanpa embel2 Islam sudah pas
dan cukup dong ya.  Kalau begitu, sekarang bagaimana caranya
supayaorang2 yang jadi penghuni Republik Indonesia itu, baik yang
mengaturmaupun yang diatur mau dan dapat menjalankan tugas2
kehidupannya dengan segala sikap terpuji seperti yang diajarkan
agama.  Inilah saya kira yang perlu kita carikan pemecahannya.

===========


Saya kira Pak HermanSyah paham apa yang saya maksud mengenai
sumber kekuasaan dan kedaulan (lihat kembali paragraf
sebelumnya mengenai konsep negara Islami).  Kalau soal
"Pencipta", Firaun saja yakin, bahkan iblis pun  lebih yakin
dari kita. Tapi mengapa Firaun dan Iblis dianggap kafir?Republik Indonesia 
saya kira cukup tanpa embel-embel Islam,
masalahnya kembali pada konsep negara Islami tadi.

===========





Tapi toch perempuan harus berjilbab juga.  Ini kan nggak adil
menurut
saya.  Kalau menurut logika saya yang lebih tepat adalah: Kalau
laki2
nggak bisa menahan nafsunya, lalu memperkosa si perempuan, maka si
laki2
itu musti masuk bui, kalau perlu dihukum mati, habis perkara!
Bukannya
si perempuannya yang musti pakai jilbab.  Lagipula di sisi lain,
apakah
kita tidak bisa melihat kecantikan seorang wanita itu sebagai
sesuatu yang
indah, sebagai salah satu karya besar Sang Maha Pencipta yang
patutdikagumi, tanpa embel2 nafsu?  Rasanya rendah sekali manusia itu
kalau
apa2 selalu dikaitkan dengan nafsu.  Kita kan sudah tidak hidup
dijaman
batu lagi?, yang rumahnya adalah gua2 gelap?,  yang lampunya
adalah obor?,


=============


Apakah kalau kita sudah merasa aman polisi atau tentara sudah
tidak diperlukan lagi. Amerika yang konon merasa sebagai negara
paling aman, tentaranya terbanyak di dunia. Ada kata bijak,
prevent better than cure.
Sekali-sekali baca Pos Kota atau Lampu Merah, apakah kita masih
dizaman batu itu, atau sudah zaman "modern"?
================



Menurut saya sudah saatnya sekarang ini Islam memperlakukan
manusia itu
sebagai manusia yang beradab.  Bukan sebagai manusia yang
mempunyai nafsu
hewani, yang sepanjang masa harus dipecuti.

===========

Saya jadi ingin tahu, konsep "bukan Islam" yang memperlakukan
manusia sebagai manusia yang beradab, mohon dijelaskan yah Pak.


Wassalam. DZArifin.




___________________________________________________________
indomail - Your everyday mail - http://indomail.indo.net.id



--[YONSATU - 
ITB]----------------------------------------------------------
Online archive : <http://yonsatu.mahawarman.net>
Moderators     : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Unsubscribe    : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Vacation       : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>





--[YONSATU - ITB]----------------------------------------------------------
Online archive : <http://yonsatu.mahawarman.net>
Moderators     : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Unsubscribe    : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Vacation       : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>


Kirim email ke