Mas Syarif,
ada sedikit perbedaan buat saya antara merayakan hari raya agama lain dan
membantu pelaksanaan. maksud saya, benar bahwa kita tidak boleh memandang
agama dalam hidup sehari-hari, namun tetap ada batasnya.
Misalnya:
1. Saya Kristen, dekat dengan seorang wanita muslim, buat saya no problem,
kita saling menghargai, tapi faktanya
di muslim, adalah haram bila wanita muslim menikah dengan pria non muslim.
2. Ayah saya (muslim), dan beberapa temannya, termasuk dalam aliran yang
pantang mengucapkan selamat natal, dan dia jelaskan baik-baik bahwa itu
keyakinannya. Mungkin jumlah orang yang berkeyakinan seperti itu sedikit,
tapi ada.

maksud saya krisis horizontal antar agama yang sempat timbul di Indonesia,
adalah karena dahulu, orang Indonesia itu berusaha menutup mata dan
menganggap bahwa agama-agama itu sama, padahal beda, mas.

dan yang saya maksud disini bukanlah untuk memecahbelah, namun agar kita
masing-masing tahu batas-batasnya masing. kurang lebih maksud saya, jangan
dengan niatan baik kita, namun pengetahuan kita dangkal, kita malah
menyulitkan orang lain yang berbeda keyakinan dengan kita.

kalau acara doa bersama, lalu warga kristen membangun mushola, itu wajar,
kalau disekitar saya ada, saya juga mau ikut, mas, karena tiap tiap orang
berdoa menurut agamanya masing-masing, namun kalau acara Natalan/kebaktian,
apakah nanti ada versi doa untuk orang-orang yang non-Kristen? atau saya
blak-blak-an aja deh...., setiap doa di kristen, pasti ada kalimat "dalam
nama Yesus, Allah kita" atau sejenisnya, sementara agama islam tidak
mengakui kalimat itu.

Dan mengenai 'jumlah', saya hendak mengutip kembali tulisan anda berikut:

> Saya sudah dan sedang merasakan hal itu, karena sedang berusaha
mengumpulkan
> pemudi dan pemuda antariman Kota Palembang untuk dapat tampil dalam
Perayaan
> Natal Rakyat Kota Palembang. Justru persentase terbesar keengganan datang
> dari kaum muda Kristen sendiri, khususnya Protestan dan lebih khusus lagi
> dari yang segaris atau sejajar dengan sejumlah jemaat Kristen di Bandung,
> yang percaya bahwa peristiwa kiamat bisa diperhitungkan waktu
kedatangannya.

saya rasa kita intropeksi jujur pada diri sendiri deh, kalimat diatas kalau
kita artikan menyatakan sejumlah yang banyak, atau sejumlah sedikit jemaat
Kristen di Bandung percaya bahwa peristiwa kiamat bisa diperhitungkan? Saya
percaya, Mas Syarif tidak ada niat buruk sama sekali, namun, kadang kadang,
kalimat yang kita pergunakan membawa misleading information. apalagi
informasi anda ngga kongruen dengan kalimat sebelumnya (tentang perayaan
Natal dan jemaat yang percaya peristiwa hari kiamat).

for my friends, sorry kepanjangan.

Andoko
9677.08.32536


--[YONSATU - ITB]----------------------------------------------------------
Online archive : <http://yonsatu.mahawarman.net>
Moderators     : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Unsubscribe    : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Vacation       : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>


Kirim email ke