8<--  
Temu akbar HANATA 2004, 3-4 Januari 2004 di Ciater      
Pendaftaran di Milis Anggota, atau SMS ke 0815-9500-697   
-->8 
  
   Content-Type: text/plain;
        charset="iso-8859-1"
Content-Transfer-Encoding: 7bit
Numpang nyelipkan issue lain nih, di antara se-abreg postings tentang
Hanata 2004, boleh dong ya...

---------------------------------------------

----- Original Message -----
From: Doddy Samperuru
To: [EMAIL PROTECTED]
Sent: 24 Nopember 2003 12:53
Subject: [yonsatu] Fwd: M-16 Rifle May Be on Way Out of U.S. Army

> WCDS,

> FYI, a news article soal M16.
> TNI sudah mutusin duluan akan mengganti arsenal M16
> (dgn SS1 & SS2) dibanding US Army.

-----------------------------------------

Posting Doddy ini sebetulnya sudah muncul sehari sebelum Lebaran,
tetapi waktu itu pas semua orang lagi liburan.
Jadi saya sengaja baru menanggapinya sekarang, supaya lebih banyak
teman, sepulang dari liburannya masing-masing, yang bisa ikut
membacanya, he he he.

Terutama karena tulisan yang di-posting-kan Doddy ini kan rasanya jauh
lebih cocok untuk milis kita ini daripada memperdebatkan hal lain,
seperti misalnya ihwal ekonomi, apalagi soal agama...

==========================

> > Middle East - AP
> > M-16 Rifle May Be on Way Out of U.S. Army
> > Sat Nov 22, 3:55 PM ET
> >
> > By SLOBODAN LEKIC, Associated Press Writer
> >
> > BAGHDAD, Iraq - After nearly 40 years of battlefield
> > service around the globe, the M-16 may be on its
> > way out as the standard Army assault rifle because
> > of flaws highlighted during the invasion and occupation
> > of Iraq.
> >
> > U.S. officers in Iraq say the M-16A2 - the latest incarnation
> > of the 5.56 mm firearm - is quietly being phased out of
> > front-line service because it has proven too bulky for use
> > inside the Humvees and armored vehicles that have
> > emerged as the principal mode of conducting patrols
> > since the end of major fighting on May 1.
> >
> >The M-16, at nearly 40 inches, is widely considered too
> > long to aim quickly within the confines of a vehicle during
> > a firefights, when reaction time is a matter of life and death.
> >
> >"It's a little too big for getting in and out of vehicles," said
> > Brig. Gen. Martin Dempsey, commander of the 1st Armored
> > Division, which controls Baghdad. "I can tell you that as a
> > result of this experience, the Army will look very carefully at
> > how it performed."
> >
> > "Iraq is the final nail in the coffin for the M-16," said a
commander
> > who asked not to be identified.

-----------------------------------------------

Kalau kita bicara mengenai M-16 (dan juga SS-1 atau SS-2 atau AK-47
atau AK-74) kita bicara mengenai senjata standar pasukan infanteri.

Penulis artikel ini jelas orang yang tidak mengerti falsafah
perancangan dan perekayasaan (design and engineering) untuk suatu
senjata standar bagi pasukan infanteri.

Dan karena korps infanteri selalu disebut sebagai 'the queen of the
battle', maka kalau kita bicara senjata standar untuk infanteri,
berarti kita bicara mengenai senjata standar perorangan untuk seluruh
tentara.

Senjata utama pasukan infanteri adalah senapan serbu (assault rifle).
Dalam merancang suatu senapan serbu, sebetulnya nggak ada urusannya
dengan soal apakah senapan itu kepanjangan atau tidak kalau dibawa
keluar-masuk kendaraan humvee (jip standar tentara AS sekarang ini)
dan kendaraan tempur pasukan kavaleri.
Karena pasukan infanteri memang tidak akan menyerbu dari dalam jip
atau kendaraan tempur lapis baja (armored fighting vehicle).

Infanteri terutama bertempur dengan berjalan kaki (fight on their
feet), jadi format senjatanya harus disesuaikan dengan kebiasaan
berperang suatu pasukan jalan kaki, di mana syarat utamanya adalah
harus dapat menembak musuh dengan tepat, dari jarak cukup jauh, dengan
pemakaian peluru yang irit, sehingga design-nya, sampai saat ini tidak
mungkin tidak, harus berbentuk senjata yang berlaras cukup panjang.

Juga menjadi persyaratan pasukan infanteri bahwa senapan itu harus
efektif ketika dipergunakan dalam perkelahian sangkur, karena itu
senjata tersebut justru tidak boleh terlalu pendek dan terlalu ringan.

Artikel yang di-posting-kan Doddy ini ditulis setelah mewawancarai
orang kavaleri AS, yang di Irak sekarang ini mereka lagi hidup dengan
penuh ketakutan, jadi dapat dimaklumi kalau omongannya ngawur begitu.
Tetapi untuk mendengarkan keluhan orang kavaleri tentang senjatanya
orang infanteri, lalu menyimpulkan bahwa senjatanya orang infanteri
itu akan ditarik dari garis depan, tentu itu merupakan suatu
kesimpulan yang kebablasan.

Apalagi untuk mengatakan bahwa perang Irak 2003 merupakan 'vonis mati'
("final nail in the coffin") bagi M-16.
Bahwa M-16 tidak akan dipakai lagi oleh orang kavaleri, barangkali iya
betul.
Tetapi bahwa M-16 dalam waktu dekat sudah tidak akan dipakai lagi oleh
orang infanteri, masih jauh panggang dari api.

Mengenai soal M-16 kepanjangan kalau dipakai dalam kendaraan tempur,
tentunya harus dipahami bahwa ketika men-design suatu kendaraan
tempur, orang melihat untuk apa kendaraan itu akan dipergunakan.
Humvee, Abrams, Bradley, dan semacamnya, memang tidak dirancang untuk
menjadi platform-nya pasukan infanteri, karena itu tidak di-design
untuk memberi ruang gerak yang cukup bagi penggunaan senapan serbu
prajurit infanteri.

Lain halnya dengan APC (armored personnel carrier), kendaraan lapis
baja yang memang dirancang untuk mobilitas pasukan infanteri
(mechanized infantry).
Di dalam suatu APC buatan Amerika pasti tidak akan ada keluhan bahwa
M-16, senjata standar infanteri AS, kepanjangan.
Dalam suatu APC design Rusia pasti tidak akan ada keluhan bahwa AK-74,
senjata standar infanteri Rusia, kepanjangan.

Begitu pula, di dalam suatu "APRI" ("Alat Pengangkut Ringan
Infanteri"), APC yang baru di-design dan sedang dibuat oleh PINDAD,
yang kemarin ini dibawa oleh Dirut-nya, Budi Santoso, ke kampus ITB,
ketika menghadiri ulang tahun ke-70 Prof. Wiranto Arsimunandar,
tentunya tidak akan ada keluhan bahwa SS-1, senjata standar infanteri
Indonesia, kepanjangan.

==========================

> > Instead of the M-16, which also is prone to jamming in Iraq's
> > dusty environment, M-4 carbines are now widely issued to
> > American troops.The M-4 is essentially a shortened M-16A2,
> > with a clipped barrel, partially retractable stock and a trigger
> > mechanism modified to fire full-auto instead of three-shots
> > bursts. It was first introduced as a personal defense weapon
> > for clerks, drivers and other non-combat troops.  "Then it
> > was adopted by the Special Forces and Rangers, mainly
> > because of its shorter length," said Col. Kurt Fuller, a
> > battalion commander in Iraq and an authority on firearms.
> >
> > Fuller said studies showed that most of the combat in Iraq
> > has been in urban environments and that 95 percent of all
> > engagements have occurred at ranges shorter than 100
> > yards, where the M-4, at just over 30 inches long, works best.

-----------------------------------------------

Membandingkan M-16 dengan M-4, dan membahas kemungkinan digantikannya
M-16 yang senapan serbu itu, dengan M-4 yang karaben itu, sebagai
senjata standar tentara AS, sama saja membandingkan pisang dengan
sendok dan lalu membahas kemungkinan menggantikan pisang itu dengan
sendok.

Tentara-tentara negeri lain umumnya melengkapi pasukan infanterinya
dengan senapan serbu dan pimpinan pasukan infanterinya itu (DanRu ke
atas) dengan PM (pistol mitralyur) atau SMG (sub machine gun). Tentara
Jerman, misalnya, melengkapi pasukan infanterinya dengan senapan serbu
Heckler & Koch G-36 dan komandan-komandannya dengan sub machine gun
MP-5 yang buatan Heckler & Koch juga.

Falsafahnya adalah bahwa para komandan perlu lincah bergerak dalam
memimpin anak-buahnya menumpas musuh, tetapi tidak perlu dia sendiri
berposisi di paling depan dalam menumpas musuh itu. Jadi perlu senjata
yang ringkas, sekedar cukup membela diri, tidak untuk ikut menembak
musuh dari jarak jauh.

Tentara AS memang khas. Sejak Perang Dunia II mereka tidak melengkapi
para DanRu-nya dengan PM atau SMG, tetapi dengan karaben.
Falsafahnya adalah, walaupun para komandan perlu lincah bergerak, jadi
perlu senjata yang lebih ringkas, tetapi komandan infanteri tentara AS
juga harus bisa menembak musuh dari jarak cukup jauh.
Karena itu dipakailah karaben, yang cukup ringkas tetapi effective
range-nya jauh melebihi PM atau SMG.
(Sekarang ada beberapa negeri lain yang tentaranya juga meniru
falsafah tentara AS ini)

Namun demikian, sehebat-hebatnya karaben untuk menembak musuh dari
jauh, tetaplah tidak mungkin dia menggantikan senapan serbu.
Jangkauan efektif tembakan senapan serbu tetap saja setidaknya tiga
kali lebih jauh daripada karaben.

Dibanding dengan senapan serbu, karaben juga tidaklah layak dipakai
dalam perkelahian sangkur.
Tetapi selain faktor itu, masih ada lagi satu faktor dalam perang
infanteri modern yang membuat karaben tidak dapat menggantikan senapan
serbu, yaitu kemampuan senapan serbu untuk berfungsi sebagai pelontar
granat.
Dalam perang jaman sekarang, pasukan infanteri tidak lagi harus
mengandalkan kekuatan lengannya untuk melemparkan granat tangan.
Mereka dapat mempergunakan senapannya untuk keperluan itu.
Tetapi karaben tidak dapat dipakai untuk hal itu.

Perbedaan fungsi karaben dengan senapan serbu juga ditunjukkan dengan
mode tembakan "full automatic" pada karaben, dan mode tembakan
"three-shots bursts" pada senapan serbu, di mana senapan serbu,
seperti saya katakan di atas, harus menggunakan peluru secara irit.
Sedangkan karaben M-4, terutama dalam fungsinya sebagai PDW (personal
defense weapon), seperti juga PM dan SMG, diutamakan untuk bisa
'menyiram' musuh yang jaraknya dekat, dengan hujan peluru.

==========================

> > Still, experience has shown the carbines also have deficiencies.
> > The cut-down barrel results in lower bullet velocities, decreasing
> > its range. It also tends to rapidly overheat and the firing
system,
> > which works under greater pressures created by the gases of
> > detonating ammunition, puts more stress on moving parts,
> > hurting its reliability.
> > Consequently, the M-4 is an unlikely candidate for the rearming
> > of the U.S. Army.

-----------------------------------------------

Tentu saja M-4, yang karaben, tidak mungkin menggantikan M-16, yang
senapan serbu, sebagai senjata standar US Army.
Karena bagaimana pun karaben hanyalah sebuah PDW.

Istilah "PDW" adalah nomenklatur yang dipakai tentara AS untuk senjata
jenis pertahanan diri, yang dirancang untuk dipergunakan anggota
tentara yang non-tempur, seperti supir, tenaga administrasi, tenaga
medik, dsb., termasuk juga anggota pasukan kavaleri, artileri, zeni,
dan semacamnya.
Dan juga para pimpinan (DanRu ke atas) pasukan infanteri.

Karena itu PDW bercirikan formatnya yang ringkas, bobotnya yang
ringan, mode tembakannya yang full automatic, dan, seringkali juga,
ukuran pelurunya yang lebih kecil.

Kemudian, karena formatnya yang ringkas (dan peluru kecilnya yang
lebih ringan), maka PDW berkembang juga menjadi senjata standar
Pasukan Khusus / Special Forces, sesuai dengan karakteristik penugasan
Passus.

Tetapi, seperti halnya Pasukan Khusus yang sehebat apa pun tidak
mungkin menggantikan kedudukan pasukan infanteri dalam suatu
peperangan (ini yang salah dilakukan TNI-AD di Timtim), maka PDW yang
sehebat apa pun juga tidak
mungkin menggantikan senapan serbu sebagai senjata utama.

==========================

> > It is now viewed as an interim solution until the introduction of
> > a more advanced design known as the Objective Individual
> > Combat Weapon, or OICW.
> >
> > There is no date set for the entry into service of the OICW,
> > but officers in Iraq say they expect its arrival sooner than
> > previously expected because of the problems with the M-16
> > and the M-4.

-----------------------------------------------

Analisis bahwa M-4 akan merupakan pengganti sementara ("interim
solution") bagi M-16, sampai senapan OICW mulai bisa dipakai, adalah
analisis yang kurang tepat, bahkan cenderung ngawur.

Pertama, seperti saya uraikan di atas, M-4 yang karaben tidak mungkin
dipergunakan sebagai pengganti M-16 yang senapan serbu, walaupun hanya
untuk sementara ('interim') sekalipun.

Kedua, kalau melihat design-nya, maka senapan OICW tidak dimaksudkan
menggantikan M-16 saja atau M-4 saja.
Saya melihatnya senjata baru ini dirancang untuk menggantikan keduanya
sekaligus!
Bahkan OICW sekaligus juga bisa berfungsi sebagai PM/SMG.

OICW ini senjata baru yang sedang sibuk-sibuknya dirancang oleh
tentara AS, dan sekarang sudah ada dua atau tiga macam prototype-nya.
Bentuknya sangat futuristik. Untuk teman-teman Ekek di milis "Anggota"
(yang bisa terima attachment), saya lampirkan gambar OICW ini dalam
berbagai fungsinya.

Betul OICW ini memang merupakan senjata yang revolusioner, sangat
berbeda dengan senjata yang selama ini ada.
Tetapi justru karena revolusioner-nya itu, maka kapan dia akan mulai
'berdinas' di tentara AS, dan apakah dia akan sukses, menjadi
pertanyaan besar yang belum ada orang bisa menjawabnya.

Lebih empat puluh tahun yang lalu, di tahun 1958, AR-15, embryo dari
M-16, juga senjata revolusioner.
Tetapi baru sembilan tahun sesudahnya, dia bisa sukses sebagai M-16,
yaitu sebagai suatu senjata yang ber-kode "M" (Kode "M" berarti sudah
diakui menjadi standar tentara AS).

==========================

> > The current version of the M-16 is a far cry from the original,
which
> > troops during the Vietnam War criticized as fragile, lacking power
> > and range, and only moderately accurate. At the time, a leading
> > U.S. weapons expert even recommended that American soldiers
> > discard their M-16s and arm themselves with the Kalashnikov
> > AK-47 rifle used by their Vietcong enemy.
> >
> > Although the M16A1 - introduced in the early 1980s - has been
> > heavily modernized, experts say it still isn't as reliable as the
> > AK-47 or its younger cousin, the AK-74. Both are said to have
> > better "knockdown" power and can take more of a beating on
> > the battlefield.

-----------------------------------------------

Memang umum dikatakan bahwa AK-47 lebih 'bandel' daripada M-16.

Tetapi tentara AS mempertahankan M-16 karena senapan ini merupakan
pelopor penggunaan peluru kecil (kaliber 5,56) yang kemudian menjadi
standar NATO.
Bahkan AK, yang semula memakai peluru besar (kaliber 7,62) juga
kemudian, setelah Perang Dingin usai, menyesuaikan dirinya dengan
standar NATO ini, melalui versi barunya, AK-74.

Tetapi ketika versi Rusia untuk amunisi kecil ini muncul, M-16 sudah
dibuat berbilang jutaan unit, dan sudah berkembang jauh sampai M-16
versi A1, A2, bahkan sekarang sudah masuk ke versi A3.
Sehingga bagi M-16 sudah tidak ada lagi langkah mundur.

Selain daripada itu, ada keunggulan design dan engineering M-16
daripada senapan serbu lainnya, yaitu fleksibilitas dalam design-nya.
Sangat mudah merubah-rubah production line M-16 untuk penggunaan
intansi yang berbeda-beda, misalnya untuk penggunaan oleh polisi, atau
imigrasi dan bea-cukai, atau DEA (badan anti narkoba), bahkan juga
oleh orang sipil
pemburu binatang.

Karena itu M-16 juga merupakan salah satu assault rifle yang paling
banyak dipakai di dunia.
Kalau dibanding AK-47 dan AK-74 bersama-sama, mungkin M-16 kalah
banyak pemakaiannya, tetapi kalau dibanding AK-47 dan AK-74
sendiri-sendiri, barangkali penggunaan M-16 sebanding banyaknya.

Dan sudah banyak juga negara lain membuat M-16 atas dasar lisensi.
Bahkan termasuk juga RRC!

==========================

> Salam,
> Doddy Samperuru - ekek 25

-----------------------------------------------

Wasalam,
ABS - Ekek 2 - A 640145.



-- Binary/unsupported file stripped by Listar --
-- Type: image/jpeg
-- File: oicw.jpg


-- Binary/unsupported file stripped by Listar --
-- Type: image/jpeg
-- File: oicw1.jpg


-- Binary/unsupported file stripped by Listar --
-- Type: image/jpeg
-- File: oicw2.jpg


-- Binary/unsupported file stripped by Listar --
-- Type: image/jpeg
-- File: oicw4.jpg


--[YONSATU - ITB]----------------------------------------------------------   
Arsip           : http://yonsatu.mahawarman.net  
News Groups     : gmane.org.region.indonesia.mahawarman  
News Arsip      : http://news.gmane.org/gmane.org.region.indonesia.mahawarman  

Kirim email ke