8<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<    
Temu akbar HANATA 2004, 3-4 Januari 2004 di Ciater        
Pendaftaran di Milis Anggota, atau SMS ke 0815-9500-697     
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>8   
 
  
  
     
      Hi Gank!

Budaya polling pendapat umum relatif baru di negara kita, kita mulai
sering melihatnya di TV-2x swasta.
Apa cara yg dilakukan sudah benar ?

Begin forwarded message:

Date: Fri, 8 Jan 1999 14:41:53 +0700
From: "Agus Sudibyo" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Re: ~JIL~ Re: Hidayat Nur Wahid, Presiden SMS


Karena kebetulan saya sedang banyak mengamati persoalan "polling dan
pemilu", saya ingin turut menanggapi diskusi ini.

Sejauh yang saya tahu, cara yang paling mudah (namun paling fundamental)
untuk menilai kelayakan sebuah polling adalah apakah polling tersebut
didahului dengan proses pengambilan sampel (sampling) yang benar.
Sampling, adalah syarat utama sebuah polling. Sampling adalah metode
untuk "mengambil sebagian demi mewakili semuanya". Kenapa harus
mengambil sebagian, karena tak mungkin atau terlalu mahal untuk menanyai
seluruh penduduk, atau seluruh populasi. Sampling dengan demikian
menjadi pembeda polling dengan sensus atau referendum. Dua yang disebut
belakangan, berpretensi untuk menjangkau opini/persepsi seluruh
penduduk/anggota populasi.
Pada titik ini kita menemukan konsep penting dalam polling, yakni
"representasi". Biar polling representatif, maka sampling harus
dilakukan dengan cara yang benar. Seluruh anggota populasi harus
mempunyai kesempatan yang sama untuk dipilih sebagai sampel/responden.
Responden dalam hal ini "dipilih", bukan "memilih" atau mengajukan
dirinya sendiri. Karena itu dia pasif, menunggu diberi pertanyaan.,
bukan menjawab pertanyaan secara proaktif. Hal ini penting untuk
menghindari terjadinya monopoli suara dan mobilisasi. Dalam hal ini kita
mengenal banyak metode sampling, yang paling sahih adalah metode random
sampling dengan berbagai variannya.

Dengan menggunakan perspektif ini, dengan sendirinya seluruh polling
yang tidak didahului dengan sampling, "tidak layak untuk  disebut
sebagai polling". Polling main-main, polling tidak sungguhan.
Tanpa terkecuali polling-polling yang dilakukan oleh televisi-televisi
kita.
Polling yang notabene tidak menggunakan sampling, responden aktif
menunjuk dirinya sendiri dan memberikan suaranya. Di barat polling
semacam ini secara sinis disebut sebagai "telepolling". Polling yang
dilakukan oleh televisi, polling melalui internet, dan polling melalui
SMS, adalah polling main-main yang sama sekali tidak representatif untuk
digunakan untuk mengetahui gambaran opini publik. 
ATau polling yang memang disengajakan untuk mengelabuhi publik, atau
untuk mengecoh lawan politik.

Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana polling dilakukan. Sejauhmana
intensitas interaksi antara pewawancara dengan responden sangat
menentukan dalam ini. Polling yang dilakukan secara langsung (face to
face) mempunyai nilai paling tinggi. Polling melalui telepon, nilainya
lebih rendah, namun tetap bisa direkomendasikan karena lebih efisien dan
murah. 
Polling yang dilakukan melalui internet dan sms nilainya lebih rendah
lagi.

Pertanyaan yang juga tak kalah penting, adalah bagaimana bentuk-bentuk
pertanyaan yang diajukan untuk responden. Dalam hal ini, saya punya
catatan bahwa pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam polling ditelevisi
kita bukan pertanyaan yang bagus dan netral. Melainkan jenis pertanyaan
yang cenderung menggiring responden ke satu jawaban tertentu, pertanyaan
yang menghakimi/mendeskriditkan pihak-pihak tertentu, serta pertanyaan
yang tampaknya memang dimaksudkan untuk memobilisasi suara untuk
aktor/kelompok politik tertentu.

Sejauh yang saya tahu, hingga saat ini lembaga yang melakukan polling
secara serius hanya Litbang Kompas. Terlepas dari masalah-masalah
politik, dan terlepas dari kenyataan bahwa hasilnya sering membosankan,
Litbang Kompas setidak-tidaknya memberi pelajaran polling harus
dilakukan dengan hati-hati, "taat asas", termasuk dalam  merumuskan
kesimpulannya.
Polling adalah masalah serius, apalagi menjelang suksesi seperti
sekarang ini.

Terima kasih,

AGus Sudibyo

----- Original Message -----
From: Ulil Abshar-Abdalla <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Thursday, December 25, 2003 11:08 PM
Subject: Re: ~JIL~ Re: Hidayat Nur Wahid, Presiden SMS


> Salam,
> Soal polling via SMS ini, saya ingin memandangnya dari
> segi lain. Apa yang dikatakan olh Denny benar, bahwa
> polling semacam di SCTV itu bisa sangat mengelabui.
> Tetapi, apa yang dikatakan Sdr. Rahmad Desmi tidak
> benar dalam kasus Tempo. Setahu saya, mohon koreksi
> kalau keliru, Tempo menggunakan metode lain yang jauh
> lebih bisa dipegang, yaitu melalui telpon, denhan
> persebaran responden yang lebih merata. Sudah tentu
> yang dikatakan oleh Hamami juga benar, bahwa polling
> yang memakai telpon pun bisa mengandung "bias", karena
> yang mempunyai telpon hanyalah orang-orang kelas
> menengah. Tetpai, sekurang-kurangnya, metode seperti
> itu bisa dipakai untuk melihat kecenderunga pendapat
> umum.
>
> Metode polling memakai SMS memang sangat riskan, kalau
> tujuannya untuk mengecek kecenderungan opini publik.
> Saya mendengar, bahwa teman-teman PK sengaja
> memobilisir "umat" mereka untuk "membanjiri" polling
> semacam itu, agar image PK naik.
>
> Taruhlah apa yang saya dengar itu benar, maka saya
> ingin melihat hal ini dari arah lain, yaitu "komitmen"
> umat PK yang begitu besar untuk menciptakan citra
> partai yang baik. Kalau metode ini manjur sebagai
> kampanye, mestinya partai lain meniru dong.
>
> Lepas dari ketidaksetujuan saya dengan orientasi
> "ideologis" PK, saya menaruh respek pada partai ini,
> satu-satunya partai yang saya pandang paling "media
> savvy".
>
> ulil
>
>
>
>
>
> --- Rahmad Desmi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> > "Polling tidak ilmiah" yang dilakukan SCTV itu,
> > dalam bentuk yang mirip, juga dilakukan oleh Metro
> > TV, Tempo, dan media2 lain.  Dan selama ini publik
> > tidak pernah menjadikan hasil polling itu sebagai
> > lebih dari sekedar "hiburan" seperti yang
> > kurang-lebih disarankan bung Denny.
> > Dilihat dari sisi lain, dukungan via SMS begini
> > masih lebih dibanding dengan dukungan versi cap
> > jenpol darah atau model tebang pohon seperti yang
> > kita lihat dimasa-masa kemarin kan ?
> >
> >
> > rahmd desmi fajar
> > sangatta minesite
> >
> >
> > Disclaimer - This message and any attachments may
> > contain priviledged information that should not, by
> > any means, be taken as endorsement to any candidates
> > or parties mentioned.
> >
> > ----- Original Message -----
> > From: [EMAIL PROTECTED]
> > > Message: 2
> > >    Date: Mon, 22 Dec 2003 17:33:07 -0800 (PST)
> > >    From: denny JA <[EMAIL PROTECTED]>
> > > Subject: Hidayat Nur Wahid, Presiden SMS
> > >
> > > Sekedar untuk selingan
> > >
> > > Media Indonesia
> > > Senin 22 Desember 2003
> > >
> > > Hidayat Nur Wahid, Presiden SMS?
> > > Denny J. A





-- 
syafril
-------
Syafril Hermansyah

--[YONSATU - ITB]-----------------------------------------------    
Arsip           : <http://yonsatu.mahawarman.net>  atau 
<http://news.gmane.org/gmane.org.region.indonesia.mahawarman> 
News Groups     : gmane.org.region.indonesia.mahawarman   
List Admin      : <http://home.mahawarman.net/lsg2> 
 

Kirim email ke