On Thu, 8 Jan 2004 00:12:59 +0700 Akhmad Bukhari Saleh wrote: > > 1. Kenapa pakai mesin Isuzu ? > > Kalau bicara dg supir-2x truk, mrk rata-2x ngomong bhw > > Colt Diesel lbh tangguh (Isuzu menang irit), baik mesin > > maupun chasisnya. Colt Diesel ini juga sdh lama ada di > > pasar Indonesia, shg "bengkelnya" tersebar di seluruh > > nusantara, juga sparepartnya. > > Armored Personnel Carrier (APC) buatan Pindad ini, yang diberi nama > "APR-1(Angkut Pasukan Ringan - Satu"), memakai mesin Isuzu yang satu > kelas lebih besar dari Elf. > Katanya ini yang paling match untuk kendaraan 5 ton-an ini. Katanya siapa Pak paling match ? Mesin yg dipakai punya 100 daya kuda, sementara Colt Diesel versi pasar yg terakhir malah punya 120 daya kuda. Kalau melihat truk-2x pasir/batu yg sering melintas dekat rumah saya, sering mengangkut lbh dari 10 ton (walau kapasitas angkut menurut teorinya cuma 7 ton-an), ini indikasi bhw chasisnya memang extra kuat, juga momen puntirnya bagus.
Feeling saya kok bilang bhw ini krn masalah ATPM isuzu yg lbh bisa diajak kerjasama dibanding yg lain :-) > > 2. Pelindung Roda > > Ban mrpkan titik lemah kendaraan ini, relatif terbuka > > posisinya shg lbh mudah jadi sasaran tembak ataupun > > lumpur atau semak yg masuk ruang roda akan > > menghambat laju kendaraan. > > Memang sih kalau diberi shielding penuh maka service > > roda menjadi repot, tp kalau separo saja di bagian > > depannya mungkin bisa ya ? > > Ketidak-praktisan pelindung roda/ban memang mengalahkan pertimbangan > keamanannya. Kebanyakan armored car serupa buatan luar negeri juga > tidak memakai pelindung. > > Solusi-nya, sebagaimana juga dipakai oleh APC lainnya, adalah ban anti > peluru. > Ban ini ada banyak di pasaran (pasaran luar negeri, tetapi barang > bebas yang bukan subyek embargo). Harganya sekitar 15 jutaan satunya. > Tahan peluru, dan kalau pun bocor, tidak langsung kempes. Kan yg dicari "murah" nya dg fungsi yg tetap. Pasang shielding pasti lebih murah dpd beli ban anti peluru :-) > Katanya nantinya terserah yang pakai. > Bisa saja TNI nantinya memasangkan ban anti peluru di APC, sesudah > meng-evaluasi penggunaannya di daerah konflik. > Jangan lupa TNI-AD beli APC ini 40 unit, tetapi Polri belinya 55 unit. > Dan Polri tidak akan perlu pakai ban anti peluru. Bukannya Polri sekarang menangani terorisme dan gerakan separatis, shg mrk juga perlu ban anti peluru ? Mungkin utk Polri nggak perlu gerak roda 4x4, cukup dg anti slip differentials saja. > > 3. As Roda > > Lupa ditanyakan, apakah sudah pakai anti slip differentials? > > Kalau pakai independent suspensions (bukan rigid spt yg > > sekarang) apakah perbedaan harganya jadi jauh ? > > Perbedaan harga memang menjadi salah satu pertimbangan. > Tetapi waktu untuk design & engineering yang mepet (hanya 2 minggu > dikebut siang malam) adalah pertimbangan utama, sehingga sementara > yang sederhana-sederhana saja. > Tetapi sudah menjadi pertimbangan juga untuk "APR-2". Baguslah kalau begitu. Satu hal lagi soal rem, bisakah dilakukan modifikasi agar sistem remnya mengikuti pola mobil-2x eropa yg silang shg lbh aman dalam kondisi kemasukan "angin palsu". -- syafril ------- Syafril Hermansyah --[YONSATU - ITB]----------------------------------------------- Arsip : <http://yonsatu.mahawarman.net> atau <http://news.gmane.org/gmane.org.region.indonesia.mahawarman> News Groups : gmane.org.region.indonesia.mahawarman List Admin : <http://home.mahawarman.net/lsg2>
