Dari tetangga, kalau sudah baca diDelete saja.

BudiNir.

>  -----Original Message-----
> From:         Watung Arif  
> Sent: Thursday, January 15, 2004 4:41 PM
> To:   Manajemen Qolbu
> Subject:      Kekuatan Tanpa Kekerasan
> 
> Sumber: Disadur dari 'The Power Of Nonviolence' oleh Dr. Arun Gandhi
> 
> Dr. Arun Gandhi adalah cucu Mahatma Gandhi dan pendiri Lembaga M.K.Gandhi
> untuk Tanpa-Kekerasan. 
> Pada tanggal 9 Juni ia memberikan ceramah di Universitas Puerto Rico dan
> bercerita bagaimana memberikan contoh tanpa-kekerasan yang dapat
> diterapkan di sebuah keluarga.
> 
> "Waktu itu saya masih berusia 16 tahun dan tinggal bersama orang tua di
> sebuah lembaga yang didirikan oleh kakek saya, di tengah-tengah kebun
> tebu, 18 mil di luar kota Durban, Afrika Selatan. Kami tinggal jauh di
> pedalaman dan tidak memiliki tetangga. Tak heran bila saya dan dua saudara
> perempuan saya sangat senang bila ada kesempatan pergi ke kota untuk
> mengunjungi teman atau menonton bioskop.
> 
> Suatu hari, ayah meminta saya untuk mengantarkan beliau ke kota untuk
> menghadiri konferensi sehari penuh. Dan, saya sangat gembira dengan
> kesempatan itu. Tahu bahwa saya akan pergi ke kota, ibu memberikan daftar
> belanjaan yang ia perlukan. Selain itu, ayah juga meminta saya untuk
> mengerjakan beberapa pekerjaan yang lama tertunda, seperti memperbaiki
> mobil di bengkel.
> 
> Pagi itu, setiba di tempat konferensi, ayah berkata, "Ayah tunggu kau
> disini jam 5 sore. Lalu kita akan pulang ke rumah bersama-sama." Segera
> saja saya menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang diberikan oleh ayah saya.
> 
> Kemudian, saya pergi ke bioskop. Wah, saya benar-benar terpikat dengan dua
> permainan John Wayne sehingga lupa akan waktu. Begitu melihat jam
> menunjukkan pukul 17:30, langsung saya berlari menunju bengkel mobil dan
> terburu-buru menjemput ayah yang sudah menunggu saya. Saat itu sudah
> hampir pukul 18:00.
> 
> Dengan gelisah ayah menanyai saya, "Kenapa kau terlambat?" Saya sangat
> malu untuk mengakui bahwa saya menonton film John Wayne sehingga saya
> menjawab, "Tadi, mobilnya belum siap sehingga saya harus menunggu."
> 
> Padahal, ternyata tanpa sepengetahuan saya, ayah telah menelepon bengkel
> mobil itu. Dan, kini ayah tahu kalau saya berbohong. Lalu ayah berkata,
> "Ada sesuatu yang salah dalam membesarkan kau sehingga kau tidak memiliki
> keberanian untuk menceritakan kebenaran pada ayah. Untuk menghukum
> kesalahan ayah ini, ayah akan pulang ke rumah dengan berjalan kaki
> sepanjang 18 mil dan memikirkannya baik-baik."
> 
> Lalu, ayah dengan tetap mengenakan pakaian dan sepatunya, ayah mulai
> berjalan kaki pulang ke rumah. Padahal hari sudah gelap, sedangkan jalanan
> sama sekali tidak rata. Saya tidak bisa meninggalkan ayah, maka selama
> lima setengah jam, saya mengendarai mobil pelan-pelan di belakang beliau,
> melihat penderitaan yang dialami oleh ayah hanya karena kebohongan yang
> bodoh yang saya lakukan.
> 
> Sejak itu saya tidak pernah akan berbohong lagi. Seringkali saya berpikir
> mengenai episode ini dan merasa heran. Seandainya ayah menghukum saya
> sebagaimana kita menghukum anak-anak kita maka apakah saya akan
> mendapatkan sebuah pelajaran mengenai tanpa-kekerasan? Saya kira tidak.
> Saya akan menderita atas hukuman itu dan melakukan hal yang sama lagi.
> Tetapi, hanya dengan satu tindakan tanpa-kekerasan yang sangat luar biasa,
> sehingga saya merasa kejadian itu baru saja terjadi kemarin.
> 
> Itulah kekuatan tanpa-kekerasan."
> 
> 

--[YONSATU - ITB]-----------------------------------------------    
Arsip           : <http://yonsatu.mahawarman.net>  atau 
<http://news.gmane.org/gmane.org.region.indonesia.mahawarman> 
News Groups     : gmane.org.region.indonesia.mahawarman   
List Admin      : <http://home.mahawarman.net/lsg2> 
 

Kirim email ke