·   Dalam tradisi Jawa ada istilah ‘konco wingking’ (teman di belakang), yang 
tidak lain dikenakan pada
para isteri atau perempuan. Istilah ini muncul dari cara berjalan suami-isteri
yang tidak berdampingan, melainkan isteri berjalan di belakang suami,
mengikutinya. Dalam praksis, terutama dalam acara bersama (pesta atau perayaan)
memang pada umumnya para perempuan bekerja giat ‘di belakang’ alias
mempersiapkan atau memasak kebutuhan-kebutuhan untuk pesta, maka rasanya peran
mereka senada dengan apa yang diwartakan hari ini: “perempuan-perempuan ini 
melayani rombongan itu dengan kekayaan mereka”.
Peran tersembunyi ini hemat saya penting sekali, sebagaimana juga dikatakan
dalam pepatah ‘the man behind the gun’
(manusia yang berada di balik senjata). Peran mereka tidak lain adalah
memberdayakan rombongan, sehingga rombongan dapat melaksanakan tugas perutusan
atau pekerjaannya, dan rombongan ini pada umumnya terdiri dari kaum lelaki.
Maka baiklah pada kesempatan ini saya mengajak anda sekalian untuk bersyukur
dan berterima kasih kepada mereka, entah kaum perempuan atau laki-laki, yang
dengan kekayaan mereka, kerja keras tanpa kenal lelah, bekerja di balik layer,
melayani kebutuhan bersama. Mungkin peran ini di kota-kota  saat ini dikerjakan 
oleh para pembantu  di dalam rumah tangga atau keluarga atau
pekerja dalam berbagai acara atau kepentingan. Yang terjadi dalam hidup
sehari-hari kiranya adalah para pembantu, maka baiklah kita bersyukur dan
berterima kasih kepada para pembatu rumah tangga kita, yang melayani
rombongan/seluruh anggota keluarga/komunitas. Pada hari-hari ini kiranya anda
yang memiliki pembantu akan merasa pentingnya peran mereka ketika mereka ‘cuti
untuk mudik dalam rangka merayakan Idul Fitri’. Semoga peristiwa tahunan ketika
para pembantu rumah tangga, yang kebanyakan perempuan, sedang cuti saat ini,
mengingatkan dan menyadarkan kita untuk senantiasa berterima kasih dan
bersyukur atas pelayanan dan peran mereka, dan selanjutnya memperlakukan
pembantu rumah tangga sebaik mungkin.

·   “Jikalau kita
hanya dalam hidup ini saja menaruh pengharapan pada Kristus, maka kita adalah
orang-orang yang paling malang dari segala
manusia. Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara
orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal”(1Kor 
15:19-20),
demikian kesaksian atau peringatan Paulus kepada umat di Korintus, kepada kita
semua. Kesaksian ini mengajak kita untuk tidak hanya berharap pada Tuhan selama
hidup, tetapi juga dalam kematian. Mungkin belum ‘mati sepenuhnya’ melainkan
setengah atau seperempat mati alias berada di dalam penderitaan, sakit atau
kesengsaraan, inilah yang kiranya layak menjadi permenungan kita. Artinya agar
kita dapat berharap pada Tuhan dalam kematian, hendaknya dalam berbagai derita,
sakit atau kesengsaraan di dunia ini, karena harus melayani dengan kerja keras
tanpa kenal lelah, marilah kita tetap berharap kepada Tuhan. Ketika tidak ada
orang yang memuji dan menghargai kerja keras pelayanan kita hendaknya tidak
menjadi putus asa atau frustrasi, melainkan tetap bergairah dan bergembiralah.
Dengan kata lain jangan hanya bekerja keras melayani ketika dipuji atau
dihargai oleh sesama dan saudara-saudari kita saja, melainkan entah dipuji atau
tidak dipuji, dihargai atau tidak dihargai kita tetap bekerja keras melayani
demi kebahagiaan atau kesejahteraan bersama. Mereka yang dalam derita, sakit
dan sengsara di dunia ini tetap bergairah dan bergembira, maka ketika dipanggil
Tuhan tetap bergairah dan bergembira, sehingga ketika telah mati, terbaring
tidur sebagai mayat, nampak senyum dan ceria, nampak lebih cantik atau tampan. 
Saat-saat
terakhir hidupnya, menjelang dipanggil Tuhan, ceria dan gembira, maka pada saat
dipanggil Tuhan tetap ceria dan gembira serta nampak ceria dan gembira terus
sebagai jenazah, ia percaya bahwa “Kristus
telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang
yang telah meninggal”



Jakarta, 19 September 2008

Kirim email ke