TENTUNYA buku sejenis ini harus dikalsifikasi di bawah kumpulan buku
fiction.

Sekarang mari kita tilik scenario laen.

    * Cartel minyak dan pemrintah2 yg mendukungnya akahirnya krn alasan
praktis (global warming & ketergantungan kpd negara2 Arab penghasil
minyak), memutuskan mempergunakan alternative fuel. Saudi Arabia, Iraq,
Iran, Kuwait just to name a few akan bangkrut total;
    * Banyak negara Islam yg tidak mempunya sumber daya alam spt minyak,
gas dsb. selama ini hidupnya didukung dg kucuran dana kemanusiaan dari
negara2 kafir spt USA, UniERopa. Kalo bantuankeuangan, misalnya ke
Palestina, dihinteikan besaok maka dlm waktu kurang dari 5 minggu negara
Palestina itu akan kembali menjadi daulat abad ke-7!
    * Para poenguasa - Emir, raja, sultan dari negara2 Islami semuanya
tanpa kecuali menyimpan duit mereka, menjalankan modal mereka di negara
kafir dan tidak jarang dg perusahaan/bank Israel. Kalo perusahaan/bank2
ini bankrupt spt scenario penulis buku ngaco itu, maka dampak utama
ialah negara2 di bawah theocrats Islam itu akan lumpuh.
Masih banyak lagi scenario yg lebih masuk akal dari kehancuran negara2
kafir di Eropa dan Amerika Utara dan yg akan mematikan, truly decimate
negara2 dan umat Islam.

Gabriela Rantau


--- In zamanku@yahoogroups.com, Haryo Penangsang <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>
>
>
>
> Menanti Kehancuran Amerika dan Eropa
>
>
>
> Sebuah buku spektakuler
> tentang analisa kehancuran Amerika dan Eropa di akhir zaman dari
berbagai sudut
> pandang : empiris, historis, sosial, ekonomi, dan nubuwah akhir
> zaman.
>
>
> Di saat Uni Soviet yang mengusung
> komunisme tumbang, Perang Dingin berakhir, maka Amerika tampil sebagai
negara
> super power yang menentukan hitam putihnya dunia.
> Di saat sistem politik demokrasi dan
> sistem ekonomi kapitalisme diterima oleh lebih dari 90 % negara di
> dunia.
> Di saat 95 % negara anggota PBB
> mendukung Amerika dan sekutunya dalam memerangi Islam dan kaum
muslimin melalui
> sandi operasi 'perang global melawan terorisme'.
> Di saat Amerika dan sekutu-sekutunya
> melanggar aturan internasional, dan melakukan invasi militer kepada
dua negara
> yang paling miskin dan lemah di dunia, Afghanistan dan Irak, tanpa ada
satu
> negara pun yang mampu mencegah dan menghukumnya.
> Di saat Amerika Serikat terus
> memimpin sekutu-sekutunya dari Eropa Barat, Australia, Jepang, dan
Korea Selatan
> untuk menuruti semua kehendaknya
> Di saat Amerika telah menjelma
> bagaikan bangsa Mesir pada zaman Fir'aun, yang menginginkan
bangsa-bangsa
> lain menghamba kepada mereka, mengikuti agama mereka, menyembah
thagut, dengan
> cara memeras, menakut-nakuti, menyiksa, bahkan melenyapkan mereka.
> Di saat Amerika tampil mengangkangi
> segala negara dan lembaga di dunia, tak terkecuali PBB, yang dengan
leluasanya
> Amerika bisa berbuat semaunya tanpa ada seorang pun dan sebuah negara
pun yang
> bisa mencegah dan menghukumnya.
> Di saat seluruh dunia menerima klaim
> Amerika sebagai pusat peradaban, ekonomi, penegakan HAM, Demokrasi dan
standar
> tunggal gaya hidup manusia.
> Di saat Amerika menjadi tolok ukur
> dalam seluruh makna keberhasilan dan kesuksesan hidup manusia.
> Bisakah Anda mempercayai penjelasan orang yang
> menyatakan bahwa Amerika dan sekutunya tengah berada di ambang
> keruntuhannya? Dapatkah Anda membenarkan klaim yang menyatakan bahwa
> negeri itu tengah di ujung jurang kebinasaannya? Bagaimana jika yang
> menjelaskannya adalah para tokoh politik, ekonomi, budaya dan
cendekiawan
> Amerika dan Eropa sendiri? Bagaimana jika yang menjelaskannya adalah
para
> ilmuwan dan ulama muslim? Bahkan, ayat-ayat Al-Qur'an dan
hadits-hadits yang
> shahih?
> Amerika adalah sebuah negara adidaya
> yang ekonominya 100 % berbasis sistem ribawiyah-spekulatif
(Kapitalisme) dan
> merupakan penghela utama peradaban Barat-modern. Banyak sekali orang
yang
> tersihir oleh kehebatan teknologi negeri itu, terpesona oleh
kekayaannya yang
> luar biasa, sehingga sama sekali tidak mengira bahwa sebenarnya negara
adidaya
> itu tengah memasuki hari-hari terakhirnya, insya Allah. Buku ini
> mengungkapkan kenyataan sebenarnya yang tengah dihadapi negeri adidaya
itu.
> Seluruh persyaratan untuk terjadinya sebuah kehancuran total telah
terpenuhi
> oleh negeri ini; ekonomi, politik, militer, sosial, demografi,
moralitas,
> termasuk nubuwat akhir zaman.
> Dari sisi ekonomi, negeri produsen
> dolar ini telah berubah dari lintah darat menjadi korban lintah darat
terbesar
> di dunia sejak pertengahan tahun 1986 – dimulai pada masa
pemerintahan Presiden
> Ronald Reagen. Perubahan status ini bermula dari pengeluaran anggaran
yang luar
> biasa besar bagi pembiayaan Proyek Perang Bintang (Strategic Defense
> Initiative) dan Kampanye Penghancuran Uni Soviet. Uni Soviet memang
> akhirnya hancur, akan tetapi dengan ongkos yang membuat Amerika
sendiri menjadi
> limbung dan menuju status sekarat! Utang total pemerintah Amerika
bertambah
> praktis secara eksponensial, dan per April 2007, utang tersebut telah
melewati
> US$ 8,9 trilyun (ikuti terus statusnya pada situs "US National
> Debt Clock") dan terus bertambah dengan besarnya bunga yang harus
dibayar setiap
> tahun melewati angka US$ 300 milyar yang nilainya semakin bertambah
pula seiring
> dengan semakin meningkatnya utang pokok dan suku bunga pinjaman.
> Dengan akumulasi utang bangsa
> Amerika per 2007 (jumlah utang pemerintah pusat, pemerintah daerah,
sektor
> swasta, dan rumah tangga) sebesar lebih kurang US$ 48
> trilyun[1] (dengan kurs 1 US$ = Rp. 9000,-
> nilainya akan setara dengan kira-kira Rp. 432.000 trilyun, baca: empat
ratus
> tiga puluh dua ribu trilyun rupiah!), secara teoritis, jika Bank
Sentral
> Jepang dan atau Cina dan atau sejumlah investor lainnya (cukup salah
satu saja
> yang beraksi, lainnya akan segera mengikuti) memutuskan menarik
seluruh
> investasinya keluar Amerika, maka akan terjadi suatu gempa moneter
yang luar
> biasa hebat, yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah umat manusia,
di
> Amerika dengan episentrumnya terletak pada dua tanduk syaitannya,
yaitu bursa
> saham dan pasar uangnya. Gempa moneter raksasa ini selanjutnya akan
menimbulkan
> gelombang tsunami moneter yang luar biasa dahsyat yang menjalar ke
seluruh
> penjuru dunia!
> Banyak analisa para pakar ekonomi
> yang telah meramalkan kehancuran Amerika dari sudut pandang ini. Pada
23 Januari
> 2005, Jas Jain, salah seorang analis ekonomi terkemuka telah menulis,
"Depresi
> yang lebih Besar (Greater Depression) adalah tak terhindarkan.
> Semakin tinggi kita mendaki tangga utang, semakin dalam ekonomi
Amerika
> akan jatuh selama Depresi yang lebih Besar yang akan datang.
>
> Pada Maret 2005, Stephen Roach,
> seorang kepala ahli ekonomi pada lembaga keuangan Morgan Stanley di
Boston
> mengatakan, bahwa ia percaya peluangnya adalah 90% (yang menunjukkan
sudah
> sangat dekat kepada kepastian!) bahwa utang yang gila-gilaan ini pada
akhirnya
> akan membawa pada kehancuran ekonomi!
> Pada 24 September 2005, Alan
> Greenspan, Gubernur Bank Sentral Amerika, mengungkapkan kepada
sejawatnya
> Thierry Breton, Menteri Keuangan Perancis, bahwa Amerika Serikat telah
> kehilangan kendali atas defisit anggarannya. Selanjutnya Breton
berkata,
> "Situasi yang menciptakan tekanan saat ini pada pasar uang adalah
jelas defisit
> Amerika." Ia juga mengungkapkan, "Nampak bagi saya bahwa sejawat saya
John Snow
> (Menteri Keuangan Amerika, penj.) sepenuhnya sadar akan hal ini, ia
> ingin mengatasi masalah ini, tetapi nampaknya ia tidak mempunyai ruang
yang
> cukup untuk bermanuver."[2]
> Dari sisi politik dan militer,
> kehancuran Amerika juga tinggal menunggu waktu. Perang yang dikobarkan
oleh
> Amerika di negeri-negeri muslim telah mendapat kecaman internasional
dan
> kerugian yang cukup besar. Hingga awal 2007, perang Irak dan
Afganistan telah
> merenggut nyawa lebih dari 4000 orang tentara Amerika, dan lebih dari
50.000
> tentara mengalami cedera. Semula Departemen Pertahanan Amerika,
Pentagon,
> berusaha mengecilkan jumlah prajurit yang cedera menjadi 24.000 orang.
Akan
> tetapi Dr. Linda Bilmes telah mengejutkan publik Amerika dengan
membocorkan
> angka yang sebenarnya, yaitu berkisar 50.000 prajurit yang membuat
Pentagon
> kebakaran jenggot. Angka ini tidak dapat disanggah oleh Pentagon
karena dikutip
> oleh Dr. Bilmes dari Departemen Urusan Veteran Amerika yang terbebas
dari
> pengaruh Pentagon. Sejauh ini lebih dari 200.000 veteran telah
dilayani di
> VA centers (Pusat-pusat Urusan Veteran), dan terdapat antrian klaim
> pelayanan medis dari 400.000 veteran. Jumlah klaim diperkirakan akan
mencapai
> 874.000 pada 2007, dan 930.000 pada 2008.39 Dari
> total prajurit yang cedera, sekitar 50% mengalami cacat permanen yang
membuatnya
> tidak dapat bertugas kembali sehingga setara dengan kematian.
Celakanya, tentara
> yang cacat ini malah membebani pemerintah Amerika dengan biaya
perawatan seumur
> hidup yang jauh lebih besar dari pada kompensasi bagi keluarga
prajurit yang
> tewas. Sebagai contoh, keluarga dari seorang prajurit yang tewas akan
> mendapatkan bantuan sebesar US$ 500.000, sedangkan seorang prajurit
yang
> menderita cedera permanen di otaknya akan memerlukan biaya perawatan
sekitar US$
> 4 juta..
> Faktor penting lainnya yang juga
> menambah/mempercepat kemungkinan kehancuran Amerika adalah datangnya
bencana
> alam yang sangat dahsyat, seperti angin topan yang menghantam kota New
Orleans
> yang terletak di wilayah Teluk Meksiko pada akhir Agustus 2005.
Bencana tersebut
> telah membuat Kongres Amerika segera meluluskan permintaan bantuan
sebesar US$
> 10 milyar sebagai uang muka, sementara sebuah perkiraan telah
menyebutkan bahwa
> dibutuhkan dana sebesar US$ 200 milyar guna merestorasi semua
kerusakan, suatu
> nilai yang setara dengan perang selama empat tahun di Irak dan
Afganistan.
>
> Belum genap sebulan setelah bencana
> alam akibat angin topan yang demikian merusak tersebut, datang lagi
angin topan
> kedua yang menghantam wilayah yang sama, yang menimbulkan kerusakan
dan banjir
> secara meluas. Belum genap sebulan setelah topan kedua, datang lagi
topan
> ketiga. Barangkali saja sudah menunggu angin-angin topan lainnya yang
akan terus
> menghantam daratan Amerika.
> Rentetan bencana tersebut telah
> menghancurkan sebagian infrastuktur energi Amerika; 108 anjungan
pengeboran
> minyak rusak dan tidak mungkin dibangun kembali, demikian juga
kerusakan pada
> sarana penyulingan minyak yang menurunkan kapasitas operasinya menjadi
70%.
> Bencana tersebut juga telah mengakibatkan 363.000 orang menjadi
penganggur, dan
> menimbulkan gelombang kebangkrutan yang masif.[3]
> Jika pandangan suram tentang masa
> depan Amerika di atas semata-mata dari sisi ekonomi, maka pandangan
suram dari
> sisi sosial budayanya tercermin dari kutipan berikut ini,
> "Gambaran suram masyarakat Amerika
> dilukiskan oleh Alistair Cooke, penyiar veteran kelahiran Inggris,
yang tinggal
> di AS selama bertahun-tahun. Masalah Amerika baginya semata-mata
merupakan
> pembusukan moral: 'Tingkat kejahatan di kota secara teratur melampaui
semuanya.
> selain tahun sebelumnya yang paling buruk, dan kejahatan di jalanan
secara acak
> di waktu malam menandingi peristiwa menonjol dalam buku harian abad
kedelapan
> belas. Obat terlarang adalah hama yang menyerang semua kelas dari
segala usia.
> Kita baru saja tersadar untuk mendapatkan bahwa sudah lama sekali,
mungkin
> beberapa puluh tahun, pendidikan umum di Amerika telah menetapkan
standar yang
> mudah dan membingungkan, sehingga, paling tidak dalam minoritas besar,
mungkin
> mayoritas, tamatan sekolah menengah, kalau dibandingkan dengan
sesamanya dari
> Eropa dan Asia, hanya setengah melek huruf.'
>
>
> Alistair Cooke memerhatikan
> gejala lain dari keruntuhan budaya: penyalahgunaan kebebasan,
kegagalan
> pengadilan menetapkan dan mengekang perbuatan tidak senonoh,
kemerosotan tajam
> dalam sikap umum, dan lain-lain. Dia menyimpulkan bahwa akan ada titik
balik
> sejarah yang besar, suatu akibat dramatis seperti Perang Saudara
> Amerika kedua, datangnya seorang diktator populis, atau kembalinya
secara
> darurat ke bentuk sosialisme nasional yang menguntungkan ciptaan
Franklin
> Roosevelt dalam New Deal pertama (kebijakan Presiden Roosevelt untuk
> mengatasi Depresi Besar pada 1930-an, penj.)"
> Itu adalah komentar dari seorang
> yang hidup pada dekade 1990-an di Amerika. Sekarang tentu keadaannya
sudah jauh
> lebih buruk lagi. Maka lengkap sudah semua syarat kehancuran Amerika:
> kemerosotan secara cepat dalam bidang ekonomi, sosial, dan budaya.
Dengan
> memerhatikan segenap tanda-tandanya, puncak musibah (baca: azab)
> yang mirip dengan Depresi Besar 1930 insya Allah akan terjadi lagi.
> Sebuah makalah dengan judul TOO
> Jika segenap penyebab di atas belum
> memadai untuk membawa Amerika kepada kehancurannya, maka skenario
berikut dapat
> menjadi skenario pamungkasnya. Sebagaimana dikemukakan banyak pengamat
dari
> kalangan akademisi maupun lembaga penelitian lainnya, baik mewakili
institusi
> maupun perorangan, kehancuran ekonomi Amerika yang dipicu oleh
kehancuran pasar
> saham dapat terjadi akibat adanya perubahan pada struktur demografi
masyarakat
> Amerika dikaitkan dengan sistem pensiun para pekerja. Bahkan tokoh
"resmi"
> semacam Dr. Alan Greespan.[4] yang menjabat sebagai Gubernur Bank
> Sentral Amerika, telah menyatakan keprihatinannya yang mendalam akan
persoalan
> ini dalam pidatonya pada 2 Desember 2005 mengenai kebijakan anggaran
Amerika.
>
> Data demografi Amerika menunjukkan,
> bahwa lebih dari 76 juta orang Amerika lahir antara 1946 dan 1964,
yang oleh
> para ahli sosiologi disebut sebagai generasi "baby boomers" (bayi-bayi
yang
> lahir pada era ledakan kelahiran pasca PD II). Para "baby boomers" itu
kini
> berusia antara 43 dan 61 tahun. Mereka inilah yang membanjiri pasar
kerja pada
> era 1970-an. Kemudian sepanjang dekade 1980-an dan 1990-an, mereka ini
pula yang
> banyak menanamkan investasinya di bursa saham.
> Dalam beberapa tahun mendatang,
> generasi "baby boomers" ini akan mulai memasuki masa pensiun, sehingga
mereka
> akan mulai mencairkan dana-dana pensiun mereka, yang berarti menutup
investasi
> mereka di reksa dana, dan menyimpan dalam bentuk tabungan di bank.
Bahayanya
> terletak pada kenyataan bahwa generasi "baby boomers" ini adalah
kelompok
> populasi yang paling besar dan paling kaya di Amerika, sementara
generasi
> berikutnya, yang berpotensi menggantikan generasi "baby boomers"
sebagai
> investor di bursa saham, mempunyai jumlah yang lebih kecil dengan
> tingkat kekayaan yang lebih rendah. Lebih memperburuk keadaan adalah
adanya
> "cacat" pada peraturan sistem dana pensiun Employment Retirement
Income
> Security Act - ERISA, di mana setiap pensiunan yang telah
> menginjak usia 70 tahun "diwajibkan" mulai menarik dananya dari pasar
saham,
> dengan cara menjual sahamnya setiap bulan.
> Maka secara teoritis, mulai 2008
> orang akan menyaksikan kecenderungan terjadinya lebih banyak transaksi
menjual
> daripada membeli saham dan semakin bertambah nyata pada tahun-tahun
berikutnya.
> Selang beberapa waktu kemudian orang akan memerhatikan bahwa indeks
> harga saham tidak akan bisa naik lebih jauh lagi, bahkan cenderung
terus
> tertekan, akibat kecenderungan menjual saham lebih banyak daripada
membeli. Lalu
> begitu tersadar, orang-orang akan berduyun-duyun menjual sahamnya.
> Persoalannya, sebagaimana juga di
> negara-negara lain, bagian terbesar dari masyarakat Amerika adalah
warga yang
> dididik untuk menjadi pekerja, bukan pengusaha. Para pekerja itu tetap
saja
> merupakan orang-orang yang awam dalam bidang investasi di bursa saham.
> Sebagaimana orang awam lainnya, tindakan mereka sering bersifat
emosional,
> "ikut-ikutan." Jadi, jika suatu kali terjadi kondisi pasar saham yang
"merosot,"
> mereka dapat menjadi sangat panik, lalu berusaha menjual secepat
mungkin
> saham-saham mereka, dan yang lain pun akan segera mengikuti. Pasar
saham bisa
> benar-benar hancur karenanya. Jika itu terjadi, para analis
memperkirakan, ia
> akan menjadi "kehancuran pasar saham paling besar dalam sejarah
peradaban
> manusia."
> Kini renungkanlah, jika para
> pengamat telah membuat prediksi yang sedemikian kelabu, tentu para
investor
> telah membuat ancang-ancang jauh-jauh hari sebelumnya untuk segera
menarik
> investasinya dari tanah Amerika. Seakan-akan, wallahua'lam, Allah
telah
> membuat "rencana" yang akan memaksa para investor itu untuk menarik
modalnya
> keluar dari Amerika. Seakan-akan semua jalan telah terkunci bagi
Amerika untuk
> melepaskan dirinya dari bom waktu raksasa yang terbentuk tanpa mereka
sadari dan
> melekat tepat pada jantungnya.
> Namun, di balik semua kengerian yang
> hendak mencengkeram dunia, ada kabar gembira yang menjadi konsekwensi
kehancuran
> barat dan Amerika. Kembalinya khilafah rasyidah yang sesuai dengan
manhaj
> nubuwah yang akan memimpin dunia dengan keadilan dan kebenaran
merupakan janji
> yang pasti.
> Maka, buku ini juga mengupas secara
> padat dan tuntas generasi umat Islam yang akan muncul sebagai pemimpin
dunia,
> menggantikan peranan Amerika dan Barat; siapa, kapan, karakteristik
dan sifat
> keistimewaan, langkah-langkah perjuangan dan hasil-hasil yang akan
mereka capai.
> Sebuah penjelasan yang lengkap, berdasar Al-Qur'an dan As-Sunnah,
disertai
> tinjauan sejarah dan fakta-fakta terbaru yang valid. Sungguh sebuah
kajian yang
> obyektif, ilmiah, menarik, dan sangat berani!
>
>
>
> [1] Pada situs
> Grandfather Economic Report, Michael W. Hodges, America's
> Total Debt Report-Update 2007 US$ 48 Trillion and Soaring.
> [2].
> Pada situs CNN Money edisi 24 September
> 2005.
>
> [3].
> Pada situs Financial Sense Online, edisi 11 Oktober 2005, Jennifer
Barry,
> America Sinking Below The Waterline.
> [4].
> Pada situs India Infoline, edisi 3 Desember 2005, Greenspan warns
> on US budget deficit.Shalom,
> Tawangalun.
>

Kirim email ke