--- In [EMAIL PROTECTED], "setyawan_abe"
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:


Beberapa harian nasional pernah memuat berita tentang penemuan fenomenal
di dunia  pertanian oleh Umar Hasan Saputra, seorang alumni IPB. Umar
berhasil menemukan  nutrisi khusus pengganti pupuk yang telah terbukti
mampu meningkatkan hasil  produksi pertanian secara signifikan (yang
dinamakan Nutrisi Saputra).




Pak Ciputra yang melihat presentasi Umar tersebut bahkan menyebutkan
sebagai pencapaian yang melebihi pencapaian Einstein dan berpotensi
merevolusi dunia pertanian.


Namun sebelum menghargai hasil karya Umar, ada baiknya kita menghargai
perjuangan serba sulit yang dilakoninya terlebih dahulu. Umar sempat
ditertawakan rekan-rekannya, gagal dan berpindah laboratorium
berkali-kali, harus merogoh kocek sendiri untuk mendanai penelitiannya,
hampir putus asa, dan sempat terpaksa berhutang Rp. 500.000,- untuk
membeli susu anaknya karena kehabisan uang.


Apa yang membuatnya maju terus adalah keyakinan dalam dirinya dan
keinginan yang mendalam untuk menyumbangkan sesuatu buat umat manusia.

Beriringan dengan cerita tentang Umar, Kompas juga pernah mengeluarkan
berita pemberian penghargaan Field Medal Award, ajang penghargaan
setaraf Hadiah Nobel untuk para matematikawan. Empat orang mendapatkan
penghargaan pada tahun yang sama, termasuk Grigori Perelman, seorang
matematikawan eksentrik dari Rusia.



Hampir sama dengan nasib Umar, Perelman harus merogoh kocek sendiri
untuk mendanai penelitiannya. Hasil karyanya juga masih jarang
diketahui, bahkan oleh para ahli matematika sekali pun. Perelman sendiri
sering dianggap eksentrik dan gila. Kedua cerita tersebut merupakan
gambaran betapa sulitnya menjadi pendobrak paradigma. Kita mungkin
sering berasumsi, bila kita memiliki ide yang hebat, orang akan
berduyun-duyun memberikan dana atau setidaknya dukungan moral.


Kadang hal tersebut memang benar, tetapi lebih sering dukungan yang
diharapkan tersebut tidak pernah datang, bahkan dari orang-orang
terdekat. Semuanya baru akan datang setelah penemuan tersebut terbukti
sukses.

Salah satu penyebabnya adalah daya tolak dari cara pandang lama yang
sangat kuat, bahkan kadang juga terjadi di dunia ilmu pengetahuan dan
akademis yang konon kabarnya sangat mendewakan rasionalitas. Di sini
kita hendaknya selalu mengingat bahwa para ilmuwan sekali pun adalah
manusia biasa yang tidak terlepas dari bias-bias kognitif dan
dipengaruhi oleh kepentingan pribadi dan keinginan untuk menjaga status
quo bidang bersangkutan. Pendewaan terhadap rasionalitas dan berpikir
kritis tidaklah menjamin mereka tidak memiliki ikatan emosi terhadap
teori yang mereka yakini saat ini.


Sebagai contoh kita bisa melihat bagaimana Royal Society of London
mengejek penemuan vaksin cacar oleh Edward Jenner karena penemuan
tersebut sangat

bertentangan dengan pengetahuan umum yang dianut saat itu. Dan ketika
dokter Ignas semmelweis dari Hongaria membuktikan bahwa tangan dokter
yang tidak

disteril merupakan penyebab infeksi mematikan selama kelahiran di
Universitas Wina di tahun 1850-an, dia harus kehilangan jabatannya.


Jalan menuju pendobrak paradigma dan inovator tidaklah seindah yang
terlihat.

Karena itu, Rasa cinta terhadap bidang yang ditekuni yang berasal dari
panggilan hidup sangat dibutuhkan. Rasa cinta dan panggilan hidup inilah
yang merupakan sumber kekuatan dari dalam. Jalan tersebut jelas bukanlah
jalan untuk semua orang, terutama bagi mereka yang menyukai status quo
atau yang masih belum menemukan panggilan hidupnya.

--- End forwarded message ---


Kirim email ke