---------- Forwarded message ----------
From: nuh maarif <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Dec 3, 2008 8:48 AM
Subject: cerpen tentang yoga
To: [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED]

Yoga

Sepenggal firman tersurat: fas aluu ahl al-dzikr in kuntum la ta'lamuun.
"Jika tidak tahu, sampaikanlah pertanyaan kalian kepada ahli zikir". Dua
kali Tuhan menyuratkannya pada dua surat yang berbeda.

Secara spesifik, sepenggal firman itu merupakan bagian dari rangkaian kisah
dialektikal Nabi dengan sebagian kalangan Arab waktu itu yang didera
keraguan, mempertanyakan kerasulan Muhammad, sebab menimbang dirinya
hanyalah manusia. Mungkin mereka juga bakal meragukan siapapun, seandainya
ada manusia lain yang memproklamirkan diri menjadi rasul. Keyakinan mereka
terhadap transendental Tuhan, memunculkan sikap penyucian terhadap-Nya
(al-tanzih). Tuhan mesti dijauhkan dari dunia empiris, tidak layak
bersentuhan dengan hal-hal profan, dari hal-hal yang berbau tanah bumi,
beraroma keringat manusia. Maka, yang pantas menjadi rasul, menurut mereka,
adalah para malaikat, mahluk langit.

"Allah a'dzam min an yakuna rasuluhu basyar," kata orang-orang itu. "Mosok
iya, Tuhan dengan segenap keagungannya mau menjadikan rasul-Nya dari kelas
manusia?! Itu akan menggerogoti transendental Tuhan!"

Ini persoalan kelas berat, yang nalar Nabi sendiri barangkali tak dapat
memberikan jawaban meyakinkan kepada mereka. Maka, Tuhan sendiri yang
menjawabnya.

"Akana li al-nas 'ajaban an auhaina ilaa rajulin minhum," kata Tuhan.
"Memangnya kenapa, jika yang menjadi rasul adalah manusia?! Herankah Kalian
dan merasa aneh, jika Aku berikan titah kepada seorang laki-laki di antara
Kalian?!"

"Wama arsalna min qablika illa rijalan nuhi ilaihim," Kata Tuhan lagi. "Pada
masa lalu, yang Aku jadikan rasul pengantar wahyu juga manusia, lebih
spesifiknya para lelaki."

"Jadi, why not?!"

Agaknya mereka yang didera keraguan itu hanyalah orang-orang yang pandangan
hidupnya membentur dinding tebal masa di mana mereka hidup, eksklusif dengan
pemikiran, pengetahuan, dan informasi yang beredar pada masanya atau
kalangannya saja, tanpa menyadari atau mungkin juga tak mau tahu jika di
balik dinding tebal masanya ada masa lalu yang menghamparkan pemandangan
luas. Mereka tidak memiliki jargon mulia seperti dalam tradisi NU:
al-muhafadzah 'ala al-qadim al-shalih, wal-akhdzu bi al-jadid al-ashlah.
Menggali, menemukan, dan merawat warisan masa lalu, menengok preseden masa
silam yang dapat memberikan pengayaan wacana, sekaligus mengikuti,
mengamati, bahkan melibatkan diri pada perkembangan wacana masa kini yang
juga dapat memberikan pengayaan, agar pengetahuan menjadi komperhensif dan
lebih kaya.

Mungkin juga, karena tidak atau belum memiliki keimanan, mereka tidak atau
belum memahami adagium bijak nan bajik, "al-hikmah dhallah al-mu'minin" atau
"kebijaksanaan adalah barang hilang orang-orang beriman". Karena lokasi
hilangnya tidak jelas betul, maka di mana pun dan pada apa pun kebijaksanaan
itu dijumpai, pungut saja.

Maka, jadilah mereka katak dalam tempurung. Eksklusif. Mereka melihat
dirinya digdaya, tapi sebenarnya adalah kedunguan.

Mereka tidak tahu, perihal rasul dan risalah telah merayap sejak zaman
purba, telah ada presedennya, dan yang terjadi dengan Muhammad hanyalah mata
rantai. Dengan muatan kombinasi kemulian tradisi NU dan kebajikan adagium di
atas, Allah menyarankan lawan dialektikal Rasul agar banyak belajar kepada
siapa saja, termasuk kepada orang paling alimnya kelompok Nasrani, paling
ahlinya kalangan Yahudi, para pakar Taurat, para pakar Injil, jika memang
informasi dari Islam dianggap kurang kuat dan komprehensif. "Fas aluu ahl
al-dzikr in kuntum la ta'lamuun".

Ahl al-dzikr, ahli zikir bukanlah orang-orang yang zikirnya khusyuk dengan
deraian air mata diiringi isak tangis sebagai latar sendu. Ahli zikir adalah
para pakar intelektual. Kepada merekalah, lawan dialektikal Rasul disuruh
menghadap membawa kebodohannya.

"Jika kalian tidak yakin, coba tanyakan, diskusikan dengan para intelektulal
dari kalangan mana pun, Islam, Nasrani, Yahudi, atau para pakar mana pun
yang menguasai kitab-kitab samawi, kalian akan menemukan satu jawaban, bahwa
para rasul yang telah diterjunkan ke bumi, semuanya adalah manusia, tidak
ada satu pun dari jenis malaikat. Dan itu tidak ada kaitanya dengan
transendental atau profan. Sebab, bagaimana pun, Aku akan tetap menjadi
diriku sendiri. Jangankan sekedar mengutus rasul dari kelas manusia,
keagunganku tak akan dekaden secuil pun, meski umat seluruh dunia
mengutukku. Atau, seandainya umat seluruh dunia memujiku, itu sama sekali
tak akan menambah derajat kemualianku, " begitu kira-kira jawaban Tuhan
untuk lawan dialektikal Rasul.

Saya kira, ada saat di mana Rasul selalu bersandar pada wahyu untuk
memberikan jawaban atau menyelesaikan persoalan masyarakatnya, dalam hal
yang relatif berat, seperti hal dan informasi gaib. Biasanya, kemudian,
jawabanya saklek dari Tuhan, sebut saja, misal, "wa idza saalaka 'ibadi
'anni fa inni qarib", "Muhammad, jika ada yang bertanya soal Aku kepadamu,"
(jawab saja), "Aku cukup dekat kok." Atau, "Yasaluka al-nas 'an al-sa'ah,
qul innama 'ilmuha 'inda Allah", "Orang-orang bertanya kepadamu soal
kiyamat. Jawab saja, cuma Allah yang tahu."

Ada saatnya juga Rasul menerima persoalan remeh temeh. Rasul bukan tidak mau
menjawab, hanya saja, pertanyaan itu muncul dari kemanjaan, kemalasan
berpikir untuk berusaha mencari jawabannya sendiri.

Suatu ketika, ada salah seorang sahabat bernama Wabishah, bertanya kepada
Rasul tentang definisi "kebaikan" dan "dosa", syukur-syukur sekalian dengan
contoh-contoh kongkritnya. Jawab Rasul,

"Istafti qalbak, ya wabihsah!" Rasul sampai perlu mengulanginya tiga kali,
menandakan penekanan, "al-birru ma ithmaannat ilaihi al-nafsu, wa al-itsmu
ma haka fi al-nafsi."

"Tanyakan pada hatimu! Mintalah fatwa pada kalbumu! Mintalah pertimbangan
sukmamu! Jika hatimu merasa nyaman, adem, ayem, maka yang kamu lakukan itu
berarti baik. Tapi kalau malah bikin resah, gelisah, berarti itu tidak baik,
sehingga kamu merasa berdosa melakukanya. "

Saya, kok, jadi berkhayal, Kanjeng Rasul rawuh ke Indonesia , kemudian
seseorang menghadapnya, bertanya soal yoga. Saya tidak dapat membayangkan
ekspresi wajah Kan jeng Rasul…

~

http://jumanrofarif <http://jumanrofarif.wordpress.com/><http://jumanrofarif/>
.wordpress.com

Kirim email ke