Untuk Hafsah Salim dan Ignatius dan para ateis yang lain.
 
Ada banyak sebab mengapa orang menjadi ateis, namun biasanya adalah salah satu 
atau kombinasi dari hal-hal sebagai berikut:
1. Seorang mantan Muslim karena kecewa terhadap seorang kyai,atau uztad.Seorang 
mantan Katolik karena kecewa terhadap pastor, seorang Kristen karena kecewa 
terhadap seorang pendeta. Alasan kecewa banyak, bisa karena ajaran2nya, bisa 
jadi karena tingkah perbuatannya.
2. Kecewa karena harapan dan doa yang pernah dinaikkannya kepada Tuhan tidak 
terjadi seperti yahng diharapkannya. Artinya orang ini berkeras agar Tuhan 
menjawab doa seperti maunya (dia mau mendikte Tuhan seperti kehendaknya), dan 
ketika itu tidak terjadi, dia kecewa dan benci kepada Tuhan.
3. Orang ini terpengaruh dengan suatu aliran filsafat yang ateis, dan mengira 
dia mendapat kebebasan mutlak dengan tidak percaya lagi kepada Tuhan. Dia 
membaca kitab suci dengan penafsiran yang ateis, sehingga melihat apa yang di 
kitab suci itu sebagai tidak masuk akal dan karena itu tidak perlu dipercayai 
lagi.
 
Akibat menjadi Ateis:
Seperti yang dikatakan oleh filsuf Heidegger dan Sartre, mereka melihat hidup 
ini tidak punya arti dan tujuan, penuh kemuakan dan kebencian terhadap agama. 
Sebagai gantinya mereka membebaskan diri untuk melakukan segala hal yang 
tadinya dilarang oleh agama, asal tidak membahayakan dan menganggu orang lain. 
Maka bagi seorang ateis, tidak akan suka ditanya apa arti dan makna hidupnya, 
karena jelas tidak berarti apa-apa selain hanya menjalani hidup, tak ubahnya 
dengan semua jenis makhluk hidup lainnya selain manusia alias binatang.
Orang ateis tidak percaya bahwa didalam hidup ini ada kebahagiaan, baginya 
semuanya hanyalah kemunafikan. Bagi orang-orang ateis teori Evolusi sudah 
merupakan agama bagi mereka, yang sekalipun tidak bisa dibuktikan, namun mereka 
meyakininya dengan kefanatikan yang melebihi orang2 teis dengan agama mereka. 
Bagi mereka teori evolusi adalah merupakan kebenaran pengganti agama.
Orang-orang ateis tidak bisa tersenyum melihat hidup ini, mereka penuh dengan 
pesismisme, kebencian dan kemuakan dengan segala  hal yang berbau agama. Bagi 
mereka orang-orang beragama adalah orang-orang bodoh. Namun mereka didalam 
"kepintarannya" berfaham ateis, tidak akan pernah mengerti dan mengalami 
ketenangan batin dan kejelasan tujuan hidup yang dimiliki oleh orang-orang yang 
percaya kepada Tuhan. Karena hidup mereka kosong, kering, dan tak mempunyai 
makna apapun.
   Mereka menyerang semua orang yang beragama karena mereka sendiri tidak 
memiliki damai didalam hatinya sendiri, mereka penuh  dengan pertentangan 
batin. Dengan sekuat tenaga mereka mencoba memiliki hati nurani tapi sekaligus 
menyangkal Tuhan. Pertentangan batin ini akan terus dibawa mereka sampai mati, 
jika mereka memang mau membawa keyakinan ateisnya sampai mati.    
 
Bagimu setelah mati hanya ada kuburan dan kebisuan. Namun bagi orang-orang yang 
mati dalam keadaan diperlakukan tidak adil oleh orang2 lain, mereka hanya bisa 
mengharapkan keadilan Tuhan dalam Pengadilan Hari Akhir yang akan membalaskan 
ketidak adilan yang mereka alami kepada orang2 yang telah memperlakukan mereka 
dengan tidak adil.
Hal ini merupakan kesulitan besar bagi orang ateis untuk dijawab: Bagaimana 
dengan kematian orang-orang yang diperlakukan tidak adil, sekiranya tidak ada 
Tuhan?
Bagaimana jawab anda, sdr Ignatius?
 
Satu lagi, sekalipun kalian tidak percaya, kalian juga harus 
mempertanggung-jawabkan segala perkataan dan perbuatan kalian selama hidup di 
dunia ini kepada Tuhan.
Tidak percaya? Silahkan. Tapi paling tidak anda sudah diperingatkan. Sehingga 
nanti tak ada alasan lagi dihadapan Tuhan bahwa kalian belum diperingatkan.
 
 


      

Kirim email ke