Hikmah Muharam

Pada 29 Desember yang akan datang diperingati sebagai tahun baru 1 Muharram 1430 H. Sudah menjadi keharusan bagi setiap kaum muslimin di manapun berada untuk memperingatinya, betapa tidak, dewasa ini kesadaran kaum muslim untuk memperingati tahun baru Hijriyah masih belum optimal, bahkan seringkali dilupakan orang, sehingga seolah-olah tahun baru hijriyah sering terlewati begitu saja. Di dalam sistem kalender Islam sesungguhnya menggunakan dua sistem, yaitu berdasarkan peredaran matahari maksudnya bumi mengelilingi matahari (syamsiah) dan peredaran bulan (komariyah). Sebagaimana Firman Allah Ta`ala: “Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda lalu Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang, agar kamu mencari karunia dari Tuhanmu. Dan supaya kamu mengetahui bilangan tahun-tahun dan perhitungan. Dan segala sesuatu telah kami tegakkan dengan jelas.” (Al-Isra: 12) Tetapi umumnya sistem kalender Islam atau hijriah lebih mengacu pada peredaran bulan. Firman Allah : “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At-Taubah: 36) Diantara kedua belas bulan yang kita kenal seperti diterangkan dalam ayat ini, yaitu Muharram, Shafar, Rabiul Awwal, Rabiuts Tsani, Jumadil Awwal, Jumadi Ats-Tsani, Rajab, Sya'ban, Ramadlan, Syawal, Dzulqaidah dan Dzulhijjah. Adapun yang dimaksud dengan empat bulan haram adalah Rajab, Dzulqaidah, Dzulhijjah dan Muharram. Sebagai seorang muslim kita perlu untuk sejenak menghayati beberapa hal yang terkait dengan penanggalan Islam ini. Beberapa hal yang seyogyanya kita jadikan renungan pada saat tahun baru nanti diantaranya adalah :

Muhasabah
Muhasabah adalah introspeksi diri. Kita menghisab diri kita sebelum nanti kita dihisab, jangan sampai kita menyesal nanti, kare waktu yang telah berlalu tidak mungkin akan kembali lagi, sementara disadari atau tidak kematian akan datang sewaktu-waktu dan yang bermanfaat saat itu hanyalah amal shaleh. Apa yang sudah dilakukan sebagai bentuk amal shaleh? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini selayaknya menemani hati dan pikiran seorang muslim yang beriman pada Allah dan Hari Akhir, lebih-lebih dalam suasana pergantian tahun seperti sekarang ini. Pergantian tahun bukan sekedar pergantian kalender saja, namun peringatan bagi kita apa yang sudah kita lakukan tahun lalu, dan apa yang akan kita perbuat esok. Allah berfirman : "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. Al Hasyr: 18).

Ayat ini memperingatkan kita untuk mengevaluasi perbuatan yang telah kita lakukan pada masa lalu agar meningkat di masa datang yang pada akhirnya menjadi bekal kita pada hari kiamat kelak.

Rasulullah saw bersabda : "Orang yang cerdas adalah orang yang menghitung-hitung amal baik (dan selalu merasa kurang) dan beramal shaleh sebagai persiapan menghadapi kematian". Dalam sebuah atsar yang cukup mashur dari Umar bin Khaththab ra beliau berkata : "Hitunglah amal kalian, sebelum dihitung oleh Allah".

Selain muhasabah, kita juga sebaiknya memperbaiki Akidah kita khususnya Imaniyah dan Ubudiyah. Kita harmoniskan Muamalah dan Muasaroh, yaitu mengharmoniskan hubungan, dimualai dari satu individu dengan lainnya, dari golongan satu dengan golongan lainnya sehingga akhlaknya menjadi baik, yang pada akhirnya tercapai ukhwah Islamiyah.

Ada banyak kejadian yang terjadi pada bulan Muharam diantaranya adalah kapal Nabi Nuh mendarat di bukit Juhdi. Allah menyelamatkan Nabi Musa dengan ditenggelamkannya Firaun di Laut Merah. Konon pada tanggal 10 Muharam ini harta Qorun ditenggelamkan dan yang lebih menyakitkan kepala Hussein cucu Rosul Pada tanggal 10 Muharram 61H, terjadilah peristiwa yang memilukan dalam sejarah Islam, yaitu terbunuhnya Husein, cucu Rasulullah saw di sebuah tempat yang bernama Karbala. Peristiwa ini kemudian dikenal dengan "Peristiwa Karbala". Pembunuhan tersebut dilakukan oleh pendukung Khalifah yang sedang berkuasa pada saat itu yaitu Yazid bin Muawiyah, meskipun sebenarnya Khalifah sendiri saat itu tidak menghendaki pembunuhan tersebut.

Bulan Muharam Adalah Bulan Allah
Bulan Muharram merupakan suatu bulan yang disebut sebagai "syahrullah" (Bulan Allah) sebagaimana yang disampaikan Rasulullah SAW, dalam sebuah hadis. Hal ini bermakna bulan ini memiliki keutamaan khusus karena disandingkan dengan lafdzul Jalalah (lafadz Allah). Para Ulama menyatakan bahwa penyandingan sesuatu pada yang lafdzul Jalalah memiliki makna tasyrif (pemuliaan), sebagaimana istilah baitullah, Rasulullah, Syaifullah dan sebagainya. Rasulullah bersabda : "Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah (yaitu) Muharram. Sedangkan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam"(H.R. Muslim)

Sunnah Berpuasa
Di bulan Muharram ini terdapat sebuah hari yang dikenal dengan istilah Yaumul 'Asyuro, yaitu pada tanggal sepuluh bulan ini. Asyuro berasal dari kata Asyarah yang berarti sepuluh. Pada hari Asyuro ini, terdapat sebuah sunah yang diajarkan Rasulullah saw. kepada umatnya untuk melaksanakan satu bentuk ibadah dan ketundukan kepada Allah Tafala. Yaitu ibadah puasa, yang kita kenal dengan puasa Asyuro. Adapun hadis-hadis yang menjadi dasar ibadah puasa tersebut, diantaranya :
.Diriwayatkan dari Abu Qatadah ra, Rasulullah saw, bersabda :
" Aku berharap pada Allah dengan puasa Asyura ini dapat menghapus dosa selama setahun sebelumnya." (H.R. Bukhari dan Muslim)

Riwayat yang lainnya adalah Ibnu Abbas ra berkata : "Aku tidak pernah melihat Rasulullah saw, berupaya keras untuk puasa pada suatu hari melebihi yang lainnya kecuali pada hari ini, yaitu hari as Syura dan bulan Ramadhan."(H.R. Bukhari dan Muslim)

Jakarta, 18 Des. 2008.

Dirangkum oleh :

Ferry Djajaprana
http://ferrydjajaprana.multiply.com


Kirim email ke