Kiss Goodbye, Mr President 

Amerika Serikat merupakan negara-bangsa yang mempunyai musuh terbanyak di 
dunia. Para presidennya pun adalah sekumpulan petinggi nasional yang paling 
sering dikecam penghuni muka bumi. Kita tidak tahu pasti, apakah ada presiden 
Amerika yang pernah dicoba dihabisi dengan cara disantet, diteluh, diguna-guna, 
atau cara-cara klenik lain. Tapi, tak dapat dimungkiri, negeri Paman Sam itu 
tercatat sebagai negara dengan jumlah presiden yang paling banyak dibunuh.

Presiden Abraham Lincoln tewas ditembak simpatisan Konfederasi, John Walker 
Booth. Nyawa James A. Garfield pun tak tertolong, setelah ditembus peluru 
pengacara bernama Cahrles J. Guiteau. Presiden lainnya, William McKinley, juga 
tewas di tangan anarkis, Leon Czolgosz. John F. Kennedy setali tiga uang, habis 
riwayatnya dirobek peluru karyawan biasa, Lee Harvey Oswald. Sebelumnya, 
Kennedy juga nyaris tewas dihajar oleh pelaku bom bunuh diri.

Booth, Guiteau, Czolgosz, dan Oswald bukan orang-orang non-Amerika. Itu 
artinya, Amerika bukan hanya menghadapi musuh dari negara-negara lain, tetapi 
juga dibenci warganya sendiri.

Jika ditambah dengan nama-nama presiden yang mengalami percobaan pembunuhan, 
deret nama di atas akan lebih panjang. Ada Andrew Jackson, Theodore Roosevelt, 
Franklin D. Roosevelt, Harry S. Truman, Richard Nixon, Gerald Ford, Jimmy 
Carter, Ronald Reagan, George Bush, dan Bill Clinton.

Belum selesai. Zachary Taylor dan Warren G. Harding adalah dua presiden Amerika 
yang kematiannya diduga juga akibat pembunuhan. Selain itu, jika 
dokumen-dokumen rahasia dinas keamanan Amerika dibuka lebar-lebar, sangat 
mungkin ada sekian banyak nama presiden Amerika lagi yang pernah berhadapan 
dengan ancaman dan percobaan pembunuhan.

Bagi manusia, memang tidak ada yang menyenangkan, apakah itu ditembaki peluru 
atau dilempari sepatu. Tapi, sebagai presiden, walaupun berisiko mati, ditembus 
peluru musuh rasanya tetap lebih terhormat daripada ditimpuki sepatu.

Saat seorang presiden tewas dirobek peluru, dunia akan terperanjat. Memang 
mengenaskan, tapi setidaknya masyarakat akan tercenung, "Butuh butiran pelor 
untuk menghabisi nyawa seorang kepala negara." Jika dikemas lewat propaganda 
politik yang dahsyat, si presiden (baca: si korban, si pecundang) bisa beralih 
paras menjadi pahlawan. Citra adidaya Amerika pun kian membahana.

Aksi-aksi pembunuhan atas presiden Amerika juga telah mengilhami para seniman 
dalam berkreasi. Lagu dan film tentang tragedi yang menimpa kepala negara Paman 
Sam tak terbilang banyaknya. Jadi, ringkas cerita, sepanjang penembakan atas 
diri si presiden dilakukan dengan menggunakan peluru, profil si presiden justru 
melambung. Kejadiannya pun menginspirasi berbagai kalangan.

Mempermalukan 

Lain situasinya kalau si presiden sebatas dilempari sepatu. Benda yang 
dikenakan pada bagian paling bawah tubuh manusia justru disasarkan ke bagian 
tubuh paling atas manusia. Dengan melayangkan sepatu, si pelaku bukan ingin 
menghabisi nyawa si tuan presiden yang terhormat, tapi sebatas ingin 
mempermalukan manusia memuakkan di hadapannya. Dunia pun bukan terguncang, 
justru tertawa terpingkal-pingkal. Mau dikosmetik dengan pulasan seelok apa 
pun, si presiden tetap terkesan sebagai dakocan. Dakocan dengan spesialisasi 
jurus mengelak, setidaknya.

Itu yang terjadi pada Presiden Amerika Serikat George Walker Bush. Dua sepatu 
yang ditimpukkan ke arah Bush ibarat bingkisan akhir tahun sekaligus kado akhir 
masa jabatan yang luar biasa menyakitkan hati. 

Kejadian pelemparan sepatu di Baghdad seperti antitesis terhadap realita yang 
digambarkan Russell F. Farnen (1990), akademisi dari University of Connecticut. 
Dalam tulisannya, Farnen menyebut Amerika Serikat sebagai negara dengan sejarah 
yang dipenuhi darah kekerasan. Sejak diproklamasikan sebagai negara baru, 
sepertiga waktu di antaranya ditandai oleh keterlibatan negara ini dalam ajang 
perang, baik yang dideklarasikan maupun yang tidak dideklarasikan. Dan, hingga 
kini, adalah Amerika negara penjual senjata terbesar di dunia. Perkasa nian!

Sepantasnya, bukan hanya dunia yang terpingkal-pingkal setiap kali menyaksikan 
tayangan ulang tentang dua sepatu yang menyasar jidat Bush. Rakyat Amerika 
Serikat yang cinta damai juga punya alasan untuk bersulang, karena itulah trofi 
paling indah bagi presiden yang selama perang Iraq saja telah membuat 4.119 
tentara Amerika mati sia-sia dan hampir tiga puluhan ribu lainnya luka-luka.

Ya, untuk presiden sekaliber Bush, alas kaki tampaknya lebih pantas ketimbang 
timah panas. Presiden terburuk sepanjang sejarah negeri 'adikuasa' itu memang 
tidak perlu dikirim ke alam baka. Membuat dia sebagai sosok paling hina di 
dunia pun sudah lebih dari cukup, rasanya.

So kiss my ... shoes, Mister Bush!

Reza Indragiri Amriel, mantan Ketua Delegasi Indonesia Program Pertukaran 
Pemuda Indonesia Australia 




   Salam
Abdul Rohim
http://groups.google.com/group/peduli-jateng?hl=id


      

Kirim email ke