http://www.suarapembaruan.com/index.php?detail=News&id=5012

2009-02-18 
Kebakaran di Depo Plumpang


Supianto Slamet 

Kebakaran terjadi di Depo Pertamina di Plumpang, Jakarta Utara, pada 18 Januari 
2009 pukul 21.14. Lebih dari 30 tahun saya mendalami masalah keselamatan dan 
kebakaran pada operasi perminyakan, termasuk kebakaran sumur dan tangki minyak. 
Oleh karena itu, saya merasa perlu menyumbangkan pikiran dan mudah-mudahan 
berguna.

Memperhatikan dan mendengar informasi melalui televisi bahwa kebakaran yang 
terjadi di tangki Nomor 24 di Depo Plumpang, kalau tidak salah berkapasitas 
10.000 kiloliter, pada saat sedang dalam pengisian kembali dan baru terisi 
kurang lebih 2.500 kiloliter atau seperempat tinggi tangki. Berarti ruang 
kosong sudah mengandung udara sebanyak bensin yang dikeluarkan sebelumnya untuk 
mengisi truk-truk tangki atau kurang lebih 7.500 kiloliter, yang bercampur 
dengan sedikit uap bensin yang tersisa sebelumnya. 

Dalam keadaan ini, ruang tangki di atas permukaan bensin yang baru terisi ini 
me-ngandung campuran uap bensin-udara yang sudah cukup berbahaya. Uap bensin, 
yang baru ditimbulkan selama proses pengisian sedang berlangsung, mengisi ruang 
di atasnya dan uap di ruang itu menjadi jenuh. Lalu sedikit demi sedikit 
mengisi ruang di atasnya lagi dan membentuk campuran uap bensin dan udara 
semakin ke atas menipis sampai mencapai explosive range (area ledak) yang 
diperkirakan terbentuknya tepat di bawah atap tangki (batas ledak 
tertinggi/high explosive limit) dan meluas ke atas keluar tangki menembus 
lubang ventilasi (batas ledak terendah/low explosive limit).

Campuran uap bensin-udara dalam area ledak ini bila tersentuh bunga 
api/percikan api akan meledak secara instan, seperti ledakan di dalam silinder 
mesin mobil yang mendapat percikan api dari busi.


Sumber Api

Sumber api di daerah tangki diperkirakan dari beberapa kemungkinan, seperti 
petir, listrik, statis, benturan dua pelat besi dan dari sumber luar. Pertama, 
sumber dari petir rasanya tidak mungkin karena pada saat itu tidak turun hujan 
dan tidak ada petir. Penangkal petir saya yakin sudah terpasang dengan baik. 
Kedua, sumber dari listrik statis rasanya tidak mungkin, karena saya yakin 
grounding system-nya sudah terpasang baik dan andaikata terjadi bukan di daerah 
sekitar lubang ventilasi.

Ketiga, sumber api dari benturan dua pelat yang bertubrukan bisa terjadi kalau 
ada pelat besi tangki atau bagian lainnya yang terlempar dan jatuh menimpa atap 
tangki, sehingga saling berbenturan. Misalnya kalau angin bertitup kencang atau 
kesengajaan. Hal ini perlu diselidiki. Keempat, kemungkinan sumber api dari 
luar, seperti kembang api. Tetapi, kepastiannya perlu diselidiki.

Informasi dari TV yang saya dengar menyatakan terdengar ledakan sebelum 
kebakaran dan diikuti dua kali ledakan. Ini menguatkan perkiraan saya, seperti 
saya sebutkan di atas, yang mana ledakan pertama adalah tersentuhnya campuran 
uap bensin dan udara yang dalam posisi area ledak di sekitar lubang ventilasi 
yang dengan instan terus masuk menyambar campuran di dalam tangki dan 
terjadilah ledakan dan kebakaran yang membongkar sebagian atap tangki. Karena 
panas meningkat oleh api, tekanan dalam tangki juga meningkat dan terjadi 
ledakan kedua dan membongkar lebih besar atap tangki. Pada ledakan ketiga, api 
terus membesar, sehingga panas terus meningkat dan secara otomatis tekanan 
meningkat. Terjadi lagi ledakan dan membongkar seluruh atap tangki.


Kesimpulan

Dalam proses pemadaman kebakaran itu, menurut saya, tidak memerlukan waktu yang 
begitu lama, sampai lebih dari 10 jam, bila sistem pemadam foam (busa) 
terpasang dan berfungsi baik, yaitu dengan mengalirkan busa melalui pipa yang 
sudah terpasang ke dalam tangki dan menyelimuti permukaan bensin yang terbakar. 
Dengan satu atau paling banyak dua drum foam concentrate sudah cukup untuk 
pemadaman tangki dan sekelilingnya. Penyemprotan ke dinding tangki yang 
terbakar memang harus dilakauakan untuk pendinginan dan mengisolasi lingkungan.

Sangat menyampaikan salut kepada para petugas yang berhasil menyelamatkan 
tangki-tangki lainnya dari bahaya api.

Di samping usaha pemadaman langsung, untuk mempercepat pemadaman, petugas boleh 
mengusahakannya dengan mengalirkan sebagian bensin yang belum terbakar keluar 
ke tangki yang kosong atau ke tempat lain yang aman. Tindakan ini dapat 
mengurangi kerugian materi. Perlu saya jelaskan bahwa kebakaran terjadi pada 
uap bensin dan bukan pada cairan bensin, jadi mengalirkan bensin keluar masih 
cukup aman.

Untuk program keselamatan, maka penimbunan atau penyuplaian bensin/minyak ke 
dalam tangki untuk pada masa mendatang perlu dibuat sistem baru. Sistem ini 
membuat ruang di atas permukaan bensin/ minyak di dalam tangki harus dalam 
kondisi campuran uap bensin-udara berada di atas batas ledak tertinggi, 
sehingga andaikata terkena percikan api, tangki tidak akan meledak. Api hanya 
akan berkobar di atas lubang ventilasi. Untuk hal ini dapat dijelaskan secara 
lengkap bila diperlukan.

Untuk pemadaman, kita hanya perlu memasang sistem pemadam yang menggunakan 
racun api tepung multipurpose dan pipa saluran yang corongnya terpasang ke arah 
dekat lubang ventilasi. Selain itu, foam system tetap harus terpasang.

Depo Plumpang merupakan tempat penyimpanan minyak yang diklasifikasikan sebagai 
daerah yang sangat berbahaya terhadap api, karena bahan bakar ini mempunyai 
sifat mudah terbakar pada temperatur sangat rendah (di bawah - 0 derajat 
Celcius), mudah meledak, dan mengeluarkan panas yang sangat tinggi. 

Kebakaran bahan bakar dalam jumlah yang sangat besar, seperti di Depo Plumpang, 
sangat sulit dipadamkan, karena panasnya api petugas atau usaha pemadaman tidak 
bisa mendekat. Bila lebih dari satu tangki yang terbakar, apalagi kalau seluruh 
tangki, kemungkinan kobaran api akan menyebar luas dan sangat sulit 
dikendalikan. Oleh karena itu, penanganan keamanannya harus amat ketat. 

Melihat keadaan sekarang, hal itu sangat mengkhawatirkan karena padatnya 
permukiman warga di balik tembok depo. Seharusnya, lingkungan di luar pagar 
tembok sejauh minimun 200 meter harus dipagar, dilengkapi dengan lampu sorot, 
bebas dari bangunan dan pohon-pohon. Rumput paling tinggi 15 cm. Disarankan di 
luar sekeliling pagar dibuat jalan untuk pengontrolan oleh petugas jaga. 


Penulis adalah konsultan fire investigator

Kirim email ke