SUFISME DALAM DIRI MARIO TEGUH
----- Forwarded Message ----
From: AH Musyafa <ah.musy...@starener gy.co.id>
Sent: Thursday, March 5, 2009 10:50:13 PM
Subject: Fw: Sufisme dalam diri Mario teguh
Buat yang nge-fans Mario Teguh,,,,semoga bermanfaat. Petikan Wawancara Mario
Teguh dengan SUFINEWS, untuk menjawab siapa sebetulnya beliau. Pak Mario , Saat
memberikan terapi atau memotivasi, diantara Ilmu Kejiwaan Barat dan Ilmu
Kejiwaan dalam agama, mana yang anda gunakan? Kalau Anda perhatikan penjelasan
saya diatas, sebenarnya "peta" yang ada dalam Kecerdasan Emosional yang saya
tawarkan merupakan gugusan pilar dari kebenaran, keindahan dan kebaikan. Hal
ini didasari oleh fitrah kehidupan bahwa manusia dalam hidup itu tak lepas dari
menginginkan kebaikan, menyukai keindahan dan mencari kebenaran. Tapi dalam
realitas kehidupan, tiga hal ini lebih sering dirasakan oleh manusia sebagai
tiga hal yang berdiri sendiri-sendiri. Misalnya kebenaran yang dicari ternyata
malah membawa kepedihan, keindahan yang disukainya ternyata tidak membawa
kebaikan, atau kebaikan yang diusahakan malah bertentangan dengan kebenaran.
Pada saat yang demikian manusia tidak
dapat menikmati keadaan itu secara sempurna lalu mengidap split personality
atau kepribadian yang terpecah belah. Nah kira-kira melalui apa manusia dapat
menemukan dan merasakan kebenaran, keindahan dan kebaikan sejati (haqiqi; red)?
Dalam beragama bukan?!
Wah penjelasan Anda nyufi banget loh ?! Ha…ha…ha…terimakasih, Mas. Tapi terus
terang. Dalam menjalankan tugas (baik sebagai pembicara publik maupun
motivator) saya menghindari komponen-komponen komunikasi yang terlalu
mengindikasikan agama Islam secara formal atau verbal.
Kenapa ? Buat saya, ketika kita betul-betul dengan sadar sesadarnya mengatakan
"ya !" terhadap keberadaan dan keesaan Allah (laa ilaaha illallaah; red) kita
tak perlu repot-repot lagi memikirkan lebel-lebel formal ketuhanan. Pokoknya
terus berlaku jujur, menjaga kerahasiaan klien, menganjurkan yang baik,
menghindarkan perilaku, sikap dan pikiran buruk, saya rasa ini semua pilihan
orang-orang beriman. Itu alasan pertama.
Alasan kedua, Islam itu agama rahmat untuk semesta alam loch. Berislam itu
mbok yang keren abis gitu loch ! Maksudnya jadi orang Islam mbok yang
betul-betul memayungi (pemeluk) agama-agama lain. Agama kita itu sebagai agama
terakhir dan penyempurna bagi agama-agama sebelumnya. Agama kita puncak
kesempurnaan agama loch. Dan karenanya kita harus tampil sebagai pembawa berita
bagi semua. Kita tidak perlu mengunggul-unggulka n agama kita yang memang sudah
unggul dihadapan saudara-saudara kita yang tidak seagama dengan kita..
Bagaimana Islam bisa dinilai baik kalau kita selaku muslim lalu merendahkan
agama (dan pemeluk) agama lain.
Apakah dalam pandangan Anda semua agama itu sama ? Ha…ha…ha…ya jelas tidak
sama toch, Mas. Tapi oleh Tuhan manusia diberi kebebasan memilih diantara
ketidak samaan itu. Saya tidak akan mengatakan bahwa perbedaan itu rahmat, tapi
saya akan menunjukkan Windows Operating System yang dikeluarkan Microsof. Masih
ada toch Mas orang yang masih menggunakan Windows 95? Masih ada juga kan orang
yang menggunakan Windows 98 atau Windows 2000? Dan Anda sendiri sekarang
menggunakan Windows XP kan?. Begitu juga dengan agama-agama Tuhan, Mas. Ada
versi-versi yang sesuai untuk zamannya, untuk kelengkapan fikiran di zaman itu
dan disana ada jenis kemampuan masing-masing orang dalam menyikapinya. Masak
Anda mau memaksa orang lain untuk memakai XP pada orang yang kemampuannya cuma
sebatas memiliki Windows 95? Tidak toch!? Alangkah indahnya kalau semua orang
Islam ketika bicara dapat diterima semua pemeluk agama lain.
Contohnya seperti apa pembicaraan yang dapat diterima semua pemeluk agama ?
"Anda adalah direktur utama dari perusahaan jasa milik Anda sendiri. Anda
adalah CEO dari kehidupan Anda sendiri. Anda sebenarnya, sepenuhnya
bertanggungjawab atas bisnis kehidupan Anda dan apapun yang akan terjadi pada
diri Anda sendiri. Anda bertanggungjawab atas semuanya antara lain, produksi,
pemasaran, keuangan, RND dan lain sebagainya diperusahaan kehidupan Anda.
Demikian pula Anda sendirilah yang menentukan berapa besar gaji Anda, berapa
income Anda. Bila Anda tidak puas dengan penghasilan yang Anda terima, Anda
bisa melihat didekat cermin Anda dan menegosiasikan pada bos Anda, yakni Anda
sendiri yang ada didalam cermin," begitu kira-kira. Nah, menurut saya etos
demikian tak dapat dibantah oleh semua ajaran agama-agama yang ada didunia.
Apa yang anda contohkan bukan malah menujukkan bahwa manusia adalah
segala-segalanya. Terkesan, seolah-olah Tuhan tak memiliki peran apa-apa disana
? Di atas saya mengatakan bahwa alasan kita tersenyum di pagi hari kepada
isteri dan anak-anak, menyambut mereka dengan santun, berusaha datang tepat
waktu untuk memenuhi janji, itu semua bukan semata-mata karena didasari atas
kesantunan kita sebagai manusia, melainkan kita ingin mengabdi kepada-Nya.
Begitu juga dengan contoh barusan, itu sebenarnya merupakan cermin atas pesan
agama yang meminta totalitas kita dalam menjalankan sebuah amanah. Apalagi jika
kita bicara tentang "cermin", akan sangat panjang pembicaraan kita.. Dan setiap
spirit tidak selalu harus ada embel-embel nama surat atau ayat dari kitab suci
tertentu. Bukankah seorang jenderal paling ateis pun ketika melepaskan
pasukannya ke medan perang tak dapat menghindarkan diri dari ucapan, "Semoga
kalian sukses!". Kalimat "Semoga" disitu menyimpan
harapan campur tangan kekuatan dari Yang Maha Kuat. Biarlah Tuhan menjadi
sesuatu yang tersembunyi dikedalaman relung hati kita yang paling dalam.
Apa arti sukses menurut anda ? Perjalanan 50 tahun hidup yang sudah saya jalani
menyimpulkan bahwa sukses itu tidak selalu berarti mendapat piala atau pujian,
meski tak ada salahnya jika kita mendapatkan keduanya. Hanya saja itu semua
bukan kriteria dari sukses itu sendiri. Karenanya tak jarang orang kemudian
sulit menemukan kesuksesan-kesukses an yang pernah diraihnya.
Secara sederhana sukses adalah bagaimana kita keluar dari comfort zone kita
dan mencoba menjadi lebih baik dari sebelumnya. Dengan definisi ini Anda akan
melihat begitu banyak kesuksesan yang bisa Anda lihat pada diri Anda. Kalau
kemarin Anda baru bisa membantu satu orang, hari ini Anda bisa membantu dua dan
besok Anda bisa membantu lebih banyak lagi, maka anda sukses. Dengan perasaan
yang positif mengenai kesuksesan yang pernah Anda raih, maka Anda akan merasa
semakin sukses dan semakin percaya diri dengan cita-cita, visi dan misi hidup
Anda.
Saya sangat tidak setuju dengan ungkapan, "Biarlah kita sekarang susah, asal
nanti kita sukses". Ini jelas enggak pernah bakal sukses. Saya bertanya, dimana
anak tangganya? Bukankah untuk meraih kesuksesan besar harus diawali dengan
kesuksesan kecil dan sedang?. Ada pepatah yang mengatakan, "Sukses akan
melahirkan sukses yang lain." Nah dari pepatah ini dapat diambil pelajaran,
apabila kita semakin mudah untuk melihat kesuksesan kita dari hal-hal yang
kecil, maka mudah bagi kita untuk mengumpulkan, mengakumulasikan dan melangkah
mencapai sukses yang lebih besar. Percaya dech, dengan sukses kecil-kecil itu,
cepat atau lambat sukses yang lebih besar akan menjemput Anda.
Penjelasan Anda mengingatkan saya akan nasehat Sufi Besar, Imam Ibnu
'Atha'illah, yang mengatakan, "Tanamkanlah ujudmu dalam bumi yang sunyi sepi,
karena sesuatu yang tumbuh dari benda yang belum ditanam, tidak sempurna
hasilnya." Pertanyaannya, bagaimana memupuk rasa rendah hati dalam diri kita ?
O, ya ? Beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk memupuk kerendahan hati
diantaranya adalah dengan menyadari kembali bahwa seluruh yang kita punyai
adalah anugerah-Nya, berkah-Nya atau rahmat-Nya. Karenanya katakan pada diri
sendiri, "Aku masih ingin belajar", "Aku masih ingin mendapatkan input dari
sekelilingku" , "Aku masih ingin mendapatkan pengetahuan- pengetahuan dari mana
saja agar dapat lebih baik".
"Aku masih ingin belajar", "Aku masih ingin mendapatkan input dari
sekelilingku" , "Aku masih ingin mendapatkan pengetahuan- pengetahuan dari mana
saja agar dapat lebih baik". Jika ditilik dari kehidupan kita, umat Islam,
nampaknya metode memupuk kerendahan hati yang Anda sampaikan masih menjadi
problem besar tersendiri ya ? Persis seperti yang saya perhatikan selama ini.
Saudara-saudara kita sesama muslim masih terlalu asyik dengan dunianya sendiri
dan bergaul hanya pada lingkungannya sendiri. Malah yang lebih memprihatikan,
dengan sesama muslim kalau ngundang pembicara dia tanya dulu, "Orang itu
madzhabnya apa ?." Dia tidak akan menerima orang yang tidak satu madzhab, satu
aliran, dengannya. Padahal dinegara-negara maju sudah menjadi pemandangan yang
biasa orang-orang Yahudi mengundang pembicara Islam, Hindu atau Kristiani, atau
sebaliknya.
Mereka sudah mantap dengan iman mereka sehingga mereka tidak khawatir dengan
pembicara yang datang dari luar komunitas mereka. Mereka sangat yakin, bahwa
dengan cara demikian (menghadirkan pembicara "orang luar"), mereka dapat
memperkaya wacana dan kehangatan batin. Kita, atau persisnya sebagian umat
Islam, lupa bahwa salah satu cara mensyukuri perbedaan ditunjukkan bukan pada
lisan akan tetapi dengan mendengarkan pendapat orang lain yang beda keyakinan
agamanya.
Anda punya pengalaman keberislaman Anda yang inclusive itu? Iya. Pernah
beberapa peserta saya mengklaim materi yang baru saja selesai saya sampaikan
menurut sudut pandang keyakinan agama mereka. Seorang peserta yang beragama
Kristiani mengatakan bahwa materi saya ada juga di ajarkan dalam Injil. Peserta
lain yang beragama Islam mengaku bahwa materi yang saya sampaikan ada di
Al-Quran surat al-Maidah. Peserta yang Budha menganggap bahwa materi saya itu
penerapan dari Dharma-dharma Budha. Saya hanya mengembalikan semua apresiasi
itu kepada-Nya.
Pengalaman lain ?
Masih banyak orang yang salah faham terhadap Islam. Ada satu pengalaman yang
mengherankan sekaligus membuat saya prihatin. Dalam satu seminar di acara
coffee break isteri saya didatangi salah seorang peserta penganut agama Kristen
yang taat. Masih kepada isteri saya, orang itu memberi komentar bahwa saya
menerapkan ajaran Injil dengan baik. Lalu dengan lembut, penuh kehati-hatian,
isteri saya memberitahu bahwa saya seorang muslim. Sontak orang itu terperanjat
saat mengetahui bahwa saya seorang muslim. Yang membuat isteri saya (dan
kemudian juga saya) prihatin adalah ucapannya, "Loch, koq ada ya orang Islam
yang baik macam Pak Mario !?" Saya pun terkekeh mendengarnya. Nah ini kritik
dan sekaligus menjadi tugas kita semua untuk memperbaiki citra Islam. .