http://www.sinarharapan.co.id/berita/0903/20/sh02.html

Melepas Tabu Sosialisme

Oleh
Tutut Herlina



JAKARTA - Pernah membahas soal sosialisme? Jangan main-main. Jika ini Anda 
lakukan pada era Orde Baru (Orba), penjara pasti sudah menanti. Alasannya, 
kekuasaan represif yang dibangun Soeharto selama tiga dekade menjadikan 
sosialisme, apalagi komunisme, yang merupakan ilmu pengetahuan tentang hukum 
perkembangan masyarakat, sebagai barang "haram". 

Bahkan, ia menjadi senjata yang paling tajam untuk menghabisi seseorang. Dengan 
stempel penganut ajaran itu, seseorang dengan mudah masuk bui ataupun mati, 
bahkan juga mendapatkan diskriminasi hingga keturunannya. Oleh karenanya, pada 
saat itu, membaca ajaran tersebut harus dengan cara sembunyi-sembunyi.


Namun, tidak demikian saat ini. Berbeda 180 derajat dengan yang terjadi pada 
saat Orba, sosialisme kini justru menjadi daya tarik tersendiri. Ajarannya 
banyak terpampang di toko buku. Diskusi-diskusi pun mulai banyak dilakukan dari 
warung kopi hingga hotel berbintang lima. Sosialisme juga sering menghiasi 
halaman opini media massa terkemuka dengan berbagai cara pandangnya. Ada 
sosialisme religius, sosialisme nasionalis, dan juga sosialisme Marxisme.  
Bahkan, sejumlah calon anggota legislatif (caleg) maupun partai politik 
(parpol) mengaku mendukung ajaran itu. Janjinya jika terpilih, mereka akan 
menjalankan kebijakan sosialis yang melindungi rakyat negeri ini. 

Atau boleh dikatakan saat ini, pembahasan sosialisme telah menjadi tren 
tersendiri. Mengapa sosialisme mencuat kembali?
Reformasi tahun 1998 lalu telah melahirkan keterbukaan informasi dan juga 
politik. Namun, secara ekonomi, negeri ini belum menunjukkan perbaikan yang 
signifikan. Jurang antara kaya dan miskin makin lebar. Seperti disinyalir oleh 
Bank Dunia (World Bank), sekitar 50 persen penduduk Indonesia berada dalam 
garis kemiskinan. Harga kebutuhan pokok tetap melambung, sedangkan di daerah 
banyak mengalami kelangkaan minyak tanah. Negeri ini juga tampak sekali tunduk 
pada dikte asing. 
Sementara itu, informasi tentang keberhasilan negara-negara di Amerika Latin 
yang melakukan perubahan masyarakat lewat jalan revolusi maupun parlementer 
mengalir deras lewat media massa. Negeri-negeri itu bahkan bisa menunjukkan 
dengan tegas penolakannya terhadap dikte Amerika Serikat (AS) sehingga 
memberikan inspirasi tersendiri. 


Krisis ekonomi di penghujung tahun 2008 lalu semakin membuka kotak pandora 
mengenai kekejian kapitalisme melalui sistem ekonomi pasar. Dengan cara 
mengeruk keuntungan sebesar-besarnya untuk kepentingan pribadi, ekonomi negara 
menjadi kolaps. Tragisnya, uang rakyat yang dibayarkan melalui pajak terpaksa 
juga dialihkan untuk mem-back-up para pemilik modal. 


Yang paling terakhir, dana stimulus dari pemerintah yang digelontorkan kepada 
perusahaan asuransi terbesar di AS, AIG, digunakan untuk membayar bonus 
eksekutif. Walaupun kasus AIG itu membuat rakyat marah, dua perusahaan raksasa 
Fredy Mac dan Fanny Mae tetap akan memberikan bonus kepada eksekutifnya.  Di 
sisi lain, kebangkitan Republik Rakyat China (RRC) yang menerapkan sistem 
sosialis dalam menangani krisis ekonomi telah membelalakkan mata tentang begitu 
rapuh dan kejamnya kapitalisme. Pada akhirnya, krisis telah menunjukkan bahwa 
kapitalisme tidak memberikan keuntungan kepada negara, apalagi rakyat. 
Keuntungan yang terbesar selalu mengalir pada pemilik modal. 


Namun, terlepas dari krisis ekonomi, secara nyata, sosialisme memang tidak bisa 
dibunuh. Ia juga tidak berhasil dihambat. Pandangan idealisme subjektif yang 
menganggap sosialisme berasal dari ide manusia adalah salah total. Karena 
itulah, usaha Soeharto menghabisi kaum komunis yang dianggap sebagai pemilik 
ide itu gagal. 


Sosialisme bagaimanapun bukan muncul dari sebuah ide. Ia lahir berdasarkan 
materi perkembangan sejarah umat manusia. Materi itu adalah kemiskinan. 
Karenanya, dengan mudah bisa dikatakan, sepanjang ada kemiskinan, maka akan 
muncul gerakan sosialis. Sepanjang ada kapitalisme, akan ada gerakan sosialis. 
Mengapa? 
Kekuatan sosialisme adalah kaum pekerja. Dari sejarahnya, kaum ini lahir dari 
sistem kapitalisme, di mana untuk melahirkan hasil produksi, pemilik modal 
selalu membutuhkan buruh. Pemilik modal tidak bisa melahirkan apa pun juga 
tanpa keikutsertaan dari pekerja. Namun, karena kepentingannya, pemilik modal 
harus menindas dan mengisap para kaum pekerja agar mendapatkan keuntungan yang 
lebih tinggi. Jika penindasan ini berlangsung terus-menerus, tak ada cara lain 
bagi kaum pekerja selain melakukan perlawanan. 


Sampai kapan pun, kaum pemilik modal tidak bisa memusnahkan perlawanan kaum 
pekerja karena mereka pasti membutuhkan tenaga manusia untuk berproduksi. 
Produksi tak akan pernah bisa terjadi hanya dengan mengandalkan modal dan mesin 
tanpa keterlibatan buruh. Artinya, menentang gerakan buruh akan semakin 
membangkitkan perlawanan. 


Itulah makanya, Karl Marx menyebutkan bahwa "kapitalisme menggali lubang 
kuburnya sendiri". Artinya, tindakan pemilik modal menindas pekerja akan 
melahirkan perlawanan, sedangkan membunuh keberadaan kaum pekerja sama dengan 
bunuh diri. Semuanya itu berjalan melalui proses yang panjang.

Kirim email ke