konflik antar suku mayoritas Han dan sinkiang [uighur] telah membuat facebook di blok pemerintah cina
2009/7/16 Abdul Rohim <[email protected]> > > > Belajar dari Konflik di Xinjiang > Oleh: Mustofa Liem > > *MESKI* kita tengah hidup di era kemajuan iptek yang tak pernah > terbayangkan sebelumnya, ternyata dunia belum bebas dari ancaman konflik > antaretnis. Tiongkok yang modern, misalnya, baru dilanda konflik antara > etnis Uighur dan Han di Urumqui, Xinjiang, Minggu (5 Juli 2009). > Akibatnya, 156 tewas dan 1.080 luka-luka. Pak Dahlan Iskan pun tidak > membayangkan itu bisa terjadi (/Jawa Pos, 10 Juli 2009/). > > Konon, pemicunya hanya sepele, yakni anak-anak yang meributkan kembang > api. Lalu, timbul rusuh antara etnis Uighur yang muslim dan buruh pabrik > beretnis Han. Uighur tidak puas terhadap penanganan polisi yang memihak > Han. Xinjiang merupakan wilayah otonomi khusus bagi mayoritas muslim > Uighur. Pembangunan industri di kawasan itu mengundang etnis Han, yang > menjadi etnis mayoritas di Tiongkok. > > Bagaimanapun, konflik menjadi noda bagi kemajuan Tiongkok. Cadangan > devisanya yang mencapai USD 2 triliun ternyata tak mampu meredam. Sudah > sejak lama, wilayah Xinjiang dan Tibet menjadi kerikil tajam bagi > Tiongkok. Padahal, selama ini, segenap warga di belahan dunia mana pun > selalu melihat Negeri Tirai Bambu itu dengan rasa kagum. Betapa tidak, > pada dekade 70-80-an, negeri itu dipandang sebelah mata. Namun, berkat > reformasi Deng Xiaoping pada 1978, Tiongkok terus berkembang. > > *Bom Waktu Kemajuan* > > Faktor yang menentukan kemajuan RRT adalah faktor kepemimpinan yang > mendorong segenap rakyat negeri itu untuk merespons ajakan memajukan > negara. Regenerasi kepemimpinan dari Deng ke Jiang/Zhu/Li Peng, kemudian > ke Hu Jintao/Wen Jiabao, berjalan damai. Dan, setiap pergantian > pemimpin, program untuk reformasi ekonomi, yang landasannya sudah > ditetapkan Deng, tetap dijalankan. > > Misalnya, Hu Jinto/Wen Jiabao yang memegang kepemimpinan sekarang juga > tetap berpegang kepada kebijakan /gaige kaifang/ secara gradual dengan > tiga sasaran utama, yakni menarik BUMN merugi, * *restrukturisasi > menyeluruh sistem perbankan dan finansial, serta ketiga perampingan > birokrasi. Itulah rahasia kemajuan Tiongkok. > > Masyarakat internasional pun takjub atas pencapaian itu. Bahkan, ketika > digelar Olimpiade Beijing pada 8 Agustus 2008, even olahraga terbesar > sejagat itu seolah menjadi ajang pengakuan dunia atas kemajuan Tiongkok. > Ini semakin klop dengan pemilihan pembukaan Olimpiade itu pada pukul > 08:08:08 (tanggal 8 malam, menit ke-8 dan detik ke-8), sebab angka 8 > yang merupakan gabungan dari dua angka 0 diyakini sebagai simbol > kemakmuran dalam peradaban Tiongkok. > > Tapi, konflik antaretnis adalah bom waktu yang siap meledak kapan pun. > Kalau dikaji, ekonomi neoliberal yang diadopsi Tiongkok dari Barat > memang membuka ruang bagi kompetisi. Ekonomi neoliberal dengan pasar > bebasnya mendorong kemajuan dengan adanya persaingan. Persaingan > otomatis memicu pihak yang kuat untuk makin menguasai pasar. Sedangkan > pihak yang kalah tersisih serta diliputi perasaan cemburu. Di sinilah > terjadi ketidakadilan yang di dalamnya terkandung bom waktu berupa > konflik antaretnis (/Bdk Amy Chua dalam bukunya: World on Fire, How > Exporting Free-Market Democracy Breeds Ethnic Hatred & Global > Instability/). > > *Konteks Indonesia* > > Dalam konteks Indonesia, harus jujur kita akui adanya potensi konflik > antaretnis, apalagi di negeri ini ada ratusan suku dengan ratusan bahasa > daerah. Ini bukan hanya masalah relasi antara etnis Tionghoa dan > etnis-etnis lain, tetapi sesungguhnya masalah kita semua yang menyebut > diri sebagai warga negara Indonesia. > > Kita harus mau belajar dari sejarah. Dalam sebelas tahun terakhir ini > saja, sudah meledak dua kerusuhan antaretnis, yakni Tragedi Mei 1998 di > Jakarta dan Kerusuhan Sampit 2001. Di sini menjadi relevan apa yang > disebut dengan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia (sila > kelima Pancasila). > > Kalau Pancasila masih kita yakini sebagai dasar bagi kehidupan berbangsa > dan bernegara, semangat keadilan sosial itu jelas tidak boleh > dipinggirkan (/Baca Opini Revolusi Menuju Indonesia Baru oleh Saut > Maruli Siregar, Jawa Pos 8 Juli 2009/). > > Jika dikaitkan dengan keadilan sosial, jelas itu menjadi tantangan tidak > ringan bagi SBY-Boediono, pemenang Pilpres 8 Juli 2009. Kalau sistem > perekonomian kita memang menolak neoliberalisme dan memilih sistem jalan > tengah, sebagaimana diungkapkan SBY-Boediono, kini harus dicari formula > yang tepat agar keadilan sosial tidak menjadi slogan. > > Keadilan sosial itu harus jadi acuan agar kebijakan pembangunan, > khususnya menyangkut perekonomian, tidak berat sebelah. Kesenjangan yang > terjadi antarkawasan, seperti Indonesia Barat dan Timur, antara Jawa dan > luar Jawa, harus pelan-pelan diperbaiki. Mulai Aceh, Kalimantan, hingga > Papua, warga asli yang ada di sana harus dijaga sehingga tidak merasa > diabaikan oleh pemerintah. (*) > > * /*). Mustofa Liem PhD,/ * / Dewan Penasihat Jaringan Tionghoa untuk > Kesetaraan/ > > http://jawapos.com/halaman/index.php?act=detail&nid=80456 > > http://media-klaten.blogspot.com/ > http://seizetheday-cloth.blogspot.com/ > > >
