Assalamualaikum WW,
Salam sejahtera kami ucapkan kepada sahabat semua, rekan seperjalanan...
Sahabat arif billah,
Berikut ini akan saya kirimkan hasil Silaturahim Persaudaraaan Universal ,
yang juga dihadiri rekan-rekan dari Spiritual Indonesia, Gantharwa dan
Berkas Cahaya Kesadaran (BCK), dan beberapa praktisi spiritual dari
masyarakat setempat, yang diadakan di kediaman Ustadz Achmad Chodjim (21/5)
kemarin...
Tulisan yang saya hidangkan sebagai santapan rohani ini sudah mendapat
persetujuan sang penulis untuk saya kirimkan kepada sahabat semua. Semoga
berkenan, dan tulisannya menjadikan sebagai amal untuk pencerahan kita bersama.
Salam,
Ferry Djajaprana
------------------------
MASIH RELEVANKAH AJARAN
SYEKH SITI JENAR DEWASA INI?
Oleh: Ir. Achmad Chodjim, MM*
Seri 1 dari 4
Tema seminar/sarasehan budaya hari ini adalah agama ageming aji, yaitu
agama sebagai nilai-nilai luhur yang menjadi landasan hidup bangsa
Indonesia, sesuai dengan sila pertama pada Pancasila, Ketuhanan Yang Maha
Esa. Agama dalam bingkai ageming aji bukanlah agama dalam arti golongan
atau agama sebagai organisasi (organized religion), tetapi agama sebagai
basis moralitas dan perilaku manusia. Agama dalam arti ini pernah menjadi
polemik dan perang wacana di Kepulauan Nusantara karena Indonesia belum
lahir dan tepatnya di P. Jawa pada pertengahan abad ke-15 hingga
pertengahan abad ke-16.
Tokoh sentral dalam polemik dan perang wacana pada masa itu adalah Syekh
Siti Jenar atau dikenal dengan nama Syekh Lemah Abang. Dia seorang guru dan
pelaku spiritual yang mengajarkan agama sebagai jalan hidup dan bukan
sebagai kepercayaan. Meskipun Syekh seorang muslim, tetapi ajarannya
menarik berbagai pemeluk agama dan kepercayaan yang ada waktu itu. Mereka
yang belajar dan menjadi murid Syekh berasal dari berbagai kalangan, baik
kalangan elite yaitu para adipati maupun rakyat biasa. Mereka berasal
dari pemeluk Hindu, Biddha, Syiwa-Buddha, Islam, dan pemeluk kepercayaan
yang berkembang di Jawa waktu itu.
Apa yang diajarkan oleh Syekh Siti Jenar sehingga daya tarik ajarannya luar
biasa dan menyebabkan penguasa Kesultanan Demak Bintara kegerahan waktu
itu? Yang diajarkan sebenarnya bukanlah hal yang asing bagi mereka yang
hidup di Kep. Nusantara waktu itu. Yang diajarkan adalah paham MKG
(Manunggaling Kawula Gusti), yaitu satunya hamba dengan Tuhan. Paham ini
sudah ada di agama Hindu dan Buddha yang sebelum berdirinya Kesultanan
Demak, dipeluk oleh mayoritas penduduk Nusantara. Paham ini diikuti oleh
kalangan sufi dalam agama Islam. Bahkan, mereka yang dikenal sebagai
anggota Walisanga juga berpaham MKG. Padahal, berdasarkan sejarah Walisanga
yang bergelar sunan itu adalah pendukung dan penasehat Sultan Demak di
zaman itu.
Meskipun Walisanga dan Syekh Siti Jenar sepaham, tetapi pada tataran
implementasinya dalam kehidupan berbeda. Bagi Siti Jenar, MKG merupakan
landasan, jalan dan alat untuk menjadikan manusia merdeka sejati. MKG
menggerakkan manusia untuk menjadi dirinya sendiri, menjadikan manusia yang
memiliki kepribadian. Inilah inti dari MKG yang diajarkan oleh Syekh Siti
Jenar. Tentu pikiran semacam ini melompat terlalu jauh ke depan pada
zamannya. Jangankan pada masa 500 tahun yang lalu, dewasa ini saja sebagian
besar orang tidak hidup sebagai pribadi, tetapi hidup berdasarkan pikiran
orang lain.i Sedangkan MKG yang diajarkan oleh Walisanga lebih bersifat
teoritis, dan tidak memberikan implikasi nyata dalam kehidupan masyarakat.
Ajaran MKG Siti Jenar mendobrak feodalisme yang tumbuh subur pada masa itu,
sedangkan Walisanga justru melanggengkan sistem feodalisme. Syekh
membangkitkan kesetaraan antara kawula (rakyat) dengan rajanya (Gusti).
Walisanga melestarkan sistem rakyat menyembah raja. Syekh membebaskan orang
dari belenggu ketakhayulan dan pikiran picik, sedangkan Walisanga malah
menjadikan agama dan kepercayaan sebagai alat kekuasaan.
Puncak pertarungan paham berakhir ketika Sultan Patah memerintahkan
Walisanga untuk menghentikan kegiatan mengajar Syekh dan pengikutnya
dihancurkan. Untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak, kata
peribahasa. Ajaran Syekh Siti Jenar dipadamkan meski demikian, ajaran SSJ
tetap berjalan dan disampaikan secara sembunyi-sembunyi. Rakyat patuh
kepada raja secara pasif, sedangkan kalangan elite berebut kekuasaan.
Akibatnya, umur kerajaan tak ada yang panjang, Demak jatuh disusul dengan
berdirinya Pajang, dan dalam satu generasi saja Pajang hilang dan muncul
Mataram.
Karena rakyat bodoh dan elite kerajaan berebut kekuasaan, maka Mataram
hanya dalam kurun waktu 50 tahun berdiri sudah goyah karena adanya
infiltrasi VOC, yang akhirnya Mataram menjadi negara taklukan VOC. Hal ini
saya sampaikan dalam seminar/sarasehan ini agar dapat menjadi pelajaran
bagi bangsa Indonesia. Dengan memperhatikan kembali ajaran Syekh Siti Jenar
kita akan dididik untuk menjadi manusia merdeka, sehingga siap untuk
menahan gangguan dan ancaman asing agar bangsa Indonesia tidak
terus-menerus terjajah oleh negara lain dalam segala bentuknya.
*) Ir. Achmad Chodjim MM, adalah penulis buku Syekh Siti jenar: Makna
Kematian (jilid 1), Syekh Siti Jenar: Makrifat dan Makna Kehidupan (jilid
2) dan Mistik dan Makrifat Sunan Kalijaga.
(bersambung ke Seri 2 : Ajaran Pokok SSJ ....)