Xinjiang
*I Wibowo* Xinjiang kian membara, korban tewas bertambah. Kerusuhan rasial antara suku Han dan suku Uighur tidak berhenti kendati telah dikerahkan aparat keamanan. Akibatnya Presiden Hu Jintao mempersingkat partisipasinya pada pertemuan G-8 di Italia dan pulang ke Beijing. Kerusuhan di Xinjiang dirasakan amat gawat, yang memerlukan kehadiran kepala negara untuk mengatasinya. Bagaimana Hu akan mengelola kerusuhan ini? Pemerintah China telah mengambil tindakan-tindakan standar, mengerahkan polisi maupun tentara untuk mengendalikan suasana. Seribu lebih orang ditangkap, arus informasi disaring, dan internet dikenai filter. Meski demikian, kerusuhan tampak tidak akan cepat reda. Jika Pemerintah China tidak hati-hati dalam mengelola konflik ini, dikhawatirkan akan jatuh banyak korban. Selain itu, China harus memperhitungkan faktor internasional. PBB mengeluarkan keprihatinan atas penangkapan 1.400 orang Xinjiang. Yang lebih penting, OKI (Organisasi Negara-negara Islam) telah mengeluarkan pernyataan ”prihatin” dan meminta agar diadakan ”penyelidikan terbuka dengan jujur atas kerusuhan dan membawa para penanggung jawab ke pengadilan” (Kompas, 8/7/2009). Tanggapan dari OKI yang beranggotakan 57 negara ini tidak bisa diabaikan Pemerintah China. Agaknya, faktor internasional ini yang membuat Presiden Hu Jintao harus segera pulang dari lawatan mancanegara dan menangani sendiri masalah itu. Xinjiang (> tapal batas baru) merupakan wilayah padang gurun, terdiri dari oase-oase. Ada 16 oase besar yang dihuni suku-suku Turkis. Suku terbesar adalah Uighur (weiwu’er). Posisi Xinjiang dekat negara-negara kuno dan besar yang ada di sebelah baratnya. Sejak zaman Dinasti Han (200 SM-200 M), Xinjiang telah mempunyai hubungan dagang dengan Kekaisaran Romawi. Pada zaman Dinasti Tang (abad ke-7-10) Xinjiang menjalin hubungan dengan Kekaisaran Byzantium dan Eropa Barat. Sejak abad ke-18 Xinjiang bertemu dan membangun hubungan erat dengan Rusia. Britania Raya yang berhasil menduduki India juga menjulurkan pengaruhnya ke Xinjiang pada abad ke-19. Hubungan historis dengan Eropa (termasuk Rusia) dirasakan sebagai kekhasan Xinjiang. Xinjiang juga berhubungan erat dengan kerajaan-kerajaan yang menjadi tetangga dekat di sebelah barat, baik saat masih menganut Buddhisme maupun setelah menganut Islam. India menjadi negara tetangga yang tidak bisa diabaikan. Seusai Perang Dunia II, Pakistan menjadi tetangga penting Xinjiang. Persia atau Iran berabad-abad merupakan tetangga besar dan berpengaruh. Dari Persia, masuk agama Islam (shiah), juga Zoroastrian dan Manichean, serta Yudaisme dan Nestorianisme (cabang agama Kristen). Dengan Afganistan, Kazakhstan, Tajikistan, dan Kirgistan, penduduk Xinjiang mempunyai hubungan etnis sesama Uighur. Dengan demikian, Xinjiang merupakan sebuah wilayah di persilangan bangsa-bangsa. Studi-studi menunjukkan, Xinjiang merupakan pertemuan beragam budaya: Arab, Persia, Eropa, Rusia. Budaya China tentu berpengaruh amat kuat di sana. Maka banyak analis mengatakan, Xinjiang merupakan daerah penyangga (buffer zone) dari banyak negara, bangsa, dan peradaban besar. Keguncangan politik di Xinjiang akan menarik perhatian negara-negara sekitarnya. *Sesudah 11 September* Mengingat situasi Xinjiang begitu unik, pada tahun 1955 Mao Zedong menyetujui Xinjiang menjadi ”Daerah Otonomi”. Menurut Frederick Starr, status ini justru kian menguatkan identitas Uighur (Starr: 13). Pada tahun 1930-an, tokoh bernama Sheng Shicai melontarkan ide ”Republik Turkistan Timur”, dan ini masih hidup hingga kini. Sesudah Uni Soviet runtuh tahun 1991, muncul negara-negara di Asia Tengah, semuanya mengenakan ”identitas Uighur”, yaitu Kirgistan, Tajikistan, Uzbekistan. Gerakan pan-Uighur kian menguat seiring kesadaran betapa tertinggalnya wilayah Xinjiang secara ekonomis dibanding wilayah-wilayah lain di China.. Menurut laporan RAND, pada tahun 2000 terjadi 3.000 peristiwa perlawanan terhadap pemerintah. Pemerintah China menuduh aneka gerakan ini sebagai fenlie zhuyi zhe atau kaum pemecah belah, dan ”Islam radikal”. Untuk menahan gelombang gerakan ini, Pemerintah China menempuh dua strategi. Pertama, Pemerintah China menyuntikkan modal besar ke Xinjiang dan membangun perekonomian di wilayah ini. Kedua, pada 1996, Pemerintah China menjalin hubungan dengan Rusia dan tiga negara di Asia Tengah (Kazakhstan, Tajikistan, Kirgistan), membentuk organisasi Shanghai Cooperation, lalu menjadi Shanghai Cooperation Organization setelah Uzbekistan masuk pada 2001. Melalui organisasi ini, China berharap gerakan pan-Uighur dapat terkendali. Seusai peristiwa 11 September 2001 yang menggemparkan dunia, Pemerintah China menyambut positif seruan Presiden AS George W Bush untuk bergabung melawan terorisme. Aneka gerakan yang menuntut kemerdekaan atau pemisahan diri dengan mudah dituduh sebagai gerakan teroris yang dapat dikenai hukuman berat. Peristiwa ”9/11” telah membuat China dan AS menemukan titik persamaan. *Faktor minyak* Kecuali itu China masih harus memperhitungkan faktor minyak. Sejak 1993, China menjadi net importer minyak sehingga pada 2009 diperkirakan hanya 40 persen kebutuhan minyak China dipenuhi di dalam negeri. Xinjiang yang diduga memiliki kandungan minyak menjadi andalan dalam negeri China. Sisanya, 60 persen, harus diperoleh dari tempat lain, antara lain Timur Tengah. Dari wilayah ini China mengimpor 44 persen dari total impor minyak (2006) dan terus meningkat hingga 70 persen pada 2015. Ketergantungan pada Timur Tengah ini sangat disadari oleh China bukan hanya mengingat faktor instabilitas politik di wilayah itu, tetapi juga kaitan dengan Xinjiang yang menganut agama Islam. Biar bagaimanapun China harus membangun relasi yang baik dengan negara-negara Timur Tengah.. Peristiwa di Xinjiang yang berimplikasi hubungan internasional membuat Presiden Hu Jintao pusing. Teguran OKI tak bisa diabaikan Pemerintah China. Dengan negara anggota SCO, China dapat sedikit tenang, karena jalinan saling pengertian, karena sama-sama ingin menahan laju AS masuk Asia Tengah. Namun, bila kekerasan berlanjut, ketiga negara yang terikat pan-Uighur tidak bisa berdiam diri. /I Wibowo Ketua Centre for Chinese Studies, FIB-UI / /http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/07/11/04551917/xinjiang http://media-klaten.blogspot.com/ http://seizetheday-cloth.blogspot.com/
